
Suara musik terdengar menghentak. Semakin malam semakin kuat. Orang-orang yang sudah semakin mabuk dan hilang kedasarannya seakan tidak punya malu melakukan kegiatan yang tidak senonoh di setiap sudut ‘Dark Room Bar’. Bar mewah yang berada di dalam kapal pesiar mewah The Paradise Harmony of The Seas.
Anton meneguk setiap botol alkohol yang entah sudah berapa kalinya ia habiskan dalam sekali tegukan.
Pikirannya terlalu penat.
Bahkan sangat penat.
Mengingat ekspresi gadis yang ia culik siang tadi, Lyca Anabella Malik.
Got Damn it.
Hanya karena kasihan dengan istri dari Alexander Kemal Malik yang tengah hamil, Anton membawa Lyca sebagai gantinya.
Pria itu berjuang keras memaklumi tindakannya. Toh pada awalnya Anton memang seorang pria brengsek yang hanya menerima perintah majikannya untuk menculik keluarga dari klan Malik.
Melepaskan targetnya, berarti dia harus mencari penggantinya. Namun, tak menampik rasa bersalah itu kembali berkelebat.
Setidaknya rasa bersalah itu tidak lebih besar daripada ketika dia berhasil membawa Rianti.
Ketika itu terjadi, maka akan ada dua orang yang ia korbankan. Rianti dan juga janin yang ada dalam kandungnya.
Tapi jika Lyca Anabella Malik? Setidaknya ia masih seorang gadis.
Tapi, bukankah dia juga tidak bersalah?
Akan sangat menyesakkan ketika membalas dendam dan mengorbankan orang yang tidak bersalah?
Oh… ****.
Anton kembali menenggak vodka di tangannya.
“Apa ada yang salah?” Reynald bertanya sembari duduk di sebelah Anton lalu meminta satu gelas wine pada bartender.
Selintas Reynald bisa melihat Anton trekejut dengan pertanyaannya lalu ekspresi itu kembali tenang seperti biasa.
“Nothing.”
“Apa kau ingin tahu bagaimana keadaan gadis itu sekarang?”
Anton berusaha tidak mempedulikan pertanyaan Reynald. Ia mengalihkan pikirannya pada hentakan musik dan juga minuman keras di hadapannya, meski tak bisa ia pungkiri pertanyaan Reynald tetap membuat jantungnya tak bisa bersikap biasa.
“Apa kau sedang tidak enak badan?” Reynald mengubah pertanyaannya.
“I’m fine.”
Reynald mendengus keras. Ia seorang spion sejati. Pria itu tidak merasakan jawaban Anton adalah kebenaran.
Lihatlah, sorot mata hazel yang biasanya begitu tajam, kini seolah tertutup kabut. Pandangannya juga tak selalu fokus. Terkadang, Anton terlihat nampak melamun. Mengerutkan kening lalu menarik napas panjang seolah meyakinkan dirinya akan baik-baik saja.
Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu dan Reynald bisa merasakannya.
“Gadis itu belum sadar setelah kau membawanya ke kamarnya. Dan direktur Budianto mengatakan padaku, dia akan menjual gadis itu di pelelangan. Sebagai ganti kerugian yang ditimbulkan kakaknya pada perusahaan,” jelas Reynald tanpa diminta sembari memperhatikan raut muka Anton.
Sungguh, Anton mati-matian menetralkan detak jantungnya yang kian berpacu.
Pria itu berusaha bersikap biasa dan mengalihkan pandangannya ke dance floor di mana ada seorang wanita yang terlihat begitu mencolok sedang menggerakkan tubuhnya dengan liar tanpa memedulikan tatapan pria hidung belang yang sedari tadi memandanginya lapar.
“Hei Rey, kau lihat wanita yang ada di dance floor itu? Apa kau tidak tertarik menghabiskan malammu dengannya? Dia sangat menggoda, Rey,” Anton melirik Reynald sekilas lalu kembali melihat wanita itu yang terus menggoyangkan tubuhnya.
Siapapun pasti akan bergairah melihat wanita itu. Terlebih dress merah menyala yang ia kenakan. Namun, wanita itu seakan-akan tidak peduli dengan tatapan mata yang memandang ke arahnya. Dia terus menggerakkan tubuhnya sambil meneguk botol alkohol yang berada di tangannya.
Anton pastikan wanita itu salah satu dari pengunjung kapal mewah ini. Menilik dari dress yang ia kenakan kelihatan mahal dan berkelas.
Anton melirik ke arah Reynald. Pria itu hanya diam tak bergeming. Tapi pandangannya tertuju pada wanita itu.
“Bagaimana kalau kita bersenang-senang, Rey?” bujuk Anton agar Reynald segera pergi. Ia ingin sendiri malam ini. Tanpa diganggu.
Tiba-tiba, Reynald menarik ja*lang yang ada di sebelahnya lalu melemparkannya ke pangkuan Anton.
“Aku tidak pernah melihatmu bersama j*lang. Dan kau mengajakku bersenang-senang? Cih… apa yang kau rencanakan?” tanya Reynald dengan pandangan mengejek.
"Apa kau tahu definisi bersenang-senang?" tanyanya lagi.
Pria itu lalu kembali menarik wanita yang masih menggelayut di pangkuan Anton. Memagut rakus bibirnya seakan tidak ada lagi hari esok.
Anton menggeleng samar.
Reynald memang sudah terbiasa dengan wanita-wanita seperti itu. Berganti-ganti setiap hari yang hanya sekedar memuaskan nafsunya.
“Seperti ini namanya bersenang-senang Anton. Lihatlah, akan kutunjukkan lagi kau caranya.”
Reynald lalu melangkahkan kakinya mendekati wanita berdress merah menyala yang sedang meliukkan tubuhnya di dance floor. Menarik pinggang wanita itu dengan kasar dan mencium bibirnya rakus. Matanya menatap tajam pada Anton seolah berkata, ‘perhatikan aku’.
Berengsek.
Entah kenapa Anton merasa jijik dengan pria yang mempermainkan wanita.
Kenapa mereka tidak menyadari? Bukankah mereka juga terlahir dari Rahim seorang wanita?
Brengsek. Benar-benar binatang.
“Jangan katakan jika kau belum pernah berciuman?” desis seorang wanita di telinganya.
Anton sontak terkejut. Pria itu bahkan hampir melupakan keberadaan wanita itu ketika matanya lekat menatap Reynald yang dengan buasnya mencumbu wanita dengan dress merah menyala itu masih di tengah-tengah dance floor.
“Akan kutunjukkan padamu, rasanya berciuman, tampan."
Anton langsung membelalakkan matanya. Ketika bibirnya menabrak bibir empuk wanita itu. Siapa wanita gila yang berani-beraninya menciumnya? Anton tidak pernah berciuman dengan siapa pun. Dan wanita di hadapannya ini menciumnya tanpa izin. Anton memang sedikit mabuk. Tapi dia masih memiliki kesadaran.
Anton mendorong kasar j*lang yang semakin naik ke pangkuannya itu. Ia sama sekali tidak menikmati ciumannya. Anton bahkan mengusap bibirnya kasar.
Bekas ciuman wanita itu membuatnya muak.
Wanita itu tertawa geli melihat ekspresi pria yang ada di hadapannya itu. Baru pertama kali ini dia menjumpai pria yang ‘belum terjamah’. Sangat menggemaskan melihat pria tampan yang nampak marah tapi tersipu di saat bersamaan.
Wanita itu kembali berbisik sensual, “Aku akan memberimu pengalaman pertama jika kau mau?”
Anton kembali terkejut mendengar ucapan vulgar wanita itu.
Astaga.
Ia bahkan tidak mampu mencerna.
Jika seorang wanita rusak seperti ini? Bagaimana dengan anak-anak mereka kelak?
“Hargailah tubuh indahmu sebagai seorang wanita, Nona. Kalian terlalu berharga untuk dijual murah. Apalagi diberikan secara cuma-cuma."
“Tutup mulutmu b*jingan!” umpat wanita itu dengan wajah memerah menahan malu.
"Sialan. Sok suci!"
Anton sudah tidak memedulikan teriakan wanita itu. Dia terus melangkah meninggalkan 'Dark Room Bar' dengan perasaan kacau.
Dia kembali ke kamarnya. Berulangkali ia berusaha mengenyahkan perkataan Reynald dari kepalanya. Justru semakin masuk aneka kemungkinan yang akan terjadi pada gadis itu.
Dijual?
Di lelang?
Di jadikan j*lang?
Sungguh ia tidak bisa memahami kenapa manusia dengan mudahnya memperdagangkan manusia layaknya binatang.
Anton segera merendam diri di bath up air hangat dengan aroma zaitun agar membuat tubuhnya rileks.
Ia membutuhkan kesadarannya sekarang agar bisa berpikir jernih.
Ia membiarkan kepalanya terendam dalam air. Membuat sekujur tubuhnya merasakan sensasi lembut dari tekanan air yang menenangkan. Menyumbat semua napas dan pikirannya untuk sementara.
🍁🍁🍁
“Anton, taruh kotak ini di kamar gadis itu,” ucap Reynald ketika bertemu dengan Anton di koridor waktu dia akan pergi ke kamar Monica.
Sudah waktunya sarapan dan ia akan mengantarkan makanan untuk wanita itu.
Kening Anton berkerut dalam. Ia menerima kotak berwarna ungu --yang terlihat mewah dengan hiasan pita cantik di atasnya itu-- dengan heran.
“Apa ini?”
“Baju malam. Gadis itu akan di lelang malam ini juga.”
Hati Anton berdenyut nyeri.
“Kenapa tidak kau sendiri yang mengantarkannya?”
“Direktur Budianto menyuruhku untuk mengambil wine terbaiknya dan sekaligus mengantarkannya ke kamar itu dan aku lupa membawanya."
“Untuk?”
Reynald mengedikkan bahu, “Bercinta mungkin? Kau tahu, Direktur Budianto sangat menyukai gadis perawan.”
Anton menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya terasa kaku. Lidahnya seakan kelu.
“Ck… sudahlah. Kau selalu saja bengong akhir-akhir ini. Biar aku saja yang akan mengantarkannya. Sekalian aku akan memberikan obat perangsang pada wine itu agar gadis itu tidak bisa melawan,” Reynald tertawa terbahak-bahak sambil meninggalkan Anton yang masih terpaku di tempatnya.
Brengsek!
Anton berteriak dalam hati.
Anton butuh pelampiasan amarahnya hari ini. Pria itu lalu berbalik. Persetan dengan sarapan Monica. Pasti akan ada pelayan yang mengantarkannya.
Selama berjam-jam, pria tampan bertubuh atletis itu kembali menghabiskan waktu untuk menghajar heavy bag miliknya.
Kali ini direktur Budianto yang memenuhi rongga kepalanya.
Sungguh Anton menyesal telah membawa Lyca dengan tangannya sendiri.
Gadis itu tidak bersalah. Tetapi dia telah menghancurkan masa depannya? Betapa brengseknya dia.
“Damn!” Anton melayangkan hantaman terakhirnya.
Dua hari ini rasanya seperti di neraka. Hatinya tidak pernah tenang. Dalam hati ia selalu berharap agar Alexander segera datang dan menyelamatkan adiknya.
Tapi bagaimana jika pria itu terlambat?
Anton harus segera menolongnya.
Tapi bagaimana jika Monica kemudian membencinya ketika dia ketahuan berkhianat?
Apa yang akan Anton lakukan jika Monica sampai menjauhinya?
Anton mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Inikah yang disebut dengan takut akan kehilangan? Karena dia sangat menyayangi Monica. Sebab hanya gadis itu dan Mommy Alicya keluarganya.
🍁🍁🍁
Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ke Fizzo ya. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT.