
Selesai menutup telepon dari Rud, Alex segera membereskan dokumennya. Kegiatan seminar kali ini berlangsung lancar. Mahasiswa Imperial College London yang mengundangnya sangat antusias dengan kedatangannya. Bahkan banyak mahasiswa yang meminta company profile perusahannya, produk yang dia kembangkan, target market, sampai dengan investasi dan profitabilitas perusahaanya.
Sangat menguntungkan jika banyak mahasiswa dari institusi peringkat ke-8 dunia itu bersedia bergabung di perusahaannya yang di kembangkan di Eropa. Karena mahasiswa lulusan institut ini biasanya menghasilkan penelitian yang berdampak besar pada berbagai bidang, baik sains, teknik, kedokteran, maupun bisnis.
“Hi, Kak!” sapa Lyca.
Alex terdiam sejenak melihat penampilan Lyca. Gadis yang selalu nampak cantik itu terlihat berantakan. Wajah cantik itu tampak kusut dan rambutnya tidak serapi biasanya. Dan jangan lupakan lingkaran hitam di sekitar matanya.
“Rud sudah menunggu di depan. Aku masih ada urusan sebentar.”
Lyca tersenyum tipis dan mengangguk sopan. Gadis itu berbalik, menuju ke arah pintu keluar yang masih ramai. Entah kenapa kedatangan billionare muda itu sangat menyita perhatian. Bahkan banyak stasiun televisi lokal maupun mancanegara yang menyiarkan seminar bisnis ini secara live. Juga banyak paparazzi dari majalah maupun surat kabar yang mengabadikan momen ini pada sampul majalah dan juga pada headlines news mereka.
Lyca menggelengkan kepalanya. Betapa beruntungnya dia menjadi adik dari seorang Alexander. Pria itu benar-benar the most famous man in the world.
“Aduh,” Lyca mengaduh karena tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang, bahkan ikatan rambutnya terlepas begitu saja, seperti ditarik oleh seseorang.
Belum sempat gadis itu berbalik badan, seseorang melewatinya. Ada dua orang professor di dekatnya, dan mahasiswa lain yang memberikan jalan untuk pria itu lewati. Alex tersenyum sekilas ke arahnya sebelum pria itu masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang telah menunggunya.
Lyca mendengus pelan kemudian kembali menunduk, mencari ikat rambutnya yang terjatuh.
“Apakah kau mencari ini?’ tanya seorang pria sambil mengulurkan ikat rambut yang sedang Lyca cari.
“Iya. Terima kasih.”
“Kau mengenal Alexander? Aku perhatikan kau tadi menyapanya?” tanya pria itu lagi.
“Tidak. Ehm… Aku hanya fans-nya.”
Pria itu tersenyum manis, “Aku mendengar rumor, Alexander sangat menghindari wanita semenjak dia menikah. Tapi ternyata sikapnya sangat berbeda terhadap gadis cantik sepertimu.”
Lyca tertawa dalam hati. Jelas saja berbeda, bukankah dia adiknya?
“Perkenalkan, aku Michael. Kau cukup memanggilku Mike. Aku dulu kuliah di sini. Tapi sekarang aku sudah bekerja di Matilda International Hospital, Hong Kong."
"Aku ke kampus hari ini karena aku ingin mengikuti seminar dari pria yang paling hebat abad ini. Alexander Kemal Malik. He is my idol. Well, bukankah kita sama, right?" mata pria itu berbinar saat mengucapkan nama Alexander Kemal Malik.
"Ah, maaf. Aku terlalu banyak bicara," pria itu tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya.
Lyca menerima uluran tangan Mike dengan ragu-ragu.
“Aku Bella. Anabella.”
“Nama yang sangat cantik,” Mike mengecup punggung tangan Lyca dengan lembut.
Gadis itu refleks menarik mundur tangannya dari jemari kokoh dan lembut itu. Ia tidak ingin ada gosip-gosip yang tersebar antara dirinya dan pria itu besok. Apalagi dia mahasiswa pindahan di kampus ini.
“Sorry,” ucap Mike saat menyadari reaksi Lyca.
