
"Yun Yiyi!" Yiyi yang baru tiba di kelas merasa dirinya dipanggil dan saat melihat siapa yang memanggilnya dia mengabaikan orang itu kemudian membuka buku nya
"Hei Yun Yiyi aku memanggilmu" orang itu adalah Li Haochen, ia merasa di abaikan dan mengambil buku Yiyi
"Kembalikan" Yiyi hanya menatap tangan Li Haochen yang mengambil buku nya
"Apakah buku ini lebih menarik dariku?"
"Iya, jadi kembalikan buku itu"
"Omong kosong!" Li Haochen tidak mengerti ia sadar dirinya tampan karena itu banyak gadis muda yang mendekatinya, ini pertama kalinya Li Haochen merasa dirinya di tolak oleh seorang gadis. Bahkan dirinya tidak lebih menarik dari sebuah buku.
"Jika kau tak ingin mengembalikannya, ambil saja buku itu" Yiyi menghela napas lelah, ia sungguh tak ingin berurusan dengan Li Haochen, Yiyi mengambil buku lain dari tas nya dan mulai mengerjakan soal matematika. Li Haochen yang melihat itu menatap tak percaya pada Yiyi, Yiyi betul-betul lebih tertarik pada buku di bandingkan dirinya.
"Baiklah kukembalikan bukumu. Aku hanya ingin membalas budi karena telah menolongku"
"Sudah kukatakan tak perlu" Yiyi masih sibuk mengerjakan soal matematika dengan serius. Li Haochen akhirnya melihat wajah serius Yiyi. Gadis ini sangat cantik jika dilihat apalagi wajahnya yang serius saat mengerjakan soal
*gawat kenapa wajahku jadi memanas melihat Yun Yiyi. Ingat lah Haochen Gadis ini tunangan He Weifei*
"Hai bukankah kau Haochen, apa kabar? Apakah lukamu sudah sembuh?" Li Haochen melihat sumber suara dan melihat gadis yang terasa familiar
*Ahh dia tunangan Sepupu Xiao Cheng. Tapi aku lupa namanya* Li Haochen hanya tersenyum singkat tanpa membalas ucapan Yun Xia
"Haochen apakah kau mengenal saudari Yiyi? Kuliat kau tadi melihatnya terus. Aku bahkan bisa mengira kalian sepasang kekasih haha. Tapi tak mungkin karena kau kan punya tunangan" Yun Xia tertawa tapi tidak dengan Yun Yiyi, ia menatap datar Yun Xia, Ucapannya itu bisa membuat orang salah paham. Seakan-akan dia berselingkuh
"Saudari Yiyi, aku sarankan jangan terlalu dekat dengan Haochen, apalagi kakak Weifei sedang tidak ada sekarang. Takutnya nanti ada yang mengira kau menyukai 2 pria. Ingatlah untuk menjaga nama baik keluarga Yun"
"Hahahaha, kau siapa namamu? Dari tadi kau terus berbicara tapi aku tak mengenalmu" Li Haochen menatap datar Yun Xia, ia tau maksud perkataan Yun Xia ia sedang meremehkan Yun Yiyi.
"Ahh mungkin kau melupakanku. Perkenalkan aku Yun Xia tunangan kakak Cheng" Yun Xia memperkenalkan diri sambil tersenyum lembut.
Ia mengenal Li Haochen, dikehidupan sebelumnya ia pernah bertemu dengan Li Haochen saat Yun Yiyi dan Xiao Cheng tunangan. Ia sangat ingat jika saat itu Li Haochen menatap Yun Yiyi seperti sangat menyukai Yun Yiyi tapi ia tak mengira Li Haochen pindah kesekolah mereka karena dikehidupan sebelumnya Li Haochen harusnya masih koma saat ini karena diserang oleh preman. Awalnya Yun Xia berencana untuk menjenguk Li Haochen yang saat ini harusnya masih koma tapi saat ia menanyakan tentang Li Haochen kepada Xiao Cheng, tunangannya itu mengatakan bahwa luka Li Haochen tidak terlalu parah dan hanya dirawat seminggu dirumah sakit. Rencana awal Yun Xia untuk menarik perhatian Li Haochen akhirnya gagal. Jadi takdir Li Haochen saat ini berbeda dengan yang ada di ingatan kehidupan masa lalu Yun Xia dan juga berbeda dengan yang diketahui dari novel yang Yun Yiyi baca.
"Ohh iya kau Yun Xia, kau sepupu Yun Yiyi kan? Jika kau sepupunya harusnya kau tau jika tak baik berbicara seperti tadi, kau seperti ingin menarik opini bahwa Yun Yiyi mendekati pria lain saat tunangannya sedang tak ada" Wajah Li Haochen terlihat tersenyum tapi nada bicaranya terdengar dingin
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir dengan saudara Yiyi" Yun Xia tertunduk dengan suara bergetar seperti ingin menangis, ia tentu saja pura-pura.
