
Brak....
Pintu kamar hotel di buka dengan kasar oleh Harvey. Ia langsung masuk dan mencari keberadaan perempuan yang beberapa jam yang lalu menjadi istrinya.
Wajahnya menggelap dan matanya memerah karena rasa amarah yang menggerogoti raganya. Tanpa basa basi, ia mendatangi Lea yang baru keluar dari kamar mandi dan menarik kasar lengan Lea hingga Lea mengaduh kesakitan.
"Aduh sakit.. ! Apa-apaan ini?? Lepaskan aku! Lepaskan! " teriak Lea mencoba memberontak.
Harvey tidak memperdulikan teriakan kesakitan Lea, ia terus menyeret Lea menuju kasur dan melemparnya dengan kasar hingga Lea terjerembab di atas kasur.
Lea meringis kecil, walaupun kasur itu empuk tetap saja saat di hempaskan tubuhnya sedikit merasakan sakit meskipun tidak kencang. Lea beringsut memperbaiki diri untuk duduk dan baru saja bernapas lega, sebuah tangan yang dingin mencengkram erat dagunya hingga mau tidak mau wajah mereka saling berhadapan.
"Perempuan sialan! Apa yang kau katakan pada Dad hingga Dad memarahiku! ****** sialan! Jangan kau pikir jika menjadi istriku kau bisa menang banyak untuk mengendalikan aku! Itu tidak akan pernah terjadi sialan! Jawab aku!! Apa yang kau adukan pada Daddy semalam hah!! " bentak Harvey dengan kata-kata kasar pada Lea.
"Le-lepas.. !! Sakit.. !! " ucap Lea dengan terbata-bata.
"Sakit hah?? " sahut Harvey tersenyum miring.
Lea mengangguk pelan dengan sorot mata ketakutan pada Harvey. Melihat wajah pucat dan ketakutan di mata sang istri membuat Harvey bahagia karena ia berhasil membuat Lea takut padanya.
"Rasa sakit mu tidak sebanding dengan apa yang di lalui korban mu sialan! " umpat Harvey tanpa melepaskan jepitan jemarinya di dagu Lea.
"A-apa maksud mu?? " tanya Lea dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu tau perempuan! Satu yang harus kau tau, jangan pernah sedikitpun kau berkata sesuatu hal pada keluarga ku apa yang aku lakukan padamu kalau kau masih ingin hidup dengan tenang! Kalau kau masih juga melanggarnya maka aku tidak segan-segan membuat mu seperti di neraka! Kau camkan itu! " jawab Harvey dengan lepaskan cengkeraman nya di dagu Lea dengan kasar.
Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi dari kamar tersebut tanpa menoleh sedikitpun pada Lea yang meringis kesakitan sembari memegang dagunya.
Lea yang di tinggal pergi reflek memegang dagunya yang sedikit perih akibat cengkraman laki-laki yang berstatus suaminya. Wajah yang tadinya ketakutan dan kesakitan langsung berubah menjadi dingin dan menyeramkan seperti iblis yang berlindung di balik wajah malaikat.
Lea mengemasi kopernya dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Lima menit kemudian Lea keluar dari kamar mandi dengan memakai celana jeans sobek-sobek di depan nya, tank top crop warna hitam dan jaket andalan nya yang juga berwarna hitam. Rambutnya di ikat ekor kuda, memakai sepatu boot warna coklat dan memakai topi yang bertulis kan smart. Tak lupa pula Lea memasang masker warna hitam hingga menutupi sebagian wajah cantiknya.
Lea mengutak-atik ponsel nya saat mendekati pintu kamar sebelum ia membuka nya.
"Jemput aku di seberang hotel Luxury Mx! " ucap Lea di ponselnya dengan nada dingin.
Tanpa menunggu balasan dari seberang sana, Lea langsung mematikan ponselnya dan menyimpan nya di dalam saku jaket nya.
Lalu ia membuka pintu kamar dan keluar sembari menarik kopernya dengan tangan kiri karena tangan kanan menutup pintu.
Lea berjalan dengan kepala tegak menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar untuk cek out.
Ia langsung menuju resepsionis untuk menyerahkan kartu scan kamar yang semalam ia tempati tanpa banyak bicara. Setelah itu ia bergegas keluar hotel dengan menyeret kopernya menuju seberang jalan.
Sebuah panther hitam dengan kaca pekat sudah stand by di depan sebuah toko bakery. Tanpa basa basi Lea langsung memasukkan kopernya dengan sekali angkat ke bangku tengah dan ia masuk di bangku depan.
"Cafe Macan aja ! " jawab Lea datar.
"Oke siip! Kita meluncur.. ! " sahut orang yang menyetir mobil mewah tersebut.
Sepanjang perjalanan tidak sekalipun mereka berbicara karena sepertinya Lea dalam kondisi bad mood. Dua puluh menit kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman sebuah cafe yang sangat terkenal di kawasan tersebut. Terlebih lagi posisi nya ada di lokasi strategis yaitu sebuah kampus swasta ternama dan beberapa perkantoran di dekat kampus tersebut. Cafe ini tidak pernah sepi pengunjung, karena suasana nya yang asri, luas dan cocok untuk tempat tongkrongan anak-anak muda maupun yang tua.
Setelah memarkirkan mobilnya di bagian paling belakang, Lea langsung turun tanpa membawa kopernya menuju pintu samping yang langsung mengarah ke bagian dapur. Di sebelah tempat penyimpanan bahan makanan, ada sebuah pintu penghubung yang tertutup sekat rotan yang dikira orang awam sebagai hiasan semata.
Nyatanya itu adalah pintu menuju sebuah bangunan minimalis yang biasanya di sebut basecamp yang hanya di ketahui oleh karyawan cafe tersebut.
Lea masuk dengan raut muka datar karena ia melepaskan maskernya saat memasuki basecamp tersebut.
"Kenapa tuh muka kusut amat? Masa pengantin baru mukanya lecek kayak gitu? " tanya seorang pria yang sedang bermain ponsel dengan kaki di atas meja.
Lea tidak menjawab, ia menendang kaki pria tersebut hingga terjatuh dan membuat pria tersebut mengumpat kesal.
"Anjirr... ! Kalah kan gue gara-gara elo! " umpat pria tersebut dengan wajah kesal.
"Bodo.. ! I don't care! " jawab Lea dingin.
Pria tersebut menelan ludahnya mendengar suara dingin Lea. Tak berapa lama seorang perempuan masuk menghampiri mereka berdua dan duduk di sebelah pria yang mengumpat tadi dengan santainya.
"Len.. ! Kenapa dengan bestie lo? Datang-datang langsung dingin gitu kayak kutub utara! Bisa ikutan beku gue dekat nya lama-lama! " bisik pria tersebut di telinga perempuan itu.
"Ya mana gue tau lah Zainuddin! Lo kira gue cenayang yang tau penyebab orang yang dingin kayak Lea! Lagian tuh ya, dari gue jemput muka udah datar kayak gitu! Sepertinya si Lea gagal malam pertama! Hi.. Hi... Hi... ! " jawab perempuan itu dengan cekikikan kecil.
"Sue lo.. ! Panggil gue Jay Markonah! Zainuddin itu nama KTP gue! Itu nama khusus kalau gue ijab qabul nanti! " ucap pria yang di panggil Zainuddin itu kesal.
"Dih... Sok keren banget sih lo! Nama gue juga bukan Markonah pea! Magdalena itu nama gue bego! " sahut Lena dengan menoyor pelan kepala Jay.
"Eh Len.. ! Buruan tanya kenapa tuh pengantin baru kayak gitu? Tuh lihat dia malah tidur di atas kursinya! " ucap Jay menyenggol lengan Lena menunjuk ke arah Lea yang memejamkan matanya di kursi kebesaran nya.
"Lo aja yang nanya! Ngeri gue.. ! Gue takut kena semprot! Lea kan serem banget kalau lagi bad mood! " tolak Lena dengan menyuruh Jay balik nanya.
"Gue juga ngeri dodol.. ! " jawab Jay dengan wajah agak takut.
Mereka senggol senggolan sembari berbisik-bisik tanpa menyadari jika Lea sudah membuka matanya.
"Jay... ! Selidiki perempuan dan laki-laki dari hal yang terkecil hingga kelemahan mereka berdua! Akan aku kirimkan gambarnya di ponselmu dan kirimkan hasilnya di email ku! Aku harus pergi ke rumah mertuaku sekarang! " ucap Lea tanpa basa basi sambil berjalan menuju pintu keluar.
Bersambung...