HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
She Has Gone



Terasa dalam mimpi, Anton terus memandangi wajah mungil –yang berada dalam kotak kaca—yang terlukis di hadapannya itu dengan takjub.


Mengamati bola mata sewarna hazel yang sangat memukau.


Iris matanya yang berwarna lebih gelap semakin menambah daya tarik keseluruhan dari paras cantik jelita yang diberkahi Tuhan dengan wajah yang hampir mendekati sempurna, alis yang melengkung indah, hidung mungil yang mancung, dan bibir merah yang merekah.



“Dia sangat cantik, Tuan.”


Suasana mendadak hening sesaat. Pria di sampingnya itu terlihat salah tingkah dan berulang kali mengusap lengannya dengan gugup.


“Maaf. Apakah saya mengagetkan Anda?” tanyanya kemudian.


Anton menaikkan alisnya.


“Saya buru-buru datang ke rumah sakit ketika pengurus manshoin Anda mengabarkan jika Nyonya kemungkinan akan melahirkan. Dan benar saja. Bayi Anda sudah lahir. Cantik sekali. Meskipun premature, tapi saya yakin dia sehat.”


Anton memijat pelipisnya, “Iya. Dia sudah lahir, Chad. Apakah paman Alan mengabari semua orang? Apakah ayahku juga sudah tahu?”


Pria bernama Chad itu terkekeh pelan, “Iya, Tuan. Paman Alan begitu bahagia hingga mengabarkan berita bahagia ini pada semua orang. Bahkan Tuan Tristan juga sangat bahagia dengan kelahiran cucunya, Tuan. Mungkin beliau akan secepatnya datang ke Hong Kong.”


Dahi Anton mengernyit dan sejenak hatinya menghangat ketika asisten pribadinya yang juga kepercayaan orang tua kandungnya itu memberikan kabar bahagia bahwa kedua orang tuanya akan datang untuk menjenguk bayi mungilnya.


Belum puas dia merasakan kebahagiaan yang membuncah menemukan kedua orang tua kandungnya, mereka kembali berpisah.


Mereka lebih memilih untuk tinggal berdua di desa terpencil dan meninggalkan hiruk pikuk dunia bisnis yang digelutinya selama ini.


Menyerahkan semua perusahaannya untuk dikelola oleh anak semata wayangnya, Kenzo –dengan bantuan Chad tentunya.


Sementara Tristan dan istrinya memilih untuk pensiun dan menetap di Grindelwald, Swiss, untuk menikmati masa tuanya.


“Lalu bagaimana keadaan Nyonya, Tuan?”


“Dia baik-baik saja, Chad,” sahut Anton singkat.


Pria itu lalu kembali fokus memperhatikan bayi kecilnya yang masih berada di dalam incubator.


Ia menyeringai miris saat memandang banyaknya alat yang terpasang di tubuh mungil bayinya itu.


Bayi itu terlihat gelisah.


Bergerak tidak nyaman.


Bayi mungil itu bahkan terbangun dari tidurnya, bibirnya mencebik lucu lalu terdengar suara tangis yang melengking pilu.


Anton langsung mendekat ke arah kotak kaca, menatap dengan panik bayi cantik dengan fitur wajah yang sangat menyerupai dirinya itu.


“Shh… Sayang… jangan menangis. My princess…”


“Chad, panggilkan dokter. Aku akan mencoba menenangkannya.”


“Baik Tuan, “ Chad segera mengangguk lalu memutar tubuhnya dengan setengah berlari. Meninggalkan Anton yang masih berusaha menenangkan bayi mungilnya itu seorang diri.


“Tuan Kenzo Murouka?”


Anton memilih mengabaikan panggilan itu. Ia duduk perlahan, menepuk-nepuk dengan lembut pantat bayinya hingga kembali terlelap setelah beberapa saat.


“Tuan…?” panggil wanita itu sekali lagi.


“Sttt…”


Dengan berat hati Anton mengalihkan tatapannya dari putri kecilnya pada wanita yang sudah berdiri di belakangnya.


“Apa kau perawat yang bertugas menjaga putriku?” tanyanya dengan sedikit berbisik. Takut bayi itu terbangun dan kembali menangis.


“Bukan, Tuan.”


Anton menaikkan alisnya.


“Saya perawat yang bertugas untuk menjaga Nyonya Monica, Tuan. Nyonya, tidak ada di kamarnya saat ini. Saya kira Nyonya berada di sini. Tapi ternyata tidak ada juga. Untuk itulah saya ingin menanyakan keberadaan nyonya kepada Anda, Tuan,” ucap wanita itu sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya dan tersenyum gugup.


“Monica? Tidak ada di kamarnya?”


“Benar, Tuan.”


Anton menyipitkan matanya, “Setelah Monica kembali ke ruang perawatan, aku langsung ke sini untuk melihat putriku. Dan aku belum kembali lagi ke kamar Monica. Apakah kau sudah mencarinya ke kamar mandi, atau?”


“Saya sudah mencarinya ke mana pun, Tuan. Dan Nyonya tidak ada. Tapi saya menemukan…”


Dering ponsel menginterupsi pembicaraan mereka. Memecah keheningan di sekitarnya saat wanita itu mengangkat teleponnya dengan gugup dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.


“Hallo… Apa? Tidak ada? Kau sudah meminta petugas untuk memeriksa rekaman CCTV-nya? Astaga... Keluar dari rumah sakit? Iya … Baiklah.”


Pikiran Anton mendadak kalut saat matanya beradu pandang dengan wanita itu yang juga tengah menatapnya dengan wajah pucat saat menutup teleponnya.


“Nyonya, meninggalkan rumah sakit, Tuan. Teman saya yang bekerja di pusat informasi meminta rekaman CCTV yang merekam jejak Nyonya pergi lewat pintu belakang."


Tangan wanita itu merogoh sesuatu dari dalam saku bajunya lalu menyerahkan sebuah kertas kusut kepadanya.


“Dan saya menemukan ini di nakas samping tempat tidur, Nyonya. Saya belum membacanya. Hanya sekilas tadi ada nama Anda. Saya tidak tahu jika Nyonya akan pergi dari rumah sakit. Mungkin surat itu bisa dijadikan petunjuk.”


Anton meraih kertas itu dan terpaku saat mengetahui kertas itu memang benar berisi tulisan tangan Monica. “Terima kasih.”


“Sama-sama,” wanita itu kembali memamerkan lesung pipinya dengan gugup. “Maaf, saya benar-benar tidak tahu, Tuan.”


Anton menoleh ke arah wanita itu yang nampak kaku dan menggigit bibirnya, yang entah mengapa membuat Anton merasa tidak nyaman.


“Tidak apa-apa. Terima kasih sekali lagi.”


“Sama-sama, Tuan. Maaf saya harus kembali bekerja.”


Wanita itu mengangguk lalu pergi meninggalkannya. Dan meski benak Anton masih bertanya-tanya, dia beranjak mengejar wanita itu yang kini berjalan di koridor sepi rumah sakit.


“Tunggu!”


Langkah wanita itu terhenti seketika. Wanita itu lalu membalikkan badannya dan tersenyum gugup. “Ya?”


Anton mendekati wanita itu sambil terus memandangi mata sipitnya yang semakin membuatnya penasaran.


“Siapa namamu?”


Mata wanita itu mengerjap, “ Sa-saya? Mei. Mei Lau.”


Anton berdehem sejenak, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Senyum manis terbit di sudut bibir wanita itu, “Tidak.”


“Kau seperti mirip seseorang,” sahut Anton.


Dahi pria itu berkerut dalam. Ia sepertinya pernah bertemu dengan wanita itu. Tapi di mana?


Melihat kebingungan di wajah Anton, wanita itu bergumam, “Anda mungkin salah orang, Tuan.”


Anton mengangguk sekilas, “Mungkin. Maaf.”


Semburat kemerahan nampak menghiasi pipi wanita itu, “Tidak apa-apa,” bisiknya sebelum pergi dari hadapan Anton dengan langkah tergesa.


Sementara Anton terus memandangi kepergian wanita itu dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.


Pria itu lalu menggenggam ponselnya, matanya menajam, dan rahangnya mengeras.


Ya. Dia baru ingat. Dan dia sudah bisa menebak, siapa wanita yang baru saja mengaku sebagai perawat Monica.


🍁🍁🍁


Anton mendesah.


Setelah dokter memeriksa bayi mungilnya dia bergegas kembali ke kamar Monica.


Wanita itu ternyata benar-benar telah pergi.


Chad sudah memeriksa semuanya bahkan mengerahkan semua anak buahnya untuk menyisir semua lorong dan ruang rumah sakit.


Namun, hasilnya nihil.


Bahkan CCTV tidak ada satu pun yang merekam jejak wanita itu. Semua terhapus dengan sempurna. Tanpa jejak.


Anton meraup wajahnya kasar.


Ia benar-benar payah.


Ya, dia memang sepayah ini untuk urusan wanita.


Begitu sayangnya ia dengan Monica hingga dia tidak ingin wanita itu dihancurkan oleh Alexander ketika dia menjadi perusak rumah tangga Billionare paling kejam itu.


Dan apa yang Anton lakukan untuk menyelamatkannya?


Dengan bodohnya ia memilih untuk menghancurkan wanita itu agar jatuh sejatuh-jatuhnya ke pelukannya.


Mengandung anaknya, dan menikah dengannya meski tanpa cinta.


Setelah semua terjadi, dia bingung.


Rasanya menyakitkan.


Sangat menyakitkan.


Ketika akhirnya dia merasakan cinta untuk yang pertama kalinya. Yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan dengan Monica.


Ia merasa sakit ketika Lyca dekat dengan pria lain. Rasa yang tidak pernah ia rasakan, bahkan ketika Monica mencintai pria lain.


Rasa itu berbeda.


Sangat jauh berbeda.


Brak!!!


Pintu ruang rawat inap itu terbuka dengan keras hingga membuat Anton tersentak kaget dan segera mengelap bekas air matanya.


Ia bahkan tidak menyadari sudah sejak kapan air matanya menetes di atas surat yang Monica tinggalkan.


“Kau! Kau pasti yang menyuruh Monica pergi, bukan? Sialan kau! Di mana Monica? Di mana?!” teriak Keyla sambil mencengkeram kerah baju Anton dengan wajah memerah menahan amarah.


Wanita itu berteriak histeris hingga suaranya menggema di ruang rawat inap Monica ketika mengetahui bahwa Monica telah pergi dari rumah sakit itu satu jam yang lalu.


Anton memejamkan erat matanya ketika wanita itu tiba-tiba saja menyerangnya.


Jika saja teman Monica itu bukan wanita. Anton pasti sudah menyentak tangannya dengan kasar dari lehernya.


Tapi, entah kenapa rasa bersalahnya membuatnya hanya diam tak bergeming tanpa mampu sedikitpun membalas.


"Anak buahmu mencarinya hingga ke rumahku. Jika tidak, aku bahkan tidak mengetahui jika dia telah melahirkan dan menghilang. Kenapa kau sangat b*jingan Anton?"


“Nona, hentikan! Ini tidak akan menyelesaikan masalah,” ujar Chad yang segera berlari ke arah Keyla dan berusaha menenangkan wanita tomboi itu yang tengah mengamuk layaknya orang kesetanan.


Mike yang berada di depan pintu dan melihat semuanya pun memilih bungkam.


Pria itu baru saja tiba setelah hampir tujuh jam lamanya menempuh perjalanan dari London ke Hong Kong.


Ia hanya bisa menatap semuanya tanpa ingin berbuat apapun. Rasa kecewanya karena kepergian Monica membuat Mike marasa ikut terpukul.


“Lepaskan aku, Chad. Pria ini benar-benar brengsek."


"Dia menelantarkan istrinya selama hampir sembilan bulan. Setiap malam istrinya datang ke rumahku sambil menangis. Menyesali kehamilannya. Menyesali pernikahan mereka."


"Kau pikir apa alasannya Monica menikah denganmu? Dia hanya ingin memberi nama keluargamu di belakang nama anakmu. Apa kau pikir dia menikah denganmu karena hartamu, ha?” teriak Keyla dengan sangat kencang tepat di hadapan Anton yang sedang menatap tajam ke arahnya.


Chad menghembuskan napas kasar dan dengan paksa menarik tubuh Keyla hingga wanita itu melepaskan cengkeramannya.


“Pikirkan perasaan Monica, Anton. Kau yang telah menghamilinya. Tapi kau mencintai wanita lain. Pikirkan Anton! Pikirkan!"


"Bahkan sebelum menikah dia pernah menemui kekasihmu. Hanya untuk memastikan bagaimana perasaan wanita itu terhadapmu. Dia sangat sedih. Kau tidak pernah mencintainya. Kau tidak pernah percaya padanya. Dia bahkan mengakui dia berada di club malam setiap hari, padahal dia berada di rumahku, dia bersamaku, Anton,” ujar Keyla di tengah isaknya begitu Chad berhasil membawanya menjauh dari Anton.


“Kau tahu, dia bersikap layaknya wanita murahan, dia juga berbelanja membabi buta dengan uang yang kau berikan, semua itu hanya untuk menarik perhatianmu."


"Tapi sekarang dia menyerah. Mungkin lebih baik dia pergi jauh darimu. Ya.. Tuhan… Aku benar-benar muak dengan pria sepertimu, Anton! Dan kau brengsek! Rasakan ini!” Keyla menendang senjata milik Chad hingga membuat pria itu terjengkang dan meringis kesakitan.


Keyla memanfaatkan pegangan Chad yang melemah terhadapnya untuk melepaskan kungkungannya.


Tak sampai di situ, Keyla bahkan kembali berlari ke arah Anton lalu memukul pria itu bertubi-tubi. Sementara Anton yang dipukul habis-habisan oleh Keyla hanya bisa diam. Pasrah menerima kemarahan dari sahabat Monica itu.


Dia ingin melawan, tapi mungkin dengan cara ini, rasa bersalahnya akan sedikit berkurang.


“Kau brengsek Anton! Benar-benar brengsek! KAU BRENGSEK! BRENGSEK!"


“Sudah, Key. Tenangkan dirimu. Kita akan bersama-sama mencari Monica,” ujar Mike yang sedari tadi hanya diam. Pria itu mengusap lembut bahu Keyla.


Keyla mengangguk sekilas lalu mengusap air matanya.


“Mike, kau telponlah suamiku. Katakan padanya untuk segera mencarinya. Dia pasti belum pergi terlalu jauh.”


Tes.


Sebutir air mata milik Anton jatuh. Ketika dia mengetahui kebenarannya.


Keyla adalah saksi betapa kerasnya Monica menata hidupnya beberapa bulan ini.


Betapa wanita itu mati-matian melupakan sakit hatinya karena dirinya yang masih mencintai Lyca.


Pria itu menarik nafasnya dalam dan dia pun mendekati Mike perlahan.


“Percuma suami Keyla mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Monica di kota ini, Mike. Monica mungkin sudah pergi ke luar negeri. Aku tadi melihat Dva yang menyerahkan surat ini.”


🍁🍁🍁


Keterangan tambahan :


Tristan : Ayah kandung Anton


Chad : Asisten Anton


Keyla : Sahabat Monica


Mike : Psikiater, sahabat Anton dan Monica.


Paman Alan : Penanggung jawab manshion Anton.