"Wahhh sekarang kau berpura-pura menjadi korban, jika kau menangis begini orang-orang akan mengira aku menganggumu. Yun Yiyi kau punya sepupu yang luar biasa" Yun Xia menahan emosinya untuk merobek mulut Li Haochen
"Sudahlah kau lebih baik kembali ke kelasmu, sejak awal juga ini salahmu karena mengangguku"
"Baiklah baiklah aku akan kembali. Sampai jumpa Yun Yiyi dan juga tunangan kakak Cheng" Li Haochen meninggalkan kelas Yun Yiyi, suasana kelas akhirnya ramai. Jujur saja mereka sejak tadi hanya menyimak karena takut terlibat dengan Li Haochen, bagaimana pun Li Haochen terkenal tidak memandang pria atau wanita saat memukul orang.
"Yiyi, ada apa tadi?" Ningning baru saja datang, ia tak berangkat dengan Yun Yiyi karena ia telat bangun tadi pagi dan menguruh Yiyi berangkat duluan
"Yun Xia dan Li Haochen berdebat"
"Wah jadi siapa yang menang?" Ningning memperhatikan Yun Xia yang masih dikelilingi teman-temannya sedang menghapus air mata
"Apakah Yun Xia kalah?"
"Yah bisa dibilang dia hampir kalah seandainya aku tak menyuruh Li Haochen pergi"
"Kenapa kau memisahkan mereka, jika saja kau tak memisahkan mereka aku masih bisa melihat mereka berdebat tadi saat aku tiba"
"Makanya jangan telat bangun"
"iya iya, eh tumben Lili, Yihua dan Xinxin belum datang" Ningning nelihat sekeliling mencari 3 gadis itu. Biasa jika ada kejadian seperti ini Yihua akan paling heboh apalagi jika menyangkjt Yun Xia
"Ohh ternyata aku tak seterlambat itu Yihua masih lebih buruk"
"Kau dan Yihua sama saja"
"Huh terserah" Ningning akhirnya ikut membuka buku dan mengerjakan latihan soal matematika seperti Yiyi sambil menunggu bel masuk
...****************...
Saat ini Yiyi dan Ningning sedang ada dirumah mereka berdua sedang ada diruang keluarga sambil mengerjakan tugas mereka.
"Anak-anak Ibu dan Ayah pulang" Suara Ibu Yun terdengar. Yiyi dan Ningning melihat kesumber suara
"Selamat datang" mereka berdua menjawab
"Ibu dan Ayah tumben pulang cepat"
"Akan ada tamu yang datang malam ini, teman lama kakekmu akan datang berkunjung. Karena itu ibu dan ayah pulang lebih awal. Kakakmu juga akan pulang tak lama lagi"
"Ohh jika seperti itu aku akan membuat makanan dulu. Apakah teman kakek ada alergi tertentu?"
"Seingat ayah tidak ada tapi tolong buatkan makanan yang tidak terlalu berminyak dan pedas"
"Baiklah ayah. Kalau begitu aku kedapur dulu" Ayah Yun mengangguk dan Yiyi berjalan ke dapur
"Aku juga akan membantu Yiyi" Ningning membereskan buku mereka terlebih dahulu
"Terima kasih Ningning, ingatlah untuk berhati-hati di dapur" Ibu Yun memperingatkan
"Baik Bibi, paman kalau begitu aku kedapur dulu" ayah Yun dan ibu Yun mengangguk kemudian mereka masuk kekamar untuk bersih-bersih dan bersiap.
Malam harinya Yiyi dan Ningning dibantu pelayan menyajikan makanan di meja makan.
"Yiyi, Ningning lebih baik kalian bersiap dahulu, tak lama lagi teman kakek akan datang"
"Baik ibu aku dan Ningning kembali ke kamar dulu"
"Aku permisi bibi, paman" Yiyi dan Ningning akhirnya membersihkan diri dan memakai pakaian yang sopan. Setelah siap mereka ikut turun ke bawah menunggu tamu tiba. Tak lama pelayan memberitahu jika tamu telah tiba. ibu Yun, ayah Yun, Yun Heng, Yiyi dan Ningning akhirnya keluar untuk menyambut tamu itu.
"Kakek Li, apa kabar" ayah Yun menyapa tamu itu
"Aku baik, apakah kalian baik-baik saja? Aku sudah lama tak kesini sejak ayahmu meninggal"
"Kami baik-baik saja, ohya kakek Li perkenalkan ini putriku" Yun Yiyi maju kedepan untuk memperkenalkan diri
"Halo kakek Li, aku Yun Yiyi"
"Ohya aku sudah mendengar tentang itu, kamu sangat cantik seperti ibumu. Kau pasti sudah melewati waktu yang berat. Aku teman kakekmu jadi kau sudah seperti cucuku" kakek Li mengusap lembut kepala Yiyi
"Aduh maafkan aku, Ayo masuk kedalam kakek Li disini pasti dingin"
"Ah iya, tunggu sebentar cucu ku sedang mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil" tak lama muncul pria sekitaran umur Yun Yiyi dan Ningning
"Nah ini, perkenalkan ini cucu ku dia anak bungsu dari anak ku yang terakhir"
"Selamat malam paman, bibi, perkenalkan namaku Li Haochen" Yiyi menatap datar Li Haochen. Bahkan takdir terus memaksa mereka untuk bertemu. Mereka akhirnya masuk ke dalam dan langsung ke meja makan.