
Anton menunggu dengan gelisah dalam mobil Rubicon di bawah jejeran pohon Asoka tempat parkiran barat Fakultas Kedokteran tempat ia mengintai targetnya siang ini.
Ya. Hari ini realisasi rencana penculikan istri dari Alexander Kemal Malik.
Rianti Azalea Malik.
Jika Anton nampak semakin gelisah lain lagi dengan Reynald.
Asisten Direktur Budianto itu nampak menghembuskan asap rokok kuat-kuat di kursi panjang bawah pohon asoka di parkiran barat Fakultas Kedokteran tidak jauh dari tempatnya.
Pria itu merasa santai menunjukkan wajahnya karena selama ini tidak banyak yang mengenal dirinya.
Pria itu lebih banyak bekerja di lapangan daripada di kantor. Menjadi kaki tangan Budianto untuk mengerjakan tugas yang tidak bisa dikerjakan oleh para sekretarisnya.
Tentunya lebih mengarah pada tugas 'rahasia' dan bukan administrasi perkantoran seperti asisten pada umumnya.
Apalagi, dia sekarang berada di area kampus. Area yang jauh dari hiruk pikuk dunia bisnis.
Kalau pun toh ada dari mahasiswa itu anak dari pengusaha terkenal, dia juga tidak akan mengenali Reynald.
Pria itu duduk santai dengan rokok di tangan kanannya dan tas ransel hitam tergantung di pundak kirinya.
Meski penampilannya terlihat seperti mahasiswa pada umumnya, tetapi jika jeli memperhatikannya, terpasang earphone di telinga kirinya dan ponsel di saku bajunya.
Itu bukanlah ponsel biasa, melainkan pistol ponsel, seperti smart phone pada umumnya, tetapi di dalamnya tidak berisi sim card, melainkan revolver dengan empat buah peluru.
Asisten bayangan Budianto yang hampir tidak pernah menampakkan wajahnya di hadapan semua orang itu membuka kaca mata hitamnya yang bertenger manis di hidungnya.
Memandang lurus ke depan, pada mobil-mobil yang berjajar rapi. Terutama pada mobil yang paling mencolok di antara mobil lainnya. Maybach Exelero versi terbaru dari pabrikan asal Jerman, Mercedes Benz.
Mobil yang tidak sembarang orang bisa memilikinya. Bahkan jika mobil itu lecet atau tergores, biaya perbaikannya bisa seharga mobil Honda Jazz terbaru dengan spec paling tinggi.
Reynal mendengus, tugas yang diberikan Direktur Budianto kali ini lebih berat dari tugas-tugas biasanya.
Jika untuk 'menghilangkan' pengusaha yang menjadi saingan 'tuannya', itu hal biasa. Tetapi sekarang, musuhnya adalah pengusaha paling kaya di Timur Tengah.
Entah seberapa kaya seorang Alexander Kemal Malik, tapi menilik dari mobil istrinya saja sudah seharga 113 M. Tentulah dia bukan pria sembarangan.
'Target sudah keluar.'
Terdengar suara lewat earphone, dari salah satu anak buahnya yang menyamar menjadi mahasiswa untuk membuntuti Rianti Azalea Malik, istri dari Alexander Kemal Malik.
Reynald berdiri dari duduknya, memberi tanda dengan matanya pada Anton yang telah siaga di mobil. Anton mengangguk.
Pria itu tidak mungkin menunjukkan wajahnya saat ini, karena gadis itu pasti mengenali wajahnya, setelah insiden bodoh saat di mansion Alex tempo hari.
Sambil mengawasi beberapa bodyguard yang masih berdiri tegak menjaga mobil mewah itu meski pemiliknya tidak ada, Reynald bergegas memasuki mobilnya.
Sepintas, saat dirinya melewati mobil Avanza hitam di dekat tempatnya duduk, seperti ada orang di dalamnya. Namun, Reynald tak punya waktu untuk memperhatikannya lebih jauh.
Mata Reynald hanya memicing, mencoba melihat dari jendela mobil itu yang berkaca gelap.
Tapi ia tak punya waktu lagi. Dirinya segera bergegas duduk di jok mobilnya ketika targetnya tiba.
Semua yang Rianti lakukan tidak luput dari pandangan Reynald dan Anton. Pria itu masih berada di dalam mobil mengawasi gerak-gerik gadis itu.
Reinald segera mengeluarkan pistolnya yang berbentuk ponsel. Ketika Reynald akan membidik Rianti, Anton mencengkeram lengannya dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan bertindak bodoh. Kita masih di area kampus. Jika terjadi keributan. Akan sulit untuk kita keluar jika gerbang kampus ditutup."
Reynal mendengus kasar, ia hanya ingin agar tugasnya selesai dengan cepat. Pria itu melotot ketika targetnya sudah meluncur dengan mobil mewahnya lewat di depannya.
"Jalan," perintah Reynal pada Anton sekaligus pada semua anak buahnya melalui earphone yang terhubung di telinga masing-masing, saat mengetahui Maybach itu sudah melaju meninggalkan area parkir.
"Bersiap-siaplah, target sudah meluncur."
🍁🍁🍁
Anton mengikuti mobil Rianti saat mobil sudah membelah jalanan Jakarta, mengikuti mobil merah di depannya yang sudah melaju terlebih dahulu.
"Mobil siapa di depan itu? Mini Cooper warna merah?" tanya Anton pada Reynald yang sedang mencengkeram erat pistolnya.
"Adik sepupu Alexander. Namanya Lyca Anabella Malik."
Anton tersenyum, "Nama yang indah."
"Fokus saja dengan kemudimu, Anton," ucap Reynald ketus.
"Kita harus menyelesaikan tugas ini secepatnya," lanjutnya lagi dengan nada datar dan rahang mengeras.
Anton menggaruk kepalanya, "Apa sebenarnya dendam Direktur Budianto hingga ingin menculik Rianti? Kenapa tidak menculik Alexander langsung?"
Mata Reynald menyipit, "Kau ingin mati dengan menculiknya? Pria itu selalu dikelilingi sniper. Kau belum sempat menyentuh bajunya kepalamu yang akan meledak."
"Oh... sehebat itukah? Terus kenapa direktur Budianto bermusuhan dengan pria itu?"
Reynald berdecak kesal, tapi ia tetap menjawab juga pertanyaan Anton.
"Masalah tambang. Alex telah menghadirkan usahanya dengan cara licik hingga Direktur rugi jutaan dollar."
"Oh...,"
"Come on, Anton. Lebih cepat dan pepet terus mobil itu."
Anton terus berusaha mengejar laju Maybach. Kendaraan canggih itu melaju sedemikian cepat hingga ia hampir tertinggal.
Pengemudi mobil itu pasti akan mengetahui jika mobilnya diikuti. Alarm collison prevention assist plus, yang merupakan fitur unggulan Maybach pasti sudah menyala sekarang, ketika jarak mobilnya terlalu dekat dengan mobilnya.
Alarm ini berguna untuk meningkatkan kewaspadaan pengendara dengan memberikan sinyal jika ada kendaraan atau objek yang mendekat melalui radar-based.
Anton menggelengkan kepala. Alexander memang sangat kaya dengan memberikan keamanan ekstra untuk istrinya dalam berkendara.
"Rey, kemana semua pengawal kita?" seru Anton sambil menoleh ke spion. Dia terlalu asyik mengagumi kendaraan high class itu, hingga tidak sadar pengawal yang lainnya tertinggal.
"Jakarta padat, mereka tidak bisa menyalip kendaraan semaunya. Mereka pasti tertinggal di belakang," jawab Reynald sembari menoleh ke belakang.
"Masih ada Sam dan Jo di Rubicon satunya."
Reynald menarik pelatuknya lalu menembak bagian belakang kaca mobil.
"Ah, sial," Reynald berteriak. "Mobil itu anti-peluru."
"Kau terlalu lembek Anton. Jika aku tidak bisa menembaknya maka kita akan menabraknya."
Tanpa aba-aba, pria itu lalu mengendalikan kemudi Anton hingga hampir saja menabrak Maybach bagian belakang.
Astaga. Anton menahan napasnya.
Hampir saja.
Sementara itu di dalam mobil Maybach. Rud, sopir pribadi Rianti sedang berusaha mengendalikan laju mobilnya.
"Nyonya, tolong kencangkan sabuk pengaman, Anda," desis Mack sambil mengeluarkan revolver dari balik jasnya. Mereka sudah tahu jika mobilnya diikuti.
Selama ini Alex selalu memerintahkan para pengawalnya untuk tidak sembarangan menggunakan senjata api meskipun untuk membela diri. Tapi saat ini keselamatan nyonya-nya lebih penting dari apapun juga.
"Seseorang mengikuti kita, Nyonya. Sebaiknya kita secepatnya kembali ke mansion."
Seketika Rianti melihat ke belakang dan menemukan dua mobil jeep yang mengikuti mereka.
"Bagaimana dengan Lyca?" tanyanya khawatir. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita terpisah dengan Nona Lyca. Yang penting secepatnya kita kembali ke mansion." tegas Mack
"Tenang Nyonya, saya akan berusaha menghindar dari mereka. Tuan Alex sudah membicarakan hal ini kepada saya," Rud menggigit bibirnya. Matanya konsentrasi menyalip di antara mobil-mobil yang menghalangi jalannya.
Rianti terkejut, "Apa maksudmu?"
Belum sempat terjawab, Rianti merasakan tubuhnya oleng ke samping saat merasakan hantaman keras pada sisi kanan mobilnya.
Reynald merebut kemudi dan bermanuver ke kiri hingga menabrak bagian belakang Maybach.
Ini bukanlah pertanda baik.
Dia bisa-bisa mati jika tertangkap. Rianti tidak tahu apa yang terjadi, namun jika Alex sudah memberi peringatan kepada supir dan pengawalnya berarti memang ada hal yang tidak beres.
"Ya Tuhan!" Rianti kembali berteriak saat dua mobil jeep itu sudah berada di samping kiri dan kanan mobilnya. Sesekali menghantam ke arah mobilnya untuk meminta supir berhenti.
"Gila. Jeep itu hampir bisa menyamai kecepatan Maybach." seru Rud dengan panik.
"Itu Jeep Wrangler Rubicon, bodoh. Konsentrasi saja dengan cara menyetirmu." teriak Mach.
"Hubungi Tuan Alex, Nyonya. Kita menuju ke mansion. Saya akan menelpon pengawal untuk menjemput kita." Mach bertindak cepat dengan menghubungi pengawal yang masih ada di mansion.
Rianti segera mengambil ponselnya dengan tangan gemetar.
Benturan kembali terjadi, membuat ponselnya terlempar dan terjatuh.
Untunglah Mybach ini dilengkapi pre-safe yang mampu mendeteksi ketidakstabilan dalam bermanuver dan mampu memprediksi terjadinya benturan sehingga mesin bekerja secara responsif untuk melakukan perlindungan penumpang dengan menutup semua kaca dan mengencangkan sabuk pengaman secara otomatis, sehingga tidak membuat Rianti terlempar.
Tidak ingin menyerah, Rianti mengambil ponselnya cepat dan menghubungi Alex. Namun hanya nada operator yang menjawab.
Gadis itu menjerit kecil ketika ada suara berdenting di kaca mobilnya. Untunglah kaca itu tidak pecah.
Gadis itu menghela napas lega, ternyata kaca mobil ini anti peluru. Jika tidak, Rianti tidak tahu apa yang akan terjadi.
Jantung gadis itu kembali berdetak kencang ketika mobil lain membunyikan klaksonnya berkali-kali dan bahkan banyak yang menyingkir hingga ke bahu jalan.
Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah menghubungi Alex.
Rianti melihat Rud yang terlihat berusaha untuk tenang dan tetap memegang kendali setir mobil. Sementara Mack mencengkeram erat senjata di tangannya.
"Bertahanlah. Aku berusaha menghubungi Alex."
Rianti kembali menekan tombol fast dial di ponselnya.
"Halo."
Wanita itu merasakan lega yang luar biasa ketika mendengar suara bariton itu. Namun, belum sempat ia berbicara, kembali ia merasakan hantaman yang luar biasa dari samping mobil yang membuat Rud membanting setir dan menghantam mobil jeep lainnya.
🍁🍁🍁
"Apa yang kau lakukan Anton?!" Hardik Reynald keras ketika Anton mengerem laju mobilnya.
"Mobil Sam dan Jo tertembak roda bagian depannya Rey. Mereka menabrak pohon."
"Dan kau akan kembali? Menolong mereka? Kau ingin diamuk massa?"
"Jika kita tidak kembali?"
"Pasti akan ada yang menolong mereka membawa ke rumah sakit. Ah, sial..Kita kehilangan istri Alex. Kau benar-benar bodoh Anton."
Reynald menggeram.
"Lain kali aku akan melakukan tugas ini sendiri dan membunuhnya langsung dengan tanganku."
Anton menghela napas pelan. Jika ada lain kali, dan Reynald yang bertemu dengan Rianti. Anton tidak yakin akan bisa menyelamatkan wanita itu.
"Kenapa kita tidak menculik saja adiknya Alex, Rey?" usul bodoh Anton keluar begitu saja dari mulutnya.
Setidaknya gadis itu tidak hamil. Dan gadis itu tidak ada dendam dengan Monica ataupun Direktur Budianto. Kemungkinan besar untuk mereka menyiksa gadis itu lebih kecil daripada mereka menemukan Rianti.
🍁🍁🍁
Pistol Ponsel
Maybach
Rubicon
Readers tersayang, terima kasih banyak sudah mampir ke novel saya. Novel ini pindah ke Fizzo ya. Bisa dikepoin di IG saya @tya952. Baca HB ada ratusan Hampers tanpa diundi loh. Syaratnya mudah, hanya komen dari awal sampai TAMAT.