HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Hukuman



Anton sudah berada di depan kamar Monica. Ia menghempaskan tubuhnya pada dinding kabin di samping pintu kamar yang masih tertutup rapat itu.


Tarikan napas panjang yang terdengar adalah tanda ia butuh menenangkan diri.


Ia belum pernah menjalin hubungan serius dengan wanita. Dan kali ini dia malah ingin bercinta?


Astaga…


Anton meraup wajahnya kasar.


Hanya ini satu-satunya cara agar Monica tidak terjerumus kejahatan terlalu dalam. Agar wanita itu mengandung anaknya dan melupakan dendamnya pada Alexander.


Rasa takut dan gugup bercampur jadi satu dalam hati pria itu.


Ini pertama kalinya bagi Anton.


Apakah Monica akan menerimanya?


Hingga malam itu terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


Rencananya berhasil hingga akhirnya Monica hamil. Tapi di saat yang bersamaan dia mencintai wanita lain.


Ya Tuhan.


Betapa brengseknya dia.


He's bastard.


Anton menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak sanggup lagi meneruskan.


Seorang pria berkaos oblong hitam berjalan mendekat lalu mengangsurkan satu cangkir kopi di atas mejanya.


“Kau menangis lagi?”


“Kau tahu aku selalu sedih jika mengingatnya, Mike?”


Pria bermana Mike itu mengambil tab berlogo apple di atas meja Anton.


“Kau menuliskan semua kisahmu?”


“Belum semua. Itu hanya sampai saat aku menghabiskan malam pertamaku bersama Monica,” potong Anton cepat.


“Kenapa kau tidak menulisnya sampai selesai?” tanya pria tampan itu dengan sabar.


Anton menyeka butiran air mata yang tiba-tiba saja mengalir di sudut matanya. Dia lalu menyesap kopi yang ada di atas meja. Dengan mata yang masih memerah, pria itu mengatakan alasannya.


“Aku tidak sanggup. Semakin aku ingin mengungkapkan. Semakin aku membenci diriku sendiri. Aku bercinta dengan Monica. Aku mengharapkan wanita itu hamil agar dia melupakan Alexander dan hidup berdua denganku. Tapi ketika dia mengandung anakku, aku mencintai wanita lain? Bukankah aku pria yang sangat brengsek, Mike?”


Pria itu hanya diam sembari mendengarkan.


“Kau bertemu dengan gadis itu pertama kali saat kau menolongnya ketika Monica dan ayahnya menculiknya?”


Anton menggeleng, "Tidak. Aku bertemu pertama kali saat aku menculiknya."


“Dan kau mencintainya saat itu juga?”


“Aku tidak pernah jatuh cinta. Tapi aku berdebar saat melihatnya kembali menemuiku ketika aku sekarat karena tertembak Reynald. Saat itu aku hanya ingin melindunginya, Mike. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Tapi perlahan ketika kita semakin dekat dan aku menjadi pengawal pribadinya aku baru menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Namun sayangnya, semuanya terlambat.”


“Baiklah,” Mike menepuk pundak Anton pelan. “Cukup untuk hari ini. Rileks Ken.”


“Who’s Ken?”


Mike mengedik lalu menunjuk Anton dengan dagunya, “You. Kenzo.”


Anton terkekeh geli, “Aku belum terbiasa dengan nama itu."


“Well, kau akan terbiasa nantinya.”


Mike tersenyum. Psikiater tampan itu lalu memberikan obat penenang seperti biasa lantas memasukkan tab berlogo apple itu ke dalam tas.


“Jika kisahmu ini dibuat novel, aku yakin akan menjadi best seller, Ken,” Mike terkekeh. “Sekarang rileks kan dirimu. Lupakan segala masalahmu. Kau semakin kurang sehat.”


“Insomniaku semakin parah,” keluh Anton.


“Karena kau yang membuat masalahmu semakin besar. Lupakan rasa bersalah. semua ini takdir yang harus kita jalani. Manusia berusaha. Tuhan yang menentukan. Kau tidak bisa mengubah takdirmu jika Tuhan tidak mengizinkan. Dan, lupakan gadis itu. Dia mungkin sedang berbahagia dengan suaminya sekarang.”


“Oya? Aku dengar mereka menikah di London. Steve yang memberitahuku. Kau tahu, dia sangat dekat dengan keluarga Malik.”


Anton menghela napas panjang, ini terasa lebih menyakitkan dibanding ketika dia mencintai Lyca secara diam-diam, dulu.


Paling tidak, dulu dia masih punya khayalan indah tentang wanita itu. Tapi kini semua khayalan indah itu seakan musnah digerus oleh kenyataan pahit. Lyca telah menikah. Gadis yang dia cintai sudah menjadi milik orang.


Ya Tuhan.


Setidaknya dia akan bahagia.


Ponsel Anton berdenting, menandakan ada pesan yang masuk. Anton bergegas membukanya. Dari Monica.


Aku di rumah Keyla. Aku tidak pulang malam ini.


“Monica? Di mana Monica sekarang?”


Kali ini Anton menghela napasnya keras-keras, “Dia tidak pulang. Dia menginap di rumah temannya.”


“Dia sedang hamil besar, Ken.”


“Dan apakah aku bisa melarangnya?”


“Kau suaminya!”


Mata Anton nyalang, menatap tak tentu arah, “Aku suaminya hanya di akta pernikahan.”


Anton menangkup wajahnya sesaat, menarik napas, “Untuk sementara biarkan seperti ini, Mike. Untuk ke depannya, kita lihat saja nanti, akan dibawa kemana pernikahan ini.”


“Tapi selamanya tidak mungkin seperti ini, kan?”


“Aku tidak mungkin bercerai setelah hanya beberapa bulan pernikahan, Mike. Apalagi anakku belum lahir.”


Mike menganggukkan kepalanya sekali lagi.


Dia memahami apa yang pria itu rasakan.


Tiba-tiba mendapatkan warisan dari orang tua kandungnya yang sama sekali tidak diingatnya.


Berubah status menjadi billionare dalam sekejap mata.


Mengurus perusahaan besar dengan banyak cabang di berbagai Negara.


Serta keadaan rumah tangga yang carut marut.


Wajar sekali jika pria itu stress dan menderita insomnia akut.


“Aku pulang dulu. Kau istirahatlah. Aku tahu kau pria yang hebat, Ken. Kau akan bisa mengatasi semua ini,” Mike mengangkat kedua ibu jarinya, membuat Anton tertawa sebelum pria itu pergi dari hadapannya.


Paling tidak, pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya, bisa membuat Anton melupakan apapun yang ada di rumah.


Monica dan calon bayinya. Harus dia hindari demi hatinya yang kecil ini agar tidak semakin terluka.


Apa yang membuatnya berpikir Monica bisa mencintainya seiring waktu kebersamaan mereka? Dan kenapa wanita itu setuju menikah dengannya? Apa hanya untuk sekadar tanggung jawab dan memberi status anak yang ada dalam kandungannya?


Anton tidak pernah tahu jawabannya. Karena yang dia tahu, sejak mereka menikah mereka bagai dua orang asing yang terjebak hidup dalam satu atap.


Hanya statusnya yang suami istri, tapi tidur terpisah dan sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan pribadinya masing-masing.


Anton lagi-lagi mengehela napas panjang.


Sepeninggal mike, Anton terduduk di tepi tempat tidur dalam diam. Sikunya bertumpu pada kedua pahanya, sementara jemarinya terkubur dalam rambut di kedua sisi kepalanya.


Kadang dia berpikir, pernikahan macam apa ini? Tapi dia harus bertahan agar bayinya memiliki keluarga yang lengkap.


Pria itu mencoba berpikir positif. Jika Monica tidak mau diperlakukan layaknya seorang istri, dirinya masih bisa menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih. Tapi bahkan kini sikap menjadi kakak beradik pun menjadi canggung.


Apakah Tuhan telah memberinya hukuman ketika dia menjadikan anak sebagai alat agar ibunya mau menikah dengannya dan mengubur semua dendamnya? Ia memang telah memiliki tubuh Monica. Tapi wanita itu sama sekali tidak mencintainya.


Jika saja dia tidak melakukan kesalahan dan bisa mengendalikan perasaannya, dulu. Mungkin hukuman ini tidak akan datang kepadanya.


🍁🍁🍁