HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Monica Mission



Anton menggeram. Tanpa menjawab apa-apa, pria itu memutus sambungan telepon.


“Shit!” makinya sambil menyentakkan kabel earphone yang terpasang di telinga. Ia memukul setir mobil sebagai sasaran kekesalannya.


Ia terpaksa harus kembali menjemput Monica setelah wanita itu bertemu dengan calon ibu mertua --yang gagal-- meski sebenarnya ia ingin sekali pulang ke apartemennya dan memukul heavy bag sampai hilang semua amarah di dada.



Kalimat terakhir Monica terus terngiang di telinganya. Mau tidak mau membuat Anton sulit berkonsentrasi.


“Cari tahu semuanya tentang istri Alex Anton. Aku dengar dia hamil. Kalau perlu culik dia. Lakukan semaumu atau bunuh wanita itu!”


Hamil?


Baru dua minggu yang lalu sejak pernikahan Alexander digelar. Dan wanita yang dinikahinya secara kontrak itu telah hamil?


Anton terkekeh miris. Bagaimanapun Alexander pria normal. Dan hidup satu atap bersama wanita cantik? Bercumbu satu sama lain hingga kehabisan napas dan hasrat terpuaskan bukanlah hal yang aneh. Bahkan sangat normal. Apalagi dengan istri sendiri terlepas dengan perjanjian atau bukan.


Tapi untuk membunuh seorang wanita hamil?


Bunuh wanita itu! Kalimat Monica kembali menggantung di ingatan Anton.


Apa yang akan terjadi jika dia benar-benar membunuh pewaris Klan Malik?


Alexander pasti akan membunuhnya.


Tapi jika dia tidak membunuhnya? Monica pasti akan terluka.


Anton mendengus. Ia menatap ponselnya dan mengeja kembali pesan yang ia kirimkan beberapa waktu yang lalu.


‘Maafkan saya Nona. Saya sama sekali tidak bisa mendekati gadis itu. Alex memberikan pengawalan yang sangat ketat pada istrinya. Bahkan pengawal dari klan Malik juga dikerahkan. Kita hanya bisa menunggu saat yang tepat.”


Hanya itu alasan yang bisa dia berikan sebelum Monica meminta jasa pembunuh bayaran.


Mata pria itu terpejam.


Bukan salah wanita itu, menikah dan mengandung.


Ini semua murni kesalahan Monica.


Ia sudah mengingatkan Monica berkali-kali tentang idenya yang gila. Tapi wanita itu tetap saja tidak mengindahkan.


Wanita mana yang rela kekasihnya menikah meski hanya pernikahan kontrak?


Ya Tuhan.


Bodohnya Monica.


Dan sekarang? Ketika pria itu mulai menyukai istrinya, Monica semakin melewati batasannya.


'Kau harus melakukan rencana kita yang pertama. Jangan sampai kau gagal. Atau kau akan tahu akibatnya.'


Sebuah pesan singkat di layar tipis ponsel pintar itu sontak membuat bodyguard tampan itu semakin geram.


Monica mengancamnya, dan Anton tahu, wanita itu mampu melakukan ancamannya. Anton tidak mau Monica semakin terjerumus dan untuk saat ini ia harus berkompromi dengannya.


🍁🍁🍁


Anton mengumpat berkali-kali dalam hati. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menjemput Monica dan langsung menuju ke arah manshion kekasih wanita itu.


Ia memarkirkan mobil mewah milik Monica tepat di seberang jalan depan sebuah mansion mewah.


Monica duduk dengan gelisah di bangku penumpang.


Wanita cantik itu berulang kali menatap mansion mewah di hadapannya itu dengan tatapan yang tidak dapat dibaca.


Anton mendesah. Menatap adik angkatnya itu dari kaca mobil.


Tubuhnya yang semakin kurus adalah bukti bahwa dia tidak baik-baik saja selama ini. Dia sudah tidak bisa untuk bersabar. Jika Arimbi menutup mata dengan pernikahan pura-pura putranya, maka wanita itu sendiri yang akan memperjuangkan cintanya.


Iya. Monica sedang mengintai mansion mewah itu. Mansion milik Alex --kekasihnya. Kekasih yang sudah ia lepaskan untuk pernikahan kontrak tapi sekarang malah terjerat dengan istri Kontraknya.


Monica memang benar-benar mencintai si brengsek Alex. Dan lebih sialnya lagi, pria itu menikah kontrak karena ide gilanya.


Well. Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?


Anton tahu Monica menyesal.


Alex bahkan memblokir nomornya. Menutup aksesnya ke kantor serta apartemennya. Bahkan dia sama sekali tidak bisa memasuki mansion pria itu.


"Kau memilih jalan yang salah, j*lang. Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya," gumam Monica sambil memijat keningnya lelah.


"Anton, cari tahu semua tentang wanita itu. Kamu bisa lakukan semaumu. Bahkan kalau perlu, singkirkan dia," perintah Monica pada pria tampan yang ada di kursi kemudi. "Bunuh dia Anton."


Anton hanya bisa mengangguk, menyelipkan pistol di pinggangnya, dan langsung keluar dari mobil.


"Saya akan berusaha, Nona."


Monica mengangguk. Wanita cantik itu dengan cepat berpindah duduk ke balik kemudi dan tanpa berkata sepatah kata pun, ia melajukan mobilnya dengan kencang.


Kepala Monica begitu pening sekarang. J*lang itu harus diberi pelajaran.


Lebih cepat lebih baik. Kesabarannya sudah habis.


Sementara Anton mulai berjalan dengan ragu, memasuki mansion dan mengaku pada security bahwa dia adalah teman si nyonya rumah.


"Saya ingin bertemu dengan Nyonya. Saya teman kuliahnya."


Tidak seperti dugaanya. Security itu dengan mudahnya membukakan pintu untuknya. Beberapa bodyguar yang berjaga di pintu hanya meliriknya sekilas.


Pria itu pun lalu melenggang hingga sampai pada pintu utama.


Ada yang aneh.


Kening Anton berkerut heran. Meskipun Alex memberikan pengawalan sangat ketat kepada istrinya ketika di luar rumah, tapi hanya ada beberapa pengawal di mansionnya.


Alex sepertinya sangat percaya diri saat ada di rumahnya, terbukti dari beberapa pengawal, mereka hanya bersiaga di gerbang utama. Itupun hanya beberapa orang saja.


Tidak ada sahutan begitu pria itu mengetuk pintu. Dia semakin keras mengetuk pintu besar itu tanpa peduli dengan tangannya yang mulai memerah.


Oh. ****.


Pikirannya yang kalut membuatnya tidak bisa bepikir jernih. Ada bel di samping pintu utama mansion itu.


Astaga. Anton menepuk dahinya.


Dengan rumah sebesar ini pasti para pelayan tidak akan mendengar ketukan pada pintunya.


Pria itu segera memencet bel berulang kali. Wajahnya sudah menunjukkan garis keras yang menunjukkan rasa amarah. Entah kenapa Anton merasa marah pada semua orang yang telah menyakiti Monica?


Dia ingin berteriak namun diurungkan, begitu pintu terbuka dan muncul seorang pelayan setengah baya.


"Maaf, Anda siapa?"


"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Rianti. Apakah nyonya ada?"


Pelayan itu mengangguk dan mempersilakan pria itu untuk duduk.


Anton mendengus. Harusnya Monica yang menjadi nyonya rumah di sini. Bukan wanita sialan itu.


"Siapa ya?" suara lembut itu terdengar memuakkan di telinga Anton. Gadis itu keluar masih dengan apron dan wajah cemong penuh dengan adonan tepung.


"Rianti, Kau lupa padaku? Aku kekasihmu."


🍁🍁🍁


Alexander Kemal Malik



Rianti Azalea Jauhar



Antonio Young



Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ya. Sudah lebih dari 50 episode di sana. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT.