HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Rencana



Anton sudah merasa lebih segar ketika beberapa orang anak buah Alex membawanya ke restoran lalu mengantarnya ke kantor Direktur Budianto --Daddy Monica.


Ia harus berpura-pura lemah di depan Reynald.


Pria brengsek asisten Direktur Budianto itu paling sulit untuk dibohongi.


Anton tertawa dalam hati. Harusnya dia memang layak dapat Oscar. Ketika Reynald mempercayai ceritanya begitu saja dan mengajaknya menemui Monica yang saat ini ada di kantor Daddy-nya.


"Direktur," panggil Reynald sopan. Pria yang juga asisten Direktur Budianto itu terlihat membawa dokumen dalam map berwarna abu-abu di tangannya.


Direktur Budianto menoleh, "Apa yang kau bawa, Rey?" tanyanya saat melihat Reynald melangkah menghampirinya. "Dan dia?" tanya pria itu dengan mata menyelidik.


"Anton?" Monica terhenyak di tempatnya ketika manik matanya menatap sosok lain di belakang asisten daddynya. "You come back?"



Wanita cantik itu beranjak melewati sederet sofa yang ada di tengah ruangan itu dan berhenti tepat di depan Anton dengan wajah yang penuh bekas luka memar.


"Apa kau baik-baik saja?" tersirat kecemasan dalam suara Monica.


Anton hanya mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis, "Tidak usah khawatir, Nona. Saya baik-baik saja."


"Wait, Monica!" teriak Direktur Budianto tiba-tiba. "Jangan dekati pria itu!"


Wanita itu terkejut dan mundur selangkah. Monica mengernyitkan keningnya, "Why?"


Direktur Budianto menaikkan alisnya, "Seingatku, Alexander bukan pria yang murah hati untuk membebaskan orang yang pernah menyinggungnya. Aku khawatir ada yang tidak beres dengan semua ini."


Monica ingin membuka mulutnya menyanggah ucapan daddynya, tapi urung sampai sebuah getar ponsel membuatnya tersentak.


Wajah Monica memucat ketika membaca pesan pertama yang masuk di sana.


"Oh. ****," umpat Monica kemudian.


"Siapa?" tanya Direktur Budianto sambil memandang tajam putrinya.


"William Sean Waston. Dia mengirimiku pesan," Monica menghela napas.


"Sean baru saja keluar dari ruangan ini dan pastinya bertemu dengan Anton."


Wanita cantik itu terdiam sejenak ketika mengingat kembali kebiasaan Alexander Kemal Malik.


Sean Waston dan daddynya benar. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin pria itu membebaskan begitu saja orang yang telah menyinggungnya? Apalagi Anton pernah akan membunuh istrinya, meskipun itu atas perintah Monica.


Wanita cantik itu lantas berpaling kembali menatap Anton, "Katakan padaku, apakah Alex membebaskanmu? Ataukah kau kabur darinya? Dan kenapa kau bisa kabur?" tanyanya dengan pandangan menyelidik.


Anton mengangkat wajahnya kembali.


Damn. Kini ia benar-benar sudah pandai bersandiwara. Kebohongan meluncur dengan lancar dari mulutnya.


"Nona. Saya benar-benar tidak ingat apa-apa. Ketika saya sadar, saya sudah ada di pinggir jalan. Saya meminjam ponsel orang yang lewat untuk menghubungi Anda. Tapi Anda tidak mengangkatnya. Saya lantas menelpon pengawal Anda, dan mereka memberitahu, jika Anda ada di sini. Lantas saya datang ke kantor ini dan bertemu dengan Reynald. Hingga sekarang, saya ada di hadapan Anda saat ini, Nona."


Monica mengernyit, "Apakah kau hilang ingatan? Oh, maksudku apakah ada sebagian dari ingatanmu yang hilang?"


"Menjauhlah Monica!" tangan Direktur Budianto spontan membuka laci meja kerjanya dan meraih sebuah pistol Zoraki kaliber 917.


