
Harvey tidak memperdulikan ejekan dari Max karena dirinya yakin tidak akan seperti yang di katakan pria itu.
"Gue jadi penasaran sama bini lo bro! Sejelek apa sih sampek elo benci banget sama itu cewek! " ucap Leon dengan raut muka penasaran.
"Yang pastinya Man, lebih cantik dari soulmate nya Harvey! Muka nya baby Face bro, gak bosen deh ngeliatin tuh muka lama-lama! Gemes tau gak lihat mukak nya yang cubby kayak bakpao! " jawab Max senyum-senyum sendiri.
Nyes..
Ada sesuatu yang meremas jantung Harvey saat mendengar ada orang yang memuji istrinya seperti itu. Hatinya merasa marah dan tidak rela ada yang mengagumi istrinya sedemikian rupa. Rasanya ia ingin menutup mulut siapapun yang memuji istrinya dan mencongkel mata yang melihat dan menatap istrinya.
Harvey geleng-geleng kepala mengusir pemikiran bodoh yang terlintas di kepalanya.
"Tidak, tidak! Aku tidak boleh goyah dan memikirkan perempuan itu! Hanya Clarissa yang pantas menjadi istri ku, hanya Clarissa yang tulus mencintai ku, bukan yang lain apa lagi perempuan itu! Hapus pemikiran bodoh itu dari kepalamu Harvey!! " batin nya berperang dalam hati.
"Kenapa elo geleng-geleng kepala bro! Sakit kepala lo?? " tanya Leon heran.
"Gak! Gue mau ke rumah sakit! " jawab Harvey singkat sembari berdiri dan berjalan menuju ruang ganti.
"Woi! Dari pada elo ke rumah sakit mendingan elo bulan madu ama bini lo! Ngapain orang koma elo tungguin! Elo cetak banyak-banyak Harvey junior! " teriak Max dengan lantang pada Harvey.
Setelah berteriak seperti itu ia tertawa terkekeh sambil memegangi perutnya dengan wajah bahagia mengejek temannya itu.
🍀🍀🍀
Sementara itu di kediaman megah Anderson, Lea keluar dari kamar nya dengan kondisi yang fresh dan sudah rapi.
Ia berjalan menuju dapur yang letaknya berdekatan dengan kamarnya. Ia tersenyum kecil melihat Albert berdiri mengawasi para koki dan pelayan memasak sarapan untuk penghuni rumah ini.
"Selamat pagi Paman! Ada yang bisa Lea bantu?? " sapa Lea dengan tersenyum lembut.
"Eh Nak Lea! Ini adalah tugas koki untuk menyiapkan sarapan di rumah ini Nak! Nak Lea silahkan duduk manis menunggu di ruang makan atau bersantai di ruang keluarga saja! "jawab Albert dengan tersenyum lebar.
"Ya udah deh kalau gitu, Lea ke ruang santai aja! " sahut Lea menyerah.
"Silahkan Nak! Jika sudah selesai sarapannya saya akan panggil nak Lea! " ucap Albert dengan ramah.
Lea hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan dapur menuju ruang santai yang di sebutkan Albert tadi.
Ia duduk di sofa lembut dan meraih remot televisi untuk menonton televisi sembari menunggu sarapan selesai.
Sedang asyik nonton, tiba-tiba remot yang ia pegang di rebut kasar oleh seseorang yang membuat Lea mendongakkan kepala nya.
"Hei pembantu! Enak banget elo duduk santai di sini! Beres-beres sana bantuin pelayan sampai rumah ini bersih dan kinclong! Enak aja lo santai duduk di sini kayak Tuan rumah aja! " teriak Starla dengan mendorong Lea hingga terjatuh dari sofa.
"Auu.... " pekik Lea dengan meringis sambil memegang lutut nya.
"Dasar nenek lampir sialan! Kalau bukan karena rencana gue sendiri, elo udah gue hajar sampai gak bisa bangkit. Atau perlu gue robek mulut kotor elo hingga mampus! " ucap Lea mengumpat dalam hatinya.
