
9.
Aku diantar Herman menuju kamar yang akan menjadi kamarku untuk sebulan kedepan. Otakku yang minim berusaha mengingat berapa belokan dan koridor yang kulewati untuk sampai di depan pintu kamar. Mungkin aku butuh maps atau peta penunjuk arah bahkan untuk menuju tangga. Ah sial.
"Ini kamar anda nona, silahkan."
Herman membuka pintu kamar itu dengan sebuaj kunci dan mendorongnya keras. Aku terdiam dengan kamar luas nan mewah dengan fasilitas bagai hotel bintang lima akan menjadi kamarku. Aku hanya menjadi seorang asisten rumah tangga, tapi kamarku seperti kamar pemilik rumah. Besar dan mewah. Lihat bantal buku angsa itu, kuyakin aku harus menjual ponsel agar bisa membeli satu yang sama seperti itu.
"Ini kamarku?" tanyaku memastikan.
"Tentu, nona. Tuan Nawasena sendiri yang meminta saya menyiapkan kamar ini untuk anda, di lemari anda bisa menemukan pakaian yang bisa anda pakai. Dan siang nanti anda harus memasak untuk makan siang Tuan Nawasena." jelas si pelayan yang mungkin sudah lama bekerja di sini.
Aku mengangguk, lalu masuk ke kamar mewah itu dengan decakan kagum. Kamarku berbeda jauh dengan kamar ini, bahkan mungkin aku akan betah tidur berlama-lama. Oh aku lupa bahwa aku bekerja di sini. Jam tidurku pasti akan berkurang.
"Dan ada satu peraturan yang tidak tertulis di rumah ini, anda harus mematuhinya." kata Herman membuat aku menoleh ke arahnya dengan cepat dengan mengerut. Peraturan apa lagi ini.
Tidak cukupkah segudang peraturan yang dibuat Manendra?
"Apa itu?"
"Anda tidak boleh mengganggu Tuan Nawasena saat dia sedang bekerja di atas jam sepuluh malam kecuali dia memanggilmu."
Hanya itu?
"Oke." kujawab sekenanya.
Aku tidak tertarik mengganggu pekerjaan Manendra, lagipula aku sudah punya kamar impianku sekarang. Ah senangnya, liburan yang amat sangat menyenangkan.
"Kalau begitu saya permisi, jangan lupa anda harus memasak makan siang." pamit Herman undur diri.
Dia menutup pintu kamar dari luar dan aku tersenyum senang memandang ke sekelilingku, jika saja Niel melihatku sekarang dia pasti iri karena aku bisa tinggal di tempat mewah seperti ini saat liburan kerja. Eh, tapi aku juga bekerja. Sebagai asisten rumah tangga.
Kakiku melangkah ke arah lemari yang sebenarnya muat untuk enam orang tanpa susah payah, aku membuka salah satu pintunya dan takjub dengan isinya yang terdapat begitu banyak gaun, kaus, celana hingga sepatu. Aku ini tipe perempuan yang jarang membeli pakaian kecuali memang sangat butuh, itu karena aku lebih menghemat uang dan malas juga. Dan sekarang aku punya begitu banyak baju dan gaun secara gratis tanpa membayar! Free!! Senangnya.
Aku mengeluarkan sebuah celana jeans belel dan kaus putih dengan tulisan 'queen'. Oh sial ini akan jadi ootd yang bagus. Aku mengeluarkan beberapa gaun, menjajalnya di depan tubuhku tanpa kupakai, lalu berdecak saat semua baju ini terasa bagus ditubuhku.
∆∆∆
Saat siang mulai beranjak cepat, aku segera turun ke bawah dengan beberapa kali tersesat. Dan menyiapkan makan siang setelah bertanya pada seorang pelayan perempuan tua bernama Lena 'apakah Tuan Nawasena alergi sesuatu atau tidak suka makanan tertentu', Lena menjawab tidak. Dan mengatakan bahwa Manendra Nawasena memakan apapun tanpa alergi.
Jadi aku membuat kentang tumbuk dengan daging panggang yang di siram saus jamur. Dan saat makan siang tiba, Manendra turun dari lantai atas menuju ruang makan. Anehnya hanya ada aku dengannya di sana. Aku berdiri dan mempersilahkan dia duduk, menyiapkan alat makan dan minumannya.
"Kau tidak makan, Ela?" tanya Manendra saat aku hanya berdiri dan hendak undur diri pamit.
"Tidak, Tuan."
Aku membiasakan diri memanggilnya Tuan, walaupun sebenarnya panggilan tuan adalah salah satu dari sekian banyak panggilan yang kuhindari. Itu terdengar sangat gila hormat bagiku.
"Kenapa tidak, ayo makan bersamaku." tawarannya kujawab dengan gelengan.
"Tidak, Tuan. Terimakasih." tolakku.
Mungkin aku salah dengar tapi geraman kecil keluar dari mulut Manendra. Dia memandangku tajam dan bibirnya terlihat menahan sesuatu untuk dikatakan. Dia menghela nafasnya keras, lalu pandangannya melembut lagi.
"Baiklah, tapi jangan lupa makan setelah ini." ucapnya perhatian.
"Tentu, Tuan." jawabku.
Dia kembali pada makanannya, dan memakannya lahap. Dan daripada aku hanya berdiri diam sambil memandanginya makan, maka aku undur diri dan menuju kamarku. Kata Lena, akan ada seseorang yang membersihkan meja makan nanti. Jadi aku tidak perlu mencuci piringnya, syukurlah. Di apartemen saja aku malas mencuci piring, apalagi di sini.
Aku bangkit duduk dan berdiri, meraih remot televisi di nakas dan duduk ke ranjang kembali. Kupencet tombol power pada remot dan televisi layar datar yang menghadap ranjang itu menyala. Tanpa perlu memindah channel, tayangan sudah berada pada berita tentang si menteri yang terbunuh di tempat karaoke.
Jenazah Bambang Antareja ada di rumah sakit agar divisum guna mengetahui penyebab kematian. Aku mendengkus, sudah jelas aku membunuhnya dengan menikam di leher. Kumatikan televisi itu dan merebah lagi di ranjang. Aku hanya perlu bersembunyi sampai kasus Bambang Antereja di tutup, dan rumah ini adalah pilihan yang tepat.
Hawa dingin dari air conditioner membuat aku menguap sekali, kemudian tanpa sadar. Aku menutup mata dan melayang ke alam mimpi dengan cepat.
Kupikir, aku baru saja tidur tadi tapi ketika aku membuka mata, gelap di luar membuat aku langsung beringsut duduk. Merasa asing dengan kamar yang kutempati, aku mencoba memutar kembali ingatan kenapa aku berada disini. Oh, ya. Semua karena tawaran Manendra, aku jadi asisten rumah tangga. Mataku mengerjap pelan, kemudian aku bangkit dari ranjang menuju pintu yang kuyakin itu adalah pintu kamar mandi.
Kamar mandinya sangat mewah dengan bathtub besar dan sabun dengan harum vanilla. Aku jadi lupa untuk mengaca di pagi hari seperti kebiasaanku karena terlalu tergoda untuk berendam di bathtub. Kulirik revolver dan pisau lipat milikku yang kuletakkan di wastafel dekat bathtub. Aku perlu itu untuk jaga-jaga, walaupun isi peluru nya cuma enam, aku yakin aku bisa membela diri saat sesuatu tidak diinginkan terjadi.
Puas berendam, aku langsung berpakaian dengan menggunakan dress floral model sabrina yang kurasa sangat tidak cocok bagi asisten rumah tangga. Mungkin karena si pemilik rumah itu orang kelewat kaya, pembantunya pun memakai baju mahal seperti ini. Aku tidak perduli juga sih, memangnya ini sinetron dimana pembantu rumah tangga memakai daster kedodoran dan berbau asem.
Aku langsung turun ke bawah setelah menengok jam dinding dan memastikan bahwa ini adalah jam makan malam. Untungnya kali ini, aku tidak tersesat lagi karena aku sudah mulai hafal jalan di lantai dua menuju tangga. Aneh juga ketika kau adalah seorang pembantu rumah tangga tapi memiliki kamar di lantai dua yang merupakan lantai si majikan berada.
Begitu sampai di dapur aku terdiam saat tidak ada seorangpun di sana. Mungkin mereka tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi aku langsung menuju pantry memasak makan malam dengan menu ayam saus padang dan nasi hangat. Setelah semuanya selesai, menata makanan di meja, membuat kopi untuk Manendra, aku berdiri diam di sana. Menunggu si tuan rumah turun untuk makan malam. Tapi sepuluh menit kemudian, tidak ada tanda-tanda Manendra Nawasena turun dari kamarnya. Saat aku hendak naik untuk memanggilnya, Herman muncul dari arah ruang tengah membawa sebuah serbet berwarna hitam dengan muka sedatar Daniel.
"Tunggu, dimana Tuan Nawasena? Dia tidak makan malam?" tanyaku memanggil Herman.
Aku tidak tahu harus memanggilnya apa, tidak sopan juga hanya memanggil nama karena dia sudah tua. Dan jika aku memanggilnya Pak, itu malah terasa aneh juga. Ah sabodo lah. Herman berhenti kemudian mendekat ke arahku, matanya menatap makanan yang kutata rapih di meja makan.
"Tuan Nawasena sudah tidur, kau tidak perlu menyiapkan makan malam, nona. Tuan tidak pernah makan malam." penjelasannya membuat aku terdiam.
Manendra tidak pernah makan malam? Diet? Yang benar saja, badan proporsional begitu masih diet? Atau memang sudah jadi kebiasaan baginya tidak makan di malam hari?
"Jadi aku tidak perlu memasak makan malam?"
"Benar, anda cukup memasak sarapan dan makan siang. Itupun jika Tuan berada di rumah."