"Panggil security dan periksa tubuh pria itu, Rey! Dia mungkin membawa bom atau alat penyadap di tubuhnya," perintah Budianto paranoid.


"Tuan, saya sudah memeriksa Anton secara menyeluruh sebelum saya membawanya menemui Nona. Saya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di tubuhnya," jawab Reynald sopan.


"Apa saya perlu memanggil security lagi? Tapi saya rasa itu malah akan membuat kehebohan di kantor kita."


Direktur Budianto mendengus kasar, dengan terpaksa, ia lantas menganggukkan kepala. Benar saja, jika security datang ke kantor direktur dan menyeret pria itu, meski itu bukan hal yang besar, tapi malah akan menimbulkan tanda tanya pada semua karyawan.


Ia tidak berani berspekulasi. Dengan medsos, semua bisa tersebar dalam hitungan detik. Secepat hembusan angin, gosib akan tersebar melalui dunia maya. Dan rencananya yang sudah disusunnya dengan rapi bisa berantakan begitu saja.


Dan jika dia menembak asisten putrinya itu? Bagaimana jika Monica berbalik menentangnya? Itu akan sangat tidak menguntungkan baginya.


Direktur Budianto tidak bisa menghentikan pikirannya yang melantur kemana-mana, dengan hati-hati ia simpan kembali senjata apinya itu di tempatnya semula.


Pria tua itu kembali mendengus kesal. Bahkan senjata api miliknya itu pun ilegal. Bagaimana jika ada yang tahu? Indonesia adalah negara yang paling rumit dalam menerapkan hukum kepemilikan senjata api pada orang sipil.


"Aku percaya padamu, Rey," ucapnya kemudian. "Tapi, apa kau yakin dia tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari?" Direktur Budianto beralih menatap putrinya.


"Selama ini, Anton sangat setia padaku, Dad. Daddy tidak perlu khawatir. Kali ini, dia juga pasti tidak akan mengecewakanku," Monica merasa heran dengan ucapannnya sendiri.


Selama ini ia tidak pernah mempercayai orang lain, tapi kali ini mengapa dia bisa dengan mudahnya percaya begitu saja pada asistennya itu?


"Kenapa kau bisa sangat yakin, Monica?"


"Anton sudah menjadi pengawalku saat kita sama-sama masih anak-anak. Mommy yang merawatnya untuk menjagaku."


Direktur Budianto terkekeh. "Baiklah. Aku tidak akan curiga lagi pada asistenmu itu. Aku hanya takut dia berkhianat, menjual informasi pada Alexander hanya untuk kebebasannya."


Monica terdiam. Wanita cantik itu bisa mengerti kenapa Daddynya berpikiran seperti itu. Karena sangat mustahil bagi Anton untuk bisa kabur dari Alex. Kecuali kalau memang pria itu sendiri yang membebaskannya.


"Selama ini aku sangat mengandalkanmu Monica. Alexander telah membuatku rugi ratusan milyar dengan membeli batu bara kita dengan harga yang sangat murah. Perjanjian sialan itu sangat merugikanku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Melihat putrinya yang hanya diam, Direktur Budianto berjalan menuju ke tempat putrinya berdiri dan menyentuh tangan putrinya dengan lembut.


"Aku hanya bisa mengandalkan kalian. Saat ini perusahaanku juga terancam gulung tikar, jika semua investor menarik modalnya. Hanya kamu dan Elena yang bisa menolongku saat ini."


"Direktur," sela Reynald dengan hormat, " Ini yang Anda minta kemarin," ucapnya sambil menyerahkan dokumen yang sedari tadi dibawanya.


Direktur Budianto mengambil dokumen dalam map berwarna abu-abu yang diulurkan oleh Reynald, lalu membukanya, membacanya perlahan sambil berjalan menuju ke sofa di sampingnya. Matanya melebar ketika ia menangkap sesuatu.