"Cih lemah! Perempuan lemah seperti kamu itu tidak pantas menyandang nama Anderson di belakang nama kamu! Pengacara hebat seperti Clarissa lah yang pantas menyandang nama keluarga ini! Perempuan miskin seperti kamu pantasnya menjadi pelayan di rumah ini! Entah apa yang di lihat suamiku mau merestui perempuan miskin yang tidak bisa di banggakan menjadi menantu di rumah ini! " ucap Siska pedas dengan menunjuk kepala Lea dengan jari telunjuknya.
Mereka menghina, berkata kasar dan menyumpahi Lea bahkan tak segan memukul bahu dan menendang tubuh Lea yang masih betah terduduk di karpet ruang santai.
Apa yang di lakukan mereka ternyata di lihat dan bahkan di rekam oleh seseorang yang tidak mereka ketahui karena bersembunyi di balik dinding.
Setelah di rasa cukup orang itu segera pergi dari persembunyian nya sebelum ada yang memergokinya.
Albert yang hendak memanggil Lea terkejut melihat Lea di buli Nyonya rumah ini bersama anaknya.
"Astaga Nyonya! Apa yang Nyonya dan Nona perbuat pada Nona muda??? Kalau Tuan Muda sampai tahu bisa bahaya.. ! " teriak Albert dengan nada khawatir sembari mendekati Lea dan membantunya untuk berdiri.
"Heh! Gak usah songong jadi pelayan! Jangan mentang-mentang kamu di percaya Daddy mengurus rumah ini jangan melewati batasan mu! Derajat ku lebih tinggi dari mu yang hanya seorang kacung di rumah ini! Jangan lupa kau kalau aku Nyonya di rumah ini! " bentak Siska dengan menghina Albert.
"Iya, jangan jadi pahlawan kesiangan untuk parasit di rumah ini! Lagian Kak Harvey juga gak akan peduli dengan perempuan sampah ini! Kak Harvey pasti akan membela kami yang sudah membantunya memberi pelajaran pada perempuan sialan ini! " ucap Starla dengan pedas dan sombong.
"Sudah Paman, Lea tidak apa-apa! " bisik Lea dengan pelan pada Albert.
Ia hanya tidak ingin Albert mendapat masalah dari dua nenek lampir itu jika masih ngotot menolong nya.
"Ayo nak kita kebelakang! Sarapan sudah siap dan nak Lea bisa sarapan dulu! " ajak Albert dengan menuntun Lea berjalan meninggalkan dia nenek lampir yang masih ngomel-ngomel mencaci maki Lea.
"Hai pelayan rendahan! Jangan pernah kau bawa sampah itu makan di tempat kami! Aku tidak sudi makan bersama nya dan dia tidak pantas makan bersama aku dan anakku! Jika kau masih nekad jangan salahkan aku berbuat lebih pada kalian! " teriak Siska dengan muka garang pada Albert.
Albert tidak menghiraukan ancaman Siska, ia terus berjalan menuju meja makan sembari menuntun Lea.
"Paman, lebih baik aku makan di belakang saja! Aku tidak mau membuat keributan di rumah ini! Aku juga tidak mau paman mendapat masalah karena aku! " pinta Lea dengan wajah memelas pada Albert.
Albert menghela napasnya kasar sembari menghirup oksigen banyak-banyak usai mendengar permintaan Lea.
"Baiklah kalau begitu! Paman antar nak Lea dulu ke tempat biasanya paman makan! " ucap Albert menuruti permintaan Lea.
Mereka berjalan melewati dapur, ruang loundry dan ruang santai untuk pelayan hingga akhirnya sampai di sebuah bangku di bawah pohon yang letaknya di samping dan tersembunyi.
"Nak Lea tunggu di sini! Paman akan ambilkan sarapan dulu! " ucap Albert hendak berbalik menuju dapur.
"Tidak usah ayah! Aku sudah bawa makanan nya ke sini! " ucap seseorang yang berdiri di belakang mereka berdua.
Bersambung..