HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Sandiwara



"Siapa kamu?" Wanita yang bernama Rianti itu mengernyit heran. Jelas saja, dia sama sekali tidak pernah merasa mengenal pria itu.


Anton menghentakkan kaki ke lantai dan berkata sedikit keras. Mulai bersandiwara.


"Kau kejam, Ri. Aku Anton. Aku kekasihmu."


"Aku tidak pernah punya kekasih," ucap wanita itu lirih.


"Hah. Aku tahu aku salah!" ujar Anton keras. Ia bahkan heran, sejak kapan dia berbakat menjadi pemain sinetron?


"Jika waktu bisa diputar kembali aku ingin memperbaikinya."


Wanita itu semakin tak mengerti, "Aku benar-benar tidak mengenalmu, Tuan. Anda salah orang, Tuan."


"Aku tahu kamu marah padaku. Tapi berilah aku kesempatan. Demi aku. Demi anak kita."


"Anak kita? Apa maksudmu?"


Anton tersenyum kecil --dia juga bingung apa yang dia katakan--. Dia hanya memandang wajah Rianti lekat. Wanita itu terlihat sangat cantik dan lugu. Tapi sayang, wanita itu memilih musuh yang salah.


Anton hanya ingin memasuki mansion besar Alex ini untuk memindai keadaan. Tentulah sekarang pria itu tidak ada di rumah.


Anton sudah memastikan jika mobil Koenigg milik Alex sejak semalam tidak kembali pulang ke rumah.


Tapi untuk membunuh wanita di hadapannya itu Anton merasa tidak tega. Ia masih punya perikemanusiaan.


Kelembutan dan kecantikan khas wanita itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi, apa yang harus dilakukannya untuk memberikan penjelasan pada Monica?


Terdengar helaan napas panjang dari Anton. Tak lama suaranya terdengar berat. Ia ingin mengakhiri dan segera keluar dari mansion ini.


"Aku mencintaimu, Ri,"


Damn it. Apa yang telah dia ucapkan? Mencintai istri orang?


Tapi hanya itu yang bisa ia katakan agar wanita itu semakin marah dan mengusirnya.


"Apakah sandiwaramu telah selesai? Kalau sudah pergilah! Aku benar-benar tidak mengenalmu, Tuan," usir wanita itu dengan wajah merah padam.


"Kamu kejam, Ri. Kamu benar-benar melupakanku. Baiklah. Aku akan pergi. Aku tidak menyangka uang akan membuatmu lupa dimana kamu berpijak. Kekayaan sudah membuatmu buta. Aku minta jauhi pria kaya ini. Kekayaan tidak akan membuatmu bahagia," ujar Anton dengan nada tinggi.


Rianti merasa panas mendengar omongan pria itu. Kenal saja tidak. Kenapa harus membawa-bawa harta kekayaan suaminya?


Serta merta gadis itu maju dan berkacak pinggang. Memandang pria itu dengan galak.


'Kamu pergi sekarang!" tunjuk Rianti ke arah pintu.


Bagus. Usir aku... Usir aku. Dan aku akan segera pergi dari sini. Pikir Anton. Tanpa menyadari kalau ada seorang pria yang sedari tadi sudah berdiri di ujung tangga sedang menatap tajam mereka.


Matanya yang hijau kebiruan menyipit ke arah istrinya yang terlihat marah.


Pria bernama Alex itu menyeringai. Ternyata istrinya itu luar biasa menggemaskan di matanya. Istrinya bagaikan kucing galak yang imut.


Melangkah pelan Alex berdeham dan membuat kedua orang di depannya terlonjak.


"Sweetheart, ada apa?" tanyanya dengan suara dalam dan berat.


Anton terkesiap.


Sementara Rianti nampak berjegit. Memandang ke arah datangnya suara dan tersenyum cerah saat melihat suaminya datang.


"Aku tidak mengenalnya, Alex. Dan dia terus menyebutku kekasihnya," adunya pada pria tampan itu.


Alex mengulurkan tangan dan merangkul pundak Rianti.


"Kau benar-benar tidak mengenalnya?" pria tampan itu mengelus rambut istrinya.


"Aku ti-"


"Aku Anton. Kekasih Rianti." sergah Anton memotong perkataan Rianti dengan cepat. Ia tidak mau identitasnya terbongkar. Hanya berpura-pura menjadi kekasih wanita itu alasan terbaik agar pria seperti Alex tidak mencurigai niat buruknya.


Sedikit memucat Anton menatap Alex lekat. Astaga. Kenapa pria itu ada di rumah? Dia sudah menyelidikinya seharian. Seharusnya pria itu ada di kantor sekarang.


