
Meski beberapa bulan telah berlalu, Anton masih tidak percaya jika Monica masih akan tetap melabuhkan hatinya pada Alexander.
Menilik pergaulan wanita itu selama ini. Pergaulan kalangan papan atas yang glamour dan bebas.
Anton heran. Ketika wanita itu bahkan menyusul taipan kaya itu hingga ke Indonesia.
Sepertinya rumor yang selama ini dia dengar memang benar. Bisnis Malik’s Corp memang berkembang pesat di asia. Dan Alexander memimpin beberapa anak cabang perusahaannya yang ada di Singapura dan Indonesia.
“Anton, Alex melamarku," ucap Monica ringan saat ia tengah menunggui Monica makan malam.
Mata teduh sewarna emerald itu terus memandangi wajah wanita cantik yang kini tengah berbahagia dengan senyumnya yang memesonanya itu.
“Selamat Nona,” Anton berbasa-basi. Ia tidak tahu harus bilang apa. Ia hanya merasa bahagia jika Monica juga bahagia.
Tak terhitung berapa banyak pria yang sudah jatuh dalam dekapan wanita itu. Sudah waktunya wanita itu berhenti dan melabuhkan hatinya pada seseorang.
Mungkin Alexander adalah pria yang tepat. Hanya itu harapan Anton saat ini.
“Tapi aku telah menolaknya. Aku sedang berada di puncak karier sekarang. Aku masih ingin menikmati kebebasanku,” Monica mengucapkannya dengan santai. Matanya masih menatap Anton lekat, tanpa berkedip.
Anton menarik napas panjang. Ia tahu, Monica bukan remaja lagi. Usianya sudah hampir dua puluh delapan tahun.
Seharusnya, wanita itu sudah bisa membuat keputusan yang terbaik untuk masa depannya sendiri.
Meski pun begitu, kini Anton tampak khawatir ketika Monica menolak lamaran Alexander --yang mungkin akan membuat wanita itu menyesal di kemudian hari.
“Kedua orang tua Alex memaksanya untuk menikah setelah itu mereka akan memberikan warisannya. Tetapi kami sama-sama belum siap untuk menikah," ucap Monica sambil menyesap pelan minuman di tangannya. Sebuah senyum manis masih terukir di wajah cantik itu.
“Dan aku memberinya saran untuk menikah kontrak dengan wanita lain. Bagaimana Anton? Apakah saranku bagus? Dan setelah satu tahun mereka akan bercerai.”
What?
Itu benar-benar ide gila.
Anton masih menatap tidak percaya.
Demi Tuhan, apakah wanita di depannya itu begitu bodoh?
Melepaskan seorang Alexander untuk menikah kontrak selama satu tahun?
Ya Tuhan Monica, wanita itu terlalu meninggikan dirinya sendiri.
“Apakah Anda yakin, Nona? Bagaimana jika wanita itu tidak mau diceraikan atau…,” Anton mencondongkan tubuhnya sedikit, “Tuan Alexander jatuh cinta padanya.”
Monica terdiam mendengar kata-kata Anton.
Sungguhkah hal itu akan terjadi?
Tidak. Alex sangat mencintainya dan pria itu akan melakukan segalanya untuknya.
Pada dasarnya Monica bukan wanita posesif yang mengekang Alex hanya untuknya seorang. Mereka sama-sama mendewakan kebebasan.
Ya… asal setelah kontrak itu selesai mereka bercerai sesuai perjanjian yang telah dibuat olehnya dan Alexander. Dan yang ia tahu, gadis itu pun sudah mendatanganinya.
Tapi kenapa sekarang hatinya malah menjadi bimbang?
“Tell me. What should I do that will make him doesn’t like her?”
“Saya tidak tahu. Karena pria dan wanita yang tinggal satu atap bisa terjadi 'sesuatu' di luar kendali Anda. Anda harus membatalkan pernikahan kontrak itu dan menikah dengan Tuan Alexander jika Anda tidak ingin kehilangannya."
Monica terkesiap.
“Mereka akan bertunangan tiga hari lagi,” mata hitam itu menusuk kuat.
“Tapi kau mungkin saja benar. Gadis itu cantik dan polos. Dia mungkin bukan selera Alex untuk saat ini. Tapi kucing mana yang tidak mau jika disuguhi ikan? Well, aku akan mencoba mengujinya. Kau telponlah Tommy. Lakukan segala cara agar Alex menemuiku,” Monica menarik napas panjang.
“Do you understand what I want?” tanya Monica saat melihat Anton hanya diam menatapnya.
Tatapan Anton melembut. Seulas senyum kelegaan terpancar dengan tak kalah menenangkan.
Semoga Monica sadar kesalahannya.
“I do,” Anton mengangguk.
Saat itu pelayan mengantarkan hidangan utama untuk Monica. Salad udang yang terlihat segar. Wanita itu nampak begitu semangat.
“Segera telepon Tommy, Anton. Kabarkan jika aku sakit hari ini,” Monica melanjutkan kata-katanya tepat ketika pelayan sudah meninggalkan meja.
"Dia pasti tidak akan tega melihatku sakit."
Satu tarikan napas, dan Monica kembali berkata, “Jika dia datang padaku, berarti dia mencintaiku. Dan kau tidak perlu khawatir tentang pernikahan kontrak itu. Kami sama-sama bebas. Tidak suka terikat. Karenanya kami cocok satu sama lain. Dia tidak mungkin mencintai gadis kampungan itu. Aku yakin."
Anton mengangguk ragu-ragu. Pria itu kini berdoa, semoga Monica tidak pernah menyesali keputusannya.
Tapi Anton tidak pernah tahu, makhluk yang didominasi napsu itu akan mampu berbuat apa saja jika kenyataan tidak sesuai dengan keinginannya.
“Tidak ada yang tidak mungkin, Nona," sangkal Anton berusaha meyakinkan.
“Tutup mulutmu,” Monica berujar dingin dan mulai menyendok makanannya. Rasanya kekesalan ini harus ia alihkan dengan makan.
Dia belum ingin menikah. Tapi merasa kesal juga dengan pernikahan Alex meski dia yang mengusulkannya.
“Segera telepon Tommy.”
Anton nyaris tersenyum melihat bagaimana Monica tampak sedikit kesal dan mengaduk-aduk makanannya lalu menjejalkan ke mulutnya. Wanita itu sebenarnya cemburu tapi berusaha menyembunyikannya kuat-kuat.
Anton segera membuka ponselnya dan mencari kontak asisten Alex di handphonenya.
Untuk menelpon Alex langsung, jelas dia tidak berani. Dan lagi, Monica harus berpura-pura sakit agar Alex datang menemuinya.
Ia sudah biasa melakukannya.
“Selamat malam,” sapa Anton saat panggilannya mulai tersambung. Monica memberinya tanda agar panggilan itu di-l**oud speaker, agar dirinya pun bisa ikut mendengarnya.
“Malam.”
“Tuan, saya asisten pribadi sekaligus bodyguard Nona Monica "
“Iya. Ada yang bisa saya bantu?” suara Tommy terdengar datar seperti biasa.
“Apa saya bisa bicara dengan Tuan Alex?”
“Tinggalkan saja pesan. Tuan sedang makan malam bersama calon tunangannya.”
Monica mendongak, menatap Anton lekat-lekat. Rasa benci itu menerjang hebat.
Alex sedang makan malam bersama gadis kampung itu?
Alex sialan.
Monica tidak bisa menahan kemarahan di dadanya. Ia segera bangkit dan melangkah meninggalkan Anton begitu saja. Namun Anton bergerak tak kalah cepat. Ia langsung menggenggam lengan Monica kuat-kuat dan memberi tanda agar wanita itu diam.
“Baiklah.Tuan, tolong sampaikan pada Tuan Alex. Setelah meninggalkan apartemen Tuan Alexander, Nona Monica pergi ke Bali untuk pemotretan. Nona jarang makan dan mengonsumsi alkohol berlebihan. Dan sekarang, Nona pingsan dan masuk rumah sakit Bali Mandara.
“Oh… Apa kata dokter?”
“Perkiraan dokter, Nona menderita asam lambung dan anxiety disorder.”
“Akan saya sampaikan pada Tuan Alexander.”
Tommy menutup telepon itu bahkan sebelum Anton mengucapkan terima kasih.
Monica meradang.
“Perempuan sialan. Dia pasti sudah menggoda Alex, Anton. Segera kau suruh pembunuh bayaran untuk membunuhnya sekarang,” Monica berusaha melepaskan tangannya. Tapi sia-sia. Tenaga Anton terlalu besar.
“Lepaskan aku. Aku akan membunuh wanita itu,” Monica menjerit seperti kehilangan akal.
“Nona, gadis itu tidak bersalah. Tolong tenanglah.”
Saat itu Monica terpana.
Pria tampan itu menariknya begitu kuat dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat dan menepuk punggungnya lembut.
“Nona, tenanglah. Bukankah Anda sedang menunggu Tuan Alex untuk datang? Sekarang lakukan seperti rencana Anda."
Bersiap-siaplah untuk ke rumah sakit. Anda tidak ingin, begitu Tuan datang, Anda ketahuan berbohong, bukan?"
"Bukankah seorang Alexander Kemal Malik tidak pernah mentolelir kebohongan? Dan untuk gadis calon istri kontrak Tuan Alex itu, saya akan meminta detektif untuk mengikutinya. Apakah Anda puas?”
Monica benar-benar terpana dengan perlakuan Anton yang dinilainya terlalu berlebihan. Meski tidak dipungkiri dia merasa sedikit tenang dengan perlakuan pria itu. Tapi bagaimana pun juga, Anton hanyalah seorang bodyguard.
Anton memang tampan dan bahkan terlalu tampan untuk ukuran seorang bodyguard.
Tapi dia hanya anak angkat Ny. Alycia –Mommy-nya.
Anak yang tidak jelas asal-usul keluarganya.
Sementara Monica, wanita karier yang mempunyai segalanya, harga dirinya selangit. Hidupnya sempurna.
Dia hanya membutuhkan Anton sebagai pengawalnya. Tapi untuk merasa nyaman dengan pria itu?
No. Big no.
Itu jelas tidak mungkin.
Imposible.
“Baiklah. Sekarang lepaskan aku,” ucapnya ketus. Berusaha membangun tembok pembatas agar dia tidak mudah jatuh hati dengan pengawalnya sendiri.
Anton pun mengurai pelukannya. Pria itu lalu membantu dan menuntun Monica kembali duduk di kursinya.
“Segera pesankan tiket pesawat. Aku akan pergi setelah pemotretan untuk membatalkan pertunangan mereka.”
Pria tampan itu memandang tajam ke arah Monica, memberi kesempatan wanita itu untuk berpikir dan meredakan emosinya, seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Tunggu apalagi?"
“Baik, Nona,” Anton tersenyum. Dalam hati merasa bersyukur Monica mengubah keputusannya.
Jantung Monica berdegup kencang.
Wanita itu tidak tahu apa yang merasukinya. Mungkin dia sudah gila, ketika melihat senyuman Anton. Pria itu terlihat begitu tampan.
Pikirannya menggelenyar, ingin merasakan sentuhan bibir penuh dan sensual itu di bibirnya, menggelitik saraf-sarafnya untuk menyentuhnya lebih intim dan mengecapnya lebih dalam.
Ciuman yang panas dan memabukkan.
Sial.
Alarm di otak Monica memberi peringatan. Sadar Monica. Dia Antonio Young. Dia hanya seorang bodyguard. Bukan taipan kaya raya seperti yang kau inginkan.
🍁🍁🍁
Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ya. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT