HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Welcome to The World



Rianti terusik dalam tidurnya ketika mendengar kegaduhan di depan pintu kamar.


Dengan mata yang masih menyipit, Rianti menyalakan lampu kamarnya. Sesaat dia terkejut ketika tidak mendapati Alex di sampingnya padahal jam sudah menunjukkan tepat tengah malam. Tapi kemudian dia menepuk dahinya. Ia ingat, bahwa Alex masih dalam perjalanan pulang dari London sejak kemarin pagi.


Wanita itu kembali menyipitkan matanya, mencoba menghitung perkiraan penerbangan suaminya sejak jam keberangkatan dari Bandar Udara Heathrow, London, hingga ke Bandar Udara Changi, Singapura. Sekitar lima belas jam lebih perjalanan dengan pesawat pribadi mereka.


Seharusnya Alex sudah sampai ke Telunas dari satu jam yang lalu? Tapi kenapa dia belum datang juga?


“Azzam! Jangan ribut, nanti kakak kamu bangun!”


Rianti menajamkan pendengarannya. Suara gaduh di depan pintu kamarnya kembali terdengar meskipun samar.


“Ih… ibu, Azzam kan jadi iri. Tidak pernah dikasih kejutan seperti ini.”


“Sttt…”


“Eh… jangan dorong-dorong.”


Karena penasaran, Rianti turun dari tempat tidurnya lalu memakai sandal lantai keropi miliknya kemudian melangkah mendekati pintu dan membukanya.


“HAPPY BIRTHDAY, SAYANG!!’


Astaga…


Rianti mundur beberapa langkah saking terkejutnya ketika mendengar teriakan serentak Baba, Anne, Bapak, Ibu, dan Azzam, diikuti Alex dan Tommy yang ternyata sudah bergabung bersama mereka.


Rianti mengulas senyum bahagianya lalu membiarkan mereka masuk.


Tepat pukul dua belas malam ini pergantian usia Rianti yang sudah menginjak dua puluh tahun.


Angka tersebut sudah terpasang pada lilin kue tart-nya yang berbentuk hati.


Alex yang sejak tadi memegang kue, berjalan ke depan Rianti dengan tersenyum ketika melihat mata istrinya yang mulai berkaca-kaca.


“Sweetheart. Happy birthday."


"Alex..."


"Sttt… please, don’t cry. Tiup lilinnya. Jangan lupa make a wish dulu,” satu tangan Alex memeluk erat bahu istrinya sementara satu tangannya lagi menyangga kue tart di depan wajah istrinya yang mulai memejamkan mata, berdoa kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Berharap Tuhan mengabulkan semua doanya.


Setelah itu, Rianti kembali membuka mata lalu meniup lilin yang langsung disusul dengan tepukan heboh dari seluruh keluarganya.


Terutama Azzam dan Baba.


Alex memberikan kue tersebut pada Azzam yang berdiri di sampingnya untuk dipegang. Lalu ia bergerak memeluk istrinya dan mencium lembut keningnya.


“Thank you to be a good wife and mother to our children. I love you so much, Sweetheart.”


Bapak dan Ibu pun ikut bergerak memeluk Rianti sambil sesekali mengusap kedua sudut matanya.


“Bapak, Ibu, sayang kamu, Nak. Jadilah istri yang baik untuk suamimu dan ibu yang baik untuk putra putrimu kelak.”


Tak mau ketinggalan, Azzam segera menyimpan kue tart –yang sedari tadi di pegangnya—di atas nakas, Ia lalu menghambur memeluk kakak satu-satunya yang sudah menemaninya selama hampir tujuh belas tahun usianya.


“I really love you, my best sister in the world.”


Baba dan Anne juga tidak ingin kalah. Mereka berdua bergabung memeluk Rianti ketika Azzam melepaskan pelukannya.


“Thank you for being a good dougther to us. We love you my sweety.”


Tak mau ketinggalan memberikan ucapan selamat, Tommy pun maju selangkah sembari menundukkan kepala, “Selamat ulang tahun, Nyonya. Doa terbaik untuk Anda.”


“Kau tidak ingin memelukku, Tommy?” goda Rianti sembari menatap wajah Alex yang berdiri di sampingnya.


Wajah Tommy setika memerah. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum canggung ke arah Alex yang kini tengah menatapnya dengan tatapan mematikan.


“Tidak Nyonya. Terima kasih,” jawab Tommy memelas yang membuat semua orang tertawa melihatnya.


“I love you, Sweetheart,” bisik Alex di telinga istrinya. "love you so much."


Rianti memeluk Alex. Wanita itu menangis haru. Rasa syukur terus ia ucapkan karena banyaknya cinta yang ia dapatkan selama ini. Sungguh, ia bahagia. Sangat bahagia.


“Mommy kamu sepertinya suka sekali menangis, Sayang,” Alex mengelus perut buncit istrinya. “Kau seorang pria. Dan kau harus seperti daddy. Jangan cengeng.”


“Dia anakku, Alex. Dia harus mirip denganku.”


“Dia hasil dari kerja sama kita, Sweetheart. Aku turut investasi dalam hal ini. Dan sebagai penanam modal terbesar, aku yakin dia lebih menyerupai aku daripada kamu,” tangan kiri Alex bergerak memeluk pinggang Rianti sementara tangan kanannya setia mengelus perut buncit istrinya.


“Ish… Alex kau curang.”


Alex tetap saja tidak memedulikan protes istrinya. Ia malah asyik mencium perut Rianti bertubi-tubi karena gemas.


Ia rindu.


Beberapa hari tidak bertemu membuatnya ingin menelan bulat-bulat istrinya, andai tidak ada orang lain di kamarnya.


“Ck… adegan dua puluh satunya ditunda dulu dong Kak. Azzam masih di bawah umur nih.”


Alex hanya tertawa dan menghentikan kegiatannya lalu mendongak menatap Azzam yang berdecak protes.


“Maaf… maaf… Kakak lupa, Azzam. Aku sangat merindukan kakakmu. I really miss her. You know, a hundred hearts would be too few to carry all my love for her. (Kau tahu, seratus hati akan terlalu sedikit untuk membawa semua cintaku padanya)."


“Ck… lebai,” Azzam lagi-lagi berdecak.


“Alex, ssstthh….”


“Sweetheart, kau baik-baik saja?” Alex langsung panik.


“Sayang kau kenapa?” tanya Anne dan Ibu bersamaan ketika melihat menantunya menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya.


“Apa kau merasakan sakit? Kau mau melahirkan?”


“Sepertinya HPL-nya masih tiga hari lagi, jeng,” seru Ibu pada Anne.


“Apa mungkin maju, mbak?”


“Alex, sa-kit…” rintih Rianti masih menutup erat matanya.


“Panggil dokter Syala, Baba. Cepat!” Anne tidak kalah paniknya. “Tolong semua keluar ya. Anne sama Ibu akan menyiapkan semuanya.”


“SAKIT SEKALI ALEX! ARRGGHH!!” Rianti mengangguk kuat bersamaan dengan semakin kuat jambakan pada rambut belakang Alex ketika pria itu menggendongnya kembali ke tempat tidur.


Dengan cepat, Alex berdiri dan melepas jasnya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


“Sabar ya Sayang,” bisik Alex pada telinga istrinya sambil mengecup kening Rianti yang sudah berkeringat.


“Alex… makin sakit!”


“Iya. Sabar sayang. Dokter sudah siaga untukmu. Sebentar lagi dia pasti datang.”


"ALEX... SAKIT!"


“DOKTER SUDAH DATANG, ALEX!” teriak Anne ikut merasa panik melihat kesakitan menantunya.


Semua bergegas keluar ketika dokter wanita itu masuk dan menutup pintunya.


Alex sudah menyiapkan segala keperluan melahirkan istrinya dan juga menyiagakan dokter untuknya jauh-jauh hari ketika mendekati HPL.


Meskipun sudah menyiapkan mental, namun melihat peluh membasahi seluruh tubuh Rianti, dan menatap wajah istrinya yang pucat menahan sakitnya kontraksi, tak urung membuat lutut Alex lunak seperti jeli.


Alex lemas. Ia memilih duduk di belakang istrinya, memeluknya erat, menjadikan dadanya sebagai sandaran Rianti untuk mengejan. Satu tangannya memegangi tangan istrinya, sementara tangan yang lainnya membelai lembut kening istrinya.


“Tenanglah, Sweetheart. Sudah ada dokter di sini dan ada aku yang akan selalu mendukungmu,” bisik Alex menenangkan Rianti meski dirinya sendiri tidak bisa merasa tenang.


"Tarik napas, Nyonya."


“Tarik napas, Sayang. Dengarkan dokter,” Alex berusaha menenangkan diri walau wajahnya semakin tampak tegang.


Genggaman tangannya makin erat sementara dia mati-matian menahan rasa perih di hati ketika Rianti menjerit kesakitan.


Alex terus memberi dukungan kepada istri tercintanya. Seandainya bisa, dia tentu rela menanggung semua rasa sakit istrinya.


Melihat Rianti kepayahan, mengejan, berjuang mempertaruhkan nyawa demi kelahiran buah hati mereka, membuat Alex ikut menjerit dalam hati. Ia tidak menyangka, ternyata melahirkan itu jauh di luar ekspektasinya. Sangat menyakitkan sekaligus mendebarkan.


Tanpa sadar, pria itu mengusap butiran bening yang mengalir dari sudut matanya. Merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.


“Aaarrghhh!!!” Rianti berteriak kencang sambil mencengkeram erat lengan Alex.


Alex shock.


Bukan karena cengkeraman Rianti di lengannya --yang bahkan-- ia rasakan kuku Rianti menembus kulitnya. Tapi karena ini adalah hal ekstrem yang paling menegangkan yang pertama kali ia lihat selama tiga puluh tahun hidupnya.


“Dorong lagi, Nyonya, sedikit lagi.”


Alex mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. “Kamu kuat, Sweetheart. Kamu pasti bisa.”


"Aaarghhh."


Ketika Rianti berteriak sekali lagi dengan tangannya yang memeluk erat leher Alex, suara tangisan bayi menggema di udara.


Rianti mendebas lega. Segala jerih payah dan rasa sakit yang baru saja dialaminya seakan lenyap, berganti dengan rasa haru begitu dokter meletakkan bayi mungil itu di dadanya.


Sementara Alex memejamkan matanya kuat. Entah kenapa dia tidak bisa lagi membendung tangisnya.


“Sayang, kenapa kamu menangis?” tanya Rianti begitu merasakan titik-titik air mata Alex yang jatuh di wajahnya. “Kau sangat cengeng.”


Alex menangis sekaligus tertawa. Pria itu mengecup kening Rianti berkali-kali dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Rasanya terima kasih saja tidak akan pernah cukup ia katakan meski seumur hidupnya.


“Terima kasih, Sayang. You’re my hero. You’re my queen. You’re my everything,” ucapnya tulus.


Dokter segera membersihkan bayi tampannya. Sementara beberapa maid segera masuk untuk membersihkan istrinya.


Senyuman lebar tersunging di wajah Alex ketika ia menggendong putranya untuk pertama kali.


Mata biru kehijauannya yang sama persis dengan matanya, rambut hitam legam. Kulit putih bersih dan hidung yang mancung, serta bibir yang kemerahan, menyiratkan bahwa dia akan tumbuh menjadi seorang pria yang sangat tampan.


Alex kembali menangis saat melantunkan azan dan iqomah untuk pertama kali di telinga putranya.


“Welcome to the world, Adelard Alexander Jr. Malik,” ujarnya pada bayi mungil nan rupawan itu.


“Welcome to the world, Baby El. We love you so much.”


🍁🍁🍁