
Kepala pelayan berjalan mendekati Lea yang masih menangis memegang lututnya yang memar membentur lantai. Ia sengaja menukar pakaian awalnya berwarna hitam menjadi kemeja dengan rompi sweater dan rok mengembang bermotif polkadot.
"Ayo Nona muda saya antar ke kamar Nona! " ucap lembut kepala pelayan dengan menyentuh kedua bahu Lea.
"Te-terimakasih pa-paman! " jawab Lea dengan nada lemah.
"Sama-sama Nona muda! Itu sudah kewajiban saya! " sahut kepala pelayan dengan wajah prihatin.
Ia menuntun Lea dengan pelan karena takut Lea kesakitan jika berjalan cepat menuruni anak tangga. Ia membawa Lea ke kamar belakang dekat dengan dapur karena kamar pelayan berada terpisah dari rumah utama, tepatnya di paviliun belakang yang sengaja di bangun untuk pekerja di rumah tersebut kecuali kepala pelayan yang kamar nya tidak jauh dari kamar yang akan Lea tempati.
"Maafkan saya Nona muda! Saya terpaksa membawa Nona ke kamar sempit ini! Seharusnya Nona muda berhak mendapatkan kamar yang lebih layak daripada ini! " ucap kepala pelayan dengan nada sendu.
"Tidak apa-apa Paman! Ini juga sangat nyaman untuk perempuan miskin seperti saya! " jawab Lea lembut dengan tersenyum tulus.
"Ya Tuhan.. ! Malang sekali nasib perempuan cantik ini! Wajah yang cantik, lemah lembut dan sangat tulus menjadi istri pria kejam seperti Tuan Muda! Ini tidak adil bagi perempuan baik ini Tuhan! " jerit kepala pelayan dalam hatinya.
"Silahkan Nona beristirahat! Jika perlu sesuatu panggil saja saya dan saya akan melayani Nona sepenuh hati! " ucap kepala pelayan dengan hormat dan sopan.
"Iya paman! Sekali lagi terimakasih sudah mau membantu saya! Ngomong-ngomong nama paman siapa?? " jawab Lea ramah sembari bertanya.
"Astaga Nona! Maaf kan saya yang sudah mulai pikun ini! Maaf belum memperkenalkan diri! Nama saya Albert! Panggil saja Albert seperti yang lainnya! Jangan formal dengan pelayan rendahan seperti saya Nona! " ucap Albert dengan nada kaget atas kebodohan nya.
"Tidak paman! Orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya memanggil orang yang lebih tua dengan nama nya saja! Itu sangat tidak sopan! Orang tua wajib di hormati apapun profesi nya! Paman panggil saja Lea, tidak usah embel-embel Nona muda! " tolak Lea dengan nada tegas tanpa mau di bantah.
"Pria tua ini tidak berani Nona! Nona muda adalah istri sah Tuan Muda Harvey! Saya tidak mau melebihi batas! " jawab Albert masih menolak.
"Aku memaksa paman! Jika paman tidak mau aku akan mengadu pada Daddy! " ancam Lea dengan pura-pura marah.
"Jangan... !! Jangan laporkan pada Tuan besar Nona! Baiklah, saya akan panggil Nak Lea saja! " pekik Albert tidak kencang dengan wajah pucat.
"Nah, gitu dong! Gini kan enak! Ya udah, kalau gitu Lea istirahat dulu ya paman! " ucap Lea tersenyum lebar.
"Silahkan Nak Lea! Paman mau memeriksa pekerjaan pelayan dulu! Kalau Nak Lea lapar langsung saja temui Alice di dapur! " sahut Albert dengan mengangguk sopan.
"Iya paman! " jawab Lea sembari menutup pintu.
"Semoga Tuhan memberkatimu Nak dan semoga engkau bahagia! " batin Albert dengan mengusap air bening di sudut matanya.
Begitu Albert pergi dari kamar Lea, sepasang mata melihat semuanya dengan air mata berlinang melihat salah satu anggota keluarga di kediaman ini memperlakukan ayahnya dengan lebih manusiawi.