Wah, luar biasa. Tugasku ringan sekali, tanpa cuci piring dan tanpa bersih-bersih, kamar bagus, baju bagus dan fasilitas rumah yang bisa kugunakan.
"Lalu bagaimana dengan makanan ini?" tanyaku dengan menunjukan semua hasil masakanku yang mungkin sudah mendingin.
"Anda bisa memakannya, saya permisi."
Punggung ringkih Herman menghilang di belokan menuju ruang belakang dimana katanya para asisten rumah tangga berada di sana. Aku memandang ayam saus padang dengan diam, lalu berpikir bahwa akan sia-sia jika dibuang. Kuhela nafasku pelan, lalu duduk di meja makan dan mulai memakan masakanku sendiri.
Aku naik ke lantai dua setelah makan malamku selesai, dan meletakkan peralatan makan bekasku ke wastafel tanpa mau mencucinya, aku yakin besok pasti ada orang yang mencuci itu, jadi biarkan saja. Untuk menuju kamarku, aku perlu melewati ruang kerja, kamar utama dan sebuah kamar tamu. Manendra sendiri tidur di kamar utama yang bersebelahan dengan ruang kerja. Jadi urutannya dari tangga adalah kamar tamu, kamar utama, ruang kerja dan kamarku. Agak aneh bukan? Atau memang itu aneh.
Lorong di lantai dua ini mengingatkan aku pada lorong dalam film Satan Slave yang berdinding kayu dengan lukisan kuno yang terlihat menyeramkan. Tidak, aku tidak takut hantu. Walaupun hantu itu ada di dunia ini, aku tidak takut karena menurutku tidak ada yang lebih menyeramkan dari sisi gelapku sendiri. Lampu-lampu sudah dimatikan sekitar jam delapan. Terlalu awal untukku yang biasanya beraktivitas di atas jam sepuluh malam.
Aku berdiri di depan pintu kamarku, lalu menekan handle pintu berwarna emas agar aku bisa masuk. Tapi gerakanku terhenti saat sebuah bunyi terdengar nyaring dari sebuah arah. Aku menoleh ke kanan, lalu ke kiri mencari sumber suara 'tuk tuk' dua kali itu. Kuputar bola mataku malas, aku hanya berimajinasi. Tapi saat aku mendorong pintu kamar agar terbuka, bunyi itu muncul lagi. Kali ini tiga kali 'tuk tuk tuk', seperti bunyi paku yang di tanam di tembok dengan menggunakan martil. Aku langsung menyerbu masuk ke kamar, mengambil revolver milikku yang kusimpan di bawah bantal. Lalu dengan perlahan keluar dari kamar dengan memegang revolver.
Bunyi itu hilang, digantikan senyap ngengat yang membuat bulu kudukku berdiri. Kakiku berjalan di lantai ubin dingin dengan mata jelalatan kemana-mana. Dan bunyi itu terdengar lagi, kali ini hanya sekali tapi keras. 'Tuk', dan aku langsung menebak bahwa itu berasal dari dinding di sebelah kamarku, dinding ruang kerja. Apa seseorang berada di dalam?
Kupegang dinding di samping pintu kamarku itu, lalu menyeret tanganku di sepanjang dinding. Aku menunggu bunyi itu lagi, tapi hampir lima menit aku tidak mendengar bunyi itu. Nafasku yang entah sejak kapan memburu berangsur tenang, aku mengantongi kembali revolverku dan berjalan menuju kamar.
Kututup pintu kamar rapat-rapat dan tidak lupa menguncinya dua kali. Aku langsung menuju ranjang, merebahkan diri dan menyelipkan revolverku ke bawah bantal. Mataku memandang langit-langit kamar yang berwarna putih dengan pinggiran berwarna emas. Pikiranku mulai menebak-nebak bunyi apa tadi. Jika memang benar itu bunyi paku yang di tancapkan ke tembok, kenapa seseorang itu harus melakukannya malam-malam? Apa dia itu Manendra? Jelas bukan, dia pasti tidak akan repot-repot melakukannya. Siapa? Dan apa?
∆∆∆
Kupandang hasil karyaku malam ini, lalu tersenyum lebar-lebar saat semuanya seperti yang kuinginkan. Ah senangnya, aku sungguh bahagia. Kami akan jadi pasangan yang sempurna.
Foto-foto yang kupasang di dinding sudah ratusan jumlahnya hanya dalam beberapa hari, itu karena aku terlalu menyukainya. Dan mungkin mulai mencintainya, ah sayangku. Aku akan betah di rumah mulai sekarang. Saat aku pulang bekerja nanti, dia akan menungguku pulang. Memasakan makanan paling enak yang pernah kumakan. Dia akan berada di sini. Selamanya.
Aku mengambil salah satu foto yang kudapat diam-diam, menciumi setiap sudut foto itu. Lalu kujilati foto itu dengan membayangkan bahwa itu tubuh perempuan dalam foto yang kupegang. Ah dia luar biasa.