
Tak lama setelah Lea keluar dari basecamp mereka, terdengar dentingan bunyi ponsel yang tergeletak di atas meja. Jay langsung mengambilnya dan melihat pesan yang masuk.
"Tugas dari Lea? " tanya Lena dengan pandangan menyelidik.
"Yoi.. ! " jawab Jay singkat dan langsung berdiri menuju sebuah pintu ruangan yang di dalam nya terdapat berbagai macam bentuk komputer lengkap seperti ruang khusus Cyber di kepolisian dengan layar raksasa.
Sementara itu, Lea memasuki sebuah ruangan khusus yang merupakan ruang pribadinya di basecamp tersebut yang hanya bisa masuk dengan menggunakan kode retina matanya.
Lea membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk yang ada di ruangan tersebut. Ia menatap langit-langit kamar itu sembari menghela napas dengan kasar.
"Harvey Erick Anderson! Laki-laki dingin yang angkuh dan bodoh. Kalau bukan karena janjiku pada nya, kau sudah mati di tanganku hari ini! Bagaimana bisa ada perempuan yang begitu bodoh mencintai laki-laki angkuh seperti itu! Percuma tampan tapi bodoh terhadap wanita sekarat itu! ckckck... Sungguh bodoh! " ucap Lea dengan nada sinis.
"Astaga Lea.. ! Bagaimana bisa kau mengakui kalau laki-laki itu tampan?? Sepertinya aku sudah mulai gila! " rutuk Lea dengan memukul kepala nya.
"Haish... ! Nyebelin banget tuh orang! Percuma aja pintar berbisnis tapi mau aja di kibulin perempuan hanya karena sebuah cinta! Cih.. bullshit dengan cinta! Makan tuh cinta ! " umpat Lea kesal dan marah-marah.
Seakan-akan orang yang ia marahi ada di hadapan nya.
Queen Nara Azalea Wijaya adalah putri bungsu keluarga Wijaya yang tidak di ketahui keberadaan nya dari ia kecil hingga sekarang ini. Hal itu di karenakan ia hidup terpisah dengan ibu dan kakak kembarnya setelah sang ayah meninggal dunia.
Nara yang biasa di panggil keluarganya di asuh oleh kakek nenek dari ayahnya dan hidup di luar negeri sejak saat itu hingga sekarang ini.
Elang langit Wijaya adalah ayahnya dan Putri Maharani adalah ibunya yang berasal dari keluarga sederhana. Elang seorang pewaris kekayaan Wijaya yang menyembunyikan identitas asli nya dari sang istri saat mereka menikah hingga di akhir ajalnya.
Saat suaminya meninggal dunia, Rani dengan tegas menolak ajakan kedua mertuanya untuk di boyong ke Amerika karena tidak ingin meninggalkan makam suaminya di Indonesia.
Hal itulah yang membuat Lea hidup terpisah dengan ibunya pada usia 8 tahun. Meskipun hidup terpisah, Rani tidak pernah sekalipun melupakan sang putri dan tetap bertukar kabar hingga akhir peristiwa naas itu terjadi.
*Flashback 5 tahun yang lalu.
"Opa.. ! Kenapa Mama gak bisa Nara hubungi? " tanya Nara pada Opa nya yang sedang membaca koran.
"Ulangi aja terus, mungkin lagi gak ada sinyal! " sahut Opa nya tanpa menghentikan kegiatan nya.
Nara terus saja mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi sang Mama yang ada di Indonesia, namun yang menjawab hanya operator saja. Ia mondar-mandir dengan perasaan gelisah dan cemas karena ini pertama kalinya ponsel sang Mama tidak bisa di hubungi.
"Tuan besar! Tuan besar! " teriak seseorang yang memasuki mansion dengan wajah panik.
"Paman Billy! Ada apa? Kenapa paman panik begitu? Apa yang terjadi! " tanya Nara heran.
"Nona muda! " ucap Billy dengan wajah iba dan kasihan.
"Billy.. ! Apa yang membuatmu panik dan berteriak-teriak di dalam mansion ini! " tanya Opa Wijaya sembari meletakkan korannya.
"Iya paman! Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Entah mengapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak saat melihat wajah paman! " tambah Nara mendesak Billy untuk bicara.
"Nyonya Rani terjebak dalam kebakaran di pusat perbelanjaan ! Sampai sekarang belum tau bagaimana keadaan beliau apakah selamat atau menjadi korban! " jawab Billy dengan sangat hati-hati.
Prang....
Mereka bertiga melihat kebelakang dan Oma Wijaya terlihat berdiri di belakang mereka dengan wajah shock hingga membuat nampan yang ia bawa jatuh berantakan di lantai.
"Paman bohong kan?? " ucap Nara dengan suara tercekat menahan tangis.
Billy menggelengkan kepalanya dan menyerahkan sebuah ponsel pada tuan besar. Sebuah panggilan masih terhubung dan Tuan besar Wijaya berbicara dengan orang yang ada di seberang sana dengan wajah serius.
Nyonya besar Wijaya mendekati Nara dan memeluk erat tubuh cucu nya yang entah sejak kapan sudah menangis tanpa suara dengan bahu naik turun.
"Oma.. ! Apakah Mama baik-baik saja? Apa itu alasan mengapa dari semalam ponsel Mama tidak bisa di hubungi? Nara gak mau kehilangan Mama Oma! Hiks... Hiks... Hiks... ! " ucap Nara dengan terisak di pelukan Oma nya.
"Jangan menangis sayangku.. ! Mudah-mudahan itu hanya dugaan, berdoalah banyak-banyak pada Tuhan agar semua hal buruk itu tidak terjadi pada Mama mu! " sahut Oma Wijaya menghibur cucunya.
"Billy.. ! Hubungi pihak bandara! Katakan kita akan berangkat ke Indonesia saat ini juga! " perintah Tuan besar Wijaya pada asisten pribadinya itu.
Nara dan Oma nya melepaskan pelukan mereka dan mendekati Opa Wijaya.
"Suamiku... ! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita harus ke Indonesia sekarang? Apakah Rani dan Naya baik-baik aja? " tanya Oma Wijaya dengan beruntun pada suaminya.
"Kalian berdua berkemas lah! Begitu kabar Billy selesai kita akan langsung berangkat ke bandara! " perintah Opa Wijaya tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
Mereka berdua patuh dengan perintah pemimpin tertinggi keluarga tersebut karena mereka tahu jika sang pemimpin tidak mau menjawab pertanyaan berarti ia tidak mau di bantah dan perintah nya harus di turuti.
Lima menit kemudian, Nara sudah siap dengan koper kecil dan tas ransel yang ia sandang di punggung. Oma Wijaya juga sudah siap dengan koper nya dan beberapa orang membawa koper mereka menuju mobil.
Nara dan Oma nya berjalan bergandengan tangan dengan pikiran bercabang. Terlebih lagi Nara yang cemas akan keadaan sang Mama. Air mata tidak henti-hentinya mengalir di pipi Nara karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada sang ibu.
"Ya Tuhan.. Lindungi lah Mama ku di manapun ia berada! Jauhkan lah ia dari segala macam musibah! Pertemukan aku dengan Mama ya Tuhan! " ucap Nara dengan lirih.
Tak lama kemudian, terdengar suara ponselnya di dalam tas. Sebuah panggilan dari kakak kembarnya Naya.
"Halo... " jawab Nara.
"Hu.... Hu... Hu.... Nara.. ! Bagaimana ini? Mama udah gak ada lagi Nara! Mama udah pergi ninggalin kita ! Hu... Hu... Hu...Mama udah pergi di jemput papa Nara! Apa yang harus aku lakukan Nara! Hu... Hu... Hu... " ucap Naya dengan menangis tersedu-sedu di seberang telepon.
"Ka-kakak bohong kan?? Mama gak mungkin pergi ninggalin kita! Mama gak mungkin pergi! Gak mungkin ! Kakak pasti bohong! " teriak Nara dengan suara serak dan tertahan di tenggorokan*.
Bersambung...