HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Employees Only Bar



Anton menghentikan mobilnya tepat di basemant Employees Only Bar, New York.


“Kau tunggu saja di bar. Alex sudah reservasi atas namaku untuk dua orang.”


Monica menoleh ke arah Anton yang baru saja keluar dari mobil setelah memarkirkannya di tempat parkir VIP. Pria itu membukakan pintu penumpang untuknya dengan diam.


Rasanya masih aneh mendengar Monica membuka pembicaraan dengannya. Entah sejak kapan Monica terasa lebih nyata dan lebih manusiawi. Bukan lagi sekedar majikan dingin yang cantik dan berhasil menakhlukkan semua pria dengan pesonannya.


Tapi monica tetaplah Monica, seorang wanita dewasa yang kini tak lagi terjangkau olehnya. Bukan lagi kanak-kanak yang selalu menjadikannya pegangan ketika gadis itu membutuhkan bantuannya.


“Baik Nona,” ucap Anton sambil menundukkan kepalanya.


“Bagus. Ingat, kau jangan kemana-mana!”


Monica berjalan dengan anggun menuju ke pintu masuk Employees Only Bar. Bar mewah di New York dengan setting interior tahun 1920-an.


Wanita itu nampak cantik dengan dress selutut tanpa lengan berwarna hijau dengan aksen tali hitam di pundaknya.



Penampilannya semakin nampak anggun dengan tas tangan berwarna merah.


Gadis kecilnya itu sudah beranjak dewasa sekarang.


Astaga. Apa lagi yang Anton pikirkan?


Anton menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Mendengar Monica berusaha membuka percakapan dengannya saja membuat hatinya sudah terasa hangat.


Dia suka melihat Monica tidak lagi bersikap arogan dan menyebalkan.


Mungkin hubungannya dengan Alexander membawa pengaruh baik untuknya. Semoga.


"Anton? Kau mendengarku?"


“Baik Nona,” Anton berhenti berbicara sejenak, “Saya akan menunggu Anda di sini.”


“Hm,” Monica hanya berdehem sebagai jawaban.


Wanita itu kembali menatap ke arah depan dan membiarkan kesunyian turun di antara mereka sementara pintu kaca otomatis terbuka, memperlihatkan mata-mata penasaran yang menoleh kepada wanita yang luar biasa cantik itu.


Anton harusnya sudah bisa menduga ini. Berita tentang Monica yang berkencan dengan pewaris tunggal klan Malik pasti sudah menyebar dan bisik-bisik itu tak bisa lagi dihindarkan.


Pria itu bertanya dalam hati apa yang sedang mereka bicarakan?


Apakah mereka sedang menduga bahwa Monica sudah tidur dengan CEO itu untuk mendongkrak kariernya?


Ah... Sial.


Hanya dengan menduganya demikian Anton sudah merasa sakit hati.


Ingin rasanya ia membungkam mulut-mulut kotor itu dengan tangannya sendiri.


Sementara Monica nampak berjalan dengan anggun dan tenang. Mengabaikan segala tatapan dan godaan yang ditujukan padanya.


Sebagai seorang model dia tahu betul, bahwa dirinya memang butuh sensasi untuk mendongkrak kariernya. Dan sensasi menjadi kekasih Alexander Kemal Malik adalah sensasi yang paling menguntungkan baginya untuk saat ini.


“Cukup antar sampai di sini, Anton. Kembalilah ke bar.”


“Baik, Nona.”


Anton segera menunduk setelah mengantarkan wanita itu sampai di depan pintu ruang VVIP –tempat Monica bertemu dengan Alex— sebelum dia kembali melangkah menuju ke bar dan duduk persis di depan meja bartender.


“Hi, apa kau bodyguard, Monica?”


Anton menoleh dan mendapati seorang pria sudah berada di depannya sambil memegang dua buah gelas wine.


Pria tampan berwajah western itu mengerjapkan mata dan tersenyum hangat.


“Aku Raf. Rafael Miller,” pria itu mengulurkan tangannya ramah.


Anton memicingkan matanya, dia sama sekali tidak mengenal pria itu, “Maaf?”


Pria tampan itu menghela napas sambil tersenyum menyesal, “Aku adik dari Juan Miller jika kau mau tahu. Dan kebanyakan orang akan takut jika mendengar nama kakakku.”


Rafael terkekeh melihat wajah tegang Anton. Pria itu lalu menyerahkan satu buah gelas di tangannya kepada Anton.


"Wine?"


"Terima kasih."


“Jangan takut. Aku bukan mafia. Hanya Juan Miller yang mafia. Stt… Aku hanya seorang pecinta wanita.”


Anton tersenyum. Dia memang pernah mendengar nama Juan Miller. Tapi tidak menyangka jika akan bertemu dengan adik dari mafia kejam itu di sini --bahkan berada di hadapannya.


“Dan kurasa aku jatuh cinta pada majikanmu.”


Lagi-lagi Anton hanya bisa tersenyum. Tipis. Tidak tahu harus berucap apa.


“Apa kau bisa mengaturku untuk bertemu dengannya?”


Tangan Anton mengepal saat menyadari arah pembicaraan pria itu. Dia sama brengseknya dengan yang lain.


“Maaf. Nona Monica sekarang sedang dekat dengan Tuan Alexander Kemal Malik. Apa Anda tahu, siapa Tuan Alexander?” Anton berusaha menjual nama Alexander agar pria di depannya itu tidak lagi menginginkan Monica.


Wajah Rafael Miller terlihat serius, “Aku tahu Alexander sejak kami kuliah, dan aku tahu semua rumor yang beredar tentangnya. Tapi aku tidak peduli.”


Senyum Anton menghilang, akalnya kembali berseru lantang untuk menjauhkan Monica dari Alexander Kemal Malik ataupun dari pria-pria brengsek lainnya.


“Alexander pasti akan membuang Monica ketika dia bosan. Player tetaplah player. Dia tidak akan puas dengan satu wanita. Dan dia tidak akan pernah berubah.”


Pria itu benar. Tidak ada yang bisa berubah dengan mudah. Hatinya kembali dibelit rasa khawatir. Bagaimana dengan perasaan Monica ketika pria itu mencampakkannya?


“Tapi kau jangan khawatir. Aku juga bisa memberikan uang sebanyak yang pria itu berikan pada Monica. Tolong kau atur. Just one night stand. I promise.”


Pria itu memberikan kartu namanya membuat Anton bergidik jijik.


Anton meremas kartu nama itu dengan geram.


“Terima kasih, Tuan,” balas Anton berusaha tersenyum walau dadanya terasa sesak oleh amarah.


“Saya akan menyampaikannya kepada Nona Monica. Tapi saya tidak berani menjanjikan apapun kepada Anda. Semua terserah pada Nona Monica.”


“JIka dia tidak mau, kau berikan saja obat ini. Taruh dalam minumannya.”


Anton terkesiap.


Sebagai pria, jelas ia tahu serbuk apa yang telah diberikan Rafel Miller kepadanya.


“Tapi Tuan…,”


“Tidak ada yang pernah menolak permintaanku.”


Anton nampak khawatir dengan perubahan raut wajah Rafael Miller sudah yang mulai memerah.


Pengaruh alkohol benar-benar memberi pengaruh buruk terhadap emosi seseorang.


Akan sangat berbahaya jika membuat pria itu mabuk dan mengamuk.


“Maafkan saya. Saya hanya…”


“Hanya? Apa?” Rafael Miller memotong dengan cepat.


“Kau harus tahu resikonya ketika kau menentang perintahku, bodyguard bodoh.”


“Anda bukan majikan saya. Jadi Anda tidak berhak memerintah saya,” ucap Anton tidak terima.


Lama-lama dia merasa muak sekaligus marah pada pria searogan Rafel Miller.


Pria itu mencengkeram erat kerah bajunya. Anton berusaha melawan, tapi genggaman Rafael Miller semakin kuat. Anton mengibaskan tangan Miller, membuat pria itu mundur selangkah tetapi dengan cepat pria itu memasang ancang-ancang siap untuk melayangkan tinju.


Anton tidak keberatan bila harus menghajar pria brengsek di hadapannya sekarang, bahkan itu isi kepalanya saat ini.


“Apa apa ini?” tanya suara bariton yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka.


Anton terkesiap.


Pria tampan itu terlihat baru saja memperbaiki posisi dasinya. Jas yang sedikit kusut serta terdapat sisa lipstick di kerah kemejanya, membuat Anton bisa membayangkan apa yang baru saja terjadi pada pria tampan pewaris Klan Malik itu dan juga Monica.


“Alexander,” panggil Rafael Miller sambil menunjuk ke arah Anton.


“Bodyguard sialan ini sudah berani mengangganguku. Apa kau akan membelanya karena dia bodyguard Monica?”


“Tentu saja. Apa kau tidak terima?” Alex terlihat tidak sabar.


“Brengsek!” Rafael menaruh kedua tangannya di atas pinggang. Menatap lekat-lekat orang yang sudah dia kenal sejak mereka masih duduk di bangku kuliah.


“Aku heran padamu Alexander, kenapa kau masih mengambil bekas dari Sean Waston. Aku tidak menyangka, ternyata seorang Alexander menerima juga barang second. Tapi tidak masalah. Jika kau bosan, kau bisa menyerahkannya padaku," Miller terkekeh. Dia sudah mulai mabuk sekarang.


Alex lagi-lagi mengedik tak acuh, “Ini bukan urusanmu. Kenapa ikut campur?”


Alex mencondongkan tubuhnya ke arah Rafael dan menatap lawan bicaranya lekat-lekat.


Sungguh, Alex tidak pernah menyukai orang yang terlalu turut campur dengan urusannya.


“Wanita itu meninggalkan Sean Waston sahabatmu dan memilihmu. Bukan tidak mungkin suatu saat dia akan pergi meninggalkanmu untuk pria yang lebih kaya darimu,” Rafael Miller mengamati lawan bicaranya yang terlihat tak mau menggubris.


Tarikan napas panjang terdengar, “Aku sudah bilang itu bukan urusanmu, Rafael Miller.”


Belum sempat Rafael membuka mulutnya, Alex kembali memotong, “Jika kau masih ingin hidup,” Alex semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Rafael, “Tutup mulutmu. Dan urus dirimu sendiri,” desisnya.


“Atau jika kau mau, aku bisa mengirimkan mayatmu pada Juan Miller sekarang juga."


“Dan kau,” Alex menoleh ke arah Anton.


“Monica akan pergi bersamaku. Kau pulanglah,” Pria itu memutar tubuhnya lalu berbalik. Meninggalkan Anton dan Raff Miller dengan tatapan jijik.


Anton mengangguk pelan sambil terus berusaha tersenyum.


Setelah melihat punggung Alex dan Monica menghilang setelah memasuki mobil mewah pria itu, Anton segera menyusul, masuk ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya pada bantalan empuk kursi mobilnya.


Pria itu lalu meninggalkan Employees Only Bar dengan perasaan kacau.


Pikirannya berkecamuk.


Teringat jelas dalam pikirannya, wanita cantik itu menggelayut manja di lengan Alexander dengan wajah yang memancar bahagia. Senyum malu-malu menghias bibirnya dengan samar. Namun tatapan bahagia itu meredup ketika matanya bertatapan dengan mata Anton.


Padahal Anton justru mengkhawatirkan wanita itu.


Ia tidak ingin Monica tersakiti.


Apalagi oleh seorang pria brengsek yang kerap menjadikan wanita hanya sebagai pemuas nafsu saja.


Karena bagi Anton, Monica layak mendapatkan cinta tulus dari seorang pria yang rela melakukan apa saja untuknya.


🍁🍁🍁


Readers... Seandainya saat itu Anton berani berteriak, ia pasti akan mengatakannya dengan lantang.


"Monica kau tahu untuk apa Tuhan menciptakan senja? Agar kau selalu ingat untuk pulang pada cinta yang akan selalu kau kenang."


Setampan apapun, secantik apapun, mereka yang hanya datang lalu pergi, tak sebanding dengan cinta tempat pulang saat senja.



Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ya. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT