I'm not stupid wife

I'm not stupid wife
Hari pernikahan



Sebuah aula gedung hotel ternama di sulap begitu indah layaknya negeri dongeng. Sepasang pengantin berdiri di atas pelaminan dengan tersenyum bahagia saat mendapat ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir.


Pengantin wanita nya tersenyum lebar di bandingkan pengantin pria yang menampilkan raut muka datar dan hanya tersenyum tipis jika para tamu undangan memberikan selamat. Tapi jika tamu sudah turun, ia kembali dalam mode datar tanpa ekspresi. Seakan-akan ia tidak menginginkan pernikahan ini terjadi.


"Cih.. ! Dasar ******! Apa dia tidak peka atau tidak sadar kalau Kak Harvey terpaksa menikahi nya? Lihatlah, ia tersenyum begitu lebar kepada para tamu undangan seakan-akan ia wanita paling bahagia di muka bumi ini menikah dengan Kak Harvey! Kalau saja aku bisa mencegah pernikahan ini, aku akan mencegah ****** itu mendapatkan posisi Kak Clarissa menjadi Nyonya Anderson! Hanya Kak Clarissa yang pantas menjadi Nyonya Anderson bukan ****** ini! " cibir perempuan berambut blonde dengan menatap ke arah pelaminan dengan wajah kesal dan penuh emosi.


Ia mencibir sang pengantin wanita yang tampak begitu cantik layak nya putri negeri dongeng. Entah berapa banyak umpatan yang keluar dari bibir tipis itu akan sosok pengantin wanita.


Seorang wanita paruh baya yang berpakaian seperti sosialita kelas atas menghampiri perempuan itu dengan membawa gelas berisi minuman di tangan kanan nya.


"Tampak nya kakakmu bahagia sekali menikahi perempuan sialan itu! " ucapnya dengan nada cemooh.


"Tante Clara.. ! " sahutnya agak sedikit kaget.


Ia melihat wanita paruh baya di sampingnya dengan tatapan tidak enak.


"Siapa bilang kakakku bahagia? Aku sangat yakin seratus persen kalau kakakku terpaksa menikahi perempuan itu! Aku tau bagaimana sifat kakakku itu Tante! " ucapnya dengan menatap lekat kearah pengantin di atas panggung.


"Cih.. Tentu saja kau berkata begitu karena membela kakakmu itu! Tapi bagiku semuanya bullshit! Semuanya kata-kata cinta yang kakakmu katakan pada putriku selama ini semuanya omong kosong! Putri ku masih terbaring koma di rumah sakit dan kakakmu berbahagia menikahi sahabat kekesihnya! " jawab perempuan paruh baya tersebut dengan wajah penuh amarah.


"Tante salah paham! Kakakku sampai saat ini masih mencintai Kak Clarissa! Dan aku sangat yakin akan hal itu! Pernikahan ini hanya mainan kakakku! Pasti ada alasan kenapa kakakku mau menikahi perempuan itu! " sahut perempuan muda itu membantah keras tuduhan calon mertua gagal kakaknya.


"Sudahlah.. ! Kau tidak perlu susah-susah mempertahankan argumen mu itu Starla! Kita lihat saja nanti dan kita buktikan nanti semua ucapanmu itu! " ucap perempuan paruh baya tersebut dengan wajah malas.


Ia langsung pergi keluar gedung dengan perasaan kesal dan amarah yang tinggi. Ia bahkan sempat menatap tajam calon besannya di atas panggung dengan pandangan kecewa dan marah secara bersamaan sebelum keluar dari tempat itu.


Sementara itu, di sudut ruangan megah tersebut sepasang pria dan wanita menatap kearah pelaminan dengan tatapan cemas dan sedih.


"Ubah ekspresi wajah mu itu Karin! Kau tidak mau bukan kalau ada yang melihat ekspresi wajahmu di hari bahagianya Nara! Jangan kau buat mereka yang ada disini menjadi kepo dengan ekspresi wajahmu itu! " tegur sang pria pada perempuan yang duduk di samping nya itu.


"Aku cemas dan takut Bagas! Kita berdua tau seperti apa laki-laki bernama Harvey itu! Aku takut dia menyakiti Nara! Kau lihat, muka datar dan dingin nya itu membuat aku cemas dan ketakutan seperti ini! Seharusnya... "


"Ma-maaf kan aku! A-aku tidak akan bicara yang macam-macam lagi! " jawab Karin agak menunduk setelah melihat keadaan di sekelilingnya.


"Ingat Karin! Jangan lagi mengatakan omong kosong seperti itu di tempat ini! Aku tidak mau ada yang mendengar apa yang kau katakan tadi! Jangan kan manusia, dinding pun bisa bicara! " bisik Bagas di dekat telinga Karin.


"Aku mengerti! Maafkan aku! " jawab Karin dengan wajah menyesal.


Mereka berdua kembali menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka dalam diam sembari melihat keadaan di sekelilingnya sambil melihat ke arah pelaminan.


Hari ini hari pernikahan Harvey Erick Anderson dengan Queen Nara Azalea Wijaya. Pernikahan mewah dan megah yang digelar di sebuah hotel mewah milik keluarga Anderson.


Dari mulai akad hingga resepsi, Harvey menahan emosinya di hadapan semua keluarga dan tamu undangan yang datang. Ia berkali-kali menahan geram dan kesal karena masih terjebak di atas pelaminan yang membuatnya muak dan benci. Terlebih lagi dengan perempuan yang berdiri di samping nya dengan tersenyum bahagia yang mulai hari ini sudah berganti status menjadi istri nya.


Yah, istri seorang Harvey Anderson. Pria dingin, arogan dan terlebih lagi sangat tampan seperti dewa-dewa Yunani kuno. Tatapan mata tajam nya membuat siapapun bertekuk lutut di hadapan nya dan membuat takut untuk sekedar menatap wajah rupawan nya itu.


"Dasar sialan! Tidak lama lagi aku akan membuat senyum di wajah cantik mu itu hilang dan berganti dengan kesedihan dan penderitaan! Aku akan membuat mu hidup di neraka ku dan tidak akan aku biarkan kau lolos dari siksaan ku! Penderitaan mu harus lebih pedih dari apa yang kau perbuat pada Clarissa ku! " batin Harvey sambil menahan geram sembari mengepal tangan nya sebelah dengan erat.


Di tempat yang berbeda, seorang wanita paruh baya memasuki sebuah ruangan warna putih dan mendekati sebuah ranjang dengan seorang perempuan terbaring di atas nya dengan beberapa alat kesehatan di tubuhnya. Layar monitor terdengar cukup keras di telinga karena ruangan tersebut begitu sunyi dan sepi.


Wanita itu menyentuh lembut pipi pucat perempuan yang terbaring itu dengan mata berkaca-kaca.


"Putri ku sayang! Bangun lah Nak! Apa kau tidak bosan terbaring di sini selama beberapa bulan? Apa kau tidak mau membuat Mama bahagia dengan membuka matamu itu? Mama merindukan mu sayang! Mama sangat merindukan mu! Kau harus bangun sayang! Kau harus mengambil tempat mu sebagai menantu Anderson dari ****** itu! ****** itu tidak pantas menggantikan posisimu di keluarga itu! Mama tidak rela posisimu di ambil oleh ****** sialan itu! Bangun lah Cla.. ! Hiks... Hiks... Hiks... ! " ucap perempuan paruh baya tersebut dengan kedua bahu bergetar sembari menaruh tangan dingin anaknya pada wajahnya.


Bersambung...


Mohon bantuan nya kakak-kakak untuk like dan komentar nya ya..


Semoga kalian suka dan selamat membaca ☺☺☺