HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Penyesalan



Anton mengangkat kepalanya saat mendengar jam besar manshionnya berdentang dua belas kali, menandakan waktu tepat tengah malam.


Beranjak dari ruang kerjanya Anton segera berlari menaiki anak tangga yang menuju ke kamar tidurnya.


Begitu membuka pintu, senyum pria tampan itu mengembang melihat bayi mungilnya yang bergerak aktif masih berada di atas ranjang berbalutkan selimut tebal dengan beberapa bantal di sisi kanan dan kirinya.


“Alle…” desisnya dengan senyum yang terbit di bibir tipisnya.


Pria itu melangkah perlahan dengan napas terengah akibat berlari. Namun tetap saja tak mengendurkan senyum manisnya malam ini.


“Sayang, apa kau haus?” Anton menyingkap selimut yang membungkus tubuh mungil putrinya.


Baby Alle terlihat bergerak gelisah.


Anton membawanya berdiri di tengah-tengah kamarnya. Kedua tangannya mendekap erat tubuh mungil itu di pelukannya. Perlahan ia mendekati almari khusus tempat penghangat asi dari ibu susu ekslusif yang disewanya, lalu memberikan satu botol kecil asi untuk Alle.


“Sayang, hari ini ulang tahun Mommy. Apa kau merindukan Mommy?” Anton tersenyum sembari menatap dalam putri kecilnya yang masih asyik menyusu di pelukannya.


“Daddy akan segera menemukannya untukmu. Daddy janji. Tapi sebelum itu, bagaimana jika kita mengucapkan selamat ulang tahun untuknya malam ini?”


Hening.


Setelahnya tidak ada suara malam itu. Baby Alle kembali tertidur setelah Anton memberinya susu dan mendekapnya dengan erat.


Namun tak lama, suara isakan pilu terdengar begitu menyakitkan.


Anton menangis hebat.


Tubuhnya meluruh ke lantai bersamaan dengan Alle yang masih berada di pelukannya.


“Maafkan aku… maafkan aku… Monica. Maafkan Daddy, Sayang,” tangisan Anton pecah. Tubuhnya bergetar hebat.


Alle yang merasa tidurnya kembali terusik menangis tak kalah kencang dari daddy-nya.


Oek!!


Oek!!


Oek!!


“Se- selamat ulang tahun, Mo-monica…,” isak Anton sambil mengecup wajah Alle yang kini meronta-ronta di pelukannya.


Sungguh, siapapun yang melihatnya tidak akan tega.


Anton merasakan penyesalannya yang teramat dalam, kesendirian yang teramat sangat, serta kesakitan yang teramat menyesakkan.


Segala rasanya hanya bisa ia sampaikan pada Monica yang sekarang berada entah di mana.


Demi Alle, hanya demi Alle.


Dia akan melakukan apapun. Asal Alle, putrinya bahagia.


Oek!!


Oek!!


Oek!!


Tangisan kencang Alle menyadarkan Anton. Pria itu segera menggendong kembali baby Alle dan mengecup keningnya dengan sayang.


“Shh... Maafkan daddy, Sayang,” bisiknya lembut, “Daddy janji tidak akan pernah menangis lagi. Dan membuatmu ikut menangis. Tapi kau juga harus berjanji pada Daddy. Jangan pernah menangis. Kita harus tegar, Sayang. Kita harus saling menguatkan, ya?" Anton mengusap air mata yang masih menderas di pipinya.


Ya, dia harus berusaha untuk tegar.


Sekarang bukan saatnya untuk menyesali keadaan.


Dia memang merasa marah dengan dirinya sendiri. Namun untuk saat ini Anton lebih memilih untuk meredam emosinya. Rasanya mendengarkan tangisan Alle membuatnya semakin terasa sakit.


“Shh… Sayang… jangan menangis. Princess… please don’t cry…” Anton berusaha keras menenangkan bayinya.


Untung bayi perempuan yang cantik itu kembali terlelap setelah beberapa saat.


Setelah baby Alle tertidur, Anton segera meletakkan baby Alle kembali ke tempat tidurnya. Mengecup keningnya dalam-dalam. Membelai kedua pipinya yang kini bertambah montok, dan juga bibirnya yang kemerahan.


Allecia benar-benar mengemaskan.


Pria itu tersenyum, menatap pantulan wajahnya dan juga wajah Monica pada wajah mungil Allecia.


Setelah keluar dari incubator satu bulan yang lalu, perkembangan baby Alle begitu signifikan. Dia tumbuh dengan sehat, tidak kalah dengan bayi yang lahir dengan normal.


Anton berulang kali membelai wajah cantik putrinya dengan sayang. Namun gerakan tangannya terhenti ketika matanya tanpa sengaja tertumbuk pada kalung liontin kecil milik Monica yang melingkar indah di leher putrinya.


Monica?


Kau di mana?


Perlahan pria itu bangkit dan beranjak ke arah meja di samping tempat tidurnya. Membuka lacinya, dan mengambil sepucuk surat lusuh, lalu membacanya dalam diam, terduduk di pinggir ranjang.


Teruntuk,


Antonio Young.


Sebelumnya tolong maafkan aku.


Aku tidak tahu, apa yang harus aku tulis di kertas ini. Tapi aku menyayangimu seperti adik yang menyayangi kakaknya. Aku mencintaimu, seperti istri yang mencintai suaminya.


Aku takut kehidupanku hancur termakan isu. Aku takut sanjungan berubah menjadi hujatan. Aku takut pujian berubah menjadi kecaman. Aku takut ketika tak ada lagi harapan. Semua tampak menyakitkan, melukai serta membunuhku dengan perlahan.


Karena ketakutan ku yang tidak berdasar itulah, aku menyakitimu. Aku egois.


Aku tahu, aku tak lagi diharapkan. Kehadiranku tidak lagi dinantikan. Bahkan keluarga terdekatku menginginkan kepergianku, dan berharap aku tak akan pernah kembali.


Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua yang telah terjadi di antara kita. Kehadiran putriku, bagiku adalah anugrah, bukan musibah. Dan aku telah setuju untuk menyerahkan putriku kepadamu. Seperti niat awalmu dulu untuk menikahiku.


Suamiku, bolehkah aku kembali memanggilmu kakak?


Sungguh aku tidak bisa berpanjang kata. Aku tahu kamu menyayangiku. Sangat menyayangiku hingga kau bahkan bisa mengorbankan nyawamu hanya untuk diriku.


Tapi aku tahu, cintamu hanya sebatas rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya.


Aku mohon tolong jaga putriku baik-baik untukku. Berikan dia nama Allecia Aileen Morouka. Karena dia satu-satunya cahaya dalam hidupku.


Tolong beritahu padanya, aku begitu mencintainya dan menyayanginya. Dan tolong simpan liontin ini untuknya.


Aku harap, kau dan Lyca akan memberi banyak kasih sayang yang tidak akan pernah bisa aku berikan kepadanya.


Hanya itu permintaanku.


Ah, satu lagi. Aku merindukan waktu kita kecil dulu.


Kakak, dulu kita sedekat urat nadi, namun kini kita terpaut oleh jarak tak kasat mata. Tapi percayalah, aku tetap adik angkatmu.


Aku menyayangimu.


Aku pergi.


Monica Young.


Tes…


Setetes air mata membasahi kertas surat lusuh yang berisi tulisan tangan Monica.


Anton tergugu di tempatnya.


Dua bulan lebih, berlalu dengan cepat. Dan dia juga sudah mengerahkan semua anak buahnya hanya untuk mencari Monica.


Namun semua sia-sia.


Monica hilang tak berjejak.


Wanita itu seolah menghilang ditelan bumi.


Meninggalkan dirinya dan juga bayinya berdua di dunia ini.


Anton hanya bisa menatap nanar ke arah Alle yang kini berusia lebih dari dua bulan. Bayi cantik itu semakin hari menjadi semakin aktif dan sedikit rewel.


Anton bahkan harus tidur sekamar dengan Alle untuk berjaga-jaga jika dia menangis.


Pekerjaan kantor yang menumpuk dan tubuhnya yang terlampau lelah membuat pria itu seringkali terserang sakit.


Dia memang bisa saja menyewa babysitter untuk baby Alle. Namun ia terlalu takut untuk melakukan itu. Ia takut Alle diculik, atau bahkan dianiaya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk merawat Alle dengan tangannya sendiri dan membawanya kemana pun ia pergi.


Karena harta yang paling berharga baginya yang ia miliki saat ini hanyalah Allecia Aileen Murouka, putri kandungnya.


Ia hanya ingin menjaga dan merawat Alle sepenuh hati.


Ia bisa benar-benar gila jika kulit Allecia tergores sedikit saja.


“Maaf.”


Anton melipat kertas lusuh itu dan menaruhnya di dadanya.


Entah sudah berapa ribu kali Anton mengucapkan kata itu setiap harinya jika Allecia menangis dan ia tidak bisa menenangkannya. Atau pada saat Alle tertidur dan dia merasa kelelahan.


Rasanya benar-benar menyakitkan ketika bayangan Monica yang tengah menggendong dan menyusui putri kecilnya terlintas di pikirannya.


“Apa kau akan membenci daddy, sayang?” gumam Anton dengan mata yang kembali mulai berair sembari menatap putrinya.


“Ah… bukankan aku bodoh jika menanyakannya sekarang, karena kau belum mengetahui yang sebenarnya. Kau tahu Sayang, karena keegoisan daddy lah, yang membuat mommy-mu pergi meninggalkanmu.”


"Maaf. Maafkan aku."


Anton meraup wajahnya kasar. Pria itu tertunduk lesu di samping putrinya. Membaringkan tubuhnya perlahan. Memeluk putrinya dengan erat.


Saat ia memejamkan mata. Kegelapan kembali datang. Saat itulah, ia kembali tenggelam dalam gelapnya kesedihan yang bernama penyesalan.


🍁🍁🍁




\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu up bisa diintip novel ini ya readers.