I'm not stupid wife

I'm not stupid wife
Kenalan baru



"Kalian berdua keasyikan ngobrol sampai gak lihat kalau saya masih di sini! " ucap Ibu itu dengan nada jengah.


"Hehehehe... " sahut Lea dengan nyengir memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi.


"Maaf Bu, saya lancang mencopet tanaman Ibu! Saya benar-benar minta maaf! " ucap pria pencopet dengan wajah menunduk malu.


"Gak papa santai aja! Soalnya kalau isinya uang gak bakalan saya kejar kamu tadi karena saya gak peduli, tapi berhubung itu tanaman obat langka makanya saya ngotot teriak ngejar kamu! " sahut Ibu itu dengan nada santai.


"Sekali lagi saya minta maaf Bu! " ucap nya dengan nada menyesal.


"Iya, gak papa! Ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaan gadis ini, soalnya saya penasaran juga jawaban kamu! " sahut Ibu itu dengan menunjuk ke arah Lea.


"Eh iya.. ! Perkenalkan dulu, nama saya Bondan Anugrah! Saya dulu bekerja sebagai security di pusat perbelanjaan di daerah Tebet. Tapi tiga bulan yang lalu saya tidak kerja lagi karena menjaga anak saya di rumah, istri saya meninggal dunia empat bulan lalu hingga membuat saya di pecat karena selama sebulan sering bolos. " jawab Bondan dengan mata berkaca-kaca.


"Innalillahi... Maaf ya Bang udah bikin abang sedih kepikiran istri abang! " ucap Lea dengan mata juga berkaca-kaca.


"Saya turut berbelasungkawa Bondan! Maaf gara-gara saya kamu sampai bonyok di hajar orang! " ucap Ibu itu juga dengan wajah prihatin.


"Tidak apa-apa Bu, Nona! Meskipun masih sedih tapi saya harus kuat demi anak perempuan saya! " jawab Bondan dengan tersenyum tegar.


"Neng, ini pesanan nya! " ucap kang Bakso membuyarkan obrolan mereka.


"Ayo bang, Bu, kita makan dulu! Lea udah lapar nih! " ajak Lea sembari mengelus perut rata nya.


"Iya.. ! Tapi jangan panggil Ibu lah, saya kan masih muda dan belum menikah lagi! Panggil aja Madam Lucia! Tua banget di panggil Ibu-ibu! " jawab perempuan itu dengan muka merenggut kesal.


"Hehehehe... ! Madam bisa aja! Nama aku Lea! Lea kan gak mungkin panggil sembarangan, karena perempuan ya panggil aja Ibu kayak yang lainnya! " jawabnya ngeles.


Entah kenapa ia menjadi cerewet saat berhadapan dengan Lucia seperti teman dekat yang sudah kenal lama. Entah karena pembawaan Lucia yang apa adanya tanpa di buat-buat atau karena Lea yang sudah mulai mencair seperti tabiatnya waktu masih kecil hingga sebelum Mama nya meninggal dunia.


"Ayo bang di makan bakso! Jangan di liatin aja soalnya gak bakalan habis itu bakso kalau di pelototin gitu! " ucap Lea dengan memakan bakso bagian nya.


Bondan tampak ragu untuk memakan nya karena ia cemas keadaan anaknya yang belum makan apa-apa dari pagi.


Ia tidak mau menjadi ayah yang egois yang hanya mementingkan isi perut nya di banding sang anak yang mungkin kelaparan di rumah.


"Makan aja dulu bang biar bisa berpikiran jernih! Jangan pikirin anak abang karena pasti nanti ada rezeki buat anak abang kok! " tegur Lea yang ternyata peka dengan raut muka Bondan.


"Iya, makan aja dulu! Setelah perut kamu kenyang kamu bisa langsung pulang untuk menemui anak kamu! " sahut Lucia ikut menimpali.


Takut di kira tidak menghargai Bondan akhirnya memakan bakso bagian nya karena sejujurnya perut nya sudah melilit kelaparan dari semalam tidak makan apapun selain air putih.


Mereka bertiga makan dengan tenang di tengah-tengah hiruk-pikuk orang lalu lalang berbelanja kebutuhan dapur mereka. Lea dan Lucia sama sekali tidak jijik makan di tempat yang jauh dari kata bersih seperti tempat makan pada umumnya, soalnya terletak di tengah-tengah pasar tradisional. Terlebih lagi pakaian yang mereka berdua pakai tidak mencerminkan pakaian masyarakat kelas bawah yang tampak elegan meskipun tidak begitu mencolok.


"Alhamdulillah kenyang! " ucap Lea lirih dengan mengelap mulutnya pakai tisu.


Ia merogoh kantong dress nya yang sengaja membawa uang beberapa lembar uang merah yang ia ambil secara acak dari dompet nya tadi karena buru-buru.


"Terimakasih banyak Nona! Maaf kalau saya ngerepotin Nona! " sahutnya dengan penuh rasa haru.


"Kalau kamu butuh kerjaan datang saja ke alamat yang ada di kartu ini! " ucap Madam Lucia dengan memberikan sebuah kartu pada Bondan.


"Ya Allah... Terimakasih banyak Madam, Nona! InsyaAllah saya tidak akan melupakan kebaikan Madam dan Nona! Sekali lagi terimakasih dan saya permisi dulu! " jawab nya dengan cairan bening yang keluar dari matanya.


Ia menghapus cepat-cepat air matanya nya yang penuh rasa haru dan suka cita di pertemukan dengan orang baik seperti Lea dan Madam Lucia.


"Nona.. ! Kami sudah selesai belanja! Nona mau pulang sekarang apa mau jalan-jalan dulu! " panggil Surti dengan membawa barang belanjaan bersama Alice mendekati Lea.


"Pulang aja Mbok! Berapa Mang?? " jawab Lea sambil bertanya kepada kang Bakso.


"Biar Madam yang bayar! Oh ya ini kartu nama Madam! Kapan-kapan main ke rumah nya biar kita ngobrol banyak! Madam kayak ketemu teman lama deh sama kamu! " ucap Madam Lucia dengan wajah serius pada Lea.


"Oke deh! Tapi Lea gak janji ya Madam, soalnya gak tau lagi kapan Lea bisa keluar rumah lagi! " jawab Lea jujur.


"Iya gak papa! Nih bang uang nya! " sahut Madam Lucia santai.


Lea pun pamit pulang bersama Surti dan Alice berjalan keluar pasar menuju mobil yang sudah menunggu mereka.


"Kak, kakak gak papa tangan nya waktu memukul bapak-bapak tadi? " tanya Alice dengan nada khawatir saat mereka sudah di dalam mobil.


"Gak papa kok! Gak sakit juga! " jawab Lea jujur.


"Beneran Nona! Gak bohong kan?? Si mbok takut tangan Nona bengkak karena pukulan tadi kuat banget loh.. " cerca Surti juga dengan nada khawatir.


"Ya gak bohong lah mbok! Ini mah udah biasa kok bagi Lea! Masa mukul pipi aja tangan Lea sampai sakit! Dah ah gak usah ngomongin itu lagi! " jawab Lea bersikeras seakan hal itu hal yang wajar.


"Eh, jangan bilang siapa-siapa ya mbok?? Kamu juga Alice! Ini rahasia kita bertiga! Oke.. !! " ucap Lea lagi dengan menatap mereka berdua satu persatu.


"Iya Non janji! "


"Iya Kak, Alice janji! "


"Cakep... ! " ucap Lea dengan tersenyum lebar.


Mereka bertiga pun terdiam sambil menikmati perjalanan pulang ke kediaman utama Anderson.


Mereka tidak tau jika kepulangan mereka di tunggu dua mak Lampir dengan wajah menggelap marah.


"Kurang ajar itu perempuan! Berani-berani nya pergi tanpa pamit pada kita! Awas aja kalau pulang nanti akan aku beri pelajaran biar gak ngelunjak di rumah ini! Akan aku tunjukkan siapa yang berkuasa! " ucap Siska dengan mata berapi-api saking kuat menahan gejolak amarah di dadanya.


Bersambung...