“It’s okay. Aku hanya tidak ingin ada gossip tentang kita. Ruangan ini dapat dilihat oleh siapa saja.”
“Ya. Kau benar. Bagaimana kuliahmu di sini Bella? Kau mengambil jurusan apa?”
“Everything went well. Dan aku mengambil jurusan kedokteran,” terang Lyca. Tentu saja, dia tidak menceritakan semuanya dengan detail. Mereka baru saja kenal.
“Wow, kita sama. Aku juga kedokteran. Tapi saat ini aku lebih menyukai kedokteran jiwa,” ujar Mike mengulum senyum. “Dan kau?”
“Mungkin aku akan memilih dokter anak. Aku suka anak-anak.”
“Sungguhkah? Wah, aku kagum padamu Bella. by the way, kenapa kau menjadi fans Alexander?” tanya Michael sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Membuat lekuk otot lengannya terbentuk meski ia mengenakan jas hitam casual berbahan halus.
“Bukankah dia seorang pebisnis dan bukan dokter?”
“Aku hanya mengaguminya saja,” jawab Lyca singkat. Dia tidak tahu harus mengatakan apa karena dia sama sekali tidak paham masalah bisnis.
Mike mengangguk, “Alexander memang pantas dikagumi. Dia sangat piawai dalam manajemen bisnis dan melakukan negosiasi dengan investor. Aku hanya ingin belajar manajemen bisnis rumah sakit agar nanti aku bisa membangun rumah sakitku sendiri.”
“Waaah, kau sangat hebat Mike,” Lyca tertawa sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Ekspresi yang membuat manik coklat terang itu semakin bercahaya. Rambut coklatnya bergerak seiring kepalanya yang menggeleng karena rasa kagum.
Mau tak mau ekspresi gadis itu membuat Mike tersenyum.
“Boleh aku meminta nomor ponselmu?” pria itu mengulurkan ponsel dari saku celananya.
Dengan canggung, gadis itu menerimanya lalu menyimpan nomornya pada ponsel pria itu.
“Terima kasih, Bella,” Mike tersenyum manis.
Pria itu masih ingin berbincang dengan Lyca saat ponselnya tiba-tiba saja berdering.
Ia buru-buru mengangkat panggilan itu ketika melihat sebuah nama yang tertera di layarnya.
“Bella, sorry. I gotta go. Temanku, Kenzo sudah menungguku. Istrinya sepertinya akan melahirkan, premature,” kata Michael dengan raut wajah khawatir.
“Aku akan menghubungimu lagi ketika aku sudah sampai di Hong Kong.”
Lyca mengacungkan jempolnya dan tersenyum sebagai tanda ia mengerti. Gadis itu segera berbalik, namun tiba-tiba saja Mike kembali berteriak.
“Bella, wait.”
“Ya?”
Tanpa disangka pria itu tiba-tiba saja melepaskan jasnya lalu mengikatkan di pinggang Lyca.
Lyca mengerjap terkejut.
“Michael?! Apa yang kau lakukan?”
“Sorry, aku sedang menutupinya dengan jas ku. Kelihatannya kau sedang ada tamu bulan ini,” jelas Mike dengan telinga memerah karena malu.
“Oh… My God. Mike. Sorry. Dan jas kamu? Bukankah kamu akan kembali hari ini? Bagaimana caraku mengembalikan jas ini?” tanya Lyca salah tingkah. Gadis itu memilih mundur satu langkah menjauhi Mike yang masih berdiri terlalu dekat di depannya.
Mike menarik napas pelan dan panjang. Membekukan aliran panas yang sedari tadi menjalari pembuluh darahnya.
“Tidak apa-apa. Kau pakailah. Mungkin kau bisa mengembalikannya lain waktu jika kita bertemu kembali.”
"Sampai bertemu lagi, Bella."
"Sampai bertemu lagi, Mike," balas Lyca kikuk. Dia benar-benar sangat malu saat ini.
Oh My… God. Oh My God. Oh My God.
Lyca berseru dalam hati saat tahu bahwa dia sedang datang bulan.
Ia lalu melangkah tergesa menuju ke toilet yang ada di dekat aula.
