I'm not stupid wife

I'm not stupid wife
Kamar darah



Brak...


Pintu mobil di banting keras Harvey begitu ia sampai di kediaman mewah Anderson. Ia berjalan memasuki rumah itu sambil mengendurkan dasi yang mencekik lehernya hingga terlepas.


Albert yang sudah standby di balik pintu menunduk hormat pada nya.


"Tuan besar sudah menunggu di sana Tuan Muda! " lapor Albert sebelum Harvey membuka mulutnya.


Harvey hanya mendengus tanpa menjawab perkataan kepala pelayan tersebut dengan terus berjalan menuju kamar yang menurutnya begitu mengerikan.


Harvey berhenti di depan pintu dengan memejamkan matanya sejenak untuk menormalkan detak jantung nya yang kalut dan gundah.


Krieett


Pintu terbuka dan Harvey memasuki kamar itu dengan hati bertanya-tanya.


"Dad.... " panggilnya pada sang ayah.


James membalikkan badannya dan langsung memberikan pukulannya pada rahang kokoh sang putra.


Bugh... Bugh...


"Bagus kau sudah pulang! Kalau aku tidak menyuruhmu pulang kau tidak akan pulang kan?? Tegakkan kepala mu dan balas pukulan ku! " ucap James dengan suara berat dan tegas.


"Dad... Kenapa kau memukul ku?? " tanya Harvey sembari memegang rahangnya yang bergeser.


"Kau bilang kenapa hah!! Dasar anak bodoh!! " umpat James dengan sangat marah.


Bugh... Bugh...


"Bangkitlah! Jangan diam saja dan lawan aku! Aku ingin lihat dimana kepintaran mu selama ini yang kau agungkan itu! " ucap James dengan sinis.


Harvey kembali berdiri dan begitu tegak berdiri ia kembali di pukul sang ayah hingga kembali tersungkur di lantai.


"Anak bodoh seperti mu harus di beri pelajaran sampai sadar kalau ia benar-benar bodoh! Beraninya kau mengusir istrimu dan menaruh nya di kamar pembantu?? Dimana otak pintar mu itu hah!! " teriak James menumpahkan kekesalan nya.


Mendengar teriakan sang ayah membuat Harvey mengerti jika ayahnya marah karena ia mengusir perempuan berlabel istri dari kamarnya.


"Cuih.. ! Jadi karena perempuan sialan itu Daddy menghajar ku seperti ini?? " jawab Harvey dengan meludah darah di mulutnya.


Bugh... Bugh... Bugh...


"Anak kurang ajar! Yang kau bilang sialan itu adalah istrimu sendiri dan ia adalah perempuan pilihan mendiang ibumu 15 tahun lalu! " teriak James dengan dada panas mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Putra nya.


"Apa Daddy bilang?? Perempuan pilihan Mommy?? " tanya Harvey dengan wajah kaget.


"Kau benar-benar brengsek!! Kau membuat istrimu di aniaya Siska dan anaknya hingga pingsan di kamar mandi! Dimana hati dan pikiranmu sebagai seorang suami hah!! Apa pernah Daddy mengajari mu untuk bersikap seperti itu pada seorang perempuan?? Ingat Harvey! Aku dan mendiang ibumu tidak akan pernah menerima perempuan manapun selain Naya sebagai menantu pertama keluarga ini! Kau ingat itu! " ucap James tanpa menjawab pertanyaan Harvey.


"Dad... Jawab pertanyaan ku??? " teriak Harvey frustasi karena tidak mendapatkan jawabannya.


"Kau cari sendiri jawabannya! Gunakan otak yang kau bilang pintar dan jenius itu! " sahut James dengan acuh.


"Menantu ku bukan penyebab ja lang yang kau pelihara di rumah sakit itu koma! Seharusnya kau cari bukti yang kuat dengan otak pintar mu itu dan jangan hanya melihat dari satu sisi saja! Sekali ja lang akan tetap menjadi ja lang sampai kapanpun! Jika kau masih menyakiti menantuku, maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan Gardenia sampai tidak tersisa! " ucap James dengan dingin sambil keluar dari kamar itu.


"Aaakkkkhhh.... " teriak Harvey kesal setelah ayahnya keluar dari kamar darah itu.


"Brengsek... !! Kenapa Daddy tidak menjawab pertanyaan ku!! Bagaimana bisa perempuan itu menjadi perempuan pilihan Mommy?? Mommy meninggal sebelum aku menikahi perempuan itu! Aaakkkhhh... Sial! Sial!! " ucap Harvey dengan memukuli lantai kamar itu berulangkali.


"Akh sakit.. !! Daddy tidak tanggung-tanggung kalau memukul ku! Kalau saja dia bukan Daddy sudah aku lawan sampai KO! " ucapnya dengan memegang perut nya yang terasa sakit hingga membuatnya susah untuk berdiri.


Dengan susah payah ia berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar darah itu dengan wajah penuh dengan lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah karena sobek. Perutnya terasa begitu sakit hingga ke ulu hati akibat tonjokan Daddy yang ia rasa baru sebagian tenaga saat melakukannya.


"Iissshhh... Umur sudah tua tapi tenaga Daddy gak main-main kalau memukul orang! " gumamnya sembari meringis kesakitan memegang perut nya.


Para pelayan yang melihat keadaan Harvey tidak bisa membantu dan hanya melihat saja dengan pandangan miris dan kasihan. Mereka tidak berani membantu ataupun menegur Putra sulung majikan mereka yang terkenal dingin, angkuh dan arogan terhadap siapa saja termasuk mereka yang tidak ia sukai. Para pelayan mengambil aman saja dengan tidak membuat Putra sulung itu marah dan kesal.


Harvey berjalan dengan kesusahan saat menaiki tangga menuju kamarnya, saat di tangga terakhir ia terbelalak kaget melihat kamar Mommy nya yang selama 10 tahun ini tertutup dan terkunci menjadi terbuka.


"Sialan!! Siapa yang berani-berani nya membuka kamar Mommy dan memasukinya! " umpat nya dengan wajah penuh amarah.


Kamar mendiang ibunya sengaja di kunci sang ayah setelah ibunya meninggal dunia. Tidak seorang pun yang di perbolehkan masuk ke sana kecuali Albert yang memang rutin membersihkan kamar tersebut sebulan sekali.


Harvey kembali kaget saat melihat Alice keluar dari kamar itu membawa baskom dan menutup pintu kamar dengan pelan.


"Kau!! " tunjuk Harvey dengan penuh amarah.


Alice kaget setengah mati mendengar suara menggelegar Harvey yang menunjuk dirinya dengan wajah memerah penuh amarah.


"I-iya Tuan Muda! " jawab Alice dengan gagap dan tubuh gemetar.


"Apa yang kau lakukan di kamar Mommy ku sialan!! " bentak Harvey sambil menahan sakit di tubuhnya.


"Sa-saya baru sa-saja mengompres No-nona muda yang de-demam Tuan! " jawab Alice dengan menunduk ketakutan.


"Apa kau bilang?? Perempuan itu ada di kamar Mommy?? Siapa yang mengizinkan nya masuk ke kamar Mommy dan tidur di sana hah!! Jawab !! " teriak Harvey penuh emosi.


Suara teriakan Harvey membuat Siska dan Starla keluar dari kamar nya. Mereka berjalan mendekati Harvey yang sedang mengeluarkan tanduk merah di kepalanya.


"Tuan besar! Tuan besar yang memerintahkan Nona muda untuk tinggal di kamar mendiang Nyonya! " jawab Albert dengan tegas di bawah tangga.


"Apa??? " pekik Siska dengan tidak terima.


"Saya tidak pernah berbohong! Kalau Nyonya mau protes, protes saja dengan Tuan besar! Ayo Alice kembali ke pekerjaan mu sekarang! " sahut Albert lagi sambil menyuruh Alice kembali bekerja.


Alice mengangguk patuh dan segera menuruni tangga menuju ke dapur. Harvey mengepal tangan nya karena kesal dan kecewa dengan tindakan sang ayah yang seenaknya memasukkan perempuan lain ke kamar mendiang Mommy nya.


"Perempuan sialan itu benar-benar ngelunjak! Seharusnya kamar itu aku yang menempati dan bukan perempuan murahan itu! " ucap Siska dengan geram dan penuh emosi.


Bersambung..