HOT BILLIONAIRE

HOT BILLIONAIRE
Malam Pertama



Sementara itu di manshion keluarga Waston, New York.


Handuk masih tersampir di atas kepala Lewi ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi.


Baru tiga langkah ia berjalan, wanita itu berdiri membeku.


Ada seseorang yang duduk di pinggir ranjangnya.


Astaga.


Seketika ia membelalak.


Pria itu menggulung kemejanya hingga ke siku menampilkan lengan kekarnya yang membuat wajahnya seketika memanas.


Lewi kelabakan. Handuk putih itu hampir saja jatuh ke lantai. Dan sialnya dia juga masih menggunakan kimono handuk.


Cepat-cepat Lewi kembali masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintunya rapat.


Dengan bersandar pada pintu, wanita itu menghembuskan napas lega. Tapi akhirnya wanita itu terpaku dengan mulut menganga ketika akhirnya dia menyadari sesuatu.


Jantungnya seketika berdegup kencang. Desisan keluar dari mulut. Dia tepuk-tepuk kepalanya dengan gemas.


Kenapa dia sampai melupakan Sean yang sudah sah menjadi suaminya?


Oh… shit.


Dia sudah bersuami sekarang. Bukan lagi menjadi single mom buat Angel.


Dan dengan tingkahnya tadi, dia pasti terlihat konyol di mata pria itu.


Got damn it.


Lewi kembali menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan.


Ia harus segera keluar. Tidak mungkin dia tidur di kamar mandi semalaman, bukan?


Saat pintu terbuka, matanya tertumbuk pada Sean yang juga tengah menatapnya dengan heran.


Ia hanya berdiri kikuk di depan pintu kamar mandi lalu cepat-cepat segera berlari ke walk in closed untuk mengambil pakaian.


Lewi merasa dirinya sangat konyol. Seperti perawan yang pertama kali menikah dan nervous dengan malam pertama mereka.


Lewi memakai pakaiannya dengan cepat. Piama tidur baru dengan gambar doraemon menjadi pilihannya malam ini daripada menggunakan lingerie seksi yang pasti membuatnya tidak punya muka di depan pria itu.


Lewi memberanikan diri keluar dan mengangkat kepala. Sean masih menatapnya. Ada tatapan geli dari sorot matanya. Bibir tipis itu juga nampak sedikit tertarik ke atas.


Lewi berdehem pelan, “Will… apa kau mau mandi?” tanyanya mengalihkan perhatian untuk sekadar menetralkan debar jantungnya yang kian berpacu.


“Aku ambilkan handuknya,” lanjutnya lagi.


Wanita itu kemudian berbalik dengan cepat untuk mengambilkan handuk bersih sekalian meletakkan handuknya di dekat wastafel.


ia benar-benar merasa awkward.


“Will, aku sudah menyiapkan air hangatnya sekalian,”


Sean hanya mengangguk kecil lalu berjalan menghampiri lewi yang masih mematung di depan pintu kamar mandi, “Aku sebenarnya ingin mandi denganmu,” bisiknya dengan tatapan menggoda dan suara seraknya yang terdengar begitu seksi.


Pipi lewi memanas. Wanita itu berusaha menelan ludah dengan susah payah.


“Sayangnya aku sudah mandi," jawabnya dengan cepat.


Lewi berusaha keluar dari kamar mandi. Namun ketika dia hendak keluar melewati Sean, pria itu bergeser menghalangi jalannya. Ketika dia ke kiri, Sean ke kanan. Saat Lewi kembali bergeser ke kanan, Sean ke kiri. Persis seperti adegan klise yang ada dalam novel-novel romantis.


“Kenapa kamu mengikuti aku, Will?” protes Lewi kesal.


“Sengaja,” Sean tersenyum lebar. “Aku tidak ingin kau keluar dari kamar mandi. Jika kau sudah mandi, kau bisa membantuku mandi. Memandikanku juga boleh."


“Tidak. Aku sudah terlalu lama mandi. Aku bisa masuk angin!” teriak Lewi antara kesal dan malu. "Minggir."


“Hm, bajumu baru?” pria itu memicingkan matanya.


Lewi mengerutkan kening, topik pembicaraan dari mandi bersama berubah menjadi baju baru?


Pria itu sebenarnya menyindirnya atau bagaimana, sih?


Apa karena dia memakai piama dengan karakter kartun Doraemon di malam pertama mereka?


“Kenapa jika baru?”


“Tidak apa-apa sih, hanya kamu lupa saja melepas hangtag-nya,” katanya sambil menarik label baju yang mencuat dari kerah leher piama yang Lewi kenakan.


Oh My God.


Rasanya Lewi ingin menjerit karena malu. Wanita itu menelan ludah. Tak bisa berkata-kata.


Tak ada kesan pertama yang begitu menggoda. Seperti pada iklan-iklan produk pakaian dalam.


Tapi saat ini, kesan pertama begitu memalukan.


Sekilas ia melirik Sean yang sudah memajukan wajahnya. Pria itu nampak sekali menahan senyum. Namun bukan itu yang Lewi pedulikan saat ini. Jarak mereka yang begitu dekat. Membuatnya seakan kesulitan bernapas. Lewi bahkan bisa mencium aroma parfum beraroma musk yang menguar dari tubuh atletis itu.


Tubuh Lewi menegang seketika, ketika Sean semakin dekat. Ia mulai cemas, berharap agar Sean tidak mendengar detak jantungnya yang bertalu-talu. Dia baper sekaligus malu dan mendamba bersamaan. Aish...


“Sudah.”


Lewi cepat-cepat menggeser tubuhnya. “Terima kasih,” katanya gugup. Tanpa memandang Sean lagi, ia buru-buru menjauh dari pria itu.


Pikirannya berkelana dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi malam ini.


Deg.


Lewi menahan napas ketika tak lama kemudian salah satu sisi ranjang bergerak pelan. Sepertinya Sean sudah berbaring di sampingnya setelah terlebih dahulu mamatikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang temaram.


Ini pertama kalinya bagi Lewi mereka tidur di ranjang yang sama dengan keadaan sadar. Setelah mereka menikah beberapa hari yang lalu di Maldives, --dan langsung pulang malam itu juga karena Angel demam.


Jantung lewi berdegup kencang. Apakah Sean akan memeluknya dari belakang seperti dalam adegan novel-novel romansa yang pernah dia baca?


Setengah jam Lewi diliputi rasa penasaran.


Tidak ada adegan pelukan dari belakang yang ia harapkan. Entah pria itu malah sudah tidur ataukah masih bermain dengan ponselnya.


Karena terlalu penasaran, Lewi membuka perlahan selimut yang menutupi kepalanya.


Dan dia pun berbalik.


Lewi menganga.


Sean tengah berbaring menghadapnya dengan bersandar pada satu tangannya.


Dan jangan lupakan jika pria itu juga tengah menatapnya dengan senyum manisnya. Hingga dia tidak lagi mampu berkata-kata.


Lewi tersenyum canggung. Ia menatap Sean yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit Lewi artikan.


"Kau belum tidur?" cicit Lewi menahan malu karena ketahuan penasaran ingin memandang suaminya.


Sean mengelus pipi kanan Lewi dengan jemari tangannya dengan lembut, “Jadi, kau sudah siap sekarang, hm? Aku sudah menunggumu dari tadi."


Sial.


Lewi merutuk dirinya sendiri.


Lewi menelan ludahnya gugup, “Siap? Siap untuk apa?”


Sean menyeringai. Puas sekaligus senang di saat yang bersamaan karena sudah berhasil menggoda Lewi malam ini.


“Kau istriku, bukan?”


“Hmm.”


“Good. Now do your job, Lew,” perintah Sean dengan senyum menggoda.


“Will…, kau tidak akan melakukan macam-macam, 'kan?”


“Jika aku macam-macam sekalipun, aku berhak melakukannya. Kau adalah istriku, sekarang dan selamanya. Bukankah begitu Mrs. Waston? Aku ingatkan jika kau lupa."


Di dalam hati, Lewi tersenyum mendengar penuturan suaminya. Di sisi lain dia juga takut. Takut jika Sean akan berubah suatu hari nanti. Dia pria sempurna yang memiliki segalanya.


Namun entah kenapa pelukan dan dekapan suaminya membuat hati Lewi mencelos. Iya, dirinya sadar, kebahagiaan ini dibina dan diawali dari sebuah kesalahan. Dan mereka didekatkan hanya karena sebuah tanggung jawab. Tapi dia benar-benar mencintai pria ini sekarang.


“Bagaimana perasaanmu kepadaku?” Sean mengecup dahi Lewi dengan lembut. Lewi bisa merasakan sensasi yang menyeruak dari tubuhnya. Sangat nyaman.


Lewi menarik napas panjang. Sepertinya Sean bisa merasakan kegugupannya. Suaminya itu menggenggam erat kedua tangannya lalu mengecupnya lembut.


“Aku mencintaimu Mrs. Waston.”


Keduanya saling bertatap cukup lama.


“Aku juga mencintaimu, Mr. Waston,” Lewi memberanikan diri mengucapkannya dengan lembut dan penuh kesungguhan.


Wanita itu tersenyum dengan semburat rona merah yang terlihat jelas di wajahnya.


Dengan gerakan cepat, Sean memeluk Lewi dan kembali menariknya ke dalam dekapannya. Memeluknya begitu erat seolah mengajak Lewi untuk turut mendengarkan detak jantungnya dan menunjukkan betapa dirinya juga merasakan hal yang sama. Dia benar-benar bahagia malam ini.


“Say again,” bisik Sean dengan lembut. Ia mencium pucuk kepala Lewi berulang kali.


“Tidak ada pengulangan kata,” ujar Lewi sambil membenamkan kepalanya di dada bidang Sean. Tentu saja dia malu. Dia bukan seperti Sean yang tidak tahu malu.


“Ck… kau menentangku? Mrs. Waston?” Sean berdecak lalu menyeringai dan tersenyum miring. “Lihat saja bagaimana aku menghukummu.”


Lewi belum sempat menghindar ketika dengan tiba-tiba Sean membungkam bibirnya dan menciumnya hingga wanita itu sedikit terkejut dan membulatkan matanya.


Dengan sekuat tenaga, Lewi berusaha mendorong Sean, namun sia-sia. Tenaga Sean jelas tidak seimbang dengan tenaga yang ia miliki.


Saat Lewi sudah hampir kehilangan napas, Sean baru melepaskannya. Pria itu lalu menempelkan keningnya ke kening Lewi dan memejamkan matanya.


"Aku bahagia, Lew. Dan sekarang, apakah boleh?" tanyanya dengan suara serak.


“A-aku belum siap, Will,” cicit Lewi seraya membuat wajah memelas.


“Tapi kau harus siap,” Sean semakin melebarkan senyumnya. Melihat wajah Lewi yang malu-malu semakin membuatnya gemas. “Tanpa penolakan.”


“Ck… aku malu,” Lewi semakin meringkuk dan menutup wajahnya. “Tolong matikan semua lampunya kalau kau memaksa."


Sean terbahak.


Dengan sigap, pria itu segera mengunci pintu otomatis --yang terhubung dengan kamar Angel-- dengan remot yang diambilnya dari atas nakas, lalu mematikan semua lampu tidur. Hingga kamar yang semula temaram, berubah menjadi gelap gulita dengan hanya sedikit cahaya dari celah gorden yang terbuka.


🍁🍁🍁