
Sore harinya setelah pesta resepsi pernikahan nya selesai, Queen Nara Azalea Wijaya yang biasanya di sapa Lea memasuki kamar hotel tempat ia dan suaminya menginap khusus setelah menikah.
Ia yang tadinya tersenyum lebar dan ramah saat bertegur sapa dengan pelayan hotel dan tamu pengunjung langsung berubah menjadi datar dan dingin wajahnya saat setelah menutup pintu kamar.
Lea bergegas mengambil laptop yang ada di dalam kopernya di sudut ruang dalam kamar tersebut. Ia tidak memperdulikan suasana kamar yang tampak megah dan banyaknya kelopak mawar menyerupai lambang love dengan sepasang angsa dari handuk putih di atas kasur king size yang ada di kamar itu.
Ia tampak serius mengutak-atik keyboard laptop nya dan beberapa saat kemudian ia tersenyum sinis saat melihat apa yang tertangkap di dalam laptopnya.
Dengan santai ia mematikan kembali laptopnya, kemudian menyimpan nya lagi di dalam koper.
Lea berjalan mendekati meja rias dan melihat bayangan dirinya di dalam cermin tersebut.
"Saat-saat kesulitan hidupmu akan berjalan mulai dari hari ini Lea.. ! Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi seperti yang selama ini kau lakukan! Kau harus bisa membuat semua orang tahu siapa sesungguhnya Queen Nara Azalea Wijaya! Sudah cukup kau berada di belakang layar selama ini! " ucap nya pada dirinya sendiri di depan cermin.
Wajah cantik bagaikan bidadari itu tersenyum menyeringai dan senyum nya langsung hilang saat mendengar ada suara dari pintu kamar.
"Sepertinya suami tersayang ku sudah mau masuk rupanya! Saat nya pertunjukan di mulai! " gumam Lea dengan tersenyum sinis.
Ceklek...
Pintu kamar itupun terbuka dan masuklah sesosok pria tampan gagah rupawan memasuki kamar dengan wajah datar dan dingin dengan menatap Lea sesaat sebelum ia pergi begitu saja ke ruang sebelah.
Kamar presiden suite tersenyum luas nya hampir menyerupai apartemen dengan adanya ruang santai di sebelah kamar tidur lengkap dengan pantry. Kamar mandinya yang mewah dengan bath up yang besar membuat suasana mandi lebih nyaman untuk pasangan pengantin baru seperti mereka.
Karena sudah gerah dan badannya lengket, Lea langsung pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaian pengantin nya. Guyuran air dingin membuat otaknya seketika adem dan badannya sangat segar. Lea sengaja tidak berendam di bath up karena tubuhnya sangat lelah dan ia butuh istirahat yaitu tidur.
Lea keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe yang ada di dalam kamar mandi, yang memang di sediakan oleh pihak hotel. Ia menghela napas panjang saat menarik kopernya dan mengangkatnya ke atas tempat tidur. sepasang piyama lengan panjang ia dapatkan lengkap dengan pakaian dalam nya. Dengan santai ia mengganti pakaian nya di sana tanpa sadar sepasang mata mengawasinya dari balik dinding ruang santai dengan begitu inten.
"Shitt... !! Bisa-bisanya gatot bangun hanya karena melihat tubuh telanjang perempuan sialan itu! " gumam Harvey dengan agak geram karena menahan hasrat nya.
Tidak ingin semakin panas dan blingsatan, ia kembali berjalan pelan-pelan menuju sofa dan mendudukkan dirinya di sana sembari memijit keningnya yang tiba-tiba pusing karena gatot yang masih ngotot bangun di bawah sana.
"Sial.. !! Bisa-bisanya aku hampir mendekati perempuan itu hanya karena melihat nya saja gatot langsung bereaksi! Padahal selama ini Clarissa bugil di hadapanku sambil merayu pun gatot lempeng-lempeng aja! Sedangkan sekarang ini hanya dengan melihat sesaat saja gatot langsung bangun dari hibernasi nya dan belum juga mau tidur! Benar-benar sial! Pokoknya aku harus fokus pada tujuan utama ku untuk membuat perempuan itu hidup bagaikan di neraka! Yah, hal itulah yang harus aku lakukan dan jangan sampai goyah hanya karena gatot bangun! " umpat Harvey dalam hatinya sembari memukul sofa dengan agak keras menyalurkan kekesalan nya.
Ia mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya sembari menghirup oksigen banyak-banyak.
Sementara itu Lea sudah bersiap untuk tidur karena tubuhnya benar-benar lelah dan kaki nya terasa pegal karena kebanyakan berdiri saat pesta tadi.
Begitu tubuhnya lengket dengan kasur empuk hotel Lea langsung terlelap tidur tanpa menyadari jika ada predator yang siap menerkam di dalam kamar itu.
"Kruccchhhh.. " bunyi perut Harvey agak kencang.
"Sial! Aku bahkan lupa kalau dari tadi belum makan! " umpat Harvey dengan kesal dan langsung berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar tersebut.
Ia berjalan menyusuri lorong menuju lift yang akan membawa nya ke lantai 4 tempat restoran hotel berada.
Ting
Harvey memasuki lift dengan kedua saku di masukkan ke dalam mantel nya. Ia masih menggunakan jas pesta nya tadi dengan hanya menambahkan mantel panjang yang menutupi jas nya hingga sebatas lutut.
"Erick.. ! " panggil seseorang saat ia berjalan keluar dari lift.
Harvey berhenti dan melihat sekilas siapa yang memanggil nya dengan wajah datar dan dingin nya itu.
"Apa kau mau makan juga? Ayo kita barengan karena aku juga lapar! Aku kira kau sedang malam pertama dengan istri mu karena bagaimana pun juga ini kan malam pernikahan mu! " cerocos perempuan itu tanpa henti.
Yah, yang memanggil Harvey adalah perempuan berwajah oriental dengan dandanan yang mencolok dan pakaian yang seksi menampilkan semua lekuk tubuh nya.
"Berhenti memanggilku dengan panggilan Erick Emily! Hanya Clarissa yang aku izinkan memanggil nama kecil ku! " ucap Harvey dengan nada tegas lengkap dengan muka datar dan dinginnya.
Perempuan yang di panggil Emily hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Harvey dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Harvey berjalan duluan memasuki restoran dan Emily berjalan di belakang nya laksana anak ayam yang mengikuti induknya.
Emily duduk di meja yang sama dengan Harvey dan memesan makanan pada waitress setelah Harvey memesan terlebih dahulu.
"Wah, wah, wah.. ! Tidak aku sangka akan bertemu pengantin baru di restoran ini! Gimana bro? Udah belum jebol gawang nya? " tegur seorang pria yang langsung duduk di samping Harvey tanpa di suruh.
"Tutup mulut ember mu itu Marco! Aku tidak segan-segan untuk merobeknya sekarang ini jika kau masih membual lagi! " jawab Harvey dengan dingin.
"Oh come on bro.. ! Jangan marah-marah! Apa kau tidak mau merasakan surga dunia dengan pengantin mu yang spek bidadari itu? Aku yakin kau akan ketagihan jika sudah mencicipi seorang perawan bro! " sahut Marco tidak takut dan masih menggoda Harvey dengan sengaja.
"Cih, aku tidak yakin kalau perempuan itu masih perawan! " celutuk Emily mencibir Lea di hadapan Harvey dan Marco.
"Jaga kata-kata mu Emily! Jangan sampai apa yang kau katakan terdengar oleh istrinya Harvey! Jangan sama kan dia dengan dirimu yang menjadi piala bergilir! " bantah Marco dengan nada tidak suka pada Emily.
Bersambung...