HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Persiapan ke Prince Island



Tak terasa sudah dua bulan sejak Rianti melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Adelard Alexander Jr. Malik.


Adelard, nama yang dipilihkan sendiri oleh Alexander yang memiliki arti kebijaksanaan, keteguhan, dan keagungan.


Nama yang sangat sempurna untuk disandang oleh seorang bayi tampan dengan netra sebiru lautan persis seperti sang ayah, serta surai hitam gelap yang menurun dari sang ibu.



Kelahiran bayi laki-laki pertama di dalam keluarga billionare klan Malik itu langsung membuat publik jatuh cinta akan parasnya yang menawan.


Wajahnya yang tampan hasil percampuran sempurna dari wajah setampan dewa milik sang ayah, Alexander Kemal Malik, sang taipan kaya raya berdarah Turki – Indonesia, dan wajah cantik dari sang Ibu, Rianti Azalea Malik yang murni berdarah eksotis dari Indonesia.


Kelahiran Adelard bahkan langsung menjadi sorotan publik begitu berita mengenai kelahirannya terungkap ke media.


Bayi kecil yang sangat tampan itu langsung menghiasi seluruh sampul surat kabar dan juga majalah, serta menjadi trending topik di media elektronik dan juga media sosial.


Ketenarannya bahkan melebihi ketenaran dari sang ayah.


Semua itu karena pemberitaan media online besar-besaran dari situs online milik ayah angkatnya, William Sean Waston, sang pemilik perusahaan software terkemuka dunia.


Kelahiran Baby El benar-benar membuat seluruh Klan Malik bersuka cita. Bahkan klan jutawan lainnya dari seluruh dunia seperti Klan Tomlinson dari Amerika, Weil dari Inggris, McKenzie dari Australia, Hamilton dari Eropa, Murouka dari Jepang, Roscild dari Jerman, dan seluruh keluarga kerajaan, serta masih banyak lagi, semua ikut mengucapkan selamat atas kelahiran baby El.


Berbagai macam hadiah mewah juga dikirimkan ke mega manshion Klan Malik di Prince Island. Manshion Alexander di Singapura, dan juga manshion Emir Kemal Malik di Telunas.


Seperti kursi mewah limited edition dari Kaws yang dirancang khusus untuk Baby El dengan harga lebih dari 250ribu US Dollar. Selimut sutra yang disulam dengan benang emas. Box bayi Pure Gold baby Cot yang didesain khusus oleh Ximo Talamantes yang dibuat secara hand made dan berlapis emas secara menyeluruh. Hingga mobil-mobilan yang dirancang secara khusus hanya untuk seorang Adelard Alexander Jr. Malik.



Dan dengan semua suka cita itu, Buyuk Anne memutuskan untuk menghelat pesta penyambutan baby El yang akan digelar di Prince Island, Turki, secara besar-besaran minggu depan.


Pulau pribadi paling mewah di Turki yang tidak pernah dibuka untuk umum lebih dari satu abad itu kini akan kembali dibuka hanya untuk menyambut kedatangan baby El.


Rencananya, pesta mewah itu nantinya akan dihadiri oleh semua kolega bisnis dan keluarga besar Klan malik, yang difokuskan di mega manshion utama yang sudah di bangun sejak beberapa abad yang lalu dengan arsitekur campuran bergaya islam serta ottoman klasik, dan romawi –yang diwariskan untuk keturunan klan Malik dari generasi ke generasi.



Dan karena pesta itu jugalah, mereka harus segera kembali ke Prince Island hari ini juga, karena Buyuk Anne meminta mereka untuk ikut mempersiapkan segalanya.


“Alex, ayo bangun,” bisik Rianti yang entah sudah ke berapa kalinya.


Suaminya masih tertidur bertelanjang dada sembari memeluk baby El dari samping. Padahal mereka harus berangkat pagi ini, karena besok ada jamuan makan malam dengan otoritas setempat.


“Sayang, ayo bangun,” ujar Rianti sambil menggoyang-goyangkan bahu kekar suaminya.


“Hm...” Alex hanya bergumam dengan mata yang masih terpejam.


“Alex, ayolah… ini sudah siang, Baba bilang kita berangkat pagi ini dan kamu bahkan belum siap-siap!”


Dengan perlahan Rianti naik ke atas ranjang lalu mengambil Baby El dari dekapan Alex.


Sesekali Rianti mencium wajah mungil Adelard yang begitu lucu dan tampan hingga akhirnya netra sebiru lautan itu perlahan terbuka.


“Goog morning, baby…,” sapa Rianti sambil mencium seluruh wajah El yang mengemaskan. “Kita harus segera mandi dan bersiap-siap, Sayang.”


Rianti tersenyum dan kembali memberikan kecupan-kecupan hangatnya di sekujur wajah baby El hingga membuat bayi yang baru berusia dua bulan itu menangis kencang karena merasa tidurnya terganggu.


“Astaga, kenapa kamu menangis, Sayang? Mommy sayang El,” Rianti tertawa sambil membuka pintu kamarnya menuju ke arah kamar Adelard yang terletak di sebelah kamar utama.


Wanita cantik itu segera memanggil beberapa maid yang memang ditugaskan untuk mengurus Adelard. Tak lupa seorang penata rias dan perancang busana yang khusus untuk mendisain baju El.


“Kak San, Ve, dan Ayu, tolong mandikan El dan dandani dia. Aku masih harus membangunkan Alex.”


“Baik, Nyonya.”


“Apa gaunku dan juga Alex sudah siap?”


“Semua sudah kami siapkan di walk in closed, Anda, Nyonya,” jawab Ayu yang merupakan make up pribadi Rianti.


“Baiklah kalau begitu. Aku titip El. Aku masuk dulu.”


“Baik, Nyonya.”


Rianti tersenyum sebelum menutup pintu kamar El. Wanita itu kembali masuk ke kamarnya dan duduk di pinggir ranjang.


“Alex, please. Bangun! Ini sudah siang. Aku tidak ingin kita semua terlambat,” Rianti kembali menggoyang-goyangkan bahu kekar suaminya.


“Jika kamu tidak bangun, aku tidak akan bicara lagi padamu. Ck... kamu memang menjengkelkan,” bisik Rianti di telinga Alex, dan dia bersiap beranjak dari tempat tidur.


Tapi langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya ditarik oleh Alex. Rianti terdiam, dia kemudian berbalik dan mendapati Alex yang menahan pergelangan tangannya dengan mata yang masih tertutup rapat.


“Alex, lepaskan. Aku juga mau mandi dan bersiap-siap,” ujar Rianti dengan malas.


Wanita itu berusaha melepaskan cengkeraman Alex di pergelangan tangannya yang semakin menguat.


“Alex lepaskan!”


Alex yang sudah terbangun sejak istrinya menggoyangkan bahu kekarnya pun langsung menarik tubuh Rianti hingga wanita itu terjerembab masuk ke dalam dekapannya.


“Good morning, sweetheart,” gumam Alex sembari memajukan wajahnya, berniat mencuri morning kiss dari Rianti. Tapi wanita itu langsung mengelak sehingga ciuman Alex jatuh di pundak mulusnya.


Alex tersenyum. Dia mengecup pelan pundak istrinya beberapa kali sebelum akhirnya ikut duduk di ranjang sambil menatap wajah Rianti dengan saksama.


“Ada apa denganku?” Rianti mendongak menatap mata suaminya, dan mengerutkan keningnya bingung.


“Kau tidak tampak baik-baik saja,” ucap Alex dengan suara kecilnya. “Kau marah?”


Rianti merasakan sesuatu menggelitik hatinya. Wanita itu tanpa sadar menghela napasnya panjang bersamaan dengan dirinya yang menggeserkan tubuhnya, mencoba untuk bersandar di dada bidang Alex.


“Apa aku terlihat begitu bermasalah?” tanyanya pelan.


Alex mengangguk, “Aku bisa melihatnya dengan jelas,” jawabnya. “Kau menghindari ciumanku, dan kau terlihat sedang memikirkan sesuatu.”


Rianti menatap jemarinya yang ia letakkan di atas pangkuannya sembari menghela napasnya dengan panjang, begitu berat, dan terdengar penuh resah di dalamnya.


“Aku kesal kau tidak bangun juga. Padahal kita harus segera bersiap-siap,” ucap Rianti begitu pelan hingga terdengar seperti gumaman. “Itu saja.”


“Selain itu? Apakah ada masalah lain? Berceritalah. Aku yakin kau akan merasa lebih baik.”


Rianti menggeleng dengan berat hati, “Entahlah. Aku pun juga tidak mengerti, Alex. Aku hanya takut. Buyuk Anne meminta kita segera pulang, dan akan mengadakan pesta penyambutan untuk El. Aku merasa… aku belum siap meninggalkan semua kehidupanku di sini,” ujarnya dengan suara kecil.


“Dan aku belum mampu berpisah jauh dengan Bapak dan Ibu juga Azzam.”


Kening Alex berkerut ketika mendengarnya, “Aku akan terus menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Kalau kau mau, Bapak dan Ibu juga Azzam bisa ikut tinggal bersama kita. Bagaimana?” tanya Alex dengan nada lembut, mengusap rambut Rianti dengan jemarinya.


Namun sayangnya wanita itu menggeleng, “Bapak dan Ibu tidak mungkin mau meninggalkan pekerjaannya. Itu sangat tidak mungkin, Alex.”


Tatapan di mata Alex melembut ketika ia melihat wajah sedih istrinya. Kening Rianti berkerut dan tatapannya terlihat sayu, nampak sekali kalau wanita itu memang benar-benar memikirkan masalah ini keras-keras. Alex selalu tidak suka melihat wajah Rianti yang murung dan sedih seperti ini, walaupun begitu dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Minimal untuk sekarang, dia belum bisa.


“Aku berjanji untuk selalu melindungimu,” Alex melingkarkan tangannya di pinggang Rianti.


“Tapi bagaimana jika aku tidak nyaman tinggal di sana?” tanya Rianti serak. “Aku takut tidak bisa adaptasi dengan keluarga besarmu itu. Mereka bangsawan sedangkan aku hanya rakyat biasa.”


“Kau bisa,” ucap Alex terdengar sangat percaya diri. “Aku mempercayaimu, sayang,” tangan Alex memeluk istrinya semakin dalam dan semakin dalam. Membuat Rianti merasa begitu hangat di dalam dekapan tangan suaminya.


“Jangan biarkan orang lain mengalahkanmu. Aku akan selalu melindungmu. Aku yakin, Buyuk Anne sekalipun tidak akan bisa mengganggumu, bahkan cepat atau lambat dia pasti akan menyayangimu. Percayalah, tidak akan ada yang bisa menyentuh sehelai rambut pun dari Mrs. Alexander. Trust me.”


Rianti mengerucutkan bibirnya, “Sungguhkah?”


Sebuah senyum mengembang di wajah Alex, “Tentu. Siapa yang berani melawan seorang Nyonya Alexander? Bahkan dia lebih kaya daripada pewaris Klan Malik sekalipun. Kau ingat? Bukankah semua asetku sudah menjadi milikmu?"


“Kamu benar-benar menyebalkan!” gumam Rianti hingga membuat Alex tersenyum senang.


“I love you, Sweetheart.”


Rianti langsung menatap Alex dengan heran.


“Kenapa kau bilang I love you?”


“Ya, karena aku cinta kamu.”


Pipi Rianti langsung memerah saat Alex mengatakan kalimat itu dengan wajah seriusnya yang benar-benar terlihat sangat tampan.


“Sweetheart? Apa kau sudah selesai nifas?”


“Iya. Kenapa?”


Alex langsung menarik Rianti hingga wanita itu berada di pangkuannya. Wanita itu hanya tertunduk malu dan menyembunyikan wajahnya di leher suaminya.


"Po menunggumu cukup lama sejak Master Shifu turun mesin," desah Alex lirih.


“Astaga Alex. Turun mesin? Kamu nakal,” bisik Rianti dengan malu sambil memukul pelan pundak Alex. Pria itu tersenyum penuh arti. Dan tanpa aba-aba, Alex langsung mengangkat tubuh Rianti dan berjalan menuju ke kamar mandi.


“Alex, apa yang kamu lakukan?” teriak Rianti.


“Stt… tenanglah sayang, sudah lama kita tidak mandi berdua,” jawab Alex sembari tersenyum lebar.


“Ini sudah siang Alex, kita akan terlambat,” ucap Rianti panik ketika menyadari makna yang tersirat dalam kalimat suaminya. Wanita itu mencoba untuk turun, namun lilitan Alex di tubuhnya membuat Rianti tidak bisa berkutik.


“Tenanglah, ini tidak akan lama. Dan meskipun kita terlambat, mereka akan tetap menunggu kita, bukan?” bisik Alex sambil mengecup bibir Rianti dan kembali berjalan masuk ke kamar mandi dengan cepat.


Brak.


Pintu kamar mandi tertutup dengan rapat. Seolah tidak boleh ada seorangpun yang masuk ke sana.


Dan kalian pasti tahu, apa yang PO lakukan dengan Master Shifu, bukan? Pasti melatih jurus baru Po, sang Pendekar Naga.


🍁🍁🍁


Gerbang Prince Island dari dermaga



Gerbang Mega Manshion Utama



Tempat Parkir