Gadis itu segera membuka tas yang dia gantung di pintu toilet. Mencari-cari benda persegi yang biasanya selalu dibawa oleh setiap wanita.
Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Pasalnya sebentar lagi, dia ada kuliah tambahan. Dan dia tidak mungkin mengikuti kuliah dengan keadaan seperti ini.
Berdarah-darah.
Astaga.
Gadis itu memutar otaknya. Tidak mungkin dia terus saja memakai jas Mike di pinggangnya untuk menutupi noda merah di pantatnya, bukan?
Oh… Tuhan.
Mas Rud.
Lyca menepuk dahinya.
Bukankah tadi Alex mengatakan bahwa Rud sedang menunggunya?
Lyca segera menekan tombol di ponselnya dengan cepat, berharap Rud masih ada di kawasan kampus.
Gadis itu menggigit kukunya dengan gelisah menunggu panggilannya tersambung.
“Hallo.”
“Mas Rud! Tolong aku!” teriak Lyca panik.
“Kenapa? Kamu kenapa Lyca?” suara Rud terdengar tidak kalah panik.
“Belikan aku pembalut, Mas. Aku datang bulan,” rengek Lyca yang dibalas helaan napas panjang Rud.
"Astaga, Lyca. Aku kira kau kenapa? Di mana kamu sekarang?" tanya Rud kemudian.
“Di toilet wanita di dekat aula tempat Kak Alex seminar tadi.”
“Baiklah. Tunggu aku,” Rud mematikan ponselnya.
Lyca menunggu dengan gelisah. Dua puluh menit terlewati sudah. Lyca hampir saja mengumpat karena kesal namun tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering dengan nyaring.
“Hallo.”
“Lyca, aku ada di luar.”
Lyca segera keluar toilet. Rud benar-benar sudah berdiri di depan pintu toilet. Pria itu membelakangi pintu. Tangan kirinya masuk ke dalam saku celana sementara tangan kanannya memegang paper bag.
“Mas Rud,” panggil Lyca lega.
Rud berbalik badan. Pria tampan itu mengangsurkan paper bag ke arah Lyca. “Ada baju ganti juga di dalamnya,” tuturnya sambil menunduk malu-malu.
“Terima kasih.”
Rud mengangguk, “Aku menunggumu di sini. Alex memintaku mengajakmu pulang.”
Lyca mengangguk cepat. Gadis itu segera berlari kembali ke dalam toilet.
Mata Lyca mengerjap tidak percaya.
Selain pembalut yang biasa ia pakai, di dalamnya juga terdapat, celana dalam dan juga celana panjang. Dan semua pas seperti ukuran tubuhnya.
Astaga.
Lyca speechless.
Well, Rud memang bodyguard yang baik karena dia tahu persis semua kebutuhan Lyca.
Secepat kilat gadis itu mengganti celana dalam dan juga celana panjangnya lalu memasukkan baju kotornya ke dalam kantong plastik yang juga sudah ada di dalam paper bag.
Mas Rud! Lyca sempat ingin menjerit dengan perlakuannya yang manis itu.
Namun kemudian dia menyadari sesuatu. Dalam hitungan detik, keningnya mengernyit heran.
Mengapa Mas Rud sangat berpengalaman mengurusi masalah datang bulan wanita?
Apa karena pria itu sangat perhatian?
Atau memang dia pernah melakukan hal yang sama terhadap kekasihnya, Rosa?
Lyca tertegun. Beberapa saat, ia hanya mampu berdiri mematung dengan punggung yang menempel pada pintu. Membiarkan kekuatan meninggalkan dirinya hingga tubuhnya merosot dan jatuh terduduk di lantai. Mengehela napas untuk menenangkan diri.
Beberapa kali gadis itu menepuk pipi, dia mengingatkan dirinya agar tidak terlalu terbawa perasaan. Semua bentuk perhatian Rud hanya sebatas saudara.
Hanya saudara.
Tidak lebih.
Camkan itu.
🍁🍁🍁
Novel Mas Rud bisa dibaca di sini "Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard - Aldheka Depe)