
“Lyca."
Mendengar namanya dipanggil, gadis itu langsung membalikkan badannya.
Rud, pengawal pribadinya sekaligus calon suaminya menghampirinya seraya mengacungkan sebuah ponsel.
“Kebiasaan. Kau meninggalkannya di ruang belajar,” Rud tersenyum.
"Dasar pelupa," ejeknya lagi.
Lyca tertawa sambil menerima ponsel itu lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Terima kasih, Mas,” ucapnya.
Rud mengangguk dan kembali tersenyum.
“Sama-sama. Ayo segera berangkat. Belajar yang rajin agar kau cepat lulus dan menjadi dokter yang hebat,” Rud mengacak rambut Lyca. Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju ke arah lift apartemennya. Ada kuliah siang hari ini dan Rud berencana mengantarkannya.
“Aku jemput jam berapa nanti?” Rud menatap Jacob & co. Billionare watch yang bertenger manis di tangannya.
“Sepertinya aku nanti pulang sendiri saja, Mas. Aku ada praktik sampai sore.”
Pintu lift terbuka, mereka kemudian melangkahkan kaki menuju ke basement tempat mobil mereka diparkirkan.
“Tidak bisa. Aku akan menjemputmu.”
“Aku bukan anak kecil lagi, Mas.”
“Justru itu, akan semakin banyak pria yang melirikmu jika kau pulang sendiri,” goda Rud sambil menuju ke kursi kemudi.
Lyca tertawa keras sambil menganggukkan kepalanya. “What? Apa kau jealous?” goda Lyca terkekeh geli.
“Yah, aku sih bahagia jika kau bisa move on dari Anton,” gumam Rud. “Kau pantas memiliki cinta dari lelaki yang benar-benar mencintaimu, Lyca.”
“Maksudmu?”
Rud mengedik kemudian tersenyum ganjil ke arah Lyca. Kontan saja, ribuan tanda tanya menumpuk di benak Lyca.
Gadis itu berubah menjadi sensitif untuk masalah cinta sejak kegagalan cinta pertamanya dulu.
"Lyca, apa kau sudah bisa melupakan Anton?"
Lyca terdiam.
Keheningan menyeruak, sejenak Lyca terlihat ragu ketika gadis itu membuang muka untuk menjawab pertanyaan Rud.
“Entahlah. Hanya saja, aku masih belum bisa melupakannya. Aku masih butuh waktu, Mas.”
Rud terkekeh pelan kemudian kembali fokus pada kemudinya.
Jalanan London kali ini lumayan lenggang. Tidak terlalu padat dan macet seperti di Jakarta.
“Jangan kau pikirkan perkataanku. Jalani saja seperti air yang mengalir. Karena semuanya perlu proses. Dan itu juga berlaku padaku.”
Lyca berkedik dengan mulut yang enggan berkomentar.
Gadis itu memilih termenung sambil bergeser menghadap jendela. Kedua matanya bergerak mengamati jalanan kota London yang meneduhkan.
“Aku tidak ingin banyak berharap, Mas. Mungkin suatu saat kita akan menemukan jodoh kita masing-masing. Lagi pula, Anton sudah menikah. Dan aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka.”
“Masih banyak kemungkinan. Kita juga tidak tahu ke depan seperti apa. Atau mungkin malah kalian berjodoh?” gurau Rud yang membuat tatapan Lyca kembali kepadanya.
“Mungkin,” kekeh Lyca terkesan getir. "Jika semesta merestui hubungan kita."
“Alex bilang mereka semua akan datang ke London hari ini. Dia ada undangan seminar umum dari kampusmu. Dan dia bilang, rencana pernikahan kita akan dimajukan ketika dia datang," Rud melirik ke arah Lyca.
"Kau jangan khawatir. Aku hanya ingin kau bahagia. Terserah akan kau bawa kemana pernikahan ini,” terang Rud lagi.
“JIka kau masih mencintai orang lain, aku cukup tahu diri dan akan melepasmu buat orang lain yang kau cintai," tambahnya lagi.
Lyca menoleh, detik ini ia merasa bibirnya seperti terkunci, bahkan untuk sekadar mengucap satu patah kata.
“Aku hanya ingin kau bahagia,” imbuh Rud. “Aku tidak berniat mempermainkan pernikahan.”
Tidak berniat mempermainkan pernikahan?
Lyca lagi-lagi tertawa miris, “Maksud kamu apa, Mas?” tanya Lyca terkesan tidak nyaman.
“Lyca, kita sama-sama tahu, pernikahan ini atas dasar paksaan. Tidak dari hati. Kau mencintai orang lain, dan aku juga mencintai orang lain. Tapi kita sama-sama tidak punya kuasa untuk menolaknya. Oleh karena itu, untuk menjaga kamu, untuk menjaga perasaan kamu. Aku sepenuhnya memberikan kamu kebebasan.”
Lyca tertegun. Perlahan ia merasa wajahnya memanas akibat menahan emosi yang tiba-tiba hadir.
“Lalu buat apa kita menikah jika ternyata Mas Rud tidak bisa menerimaku sebagai istri?”
“Seperti kamu, aku juga tidak bisa menolak permintaan Baba dan Anne. Juga kedua orang tuamu. Mereka sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri ketika Ayahku meninggal. Namun, aku tidak bisa berbohong kepadamu, perasaanku pada Rosa tidak pernah berkurang sedikitpun, walau sekarang kita terpisah jarak dan waktu.”
Tepat setelah Rud selesai mengucapkan perkataannya, air mata Lyca jatuh tak terbendung lagi. Wanita itu terisak pelan yang membuat Rud menoleh kepadanya dengan heran.
“Lyca, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?” Rud hendak menepikan mobilnya dan menghapus air mata Lyca, namun gadis itu menghindar.
“Percayalah, aku tidak akan mengekangmu, aku akan mendukung setiap keputusanmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan pernikahan ini."
Lyca tetap bergeming. Dia bahkan melarikan tatapannya ke arah lain ketika Rud mendekat dan menatap tajam wajahnya.
“Kau bahkan tidak mau repot menanyakan perasaanku, Mas?” tanya Lyca setelah mereka diam beberapa saat.
Rud menghela napas panjang, “Rasanya aku tidak berani menanyakan perasaanmu setelah membuatmu terjebak dalam pernikahan ini. Pernikahan ini jelas akan melukaimu begitu dalam. Aku minta maaf.”
Lyca tertawa sinis. Menertawakan asumsi Rud yang tidak berdasar. Mungkin mereka sekarang tidak saling mencintai, tapi setelah mereka menikah, bukankah bisa berusaha untuk saling mencintai?
Dia ingin menikah sekali seumur hidup. Dan jika seperti ini? Apa bedanya dia dengan pernikahan kontrak?
Jelas-jelas ini sama saja dengan mempermainkan janji suci pernikahan? Dan Lyca benci itu.
Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama ketika ia turut andil menjebak Rianti. Untunglah mereka saling jatuh cinta. Tapi jika tidak? Mereka akan tersiksa seumur hidupnya.
Tapi untuk mengatakannya pada Rud, dia tak mampu. Ia tidak ingin lagi menjadi wanita yang mengemis cinta.
Cukup sekali.
Cukup sekali ia menjatuhkan harga dirinya untuk seorang pria. Anton.
Kini tidak akan terulang lagi.
Tidak akan pernah.
Harga dirinya membentuk tembok penghalang besar untuk menjadikannya wanita tegar. Bukan lagi wanita lemah yang hanya bisa mengemis cinta pada seorang lelaki.
Lyca menangkup wajahnya sesaat, menarik napas, dan menghapus air matanya. Berusaha agar tangisannya segera berhenti.
“Lalu? Mau dibawa kemana pernikahan ini nantinya, Mas? Kita tidak mungkin bercerai setelah satu hari menikah?”
“Untuk sementara, jalani seperti ini saja, Lyca. Aku akan menjagamu seperti kakak yang menjaga adiknya. Untuk ke depannya, kita lihat saja nanti. Aku juga belum yakin dengan semua ini. Kau kuliah saja yang rajin, agar kau segera lulus dan menjadi dokter yang hebat.”
“Baiklah,” Lyca tersenyum dan membuka pintu mobil. “Cukup antarkan aku sampai di sini. Aku akan naik taksi.”
"Lyca!"
Lyca pun menutup pintu mobil dengan keras. Tidak memedulikan panggilan Rud. Ia berlari seraya membekap mulutnya. Agar isakannya tidak sampai keluar. Dia menangis tanpa suara. Menjerit tanpa suara. Yang justru semakin menambah kesedihannya.
Tuhan.
Hanya nama itu yang mampu ia sebut.
Kenapa Tuhan memberi hukuman yang begitu menyakitkan? Setegar-tegarnya dia, dia hanyalah seorang wanita.
Lyca merosot, terduduk di trotoar tanpa memedulikan pandangan orang yang menatap heran ke arahnya.
“Tuhan... Ampuni aku... Ampuni semua dosa-dosaku,” lirihnya sambil terus menangis.
"Rianti. Maafkan aku."
Jika saja dia bisa mengendalikan perasannya dulu, mungkin hukuman ini tidak akan datang kepadanya.
Iya yakin ini karma. Karma sedang berjalan ke arahnya.
🍁🍁🍁