HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Tulang Rusuk Tak Akan Pernah Tertukar



Lyca hanya terdiam dan menunduk ketika keluarganya sedang berkumpul dan membicarakan masa depannya tanpa bertanya apa pendapatnya.


“Kenapa kalian tidak menginginkan pernikahan mewah, Rud?” tanya seorang wanita paruh baya berusia lima puluh tahunan namun masih tampak cantik yang kini sedang menikmati makan malam dengan kofte, bacon, dan secangkir teh khas Turki.


“Akan sangat menyenangkan jika pernikahan kalian bisa seperti The Royal Wedding. Kalian berdua akan setampan dan secantik prince and princess.”


“Lyca masih kuliah, Tante. Saya tidak ingin pernikahan ini mengganggu konsentrasi kuliahnya.”


Wanita itu tersenyum lebar, “Oh… kau sangat pengertian sekali Rud. Panggil tante dengan Mommy. Dan Mommy setuju denganmu. Bagaimana, apakah kau juga menyetujuinya, Sayang?”


Suaminya mendongak dari piringnya dengan acuh, “Ya,” jawab laki-laki itu singkat yang kemudian kembali fokus menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.


Wanita itu lalu beranjak melewati sederet kursi mewah berlapis berudu dan berhenti tepat di sebelah seorang pria tampan yang duduk di ujung meja makan.


“Bagaimana denganmu, Alex?” tersirat kecemasan dalam nada suara wanita bernama Dessy Dwayne Malik itu. “Apakah kau juga setuju dengan keputusan mereka?”


Pria tampan bernama Alexander itu menoleh lalu tersenyum tipis, “Jika mereka sudah memutuskan seperti itu, kita bisa apa, Tante?”


Alex melirik ke arah Lyca yang duduk di samping kirinya. Gadis itu hanya mempermainkan pisau dan garpunya dengan tatapan kosong. Ia sepertinya sedang melamunkan sesuatu, terbukti dari gesture tubuhnya yang seakan kaku dan pandangan matanya yang hanya tertuju pada satu arah.


Alex menyentuh tangan Lyca yang berada di atas meja makan dengan lembut, “Mengapa kau melamun, Lyca?”


Gadis itu membalas sentuhan halus tangan Alex lalu menggeleng pelan, “Tidak apa-apa, Kakak. Aku baik-baik saja.”


“Apa kau setuju dengan keputusan keluarga kita untuk mempercepat pernikahan ini?”


Lyca meremas pelan legan Alex, mencoba menyalurkan perasaannya yang tidak mampu ia ungkapkan lewat kata-kata.


Kepalanya menggeleng perlahan. Sangat pelan. Nyaris tidak ada gerakan jika tidak benar-benar diperhatikan.


“Kakak, aku…”


“Alex,” ucap Tante Dessy tajam. “Kenapa kau harus menanyakannya lagi ketika pernikahan itu sudah di depan mata?”


“Kenapa Tante? Lyca berhak mengatakan pendapatnya tentang pernikahan ini?”


Dessy menghela napas, “Bukankah dalam keluarga kita pendapat wanita tidak diperlukan, Alex?”


“Tapi…”


“Dessy benar, Alex. Pernikahan mereka sudah ditentukan dan tinggal menunggu hari. Pendapat Lyca tidak diperlukan lagi di sini,” potong Teyze Risma dengan cepat.


Alex menaikkan alisnya, “Teyze, mereka yang akan menjalani pernikahan ini seumur hidup. Bukan Tante Dessy ataupun Teyze Risma. Jadi, biarkanlah mereka mengutarakan pendapatnya.”


Teyze Risma mengerutkan dahinya, “Sejak kapan, tradisi keluarga kita berubah, Alex? Sejak kau menikahi wanita pilihanmu itu?”


Raut wajah Alex perlahan berubah mengeras, “Teyze, ini tidak ada hubungannya dengan Rianti. Aku hanya tidak ingin, Lyca menjalani pernikahan ini dengan terpaksa.”


“Dan kau akan menentang keputusan Baba-mu? Yang bahkan Buyuk Anne sudah menyetujui pernikahan ini. Apalagi yang kau inginkan, Alex?”


Mata Tante Dessy mengerjap, “Lyca pasti sudah setuju dengan pernikahan ini, Alex.”


Teyze mengangguk, “Ya. Kau benar Dessy. Sudahlah Alex, tidak perlu diperdebatkan lagi. Lalu, bagaimana dengan persiapan pernikahan mereka, Paul, Sayang?”


Paul Dwayne Malik – ayah Lyca—mengangkat wajahnya kembali lalu tersenyum, “Sudah. Semua sudah siap, Kakak.”


Teyze Risma yang duduk di depan adik lelakinya, menyesap secangkir greentea kesukaannya lalu balas tersenyum sembari menatap Rud, “Bukankah kau adalah cucu satu-satunya dari pemilik perusahaan Dinata Group?”


“Ya.”


Teyze Risma tampak berpikir sejenak, “Dan kau tidak terlibat skandal dengan wanita manapun selama ini, Rud?”


“Ya. Memangnya kenapa, Teyze?”


Teyze Risma mengedipkan sebelah matanya, “Dan kau yakin, tidak memiliki orientasi seksual?”


“Uhuk… uhuk…”


Lyca tersentak kaget. Segera ia menuangkan air minum ke gelas Rud yang hampir kosong.


“Hati-hati, Mas.”


Sementara Alex menatap bibinya dengan satu alisnya yang terangkat tinggi. Tidak bisa mengerti dengan cara berpikir wanita itu.


“Apa maksud Teyze?”


Seakan tidak terjadi apa-apa, Teyze Risma mengunyah koftenya perlahan, “Rud, pewaris tunggal perusahaan besar, tidak pernah ada skandal dengan wanita, juga tidak memiliki kelainan seksual. Jika dia pria yang hampir mendekati sempurna, kenapa harus menunda pernikahan ini? Bukankah begitu, Lyca? Harusnya besok kalian langsung menikah!” seru Teyze Risma yang kini sukses membuat Lyca mendapat giliran tersedak.


“Hati-hati, Lyca,” ujar Rud sambil membantu gadis itu minum.


Alex menatap adik sepupunya itu dengan sendu, “Kau bisa mengatakan padaku, apapun pendapatmu, Lyca? Tenang saja, aku akan selalu mendukungmu.”


Lyca tertegun sejenak lalu tersenyum sedih, “Kakak. Sebenarnya… aku… Sebenarnya… Aku belum ingin menikah. Mungkin nanti setelah aku lulus kuliah.”


“Apa?” Teyze Risma menyipitkan matanya, “Kau wanita bodoh!”


“Apa kau tidak salah menyia-nyiakan lelaki yang memiliki sifat sepertinya?”


“Sabar kakak,” Paul mengelus halus tangan kakaknya.


“Bagaimana aku bisa sabar, Paul? Undangan sudah tercetak dan sebentar lagi akan disebarkan.”


“Lyca, apa maksudmu? Bukankah kau menyetujui pernikahan ini?” tanya Dessy pada putrinya.


“Kapan Mom menanyakan kepadaku apa aku menyetujuinya atau tidak? Mom yang mengurus sendiri rencana pernikahan itu tanpa meminta pendapatku."


“Dan kau, Rud?” tanya Dessy pada Rud tanpa mengindahkan protes putrinya. “Kau tetap menginginkan pernikahan ini berjalan sesuai rencana, bukan?”


Rud mengehela napas. Pria itu nampak berpikir sejenak sebelum menjawab. “Aku setuju dengan Lyca, Tante. Mungkin sebaiknya kita menunda dulu rencana pernikahan ini hingga Lyca lulus kuliah atau di saat dia benar-benar siap.”


Dessy mendesah pelan. Wanita itu mengalihkan pandangan ke arah Alex dengan tatapan memohon, “Alex, lebih baik kau bujuk adikmu. Semua sudah berjalan sesuai rencana. Aku takut, jika sampai pernikahan ini gagal dan mencuat ke publik. Jangan sampai ini menjadi skandal besar dan akan memalukan nama keluarga besar kita.”


Teyze memutar kedua bola matanya, “Apa aku bilang? Kenapa harus kau tanyakan pendapat mereka? Cukup persiapkan, dan suruh mereka menjalani. Tanpa bantahan.”


“Pernikahan ini untuk seumur hidup Teyze. Ini bukan permainan,” bantah Lyca bosan.


“Siapa yang bilang ini permainan. Jangan pernah menyanggah orang tua, Lyca!” sentak Dessy geram.


“Kau semakin tidak sopan! Sejak kapan kau berani melawan? Sejak kau bergaul dengan wanita kampungan itu?”


“Siapa yang Tante bilang wanita kampungan?” suara baritone itu seakan mampu membuat hati siapapun berdesir . Suara pria yang memiliki alunan tegas namun sensual memancarkan wibawa serta kharisma yang memukau, membuat siapapun menciut mendengarnya.


Napasnya masih menderu akibat salah bicara tak sampai semenit yang lalu.


Tanpa sadar wanita yang masih tampak cantik diusianya yang sudah hampir setengah abad itu mengaitkan anak rambut yang terjatuh pada telinga.


Dalam hati menyalahkan keberadaan Alex yang membuat jantungnya kini tak lagi berdetak dengan normal.


“Apa maksud Tante, istriku?”


Dessy tersentak dari pikirannya ketika mata biru kehijauan itu menatapnya tajam. Membuat jantungnya kembali melompat-lompat.


“Tidak… tentu saja tidak, Alex,” jawabnya menelan ludah. “Bukankah begitu, Suamiku?”


“Ya.”


Terdengar suara deheman yang memaksa semua perhatian kembali kepada Alex. Mata sewarna biru laut itu berkilat dingin.


“Jika Lyca memang belum ingin menikah. Jangan pernah memaksanya.”


“Ta-tapi A-alex…”


Alex menahan senyum ketika mendengar cicitan wanita di sampingnya.


“Tidak ada tapi. Aku yang akan mengurus semua,” Alex menatap semua yang hadir di ruang makan itu dengan intens.


Semua hanya bisa duduk tegak dan kaku sambil menelan ludah tidak ada yang berani menyanggah.


“Tommy!”


Sorang pria berkaca mata datang dengan tergopoh-gopoh, “Ya, Sir?”


“Urus semua pembatalan pernikahan Lyca dan Rud. Besok kita kembali ke Telunas,” Alex berdiri. Memutus tatapan intens dan membalik badan.


"Baik Sir," Tommy menunduk dalam-dalam.


Pria itu lalu berjalan santai meninggalkan ruang makan -- diikuti Tommy-- menuju ke arah pintu kayu berwarna coklat lalu menutup pintunya dengan keras.


Lyca tertegun. Dia sudah siap bila Mommy dan juga bibinya melontarkan kata-kata tajam kepadanya.


Namun, gadis itu sedikit bisa menarik napas lega sambil memandang pintu ruang kerja yang kini tertutup tak jauh dari ruang makan.


“Saya sudah selesai. Saya akan kembali ke kamar,” Lyca menoleh ke arah Rud. Pria itu juga tengah menatapnya dengan senyum teduhnya. Seperti oase di padang gurun. Pria itu menganggukkan kepala dan juga bersiap untuk beranjak.


“Siapa bilang kalian boleh kembali ke kamar?” suara dalam itu membuat Lyca tersentak, begitu pula dengan Rud.


“Teyze belum selesai berbicara.”


Lyca menelan ludah sementara Rud hanya menghela napas. Mereka berdua kembali duduk di tempatnya menghadap ke arah Teyze yang menatap mereka dengan tajam.


“Kalian harus mengatakan pada Alexander bahwa kalian menyetujui pernikahan ini. Memang Emir yang menjodohkan kalian, tapi Buyuk Anne sudah menyetujuinya. Jangan sampai ada pembatalan pernikahan. Atau Buyuk Anne akan marah.”


"Tapi, bukankah tadi kakak sudah membatalkan semua? Bukankah begitu, Dad?"


"Ya."


"Paul," Teyze Risma melotot. "Dan jangan pernah membantahku, Lyca!"


“Baik,” jawab Lyca dengan tegas, “Aku akan bilang pada Kakak, bahwa Teyze memaksaku untuk menyetujuinya.”


"Kau?!"


Alis Teyze berkerut singkat sebelum dia kembali mendengus dan melemparkan tatapan tajamnya kepada Dessy.


“Ini semua karena kalian terlalu memanjakannya! Aku tidak akan membelamu lagi di hadapan Buyuk Anne, Dessy. Camkan itu!”


Lyca menghembuskan napas lega dan mengekor Rud keluar dari ruangan setelah Teyze dan kedua orang tuanya kembali ke kamar mereka masing-masing dengan keadaan marah, --kecuali Paul, tentunya. Karena Paul Dwayne Malik adalah pria minim ekspresi dengan wajahnya yang sedatar papan setrikaan.


Pria tampan itu berjalan dengan santai tapi tetap memastikan Lyca mengikuti langkahnya hingga mereka tiba di depan pintu kamar Lyca.


“Istirahatlah,” pria gentleman itu membuka pintu membuat Lyca menahan napas.


“Mas Rud, tidak marah?”


“Kenapa marah?”


“Karena aku membatalkan pernikahan ini.”


“Tentu saja tidak. Aku malah tidak ingin kau terjebak denganku di saat aku belum sepenuhnya bisa melupakan Rosa. Aku tidak mau melupakan wanita dengan menyakiti perasaan wanita lain. Sampai waktu yang nantinya akan menjawab semuanya.”


Gadis cantik itu mengangguk. Seulas senyum akhirnya muncul di wajahnya.


“Terima kasih.”


“My pleasure,” Rud mengacak rambut Lyca. “Semoga masing-masing dari kita akan menemukan arti cinta yang sebenarnya.”


“Yah. Semoga.”


Pria tampan itu tersenyum dan segera menghilang di balik pintu, meninggalkan Lyca yang masih terpaku di tempatnya.


Semoga Mas Rud benar.


Lyca percaya, jika memang dirinya berjodoh, tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Tetapi jika tidak, semoga dia menemukan arti cinta yang sebenarnya dari pria yang memang benar-benar mencintainya. Dan itu semua, hanya waktu yang akan menjawabnya.


🍁🍁🍁




\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu up bisa diintip karya ini ya guys.