"Nona muda! Aku akan melindungi Nona dari parasit yang ada di rumah ini termasuk Tuan muda Harvey sekalipun! " gumam lirih perempuan tersebut dengan kedua tangan terkepal erat.
Sementara itu, begitu pintu tertutup dan terkunci dari dalam Lea mengubah ekspresi wajah nya menjadi datar dan dingin.
"Huh... ! Capek juga pura-pura lemah dan menangis bombai kayak tadi! Dasar manusia ular, kalian pikir gue gak tau kalian berdua mengintip saat bajingan sialan itu menyiksa gue! Belum saat nya gue bermain-main dengan parasit seperti kalian! Karena tujuan awal gue adalah bajingan yang bernama Harvey Anderson! " ucap Lea dengan tersenyum miring.
"Gue kira di rumah ini semuanya Dajjal! Ternyata ada malaikat juga! Paman Albert, mulai hari ini paman berada dalam lindungan Lea! " ucapnya lagi sembari melihat langit-langit kamar nya.
Karena kelelahan, ia pun akhirnya ketiduran tanpa memperdulikan hal di sekelilingnya.
Di lain tempat, Harvey melampiaskan kemarahan nya dengan menghajar samsak yang ada di arena pertarungan tinju milik temannya.
"Kenapa dia?? Tidak pernah gue lihat itu anak melampiaskan kemarahan membabi buta seperti itu?? " tanya seorang pria dengan menatap lekat Harvey yang menggila di ring.
"Gak tau gue! Baru datang udah kayak iblis aja itu anak! Gue aja takut untuk negur, takut jadi sasaran empuk nya! " jawab pria yang duduk di sebelah nya sambil menghisap rokok nya dengan mata terpejam.
"Huh.. ! Kemana Mario?? Biasanya selalu nongol jam segini?? " tanya pria yang awal tadi bertanya.
"Di suruh ngantar nyokap nya ke arisan emak-emak! Elo kan tau si Mario anak baek gak kayak elo yang durhaka sama emak lo! " jawab pria yang merokok tadi dengan nada mengejek.
"****** lu Max! Lama-lama gue hajar juga lo! " ucap pria tersebut dengan meninju bahu pria perokok yang bernama Max.
"Elo kira gue takut Le! Elo lupa kalau gelanggang ini punya gue! " sahut Max dengan seringai liciknya.
"Sialan lo! Panggil gue Leon bangsat! Elo kira gue lele! " jawab Leon dengan sangat kesal.
"Hahahaha... ! Suka-suka gue nyet! " sahut Max masa bodo.
Pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Harvey yang berjalan mendekati mereka berdua dengan wajah lelah dan penuh keringat.
Tubuh shirtless nya basah dengan keringat karena ia memang menanggalkan bajunya hingga memperlihatkan otot-otot lengan dan roti sobeknya dan tak lupa pula tatto di punggung belakang nya bergambar dua sayap kiri kanan dan tatto di leher belakang bergambar kalajengking.
"Kenapa elo bro! Pertama kalinya gue lihat elo lepas kendali seperti ini! " tanya Leon dengan memicingkan matanya.
"Perempuan sialan itu memancing emosi gue! " jawab Harvey singkat dengan wajah datar.
"Bini lo man??? " tanya Max sambil mematikan rokoknya.
"Hmmm.. " jawab Harvey berdehem.
"Hati-hati lo bro! Benci itu dinding nya setipis tisu dari cinta! Terlalu benci elo sama dia akan bikin elo jatuh cinta begitu dalam ama bini lo! " ucap Max menasehati Harvey.
"Cih, gue gak akan jatuh cinta sama perempuan jahat seperti dia! Dia udah bikin Clarissa kecelakaan dan koma sampai sekarang! Gue akan bikin perempuan itu hidup di neraka menjadi istri gue! " sahut Harvey dengan nada sinis.
"Terserah elo bro! Gue hanya mengingatkan elo, karena jika saat perkataan gue menjadi kenyataan, gue lah orang pertama yang akan menertawakan nasib elo! Hahahaha.. ! " ucap Max dengan tertawa keras.
Bersambung...