Alex menaikkan sebelah alisnya. Mengamatinya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai secara terang-terangan. Mata birunya menyorot tajam, membuat Anton sedikit gemetar.


Sial. Matilah ia kini.


"Istriku tidak mengenalmu. Kenapa kau mengganggunya?" tanya Alex tenang.


"A-aku tidak mengganggunya. Aku hanya-'


"Apa? Kalau kau tidak mengganggunya? Kenapa wajah istriku merah padam menahan marah?"


Rianti mengusap pelan lengan suaminya.


"Alex. sudahlah. Suruh saja dia pergi."


Alex bergeming. Masih memandang Anton dengan tajam.


Anton berpikir keras. Agar dia bisa pergi dari situasi ini.


Jalan satu-satunya adalah meneruskan sandiwara ini agar pria itu tidak mencurigainya. Dan jika ada kesempatan dia akan kabur secepatnya.


"Kau memang wanita murahan, Ri. kau mencampakkanku karena aku tak punya apa-apa. Kau hanya menginginkan hartanya. Kau-"


Belum selesai ucapannya, Anton merasakan lehernya ditarik dan tubuhnya dihempaskan ke lantai.


Tubuh Anton jatuh terjengkang. Setelah itu sebuah sepatu menginjak kepalanya dengan kuat. Membuatnya menjerit kesakitan.


"Arrghhh...."


"Alex. sudah. Hentikan. Jangan terpancing omongan dia, dia mungkin orang gila. Aku sungguh-sungguh tidak mengenalnya," Rianti berusaha menenangkan suaminya. Tetapi Alex tidak menggubrisnya.


Tiba-tiba asisten pria itu datang beserta puluhan bodyguard mengelilingi pria tampan itu dan dirinya.


"Apa kami terlambat, Sir?" tanya Tommy --asisten Alex-- yang dijawab dengan kilatan mata marah pria itu yang membuat Tommy mundur selangkah.


Masih dengan menginjak kepala Anton, pria itu membungkuk tanpa mempedulikan dirinya yang kini meringis kesakitan.


"Aku peringatkan kamu, laki-laki tak tahu diri. Sekali lagi kamu menghina isrtriku. Akan kubuat kau dan seluruh keluargamu hidup segan mati tak mau. Apa kau dengar?"


"A-aku," Anton berusaha menggeliat untuk mengambil pistol yang ia selipkan di pinggangnya. Tapi dengan cekatan dua orang bodyguard memegangi tangannya.


"Satu lagi. Kalau sekali lagi kamu berani menyakiti istriku, aku akan menghabisimu saat itu juga. Jangan pernah main-main denganku," Alex berteriak dengan tangan mencengkeram leher Anton.


Sementara Rianti berdiri khawatir di belakang suaminya. Wania itu terlihat ngeri melihat kemarahan Alex.


Alex memandang dengan wajah penuh kebencian pada Anton yang kini berada dalam belenggu bodyguardnya.


"Singkirkan semua lalat yang masuk ke rumah, Tommy. Bersihkan sampai ke akarnya," Alex menoleh pada Tommy yang membungkuk hormat.


Anton hanya pasrah ketika dirinya diseret oleh beberapa orang dan membawanya ke bunker.


🍁🍁🍁


Bunker mewah lima lantai itu dibangun tepat di bawah garasi -yang berisi puluhan mobil mewah dari berbagai merek milik Alexander Kemal Malik.


Terletak di samping bangunan utama. Dengan jalan masuk dari taman belakang garasi yang tersamarkan dengan tumbuhan merambat yang menutupi tiap dindingnya.



Anton hanya bisa mengagumi bunker ini meski diperuntukkan sebagai penjara baginya.



Menurut beberapa bodyguard yang berjaga, sekitar 300 ribu dollar AS, pria itu gelontorkan untuk membangun bunker ini menjadi tempat perlindungan sekaligus tahanan bagi siapapun yang mengusiknya.


Ia menamainya The Malik's Survival Basement. Tempat bawah tanah yang mampu menampung hingga 50 orang dalam satu waktu.


Semula Alex membangun bunker ini sebagai tempat perlindungan. Dalam dunia bisnis akan sangat wajar terjadi persaingan.


Apalagi bisnisnya tidak hanya bersifat regional, tapi juga internasional. Persaingan bisa sehat, bisa juga tidak sehat, tergantung dengan siapa ia berbisnis.


Selain itu, bunker ini juga didesain tahan terhadap segala jenis bencana, termasuk terhadap senjata nuklir dan senjata biologis, seperti virus.


Satu lantai bunker ini berukuran 170 meter persegi, atau seukuran sepertiga lapangan basket. Satu lantainya muat untuk menampung sekitar 10 orang.


