
13.
Niel bilang jika aku tidur itu seperti panda, susah dibangunkan. Sedangkan menurut diriku sendiri, aku hanya merasa tidur itu adalah surga. Niel juga bilang bahwa jika ingin membangunkanku, maka pegang sebuah revolver atau pisau di dekatku maka aku langsung siaga bangun karena merasa itu ancaman. Sungguh, itu memang benar. Aku tidak akan bangun walaupun ada puluhan gajah sekamar denganku, tapi jika ada seseorang membawa pisau atau revolver dalam kamarku maka aku langsung bangun karena telingaku hanya sensitif terhadap bunyi benda-benda mematikan.
Dan saat aku bangun dan mendapati diriku terbangun di ranjang kamar bukannya di meja makan seperti terakhir kali aku sadar, aku cuma diam dan berpikir. Siapa yang memindahkanku ke kamar. Sebenarnya aku ingin menyangkal bahwa Manendra lah yang membawaku kemari, tapi kemungkinan besar memang dia.
Aku beringsut duduk dan bangkit berdiri, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan bersiap. Tanpa sesi instrospeksi diri di depan kaca. Semenjak aku tinggal di sini, aku melupakan sesi itu setiap pagi. Tapi biarlah, aku harus memikirkan menu apa untuk sarapan pagi ini.
Seperti semalam hanya saja Manendra rapih dengan kemejanya, dia duduk di kursi makan bahkan sebelum aku memasak untuknya. Kulirik jam dinding di ruang tengah, lalu menyadari bahwa aku telat lima belas menit. Sialan.
"Pagi, Elaksi. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
"Selamat pagi, Tuan. Tidur saya nyenyak, terimakasih. Maaf saya agak terlambat pagi ini."
Aku membungkuk sedikit ke arahnya dan langsung menuju pantry. Otakku berpikir masakan apa yang tidak perlu lama dimasak. Karena otakku buntu, aku membuat pancake dan menyiram madu di atasnya. Tak lupa kuberi strawberry sebagai pemanis di atas pancake. Itu menu mudah, jadi lima menit aku sudah selesai membuatnya.
"Apa anda keberatan dengan pancake, Tuan." ucapku dengan menyajikan sepiring pancake di depan Manendra.
Dia menggeleng dan berkata,
"Tidak, aku memakan semuanya yang kau buat. Semuanya."
Manendra melahap pancake buatanku lahap, dan aku cuma berdiri diam di sampingnya tanpa melakukan apapun. Saat dia selesai dengan sarapannya, aku hendak membereskan meja makan tapi dia mencegahku.
"Biarkan Lena yang membersihkan itu, Ela. Sekarang, bantu aku memasang dasi."
Dia menyaut sebuah dasi yang dia sampirkan di senderan kursi makan dan mengulurkannya padaku.
"Memasang dasi?" tanyaku.
"Apa kau tidak bisa?" tanya Manendra balik.
"Saya bisa. Hanya saja__"
"Kalau begitu cepat pasangkan." perintahnya memotong perkataanku.
Ck. Bahkan aku belum selesai berbicara, dia malah menyelaku. Aku sangat tidak suka di sela saat sedang bicara, tapi mau bagaimana lagi. Posisiku di sini hanya sebagai asisten rumah tangga yang patuh pada si majikan.
Aku meraih dasi yang Manendra ulurkan, lalu mulai memasangkannya di kerah leher kemeja putih yang ia pakai. Memasang dasi adalah hal yang cukup mudah, jadi aku tidak perlu berlama-lama memasang benda panjang itu.
"Sudah."
"Bagus. Kau berbakat dalam memasang dasi, Elaksi."
Dipuji secara tidak langsung membuatku tersenyum kecil, sebenarnya itu bukan hal besar. Hanya memasang dasi, tapi rasanya seperti sangat istimewa di mata Manendra.
"Aku akan berangkat, terimakasih atas sarapannya, Ela." pamitnya padaku.
Dia hanya menggunakan kemejanya, tanpa vest atau jas seperti yang biasa dia pakai. Tapi dia bebas memakai apapun, aku tidak akan melarangnya walaupun dia tidak memakai apapun ke kantor.
"Sama-sama, Tuan. Tapi saya ingin meminta ijin, siang nanti saya ingin bertemu teman saya."
Gerakan Manendra dalam memasang cufflinks di kerah lehernya terhenti. Matanya menyorot tajam ke arahku.
"Kau punya teman?" tanyanya meremehkan.
****. Dia seolah mengatakan bahwa aku tidak pernah punya teman sepanjang hidupku di dunia, tapi memang benar adanya. Aku memang tidak punya teman tapi banyak musuh dan rival.
"Tentu saja saya memiliki teman." jawabku agak sewot, merasa tidak terima.
Manendra menaikkan salah satu sudut bibirnya, membuat senyuman miring yang tampak cocok di wajah maskulinnya.
"Aku mengijinkanmu."
Dan setelah mengatakan itu, Manendra pergi dengan menyisakan bau musk dan aroma menggoda di udara. Dia terlihat seksi dan misterius di saat yang bersamaan. Aku malah jadi penasaran padanya.
∆∆∆
Sebelum jam makan siang, aku sudah berbenah dan berdandan untuk keluar dan bertemu Hideo. Aku juga tidak lupa membawa revolver milikku dalam tas kecil yang tersedia di lemari. Kupikir lemari di kamarku itu seperti toko dalam sebuah lemari, kau bisa menemukan apapun di sana. Bahkan tas dengan label merk ternama yang membuatku berpikir dua kali untuk memakainya. Tapi setelah berpikir bahwa itu memang disediakan untukku, aku pasrah dan menyomot salah satu tas dan membawanya pergi keluar siang ini.
Saat aku di teras rumah, aku bertemu Herman. Dia menawariku agar aku diantar naik mobil dengan Richard sebagai supirku lagi. Tapi aku menolak dan menanyakan padanya dimana motorku. Dia terlihat tidak suka dengan ide aku yang mau membawa motor sendiri ketimbang diantara oleh Richard menggunakan Rolls Royce Phantom. Aku cuma menghindari pertanyaan Hideo nanti saat aku bertemu dengannya. Lagipula, tempat bertemu kami juga cukup rahasia.
Herman membawakan motor matic milikku ke depan rumah, aku bahkan memekik senang saat akhirnya aku akan menggunakan kendaraan itu lagi setelah rasanya sangat lama. Dan tak lama bagiku untuk meninggalkan pelataran rumah Manendra di pukul sebelas tiga puluh.
Di jalan, aku bersenandung kecil. Menyanyikan lagu Youth dari Shawn Mendes dalam gumaman. Aku merasa hariku baik dan cerah sekarang. Lihatlah bagaimana burung-burung itu lewat di depanku, saking senangnya aku bahkan membayangkan mereka tertawa dan tersenyum ke arahku. Aku seperti lolos dari suatu magis hitam di dalam rumah Manendra.
Berkendara dalam terik matahari tidak melunturkan moodku, malah sebaliknya, aku senang. Tiga puluh menit berjalan dengan motor maticku ini, aku sampai di sebuah cafe kecil bernama Porter Cafe. Aku masih ingat dimana aku bertemu kembali dengan Hideo di cafe ini setelah perpisahan kami di Jombang. Lalu kami jadi sering bertemu jika ada waktu luang, di tempat ini. Mengobrol banyak tentang politik, senjata dan yang paling penting adalah makanan. Kami punya selera makan yang sama, sama-sama suka pedas. Niel juga tidak pernah menyangka aku akan seakur itu dengan Hideo.
Bunyi gemerincing lonceng yang dipasang di atas pintu cafe membuat aku rindu bagaimana minum kopi di sini. Aku langsung menuju meja kasir, memesan secangkir mocca latte dan pancake isi es krim lalu duduk di kursi pojok. Kursi favoritku dimana aku bisa memandang jalanan dengan memakan makananku. Jika di cafe atau restoran lain kita akan memanggil pelayan untuk mencatat pesanan, maka lain di sini. Kita harus pergi menuju kasir, memesan dan mencari tempat duduk. Alasannya karena ini cafe kecil, pelayan di sini hanya dua dan mereka tidak punya waktu untuk sekedar mencatat pesanan pelanggan.
Aku memandang jalanan yang ramai, seperti biasanya. Jalanan ibukota memang selalu ramai, mungkin kadang juga terlalu ramai hingga macet. Tapi aku suka memandang jalanan, walaupun melihat mobil dan motor berseliweran membuat kepalaku pusing.
Tak lama bunyi lonceng pertanda ada pelanggan masuk ke cafe terdengar menggema, aku langsung menoleh ke arah pintu masuk dan tersenyum lebar saat Hideo dengan jaket dan celana jeans belel nya masuk. Dia masih sama seperti Hideo yang kukenal. Maksudku penampilannya, dia termasuk orang yang jarang mandi dan memakai pakaian yang urakan. Tapi tetap manis dengan lesung pipi dan kacamata bulat yang dia pakai. Well, siapa juga yang menyangka laki-laki semanis dia adalah pembunuh bayaran.
"Hay, baby. Sudah lama sekali ya."
Aku menyongsong kedatangannya dengan berdiri dan merentangkan tanganku. Dia merengsek masuk ke dalam pelukanku.
Kami berpelukan cukup lama hingga aku mendorongnya menjauh. Dia tersenyum lebar dan duduk di depanku.
"Kupikir kau sudah membusuk bersama orang-orang yang kau bunuh, Hideo." kataku dengan seringai.
Hideo terkekeh pelan dan menggeleng.
"Aku tidak sepayah itu, Elaksi."
"Ah benarkah? Mana oleh-olehku?" tanyaku padanya.
Di email dia mengatakan akan membawa sesuatu untukku.
"Oleh-olehnya berada di depanmu." jawab Hideo santai.
Dahiku mengerut. Di depanku? Maksudnya oleh-olehnya itu dia? Yang benar saja.
Kukira dia akan membawakanku sebuah makanan khas China atau minimal pisau dari sana. Aku mendengkus, sudah kubilang bukan dia menyebalkan.
"Kukira kau membawakan sesuatu untukku."
Seorang pelayan datang membawakan pesananku, menaruh gelas berisi mocca latte ke meja dan sepiring pancake isi es krim.
"Bisa aku memesan limun?" tanya Hideo pada pelayan berjenis kelamin perempuan itu.
Padahal Hideo hanya mengatakan itu, tapi si pelayan cafe itu tersipu malu dan mengangguk malu-malu. Aku melirik punggung si pelayan yang sudah pergi itu dengan tatapan tak percaya. Pesona Hideo memang tidak bisa diremehkan.
Aku meminum mocca latteku terlebih dahulu sebelum memotong pancake es krim dan melahapnya dengan rakus.
"Kau tidak berlibur, Ela? Kerjamu yang terakhir cukup sulit, kau tentu berlibur bukan?"
Aku mendongak dan menatap mata Hideo yang tengah menatapku.
Faktanya, dia memiliki seorang hacker profesional di sampingnya. Sama sepertiku, tapi bedanya dia bekerja dalam sebuah kelompok besar beranggotakan enam orang yang salah satunya adalah hacker dengan jam terbang di atas Niel. Namanya Kurx, aku tidak tahu nama aslinya. Dia semacam senior Niel di dunia hacker, mungkin itu sebabnya Hideo tahu tentang siapa pembunuh Bambang Antereja. Ya walaupun dia bilang aku nudah dikenali dari bokongku, tapi dia memang aneh kadang dalam mengingat seseorang. Jika orang lain mengingat teman atau rival dengan bentuk wajah atau suara, Hideo selalu bilang bahwa bokongku adalah yang terseksi di dunia.
Kurx pasti menghack sistem keamanan dan mengembalikan rekaman cctv di MN's. Dan dia memberitahu Hideo setelahnya. Untungnya aku punya kartu AS Hideo, jadi tidak perlu khawatir dia akan membocorkan kebenarannya.
"Aku tengah berlibur." jawabku sambil mengunyah pancake dingin itu.
"Kau masih berada di kota panas dan padat ini, Ela. Berlibur seharusnya melakukan hal yang menyenangkan, pergi ke negara tetangga untuk hunting laki-laki untuk diajak berkencan."
Aku mendengkus keras, melahap lagi pancake milikku tanpa peduli apa yang dia katakan. Sialan sekali dia mengatakan kencan dengan gampangnya dan juga dengan ekspresi muka mengejek.
"Berlibur versi dirimu dan versi diriku berbeda, Hide."
Pelayan perempuan yang tadi mengantarkan pesananku kembali lagi, kali ini dengan pesanan Hideo. Limun dingin, dia memang menyukainya. Mataku bisa melihat si pelayan tersipu sebentar lalu kembali lagi pada pekerjaannya. Cih.
"Benarkah? Sayang sekali, China tempat yang bagus untuk mendapat 'barang' murah, Elaksi. Kau harus ke sana."
Aku mendecih kali ini, dia terlihat songong saat mengatakan itu.
'Barang' dalam konteks ini adalah senjata. Ya siapa yang tidak tahu bahwa China adalah negara pemproduksi senjata ilegal terbesar. Aku bahkan selalu ingin pergi ke sana dan membeli sejumlah senjata yang tidak bisa kudapatkan di sini. Tapi sampai sekarang, China hanya angan belaka. Aku masih tertambat di kota ini tanpa bisa pindah bahkan hanya untuk keluar pulau.
"Jangan sok pamer." gerutuku.
Dia tergelak pelan dan meminum lmun dinginnya rakus. Entah kenapa melihat Hideo di sini membuatku agak tenang, setidaknya aku punya seseorang untuk kumintai tolong jika aku butuh sesuatu.
Kami mengobrol banyak hal, mulai dari perkumpulan pembunuh bawah tanah yang membuat sebuah organisasi rahasia di China. Sampai membahas papan reklame berisikan kampanye di tengah masa-masa sulit pergantian presiden. Dia memberiku nomornya yang baru, dan aku tidak menolak. Aku sadar aku butuh teman untuk sekedar berchatting ria atau mengobrol di tengah malam.
Aku pulang jam lima sore setelah menolak ajakan Hideo untuk pulang bersama. Dia awalnya memaksa, katanya ingin tahu dimana aku tinggal sekarang. Karena aku bilang bahwa aku sementara tidak tinggal di apartemen yang dulu, tapi aku juga tidak mungkin membawa Hideo ke rumah Manendra. Jadi aku menolak keras dengan alasan aku membawa motorku sendiri.
Jam lima tiga puluh lebih sekian aku sampai di gerbang besar rumah Manendra dengan perasaan tak enak. Saat aku masuk ke pelataran rumah, aku mendesah lega karena aku tidak menemukan mobil Land Rover Range Rover yang biasa Manendra pakai untuk pergi ke kantor.
Kuparkirkan motorku sembarangan, merasa bahwa akan ada seseorang yang nantinya mau menyimpan motor bututku di garasi. Aku langsung masuk dan menuju kamar, mengganti bajuku dengan baju rumahan dan segera turun ke dapur untuk memasak makan malam. Tapi di tengah jalan aku berhenti, kutepuk dahiku pelan. Aku tidak pernah merasa sebodoh ini, jelas-jelas bahwa Manendra tidak pernah makan malam. Untuk apa juga aku menyiapkan makan malam untuknya.
"Anda sudah pulang, nona?"
Aku langsung berbalik dan hendak menyerang si pemilik suara yang mengagetkanku itu. Tapi untungnya aku bisa menahan diri, lalu terkaku dan tersenyum canggung pada Herman yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku dengan seikat bunga mawar segar. Apa dia belum selesai dengan mawar-mawar itu?
"Ya, aku baru saja pulang."
"Baguslah, boleh saya meminta bantuan?"
Kukernyitkan dahiku dalam lalu memandang Herman dengan raut aneh, tumben dia meminta bantuanku.
"Tentu, kenapa tidak." jawabku enteng.
"Tolong gantikan bunga di dalam ruang kerja Tuan Nawasena. Saya harus merapikan taman belakang setelah memanen mawar." jelasnya.
Aku mengangguk sambil menerima seikat bunga mawar berbau harum itu dari Herman. Baunya harum, tampilannya juga bagus, tapi artinya menakutkan.
Herman mengangguk pelan padaku dan berlalu di pintu belakang dekat dapur. Kuhela nafasku pelan, lalu naik ke lantai atas, menuju ruang kerja Manendra yang berada persis di sebelah kamarku.
Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali aku ke sana. Dengan pintu besar nan berat dan saat kau masuk ke dalam, suasananya terlihat lebih menakutkan daripada kamar boneka Annabelle.
Bau apak dari buku-buku di rak besar yang tersebar di ruangan menyerbu indra penciumanku. Aku berjalan pelan dengan helaan nafas yang bahkan bisa kudengar sendiri. Mataku berkeliling menatap segala penjuru dengan perasaan was-was, aku merasa di awasi.
Saat aku sampai di meja kerja Manendra, aku langsung mengambil bunga lama di vas dan menggantinya dengan yang baru. Sebenarnya aku ingin keluar setelahnya tapi tiba-tiba sebuah pemikiran terbesit di otakku. Tentang bunyi aneh yang kudengar dua hari belakangan. Jika bunyi itu terasa di dinding kamarku, maka seharusnya asal bunyi berasal dari dinding ruangan kerja ini. Tapi di ujung sana.
Biar kujelaskan bagaimana struktur ruangan kerja Manendra. Ruangan ini berbentuk persegi panjang yang kutaksir ukurannya hampir seperti perpustakaan daerah. Sangat besar. Awal masuk kau akan dihadapkan rak penuh buku, dan kau harus berjalan melewati setidaknya tiga rak buku untuk sampai di meja kerja Manendra. Bukan masalah rak atau meja kerja tapi panjang ruangan ini. Hampir semua ruangan ini berisi rak penuh buku yang berjajar tak beraturan di ruangan panjang sisanya. Dan di ujung sana, aku hanya melihat kegelapan. Aku tidak bisa menebak ada apa di ujung sana karena gelap menghalangi. Ruangan ini seperti sebuah persegi panjang tak berujung. Padahal kurasa hanya masalah desain dan penyusunan rak yang menyimpang, membuat ruangan ini terlihat lebih panjang.
Aku melangkah menuju kegelapan itu, tapi sebuah lengan menahanku hingga aku menyentak keras dan berbalik dengam ancang-ancang menyerang. Kuteguk ludahku kasar, lalu berdehem dan berdiri tegak saat Manendra berdiri di depanku.
"Apa yang kau lakukan di sini, Elaksi?" tanyanya dengan nada menuduh.
"Saya mengganti bunga di meja kerja anda, Tuan Nawasena." kataku sambil menunjukkan bunga layu yang kubawa. Pertanda aku baru saja mengganti bunga di meja kerjanya.
Matanya menajam dan menyipit, menatap manik mataku dalam. Menyelami dan menemukan fakta yang ada bahwa aku tidak berbohong. Dia menghela nafas, lalu sikap dinginnya tadi berubah menjadi sehangat mentari dengan senyuman lebsr dan sikap friendly.
"Terimakasih telah menggantinya untukku, Ela."
"Sama-sama, Tuan."
"Bisakah buatkan aku kopi? Aku ingin minum kopi." mintanya.
Aku tersenyum dan mengatakan,
"Tentu."
Lalu keluar dan turun menuju dapur. Membuat kopi untuknya.
∆∆∆
Detik jam berlalu ke kanan, walaupun aku tidak melakukan apapun detik jam itu akan beralih. Menuju waktu yang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Aku termenung di depan dinding putih dengan ratusan foto yang terpajang. Lalu sebuah senyum terulas di bibirku, betapa dia sempurna untuk di pajang di dinding.
Tidak sia-sia aku mengambil gambarnya diam-diam melalui pelayan pribadiku. Dia memang tahu betul aku sangat menyukai Elaksi. Sangat menyukainya hingga dadaku rasanya mengembang dan ingin meledak. Rasa ini membuat jantungku berdebar, bahkan dengan memasang ratusan fotonya di dinding itu tidak cukup untukku.
Kuambil tiga buah paku dan sebuah palu dari meja yang ada di ruangan kecil ini. Lalu kulangkahkan kakiku menuju dinding yang sisinya masih kosong. Dengan perlahan aku menancapkan paku ke dinding dan memukulnya dua kali dengan palu, begitu seterusnya hingga paku ketiga.
Aku mengambil tiga foto baru hari ini. Foto pertama, dimana Elaksi tengah berjalan. Dia baru turun dari kamarnya pagi tadi. Aku membolongi ujung atas fotonya dan memasangnya di paku. Foto kedua dimana dia sedang memasangkan dasi untukku. Ah ini momen yang luar biasa, Elaksi benar-benar perempuan yang sempurna. Bagiku, hanya untukku. Aku membolongi lagi bagian tepi atasnya lalu memasang di paku kedua. Tapi foto saat aku melihat foto ketiga sontak amarah berkumpul di dadaku, aku merasa sangat marah hingga rasanya memotong lidah seseorang pun tidak cukup.
Elaksi dengan seorang laki-laki. Jadi dia teman Elaksi?
Oh Elaksi Gayatri hanya milikku. Milikku. Dan akan selamanya begitu hingga aku bosan.
Kubunuh dia.