
Anton menghela napas tajam berulang kali. Di sisinya seorang wanita sedang duduk dalam diam. Matanya bengkak akibat tangis dan wajahnya terlihat pucat.
Tak ada percakapan di antara mereka, namun keheningan itu lama-lama membuat wanita itu muak.
“Untuk apa kau kemari? Keluar!” teriak wanita itu begitu pria itu hanya diam tak bergeming di pinggiran ranjang dengan kaki jenjangnya yang ia lipat hingga menjuntai ke bawah.
“Keluar, Anton!” geram Monica lagi dengan mata yang berkilat marah. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Anton mendesah lirih. Matanya terpejam sebelum mulutnya berkata dengan pelan.
“Seperti yang kau inginkan. Aku akan melakukan kewajibanku dan meminta hakku,” ujar pria itu berusaha untuk tenang.
“Untuk apa kau lakukan itu?”
“Agar kau tidak lagi mencari kesenangan di luar. Dan aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami.”
Monica tersenyum miris, “Aku tidak butuh itu darimu, Anton. Keluarlah!”
“Jika kau tidak membutuhkanku? Kenapa kau menangis? Aku tidak ingin lagi melihat air mata yang mengalir dari sini,” ujar Anton sembari menyentuh bagian bawah mata Monica dengan lembut.
Monica refleks menepis tangan itu.
Dengan geram ia pun bangkit. Ia segera menarik tangan Anton dengan sekuat tenaga hingga membuat pria itu berdiri dengan paksa.
“Keluar kataku! Aku muak melihatmu!” ketus Monica lalu menyeret Anton agar segera pergi. Namun Anton yang memiliki tubuh lebih besar dari Monica dengan mudah melepaskan cekalan tangan mungil wanita itu.
“Bukankah kau yang memintanya, Monica? Aku hanya memenuhi permintaanmu.”
Monica memejamkan matanya, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ada nyeri yang menusuk tepat di ulu hati.
“Terserah apa yang kau katakan. Keluar dari kamarku. Aku tidak ingin lagi berurusan denganmu!"
Dengan sekuat tenaga wanita itu kembali menarik dan menyeret Anton untuk keluar, namun langkahnya terhenti ketika pria itu dengan tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.
“Tunggu dulu,” ucap Anton dengan refleks memegang pergelangan tangan Monica.
Wanita itu sontak menatap ke arah tangan kokoh yang mencengkeram kuat pergelangan tangannya itu.
Dan ketika pria itu menyadari arah pandang Monica, seketika ia langsung melepaskan cekalannya.
“Maaf.”
“Keluar!”
“Tidak. Sebelum aku mendapatkan hakku sebagai suamimu, Monica,” suara rendah dan sensual itu selalu membuat Monica memejamkan mata dan memikirkan hal yang biasanya tidak bisa ia dibayangkan. Membuat wanita itu terdiam sejenak dengan jantung yang berdegup kencang.
“Kenapa diam? Bukankah tadi, kau yang memintanya?” kali ini Anton kembali menahan tangannya, menariknya untuk lebih mendekat. Aroma maskulin tercium memancing gelora yang seharusnya bisa ia tahan kuat-kuat.
Monica berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya agar tetap utuh. Mempertahankan kuat-kuat harga dirinya yang masih tersisa.
“Aku berubah pikiran,” Monica sedikit menyentak tangannya, tetapi genggaman Anton terlalu kuat untuk ia patahkan.
“Oh… dan kau lebih suka menghabiskan waktumu dengan pria-pria brengsek itu di luar sana, daripada dengan suamimu sendiri? Ternyata kau sama sekali tidak berubah, Monica. Kau tetap saja…”
“Cukup!” teriak Monica keras. Seberapa keras pun ia menyangkal rasanya percuma.
“Baiklah! Lakukan apapun yang kau inginkan! Setelah itu jangan pernah ganggu aku lagi!"
Anton menautkan kedua alisnya. Matanya menatap tajam wanita yang ada di depannya. Pria itu tiba-tiba saja melepaskan genggamannya tanpa bicara.
Monica menjerit dalam hati.
Rasa takut dan gugup bercampur menjadi satu di dalam hati wanita itu sekarang.
Dia heran, kenapa Anton tiba-tiba saja meminta haknya setelah sekian lama. Apa karena tadi dia terlalu emosi sehingga memancing kemarahan pria itu ketika dia mengakui apa tidak pernah dia lakukan?
Monica bisa saja menolak permintaan Anton karena itu berarti akan menyakiti perasaan mereka berdua.
Tapi percayalah, dia masih merasa takut dengan hukum Tuhan. Karena bagaimanapun pria itu masih berstatus sebagai suaminya.
Bulu kuduk Monica meremang.
Ini baru pertama kali Monica merasa tekanan yang menakutkan daripada pikiran liar mendominasi.
Salahkan hormon kehamilannya yang membuatnya selalu ingin merasakan sentuhan pria itu. Namun sekarang, ketika pria itu menyentuhnya, alih-alih merasa senang. Monica merasakan seluruh tubuhnya bergetar.
Ia menatap nanar ke arah Anton dengan gamang.
Monica mungkin menginginkan bibir tipis pria itu meyapa tubuhnya.
Namun tidak sekarang. Dan tidak dengan cara seperti ini.
Tanpa sadar buliran air mata jatuh membasahi pipi.
Ia terlalu sakit hati hingga tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.
“Kenapa kau menangis?”
“Tidak,” Monica berusaha keras untuk menjawab pertanyaan Anton dengan tenang.
“Apa kau tidak pernah bisa menerimaku?”
Anton menarik napasnya perlahan. Rambut hitamnya sedikit melambai ketika dia mengangkat kepala sebelum menghujamkan kembali tatapannya ke arah Monica.
“Aku tahu kau tidak pernah mencintaiku. Pernikahan kita hanya karena aku yang memaksa. Aku ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk anak kita. Tapi ternyata aku malah menyakitimu. Kau terjebak dalam pernikahan yang tidak kau inginkan. Itu kenapa aku tidak pernah berani menyentuhmu. Karena aku pria normal, Monica. Aku tidak akan tahan berdua dengan wanita sepertimu,” Anton mengatakan semuanya nyaris tanpa ekspresi. Pria itu berusaha keras untuk tidak memperlihatkan hawa panas yang sedari tadi berpusat di dadanya.
Anton sedikit menundukkan badannya dan berbisik di telinga Monica.
“Apakah pria-pria di luar sana lebih baik dariku, Monica?”
Mata Monica kembali memanas. Kedua tangannya kembali terkepal kuat.
“Kenapa kau tidak pernah bisa menerimaku? Apakah itu terlalu sulit?”
Mata Monica membulat.
Anton merengkuh tubuhnya. Begitu dekat. Hingga parfum pria itu menguar di hidungnya.
Jemari kokohnya membelai dagunya dan mengangkatnya sedikit.
Wajah luar biasa tampan itu mendekat. Cukup dekat. hingga mata hazel teduh itu mampu membuat perut Monica seketika terasa kram.
“Kau menginginkannya, bukan?” ucap Monica dengan tubuh bergetar. “Langsung mulai saja. Tidak perlu banyak bicara."
“Sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini?” Anton terkekeh sambil mengelus pelan pipi Monica yang terasa halus di tangannya.
“Terserah. Apapun yang ingin kau katakan. Aku tidak peduli. Segera selesaikan dan pergilah dari sini!”
Senyuman Anton menguap seketika. Wajah tampan itu kini menatap Monica dengan pandangan dingin dan tajam. Pria itu kemudian menarik pinggang Monica lebih erat hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak.
“Sudah berapa banyak pria yang kau layani, Monica?” bisik pria itu dengan masih mencondongkan tubuhnya. Dan ketika Monica berbalik, bibirnya dan bibir pria itu hampir bersentuhan.
“Bukan urusanmu!”
“Apa kau begitu kesepian hingga kau memerlukan kehangatan dari pria-pria brengsek di luar sana, hah?”
“Itu juga bukan urusanmu!”
“Lalu apa urusanku?” lanjut Anton dengan menatap kedua manik Monica yang juga tengah menatapnya. Tidak ada raut apapun selain emosi di wajah pria tampan itu saat ini.
“Urusanku dan urusanmu hanya sebatas bayi yang ada di dalam perutku. Dan setelah dia lahir, jangan pernah menggangguku lagi. Sama seperti aku yang tidak akan pernah mengganggumu!”
“Mengapa kau tidak pernah berubah?” pertanyaan yang tidak pernah Monica harapkan meluncur begitu saja dari mulut Anton. Monica segera menjauhkan tubuhnya dari pria itu.
“Aku memang tidak akan pernah berubah!”
"Kau!"
Monica pun membuka gaun hitamnya dengan cepat, ia melepas gaun malam itu hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
Tubuh indah Monica dengan perutnya yang membuncit tentu sudah terekspos saat ini.
Dan Anton yang melihat apa yang dilakukan Monica sontak menarik pergelangan tangan wanita itu dan langsung mendekapnya.
Monica lagi-lagi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat.
Dia benci ini.
Monica takut. Jika dia kembali jatuh dan tidak bisa bangkit lagi.
Dia takut jatuh cinta pada pria yang hatinya bukan lagi miliknya.
Demi Tuhan, dia ingin berteriak sekarang di hadapan Anton. Tapi Monica tidak bisa mengatakan satu patah kata pun dan hanya membisu dengan tubuh kaku.
Tidak lama kemudian, Anton merenggangkan pelukannya dan menatap Monica.
“Aku tidak akan pernah memaksamu, Monica. Aku akan menunggu, hingga kita berdua siap dengan semua ini.”
Monica memberanikan diri untuk mendongak, “Lakukan sekarang. Atau pergilah!”
“Aku harap kau tidak menyesal,” Anton tidak mengubah ekspresinya sama sekali. Ia ingin tahu apa yang ada di pikiran Monica saat ini.
Ketika Anton menunduk dan mengecup pipinya pelan, Monica menutup mata sementara napasnya berlomba. Sensasi geli menyebar dari pipi hingga ke seluruh tubuh.
“Rileks Monica,” bisik Anton yang kemudian menggenggam kepalan tangan Monica. Pria itu dengan perlahan kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibir merah Monica yang terasa lembut di bibirnya.
Setelah puas dengan bibir ranum Monica, Anton pun menurunkan ciumannya ke leher jenjang istrinya. Monica berusaha mengatupkan bibirnya agar tidak mendesah, apalagi ketika Anton dengan lembutnya menghisap kulit lehernya hingga meninggalkan jejak kemerahan yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
Pria itu pun kemudian menggendong Monica ke atas ranjang. Melucuti satu persatu pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Monica membuang muka ketika melihat tubuh indah itu secara langsung untuk kedua kalinya.
“Tonight, you’re mine. And always be like that,” gumam Anton lembut dan Monica hanya diam dengan setetes air mata yang mengalir hingga pelipisnya.
Okay, Moon. Tenang. Anggap saja ini one night stand. Dan besok adalah hari yang berbeda. Mungkin dia akan kembali menyayangimu seperti dulu atau malah pergi meninggalkanmu ketika bayi ini lahir. Biarlah waktu yang akan menjawab segalanya.
“Jangan khawatir. Aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisik Anton yang lantas mengecup kedua mata Monica.
Dan Monica hanya bisa menggenggam erat sprei putih itu untuk menyalurkan semua rasanya. Hingga pada akhirnya rasa sakit yang teramat kuat menghantam perutnya. dengan tiba-tiba.
“Arrg…,” jerit Monica ketika merasakan rasa sakit itu untuk pertama kali.
“Monica? Ada apa denganmu?” Anton menatap wajah pucat Monica dengan khawatir.
“Sakiit!” Monica meringis menahan sakit yang menderanya bertubi-tubi. Perutnya terasa kram seolah-olah siap meledak dalam hitungan detik. Kemudian rasa sakit itu sedikit mereda namun kembali lagi menghantamnya dengan sangat cepat.
“Sakiit!”
Anton tanggap. Monica sedang mengalami kontraksi.
Dan sebelum kontraksinya menjadi lebih sering, ia langsung membawa Monica ke rumah sakit.
Peluh membasahi seluruh tubuh Monica. Wajahnya semakin pucat menahan sakitnya kontraksi yang datang dan pergi dengan tiba-tiba.
Saat rasa sakit menerjangnya semakin sering, Monica seperti kehabisan napas. Semua energinya seakan sirna digunakan untuk menahan rasa sakit. Hingga akhirnya Monica merasakan nyeri tak terperi itu menghantam perutnya setiap sepuluh menit sekali.
"Argh.....sakit...!"
“Tenanglah. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu!” ucap Anton berusaha tetap tenang walau wajahnya tampak tegang. Genggaman tangannya semakin erat sementara dia mati-matian menahan rasa nyeri di hati ketika mendengar Monica menjerit kesakitan.
🍁🍁🍁
To be trusted is a greater compliment than being loved.”
(Dipercaya adalah pujian yang lebih besar daripada dicintai)
Apakah itu benar?
Berpikirlah dari sisi Anton. Dia juga manusia punya rasa, punya hati, dan punya tanggung jawab.
Berpikirlah dari sisi Monica, bagaimana rasanya tidak dipercaya?
Dua2nya nyesek. 😭😭😭😭