Dengan penuh semangat ia menatap dokumen itu, lalu tersenyum lebar ke arah Reynald, "Kerja bagus, Rey." Pria tua itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya lagi.


Senyum lebar menghiasi wajah asisten setianya itu, "Saya turut senang, Direktur."


"Apa yang membuat Daddy begitu senang?" tanya Monica penasaran.


Senyuman lebar Direktur Budianto perlahan menghilang tergantikan raut wajah serius saat dia menatap Monica dan Anton bergantian.


"Aku sudah menemukan kelemahan Alexander," ucapnya dengan mata berbinar.


Direktur Budianto terbahak, "Bravo. Berita ini benar-benar luar biasa. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pria berkuasa seperti Alexander pun bisa bertekuk lutut pada wanita. Kalian tahu, kenapa Julius Caesar mati terbunuh? Karena dia terlalu percaya pada Cleopatra."


Pria tua itu masih dengan tawanya, memberikan dokumen ditangannya kepada Monica. Kening wanita cantik itu berkerut.


"Aku sudah tau sebelumnya jika perempuan itu hamil anak Alex," ucapnya sambil menelan salivanya pahit.


"Tapi apakah itu bisa menjamin, wanita itu menjadi kelemahannya?"


Pria tua itu menghentikan tawanya, menatap tajam putrinya, "Kau bodoh, Monica. Bagi keluarga berkuasa seperti keluarga Malik, garis keturunan sangatlah penting. Meskipun bukan karena wanita itu, tapi anak yang ada dalam kandungannya itu adalah pion yang paling penting."


Direktur Budianto terdiam sejenak, menimbang-nimbang langkah yang akan dilakukannya. Pikirannya berputar, "Tapi, apakah gadis itu benar-benar mengandung anak Alexander, Rey? Aku tidak mau mengambil resiko dengan menjadikan gadis itu sebagai alat pertukaran."


"Tentu saja, Direktur. Meskipun rumah sakit itu milik keluarga Malik, tapi karyawannya juga membutuhkan uang," Rey tersenyum licik.


"Di sini, kita mudah mendapatkan informasi hanya dengan sedikit uang."


"Jadi?" Monica bersidekap. "Apa rencana kita selanjutnya?"


Pria tua itu menoleh ke arah Anton yang sedari tadi hanya menundukkan kepala.


"Pria ini yang akan menyelesaikan rencana kita. Sebagai pembuktian."


Anton mengangkat wajahnya kembali, "Maksud, Tuan?"


"Kau yang akan melaksanakan rencanaku, untuk membuktikan kesetianmu."


Anton menoleh ke arah Monica, "Nona, apa Anda tidak lagi mempercayai saya? Kenapa saya harus membuktikan sesuatu ketika mereka membebaskan saya?"


Monica nampak berpikir sejenak, "Prove it," ucap wanita cantik itu nyaris berupa bisikan.


"Buktikan padaku kau memang masih setia padaku dengan melakukan rencana Daddy."


Anton menunduk, "Itu berarti bahwa Anda sudah tidak mempercayai saya lagi?"


"Aku pernah bilang bukan, jika rencanaku tidak berhasil, maka aku akan melakukan rencana Daddy? Maka lakukanlah!"


"Baiklah," Anton mengambil napas panjang. "I will," ucap Anton penuh kesungguhan sebelum akhirnya ia tersenyum sambil menatap manik Monica dengan getir.


Dia benar-benar tidak tahu ada dendam apa, Direktur Budianto terhadap Alex. Ia hanya tahu, Monica yang sakit hati karena pria itu.


Dan sekarang, dirinya harus menculik wanita cantik yang tengah mengandung pewaris dari klan Malik itu? Menjadi pion dari dua orang Bapak dan putrinya untuk menuntaskan dendam mereka.


🍁🍁🍁


Direktur Budianto



Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ke Fizzo ya. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT.