HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Berhenti Berharap



Esok paginya, Lyca sepenuhnya menghindar dari Rud. Tidak peduli jika pria itu kerap mengajaknya bicara, atau bahkan mengajaknya untuk menjemput Alex di bandara.


Beruntung, Rud cukup sibuk hari ini. Pria itu mempersiapkan segala hal remeh temeh untuk kedatangan keluarga besar mereka serta persiapan pernikahan yang membuatnya sakit kepala.


Dan dengan terpaksa, pria itu membagi job disk mereka agar semuanya terselesaikan tepat pada waktunya. Sehingga dia tidak perlu menghindari Rud hari ini karena bisa dipastikan mereka tidak akan bertemu.


Rud dengan segala urusannya dengan vendor dan EO lebih sibuk di luar rumah, sedangkan dirinya cukup memilihkan baju pengantin untuknya sendiri dan Rud.


Setelah menutup pintu kamar, gadis itu langsung melempar dirinya di ranjang sambil meluruskan kakinya yang pegal karena seharian mencoba gaun pengantin lengkap dengan hells-nya.


Sebenarnya dia tidak mempermasalahakan mau menggunakan gaun pengantin seperti apa, toh, pernikahan ini hanya pura-pura. Tidak ada artinya bagi dirinya maupun Rud.


Namun, Teyze yang datang terlebih dahulu memaksanya untuk mencoba semuanya. Alasannya, karena pernikahan keluarga Malik tidak boleh dibuat sembarangan.


Lyca memijat dahi, berusaha mengurangi rasa sakit kepala yang diderita.


Berusaha untuk menghindari Rud sambil tetap mengurusi pernikahan mereka berdua bukanlah hal yang mudah.


Tapi dia yakin, Rud akan mengerti jika dia marah dan benci dengan segala kepura-puraan ini.


Dering ponsel berbunyi memecah lamunan gadis berusia dua puluh tahun tersebut. Lyca langsung menyambar ponselnya dan melihat sebaris nama yang tertera di layar.


“Ri?”


“Lyca,” sebuah suara histeris yang membuat Lyca langsung menjauhkan ponsel dari telingannya. Ada getaran aneh dalam dadanya mendengar suara wanita itu.


“Kenapa kau tidak datang menghadiri pernikahanku?”


“Bulan depan aku akan melahirkan Lyca. Alex melarangku untuk ikut. Takut perkiraan dokter bisa maju sewaktu-waktu.” ucap Rianti dengan nada menyesal.


“Iya. Baiklah. Tidak masalah. Asalkan kau dan my prince selalu sehat, dan dia lahir dengan selamat.”


Lyca tersenyum. Sejak kandungan Rianti memasuki usia lima bulan mereka memang sudah mengetahui jenis kelamin bayi calon penerus dari klan Malik itu. Dan itu membuatnya sangat bahagia.


“Tentu, dia sangat sehat dan menunggu aunty-nya untuk datang melihatnya nanti. Dan…,”


Lyca merasa lawan bicaranya sedang tersenyum di sana.


“Aunty datang bersama uncle Rud dan juga calon adik buat baby El.”


Mata Lyca membulat, sedikit tidak menduga dengan permintaan tambahan dari Rianti.


Perlahan rasa sesak menyeruak di dada. Jika seandainya pernikahannya normal layaknya pasangan suami istri yang lain, dia pasti akan sangat bahagia jika seandainya mengandung seorang anak yang lucu dari buah cinta mereka.


“Oh… tentu,” jawabnya sembari berusaha menahan air mata agar tidak lagi jatuh.


"Tapi, apa tadi aunty tidak salah dengar, kan? Baby El?”


“Ya, itu nama panggilannya nanti, Aunty Lyca. Alex sudah menyiapkan namanya. Oh ya. Sekali lagi selamat ya aunty. Maaf kami tidak bisa datang.”


“Tidak apa-apa,” Lyca tiba-tiba terisak. Tidak sanggup lagi menahan, “Ri, maafkan aku.”


“Lyca… kau kenapa? Kenapa malah kamu yang minta maaf?” terdengar suara panik Rianti.


“Maafkan aku. Aku telah ikut menjebakmu dulu. Hingga kau menikah dengan Kak Alex,” tangis Lyca tumpah. Dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Amarah dan penyesalan melesak di dadanya, membuatnya sesak.


“Ya Tuhan… Lyca. Aku malah ingin berterima kasih padamu,” terdengar sura Rianti dengan diiringi helaan napas beratnya. "Aku pikir kau menangis kenapa?"


“Astaga. Kau membuatku berpikir yang tidak-tidak. Kalau masalah itu aku malah ingin berterima kasih padamu. Terima kasih sudah membuatku mengenal Alex. Dia suami terbaik untukku Lyca. Terima kasih banyak.”


Lyca memejamkan matanya.


Jadi ini bukan karma?


Kegagalan cintanya serta penolakan Rud padanya, semua bukan karena karmanya telah menyakiti perasaan gadis polos seperti Rianti?


Lyca terdiam.


Gadis itu memilih menenggelamkan wajahnya ke dalam tumpuan kedua kakinya. Membiarkan pikirannya melayang, berusaha mencerna kejadian demi kejadian yang terjadi padanya.


Tangannya tanpa sadar memeluk diri lebih erat.


Dia mencintai Anton, dan pria itu juga mencintainya. Namun, pria itu lebih memilih menikah dengan Monica demi bayi yang dikandung wanita itu.


Dan ketika dia ingin membuka hatinya untuk Rud, pria itu terlebih dahulu sudah membuat tembok pembantas untuknya.


Perdebatan mereka tentang pernikahan yang terakhir kali membuat jantungnya kembali berdebar lebih kencang. Setiap perkataan yang terlontar dari bibir Rud membuat Lyca menahan diri untuk tidak berharap lebih.


Rud menolaknya.


Menolak menjalankan pernikahan yang sesungguhnya dengannya.


Meski menikah, hubungan mereka bukanlah sepasang suami istri melainkan hanya sekadar kakak beradik.


Ya Tuhan.


Kenapa rasanya lebih menyakitkan daripada ditinggal menikah?


Bukan karena dia mencintai Rud. Tapi terlebih karena terlalu menyakitkan hubungan tanpa kepastian.


Mengingat kata-kata itu di dalam kepala membuat dadanya semakin berdentum nyeri.


Apakah dirinya sama sekali tidak layak untuk dicintai dan juga mencintai?


Apakah dirinya ditakdirkan untuk tidak pernah bahagia?


“Sebenarnya ada apa denganmu?” tanya Rianti yang merasa heran dengan sikap Lyca karena gadis itu terdiam lumayan lama.


Lyca tersentak kaget, menoleh ke arah pintu dan tidak ada siapapun di sana. Dia bahkan melupakan jika sedari tadi teleponnya masih tersambung dengan Rianti yang saat ini tengah menunggu jawabannya dengan cemas.


"Lyca, jawab aku. Ada apa denganmu?"


Oh... Ya Tuhan. Suara Rianti yang melengking membuatnya terkejut.


For goodness sake, Lyca! Rianti hanya menanyakan kondisinya, bukan melempar soal masalah anatomi dan fisiologi manusia.


Lyca mencoba tersenyum meski ia yakin wanita yang ada di seberang itu tidak mengetahuinya.


“Aku baik-baik saja, kakak ipar. Mungkin aku hanya terlalu letih dengan semua persiapan pernikahan.”


“Baiklah, kau istirahatlah. Aku tutup dulu teleponnya. Kabari aku jika kau ingin bicara.” kata Rianti pada akhirnya.


“Oke.”


Alih-alih ingin memejamkan matanya sejenak dan mengistirahatkan pikirannya, suara ketukan di pintu mau tak mau membuatnya kembali terjaga.


“Masuk.”


Rud membuka pintu dengan perlahan dan hati-hati. Pria itu tersenyum, berdiri menjulang di hadapannya dengan satu tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


“Aku dengar kau belum makan seharian?” suara Rud membawa Lyca kembali ke kenyataan. Manik hitam tajam itu menatapnya dengan lembut dan penuh perhatian.


“Bagaimana kalau kita makan di luar? Keluarga besar kita sudah datang. Dan mereka sudah beristirahat di hotel. Kita bisa menemui mereka sekalian."


Lyca menelan ludah, “Aku tidak lapar.”


Pria itu mendengus lalu mendekat ke arahnya dan menarik tangannya.


“Aku tidak ingin kau sakit, Lyca. Meski aku tidak keberatan untuk merawatmu.”


Mata Lyca mengerjap. Tertegun dengan perlakuan pria itu. Ia ingin menolak ajakan Rud, tapi perutnya mengkhianatinya dengan berbunyi keras, membuat rona merah kembali muncul di pipi.


“Maaf,” ucapnya tersipu.


Rud tertawa, tawa renyah dan menularkan nada bahagia. Tak ada sedikitpun nada menghina. Hingga akhirnya Lyca ikut tersenyum, pertama kalinya sejak pertengkaran mereka di mobil tempo hari.


Melihat wanita di depannya tersenyum, Rud tidak bisa menahan lagi senyum lebarnya.


“Ganti bajumu. Kita akan segera berangkat. Aku akan membawamu makan ke suatu tempat. Aku yakin kau akan menyukainya.”


Lyca mengangguk.


Dan beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah restoran dengan desain interior yang mewah namun terkesan friendly dan nyaman.


Pilar-pilar kokoh yang tampak memukau, di tambah dengan meja dan kursi klasik menjadi icon mewah resoran ini.



Chiltern Firehouse, restoran yang terkenal unik dan menarik dengan konsep open kitchen, yang membuat pengunjung dapat melihat para koki memasak di dapur dan menyiapkan menu pesanan mereka.


Sekilas saja, Lyca menyukai tempat ini. Mewah namun terkesan familiar.


“Dua orang, seperti biasa.”


Sang pelayan mengangguk paham, membuat Lyca memandangi Rud sambil bertanya-tanya. Hati gadis itu berdebar aneh. Apakah Rud sering datang ke tempat ini bersama seorang wanita?


“Kau biasa datang ke sini?’ Lyca tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Senyum pria itu melebar, “Ya.”


“Bersama seorang wanita?”


Kali ini mata Rud yang membulat.


“Kau cemburu?"


Lyca langsung menyadari kekeliruannya. Ia menggelengkan kepala. Gadis itu langsung membuang muka, saat merasakan wajahnya mulai memanas.


“Aku sering datang ke sini bersama Mr. Raymond. Dia tinggal di sini. Dan dia juga menyukai tempat ini. Dia yang memperkenalkan tempat ini kepadaku.”


Oh, dengan pria…


Entah kenapa hati Lyca merasa lega.


“Bagaimana dengan kuliahmu? Apakah ada kesulitan?” tanya Rud memulai pembicaraan ketika mereka sudah duduk berhadapan.


“Tidak. Kuliahku baik-baik saja,” Lyca mebuka serbet dan meletakkannya di atas paha. “Bagaimana dengan perusahanmu, Mas?”


Rud menyunggingkan senyum, membuat matanya memancarkan kehangatan yang membuat Lyca merasa nyaman.


“Aku senang kau menyukai kuliahmu,” balas Rud. “Aku akan menemanimu sampai kuliahmu selesai. Aku ingin kau selalu menjaga kesehatanmu. Jangan pernah telat makan. Aku takut penyakit maagmu akan kambuh.” Rud menyerahkan buku menu ke pelayan setelah selesai mencatatkan pesanan mereka.


Lyca tertawa sementara jantungnya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin Rud tidak mencintainya, tapi bukankah sangat menyenangkan memiliki orang yang peduli kepadanya?


“Terima kasih, Mas. Aku baik-baik saja,” Lyca tersenyum.


Mungkin saat ini dia harus membebaskan pikirannya. Menganggap pria itu sebagai saudara jelas akan terasa lebih ringan. Seakan beban berat sudah terangkat dari pundaknya.


Dengan lekat, dia menatap mata tajam pria itu dan tersenyum tipis, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana dengan perusahaanmu?”


Rus mengangkat bahunya, dan lagi-lagi pria itu tersenyum lebar.


“Alex sudah menyelesaikannya semua. Tugasku di sini hanya menjagamu dan belajar bisnis dengan mencoba magang di perusahaan Raymond Weill yang diakuisisi Alex. Aku tidak keberatan meninggalkan magangku di perusahaan itu jika kau membutuhkanku. Aku siap menjagamu selama dua puluh empat jam dalam sehari.”


Lyca menahan napas. Rasanya banyak kepakan sayap kupu-kupu berterbangan di perutnya, membuat rona merah di pipinya semakin jelas.


“Thank’s,” balasnya tersipu. “kau bukan pengasuhku, Mas. Dan lagi aku sudah tidak perlu dijaga selama dua puluh empat jam.”


Tatapan Rud melembut dan senyum lebar kembali muncul di wajah tampannya. Lyca tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Rud. Wajahnya yang putih, alis tebal, dan manik hitam yang tajam. Hidung mancung, dengan bibir tipis yang kemerahan. Jangan lupakan rahangnya yang tegas, bersih, tanpa ada bulu-bulu halus yang tumbuh di sana, membuat Lyca bertanya-tanya bagaimana rasanya jika dia menggerakkan jemarinya di sana.


Lamunannya terhenti ketika sang pelayan datang dan membawakan pesanan mereka. Rib Eye Steak. Steak yang berasal dari potongan tulang rusuk sapi yang cukup populer karena tekstur dagingnya yang terasa sangat juicy yang dihidangkan dengan saus hitam yang menggoda.



“Aku hanya ingin kamu ingat, Lyca. Kalau kamu tidak sendiri,” Rud memotong daging steaknya lalu menaruhnya di hadapan Lyca dan mengambil steak Lyca yang masih utuh. “Aku akan selalu ada untukmu.”


Senyum kembali muncul di wajah Lyca. Hatinya terasa hangat oleh perhatian sederhana dari Rud. Dia merasa aman dan terlindungi. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan lagi dalam hidupnya. Meski ia harus meyakinkan hati berkali-kali. Jangan lagi jatuh cinta.


Jangan.


Dia hanya seorang kakak. Tidak lebih.


Akhirnya, dengan penuh kesungguhan hati Lyca mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hatinya sudah mantap sekarang.


“Terima kasih, Mas,” gumamnya sambil tersenyum lega.


Lalu mereka menyantap makanannya dalam diam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing.


🍁🍁🍁


Raymond ada di novel Terpaksa menikahi CEO Arogan -- Eka P.