Di dalam ruang yang didesain mirip rumah ini, juga tersedia 3 buah kamar tidur, dua kamar mandi, satu dapur, dan satu ruang makan.


Tak seperti bunker lainnya yang terkenal seram, tempat perlindungan keluarga Malik itu memiliki beberapa kemewahan, bahkan di dalamnya ada ruang gym untuk para bodyguardnya, dan juga ruangan khusus untuk menyimpan senjata dan amunisi legal koleksinya.


Dan, untuk menjangkau seluruh lantainya, tersedia pula elevator bagi para penghuninya.


Bangunan mewah bawah tanah ini dilengkapi pula dengan jaringan internet untuk berhubungan dengan dunia luar.


Hanya satu kata untuk Alexander Kemal Malik.


Hebat.


Pria itu benar-benar hebat. Dan entah mengapa Anton mulai mengaguminya.


Astaga, dia mengagumi mantan kekasih Monica? Dan sekarang menjadi musuh wanita itu?


Anton tersenyum miris. Sudah beberapa hari dia dipenjara di sini. Mereka memang memperlakukannya dengan baik. Tapi dia tetap meneruskan aksinya.


Mogok makan.


Dia harus mogok makan agar Alex menemuinya sehingga dia bisa melakukan negosiasi.


Ia dengar dari beberapa penjaga. Alex akan datang menemuinya hari ini. Dan pagi-pagi sekali dia sudah disuntik dengan sesuatu.


Mungkin chip? Entahlah. Anton tidak ambil pusing asalkan dia bisa bebas.


Anton terkesiap ketika mendengar banyak langkah kaki mendekat.


Beberapa bodyguard tampak mengangguk hormat begitu taipan kaya itu melewati mereka. Pria itu berjalan lurus melewati ruangan demi ruangan hingga sampai pada ranjangnya.


"Kenapa dia?" tanya Alex sambil menunjuk Anton pada beberapa orang yang menunduk dalam-dalam di hadapannya.


"Sudah dua hari ini, dia mogok makan, Tuan," jawab salah satu pria yang berperawakan tinggi dan kekar serta berambut cepak mirip tentara.


"Bangunkan!"


Dua orang pria mengangkat tangan Anton yang terlihat lemah itu dengan sedikit kasar.


"Kau ingin mati?" Alex menaikkan alis kanannya. Menatap tajam pria di hadapannya. Pria itu terlihat tampan meski bulu-bulu halus memenuhi rahangnya.


Anton menatap Alex lekat , sudut bibirnya tertarik ke atas, "Akhirnya Anda datang juga, Tuan."


Alex menautkan alisnya. "Aku akan segera mengabulkannya jika kau ingin mati."


"Anda bisa membunuh saya, kapan saja Anda mau. Tapi, izinkan saya menggagalkan rencana Nona Monica. Ketika saya gagal membunuh istri Anda, saya yakin, Nona Monica tidak akan tinggal diam," Anton menelan salivanya dengan susah payah.


"Saya melakukan ini bukan demi istri Anda,Tuan. Tapi saya tidak mau Nona Monica berbuat kejahatan hanya karena dendamnya pada Anda."


Alex tersenyum sinis, "Kau tidak pantas bernegosiasi denganku."


Pria itu lantas mengepalkan tangannya kuat. Bertahun-tahun bersama Monica ia jelas tahu bagaimana sifat wanita itu. Tapi, Alex terkekeh kecil. Wanita itu salah jika bermain-main dengannya.


"Aku akan melenyapkan Monica jika dia berani mengusik istriku."


Anton tersenyum samar, "Ini Indonesia, Tuan. Banyak orang yang memerlukan uang, walaupun harus berbuat kejahatan. Meskipun Anda berhasil membunuh Nona Monica dan bisa keluar dari jerat hukum. Apakah Anda rela jika Nyonya Rianti juga akan mati?" ucapannya berusaha meyakinkan.


"Shut up!" Wajah Alex mengeras.


"Tommy. Urus dia!" Pria itu memutar tubuhnya lalu berbalik meninggalkan ruangan dan membanting pintunya dengan kasar.


Tommy mengangguk kemudian memberikan instruksi pada beberapa anak buahnya dengan cepat.


Pria berkaca mata itu segera menyusul Alex keluar dari bunker.


Anton dalam keadaan setengah sadar ketika dirinya diseret keluar dari bunker. Ia hanya tersenyum saat ia tahu kebebasan akan menantinya saat beberapa pria membawanya dengan sebuah mobil.


Ya Tuhan.


Ternyata Alexander tidak sekejam yang dia kira. Pria itu masih punya hati.


Terbukti dia membebaskannya kini.


Di dalam hati Anton semakin tertanam kuat kekagumannya pada pria itu.


🍁🍁🍁



Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ke Fizzo ya. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT.