I'm not stupid wife

I'm not stupid wife
Masih seputar masa lalu



Nara histeris hebat yang mana langsung membuat Steve sigap memegang tangannya agar tidak lagi menjambak rambutnya sendiri.


Ia meronta-ronta saat berada dalam pelukan Steve. Naya bersimpuh di lantai sambil memukul dadanya yang terasa sesak melihat reaksi kembaran nya.


Oma Wijaya juga memegang dadanya yang tiba-tiba sakit saat mendengar kabar yang mengejutkan tentang menantu satu-satunya itu. Billy dengan sigap menuntun Nyonya besar Wijaya untuk duduk di kursi agar tidak terjatuh di lantai.


Tuan besar Wijaya masih berdiri dengan pandangan kosong seakan-akan tidak percaya jika menantunya menjadi korban dalam insiden kebakaran ini.


Katsumi dan Katsuro hanya diam dengan jarak 3 meter dari majikan nya dengan wajah datar. Meskipun raut wajah mereka berdua seperti itu, mereka turut prihatin dan berduka cita atas apa yang terjadi pada menantu majikan mereka. Hanya saja mereka tidak bisa berekspresi lebih jauh lagi karena tugas mereka untuk menjaga keamanan keluarga Wijaya seperti sumpah mereka 15 tahun lalu.


Steve masih berusaha menenangkan Nara yang masih trantrum dengan memukuli tubuhnya karena berontak. Sementara Billy langsung mendekati Naya yang masih terduduk di lantai setelah mendudukkan Nyonya besar Wijaya di kursi tunggu.


"Non Naya, ayo duduk di sana bersama Nyonya besar! Lantai ini sangat dingin dan tidak cocok untuk Nona! " ajak Billy dengan merengkuh bahu Naya supaya berdiri.


Naya hanya diam dalam isakan, tapi tetap patuh saat Billy membawa nya duduk di kursi tunggu. Oma Wijaya langsung merengkuh Naya kedalam pelukan nya begitu Naya duduk. Mereka berdua menangis sambil berpelukan.


"Nara! Nara! Bangun Ra! Bangun.. !!! " teriak Steve dengan menepuk pelan pipi Nara yang pingsan di pelukan nya.


Tuan besar Wijaya dan Billy dengan cepat berjalan mendekati mereka dan terkejut melihat Nara pingsan kembali.


"Tolong.. ! Tolong... ! Panggilkan Dokter! Panggil.. !! " teriak Billy dengan suara bergema.


Mendengar suara minta tolong, petugas rumah sakit yang lewat langsung berlari mendekati mereka seraya mendorong bed pasien.


"Tuan, naikkan ke bed ini karena akan saya bawa ke IGD! " ucap petugas tersebut pada mereka.


Tanpa banyak bicara Steve langsung menggendong Nara dan membaringkan nya ke atas bed. Petugas itu langsung mendorong nya ke ruang IGD dengan di ikuti oleh Steve dan Billy.


Sementara ituTuan besar Wijaya diminta untuk menemani Nyonya besar Wijaya dan Naya oleh Billy karena ia akan mengurus semuanya.


"Suamiku.. ! Apa Nara baik-baik saja?? " tanya Oma Wijaya setelah tangisannya reda.


"Berdoa saja sayang! Mudah-mudahan Nara tidak apa-apa! " jawab Opa Wijaya dengan suara lemah.


Naya menghapus jejak air mata di pipi nya saat mendengar apa yang terjadi pada kembaran nya.


"Ini semua salah Naya Oma, Opa! Kalau saja Naya berusaha keras mencegah Mama ke Mall, pasti Mama masih bersama kita saat ini! Mama ngotot mau mencari kado untuk ulang tahun kami berdua dua minggu lagi, dan Mama berniat akan ke Amerika menyusul kalian merayakan hari ulang tahun kami sekalian menetap di sana bersama selama nya! " ucap Naya dengan nada serak.


"Apa??? Jadi kalian berniat untuk tinggal di Amerika bersama kami?? " tanya Oma Wijaya dengan wajah kaget.


"Iya Oma.. ! Mama berniat memberikan kejutan tersebut pada Nara pada hari ulang tahun kami nanti, dan Naya akan menyusul setelah studi Naya selesai setahun lagi! " jawab Naya dengan menganggukkan kepala nya.


"Oh Tuhan suamiku... !! " ucap Oma Wijaya dengan wajah frustasi.


Jejak kesedihan mendalam terlihat di wajah tua laki-laki lansia itu. Namun ia berusaha kuat dan tegar untuk istri dan kedua cucunya.


Nara sedang di tangani dokter di ruang IGD dengan Steve dan Billy yang menunggu di luar. Kedua tangan Steve di masukkan ke kantong dengan wajah menengadah ke atas menatap langit-langit rumah sakit tersebut.


*Tidak lama berselang seorang dokter wanita keluar dan Steve langsung berjalan cepat menghampiri dokter tersebut, sama hal nya dengan Billy.


"Dengan keluarga pasien Nara?? " tanya Dokter tersebut sambil melihat mereka berdua dengan lekat.


"Iya dokter! Saya sepupunya dan ini pamannya! Apa yang terjadi dengan sepupu saya dokter! " jawab Steve langsung menjelaskan siapa mereka.


"Terimakasih Tuan! Nona Nara mengalami vasovagal syncove atau lebih dikenal sinkop vasovagal yang dalam istilah medis nya kondisi yang membuat seseorang pingsan akibat tubuh bereaksi berlebihan terhadap sesuatu, dan sepertinya Nona Nara mengalami tekanan emosional yang parah! Untuk saat ini kami sudah memberikan pertolongan dan sekarang beliau sedang tidur! Saya saran kan untuk selalu menjadi emosinya karena jika terjadi hal seperti ini lagi maka beliau akan mengalami serangan mendadak hingga membuat semua organ tubuh nya menjadi tidak berfungsi! " ucap Dokter tersebut panjang lebar.


Steve yang juga seorang dokter mengetahui apa yang terjadi pada seseorang yang mengalami sinkop ini. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil berpikir bagaimana menyampaikan hal ini kepada kakek nenek Nara.


"Terimakasih atas penjelasan nya Dokter! Apakah kami bisa memindahkan nya ke ruang rawat?? " jawab Billy dengan sopan.


"Oh silahkan Tuan! Kalau begitu saya permisi dulu! " sahut Dokter itu dengan menganggukkan kepala nya.


Dokter tersebut berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih termenung dan terdiam untuk waktu beberapa menit.


"Paman! Biar aku yang mengurus kepindahan Nara ke ruang rawat! Paman urus saja kepulangan jenazah Aunty Rani karena sudah waktunya jenazah Aunty Rani di semayamkan dan di kuburkan! Tidak mungkin jenazahnya masih di rumah sakit dan tidak di makamkan! " ucap Steve dengan nada serius pada Billy.


"Itu juga yang saya pikirkan Tuan! Kalau begitu saya tinggal dulu dan akan mengurus jenazah Nyonya Rani! Jika ada hal darurat langsung saja hubungi aku! " sahut Billy dengan menepuk pelan bahu Steve.


Steve mengangguk paham, mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing. Sementara itu, di alam bawah sadar nya Nara bertemu kedua orang tuanya, Rani dan Elang.


"Nara sayang... ! Kenapa kamu di sini Nak?? Disini bukan tempat mu.. ! Mama bahagia akhirnya bisa kumpul kembali bersama Papa! Kembalilah sayang, kasihan Oma dan Opa mu serta Naya! Jadilah anak yang kuat sayangku.. ! " ucap Rani dengan lembut mengusap pipi mulus Nara.


Nara menggelengkan kepalanya dan masih memeluk erat tubuh sang Papa.


"Nara pengen sama Mama dan Papa! Nara kangen sama Papa! Kenapa Papa gak pernah datang dalam mimpi Nara?? Kenapa Papa datang dalam mimpi Nara bersama Mama?? " jawab Nara dengan menumpahkan semua keluh kesah nya.


"Bukan waktu nya kamu di sini sayang.. ?? Jika sudah waktunya, kita akan bertemu dan berkumpul bersama sayang.. ! " jawab Elang dengan memberikan ciuman hangat di kening sang putri.


"Iya Nak! Pergi lah temui Oma Opa dan Naya! Mereka menunggu mu sayang! Hiduplah bahagia bersama mereka sayang! Mama dan Papa akan selalu menjaga kalian dari atas sini! " ucap Rani lagi dengan tersenyum teduh.


Nara menangis kesegukan sambil memeluk mereka berdua bersamaan. Bersama dengan itu tiba-tiba ada cahaya datang dan langsung membawa Rani dan Elang menghilang dari pelukan Nara.


"Jangan pergi.. !!! Jangan pergi*!!! "


Bersambung...