
“Monica, kau baru pulang?”
Wanita berambut hitam sebahu dengan dress ketat berwarna hitam itu menoleh ke arah sumber suara lalu menyeringai lebar.
“Bukankah kau sudah melihatnya?” wanita itu terkekeh pelan, “Aku baru saja pulang dari refreshing, Anton.”
Mata Anton menggelap. Ia menatap Monica dengan tatapan geram sekaligus cemas.
“Dengan keadaanmu yang seperti itu? Dengan perutmu yang semakin membesar, Monica? Dan kau akan segera melahirkan jika dokter tidak salah memperkirakan,” desis pria itu dengan suara tertahan.
“Darimana saja kamu?”
“Dragonfly,” jawab Monica santai namun seketika membuat Anton membelalakkan matanya.
Siapa yang tidak tahu, Dragonfly Club?
Club malam terkenal di Hong Kong yang memiliki reputasi yang sangat-sangat baik dalam memanjakan para pelanggan yang mayoritas para kaum adam. Club yang menyajikan berbagai minuman beralkohol dengan cita rasa tinggi, dan segala macam hiburan malam, serta wanita cantik, yang tentu saja membuat setiap pria betah menghabiskan waktu di sana.
“Kenapa kau tidak bilang padaku sebelum kau pergi ke sana?” tanya Anton lagi dengan jengkel.
“Kenapa kau juga berbohong padaku? Kau bilang kau menginap di rumah Keyla?"
“Untuk apa aku pamit? Kau pasti melarangnya bukan?” Monica balik bertanya dengan acuh tak acuh.
Tangannya sibuk mempermainkan kuku indahnya hasil dari nail art dengan black diamonds dari Azature. Cat kuku yang diperuntukkan bagi penggemar manikur terkaya di dunia karena mengandung sekitar 267 berlian hitam di setiap gramnya. Sungguh memukau dan memesona, apalagi digunakan oleh wanita secantik Monica.
"Monica!"
Wanita itu masih saja asyik mempermainkan kuku indahnya yang nampak berkilau, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Anton hingga membuat pria itu kembali menghela napas panjang berkali-kali.
“Kau sedang hamil, Monica,” ucap pria itu lagi kali ini dengan sedikit menahan kesabaran. "Tolonglah. Kurangi pergi ke club seperti j*lang."
Monica menoleh dengan cepat. “Tidak semua wanita yang datang ke club seorang j*lang Anton!"
"Kalau begitu, jangan pernah lagi pergi ke sana, Monica!"
"Aku stress Anton. Kau melarangku kembali ke dunia hiburan sejak kehamilanku! Aku tersiksa dengan semua ini! Bukankah dokter juga mengatakan bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu stress? Aku butuh menghibur diri, Anton. Kau harusnya mengerti itu!” teriak Monica tak mau kalah.
Anton menggeram. Pria itu berulang kali menggelengkan kepalanya. Ia sudah mencoba bersabar dalam menghadapi Monica selama ini. Namun kesabaran juga ada batasnya. Dan tingkat kesabarannya saat ini berada di titik terendah.
Ia lelah. Ia menyerah.
Kandungan Monica sudah semakin membesar, dan sebentar lagi anaknya juga akan lahir. Ia tidak ingin putrinya terkontaminasi dengan minuman keras dan juga dunia malam --seperti ibunya.
Cukup sudah dia menjadi suami yang gagal. Namun, ia tidak ingin menjadi ayah yang gagal untuk putrinya.
“Baiklah. Jika kau memaksa. Aku akan menarik semua kartu kreditmu, malam ini juga, Monica,” putus Anton kemudian.
Pria itu sudah memantapkan hati untuk memberikan istrinya pelajaran.
Terlepas dari rasa tega atau tidak tega, namun harus ia lakukan demi kebaikan Monica dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.
Manik hitam Monica bergerak gelisah. Wanita itu menggigit bibir merahnya sejenak, tanda kalau dia sedang gugup dan panik.
Bagaimana mungkin, dia bisa hidup tanpa kartu kredit?
Oh... Astaga.
What the Hell.
“Mulai sekarang, aku akan mencukupi kebutuhanmu sehari-hari dengan uang cash! Kamu cukup bilang padaku apa yang kau butuhkan," pria itu mendesah pelan kemudian berbalik dan kembali menuju ke ruang kerjanya.
“Tunggu Anton. Kau tidak bisa melakukan ini, padaku!” teriak Monica sebelum Anton menutup pintu ruang kerjanya begitu saja.
“Kenapa tidak?”
“Aku juga memiliki perusahaan yang kau kelola. Aku meminta hakku atas itu.”
Anton menggeleng lalu tersenyum samar, “Aku sudah memberikan semua keuntungan perusahaan keluarga Young kepada Mommy Alicya. Dan sebagai suamimu aku yang bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhanmu dengan penghasilanku sendiri. Karenanya, aku juga berhak membekukan semua kartu kreditmu jika kau tidak mematuhi perintahku.”
“Kau!”
“Ya?”
Oh… shit! Monica mengumpat dalam hati. Alis tebalnya bertaut kesal.
"Aku tidak terima kau memperlakukan aku seperti ini, Anton. Jangan bekukan kartu kreditku! Atau aku tidak akan pulang sama sekali!"
"Tidak akan pulang?" Anton tersenyum miris. "Dan kau akan tinggal di club malam?"
"Kenapa tidak? Itu lebih baik."
“Sampai kapan kau akan seperti ini, Monica?” tanya Anton dingin dan tajam, menatap intens ke dalam manik hitam Monica.
Anton menggeram, “Kau jelas tahu jika saat ini kau sedang mengandung. Kenapa kau selalu menghabiskan setiap malammu di club?"
"Demi anak yang ada dalam kandunganmu, Monica. Apa kau tidak ingin meninggalkan kebiasaan burukmu dan juga teman-teman tidak jelasmu itu?”
“Kebiasaan buruk? Teman tidak jelas kau bilang?” balas Monica tidak suka.
Anton terdiam. Pria itu kembali menatap penampilan Monica dari atas ke bawah lalu kembali menggeram tertahan. Wanita itu benar-benar menguji kesabarannya.
“Aku harus membuang semua gaun sialanmu itu, Monica."
“Apa maksudmu?’
“Kau membuat putriku kesulitan bernapas, Monica,” desis Anton dengan marah.
Tangan Monica terulur, meletakkan tepat di atas perutnya untuk menghalangi pandangan pria itu yang semakin menajam.
“Jangan menguji kesabaranku Monica. Mulai sekarang turuti semua perintahku. Sudah cukup waktu bermainmu.”
Monica tertawa sinis. "Menuruti perintahmu? Yang benar saja?"
“Perintah pertama,” Anton mengabaikan tatapan tajam Monica, “Buang semua pakaian kurang bahanmu itu.”
Monica membelalak tidak terima.
“Apa kau tidak malu menggunakan pakaian kurang bahan dengan perut membuncit seperti itu, Monica? Aku yang seorang pria saja merasa malu melihatnya.”
“Aku yang memakainya, kenapa kau yang harus malu?” Monica memutar bola matanya kesal.
"Padahal jika kau yang memakainya aku juga tidak akan merasa malu."
“Dua!" lanjut Anton lagi tanpa memedulikan gumaman Monica.
“Jangan pernah lagi datang ke club malam. Aku melarangmu berdekatan dengan pria manapun juga kecuali aku.”
Monica akan membuka mulutnya untuk memprotes, namun Anton memotongnya dengan cepat.
“Jangan membantah. Aku tidak ingin kau memberi pengaruh buruk pada anakku,” ucap pria itu tegas.
Monica merasa kesabarannya benar-benar habis. Saat ini ia berusaha menahan amarah yang siap meluap kapan saja.
“Ketiga.”
“Cukup! Siapa dirimu? Berani-beraninya mengatur hidupku?” sentaknya keras. Matanya memerah menahan marah.
Anton terkekeh pelan. Pria itu perlahan melangkah mendekat, semakin menipiskan jarak di antara mereka.
“Aku, Antonio Young. Suamimu sekaligus ayah dari bayi yang kau kandung. Aku ingatkan jika kau lupa.”
“Oh… su-a-mi-ku?” Monica bertepuk tangan yang membuat bahu Anton turun, sedikit.
Wanita itu lalu tertawa terbahak-bahak sambil menggelangkan kepalanya kuat-kuat.
“Suami? Suami macam apa yang tidak pernah memberikan nafkah batin kepada istrinya?” tanya Monica sambil terus tertawa.
“Kau menyebut dirimu suamiku sementara kau masih mencintai wanita lain? Ini sangat lucu, Anton."
"Menggelikan!"
Monica menatap Anton dengan sinis. Ada rasa gamang di wajah cantik wanita itu. Hanya sesaat. Sebelum matanya kembali fokus. Wanita itu lalu meraih tasnya sebelum melangkah dengan marah.
Anton terdiam sesaat sebelum mengejar dan menarik tangan Monica yang hendak membuka pintu kamarnya.
“Lepaskan!”
Jeritan Monica membuat perhatian beberapa maid di rumah mereka menghentikan pekerjaannya dan memandang ke arah mereka dengan penuh tanda tanya.
“Kau menginginkan nafkah batin, bukan? Kenapa kau tidak memintanya padaku? Tapi kenapa kau malah melampiaskannya pada pria di club setiap malam, Monica?” geram Anton menahan amarah. Napasnya naik turun di balik jas mahal yang membalut tubuhnya.
Monica terdiam. Wanita itu memandang ke arah mata hazel Anton. Tatapannya tajam dan menyelidik, membuat Anton merasa jengah karena seakan menusuk tepat di jantungnya. Namun ego pria itu membuat dia membalas Monica tak kalah sengitnya.
"Karena mereka memberikan apa yang tidak pernah bisa kamu berikan,” jawab Monica mengangkat dagunya tinggi dengan harga diri penuh.
"Cinta dan kasih sayang."
Anton terdiam mendengar kata-kata itu meluncur dari seorang wanita yang pernah ia sayangi sejak kecil.
Sederhana namun menusuk.
Menggoyahkan semua prinsipnya tentang definisi cinta dan kasih sayang yang selama ini ia pegang teguh.
Apakah semua ini terjadi karena kesalahannya?
Kesalahannya dalam memandang tinggi cinta?
Dan secara tidak sengaja dirinya sudah menjerumuskan Monica ke lembah paling dalam.
Dalam keterdiaman Anton, Monica mengambil kesempatan untuk masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan keras. Meninggalkan Anton yang masih termangu di depan pintu.
🍁🍁🍁
Marriage is not wedding. Pernikahan bukan resepsi pesta. Marriage sangat sakral karena menyangkut dua jiwa --yang saling mencintai atau tidak-- untuk selamanya bersama dalam ikatan janji di hadapan Tuhan. Sementara wedding hanya sekadar rangkaian upacara pesta menuju arti pernikahan yang sebenarnya. Dan kunci keberhasilan keduanya adalah saling terbuka satu sama lain. Berbicaralah. Karena pasangan kita bukanlah cenayang yang bisa menebak hati dan pikiran pasangannya. (Antonio Young)
Jangan sampai kalian melakukan kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan.