Hiraeth

Hiraeth
11



11.


"... dipastikan bahwa dalam tubuh Bambang Antereja terkandung obat berjenis ludiomil, pelaku diduga menyuntikkan obat itu sebelum menikamnya. Menurut keterangan beberapa saksi pelaku adalah salah satu pemandu lagu di karaoke tersebut. Polisi masih menyelidiki pelaku hingga saat ini."


Aku termenung sambil memandang layar televisi tanpa minat. Mereka terus meributkan hal yang sudah tidak ada lagi. Bambang sudah mati, seharusnya mereka berterimakasih padaku karena sudah menghilangkan satu penjahat rakyat tanpa mereka minta. Cih.


Kulirik jam dinding di sebelah televisi, lalu mendesah keras saat jam menunjukkan pukul sepuluh lebih enam menit malam. Aku merasa bosan di sini, tidur, menyiapkan makan, tidur lagi, menonton televisi dan terus seperti itu dalam hampir dua hari ini. Aku merasa merindukan pekerjaanku di lapangan, mengancam seseorang, melubangi mata seseorang atau mengacungkan revolver pada orang lain. Tapi Daniel pun tidak ada, aku tidak bisa bekerja tanpa dirinya. Ah sial.


Tubuhku mematung saat sebuah bunyi terdengar, aku langsung mematikan saluran televisi dan mulai fokus pada bunyi yang muncul. Bunyi yang sama dengan malam sebelumnya. Lalu bunyi 'tuk tuk tuk' itu terdengar lagi. Aku bangkit dari ranjang menuju dinding kamar di sebelah pintu. Kutempelkan tanganku di sana. Dan benar saja tak lama sebuah bunyi 'tuk' sekali terdengar bersamaan dengan getaran di tanganku. Seseorang di balik dinding tengah melakukan sesuatu. Sebelah kamarku adalah ruang kerja, dan ini pukul sepuluh malam. Herman bilang kalau jangan pernah mengganggu Manendra diatas jam sepuluh malam. Mungkinkah ini yang dilakukan Manendra? Memaku dinding malam-malam begini.


Bunyi itu terdengar lagi, kali ini aku menempelkan telingaku ke dinding. Tapi rasanya sia-sia karena aku hanya mendengar dengungan aneh dan gesekan antara pipiku dan tembok. Bunyi itu hilang, dan aku kembali berdiri tegak. Ada apa sebenarnya dengan si pemilik rumah? Pemilik dan para pelayannya sama-sama aneh.


Aku berjalan menuju ranjang, merebahkan diri di benda empuk itu dan mulai terpejam. Semuanya akan baik-baik saja, aku ini pembunuh bayaran. Tidak ada yang perlu ditakutkan kecuali diriku sendiri.


∆∆∆


Paginya, aku harus mendapatkan kenyataan bahwa Manendra sudah berangkat ke kantor bahkan sebelum aku bangun. Saat aku bertanya pada Herman yang lewat, dia mengatakan bahwa Tuan Nawasena itu ada urusan mendadak di kantor, dan aku harus mengantarkan makan siang untuknya nanti.


Jadilah sepanjang pagi aku hanya duduk di gazebo taman belakang sambil memandangi taman mawar merah di halaman belakang. Mawar merah memiliki banyak filosofi, salah satunya adalah sebagai lambang cinta sejati dan rasa bahagia dalam diri. Tapi jika itu mawar merah biasa, bagaimana jika mawar merah yang kehitaman? Bahkan cenderung hitam? Mawar kehitaman biasanya melambangkan kematian yang gelap, kutukan dan kebencian terhadap seseorang atau sesuatu. Mawar merah kehitaman juga dikatakan sebagai pembawa kematian. Itulah kenapa aku daritadi terheran, jika Manendra menanam semua mawar ini, kenapa dia memilih mawar merah kehitaman? Bukannya mawar merah biasa.


Angin semilir terdorong dari timur, membuat rambutku berantakan dari susunannya yang kuikat. Entah sudah berapa banyak aku merasa heran, bingung dan aneh di rumah ini. Kuakui rumah ini sangat bagus, mewah, mahal dan luar biasa. Tapi aura yang memancar sama seperti pemiliknya, gelap. Semakin hari semakin terasa gelap. Aku bahkan curiga ini rumah bekas tempat tinggal voldemort atau penyihir jahat dulunya.


Di taman belakang ini, tidak hanya taman bunga mawar tapi ada beberapa bunga lili putih yang jumlahnya lumayan banyak tapi tidak sebanyak mawar merah kehitaman itu. Juga pohon beringin natal dan palem. Tapi semuanya nampak suram seperti pemakaman berbau harum bunga, lengkap sudah si pemilik rumah menggambarkan taman menjadi tempat yang menakutkan, lili putih memiliki arti yang sama dengan mawar merah kehitaman. Kematian.


Merasa cukup merenung aku bangkit, berjalan menuju dapur untuk membuat makan siang. Aku harus mengantarkan makan siang ini sebelum jam makan siang. Ah ya seperti itulah.


Kali ini aku memasak ayam goreng sambal matah dan nasi uduk yang kumasak di rice cooker. Aku mengemas semua itu dalam kotak makan besar dan membungkusnya dalam sebuah paper bag. Merasa cukup aku naik ke lantai atas. Mengganti kaus rumahan yang kupakai dengan dress selutut, tak lupa juga menyelipkan revolverku di paha dan mengikatnya di sana. Saat aku turun ke bawah, Herman berada di ruang tengah sedang mengganti bunga di vas dengan yang baru.


"Anda mau mengantar makan siang untuk, Tuan Nawasena?" tanya Herman tapi dengan pandangan masih pada bunga-bunganya.


Aku berhenti dari jalanku. Lalu mengangguk walaupun rasanya dia tidak melihat aku mengangguk, jadi aku berkata


"Ya. Aku akan mengantar makan siang untuknya."


Herman menoleh ke arahku, lalu mengedip sekali.


"Supir akan mengantar anda, nona. Dia menunggu di depan." kata Herman datar dan kembali pada rangkaian bunganya.


Tangan kurus keringnya merangkai bunga-bunga mawar itu dalam satu rumpun bersama lili putih di vas kaca bening besar. Aku bahkan merasa iri karena dia terampil sekali dalam merangkai bunga.


"Baiklah."


Aku menuju dapur, mengambil paper bag berisi makan siang Manendra lalu kembali ke depan. Saat aku berada di teras rumah, aku merasa seperti tidak melihat dunia luar selama setahun. Padahal hanya dua hari lebih beberapa jam, terasa sangat lebay. Saat di teras mataku mencari motor maticku yang lenyap entah kemana.


Penjaga pasti memindahkan motorku. Hah sial. Aku takut mereka mengira motor itu sampah dan malah membuangnya bukannya memindahkan ke tempat lain. Jangan salahkan motor maticku yang kotor dan bobrok itu, dia terlalu berharga bagiku.


Aku melotot saat mobil Rolls Royce Phantom terparkir apik di halaman rumah ini dengan body mengkilap nan aduhai. Aku bukan penggemar otomotif dan bukan juga peminat mobil mobil mewah karena aku terlalu hemat. Tapi siapa yang tidak tahu mobil keluaran baru yang di bandrol dengan harga bekas tujuh miliar enam ratus juta itu? Bekas. Kuulangi lagi, bekas. Bekas seharga tujuh miliar, dan mobil di depanku ini sepertinya sama sekali bukan bekas.


"Selamat pagi nona, saya Richard. Supir anda."


Masih terkagum pada mobil berwarna hitam itu aku menoleh tak rela ke kanan. Menuju pada seorang tinggi besar dengan kacamata hitam yang menyebut dirinya Richard.


"Pagi juga Richard." balasku. Ini secara teknis masih pagi karena balum jam duabelas siang.


"Mari saya antar anda ke PT. Antereksa."


Dia membukakan pintu untukku dengan gentle. Dan dia kemudian berlari kecil mengitari mobil menuju kursi kemudi. Oh aku berasa majikan di sini.


"Pasang sabuk pengaman anda, nona."


Aku menuruti perintahnya dengan memasang sabuk pengaman dan meletakkan paper bag yang berisi makanan ke jok di sampingku. Dan tak lama mobil mahal ini berjalan keluar dari pelataran rumah Manendra. Mataku menatap semua interior dalam mobil ini, dan hampir berdecak norak saat semuanya terlihat mewah dan mengkilap di mataku.


Merasa sikapku norak sekali, aku berdehem sekali lalu mulai memandangi jalanan yang panas dan ramai di siang hari begini. Kami melewati toko-toko, cafe, mini market, sekolah dan pedagang asongan juga beberapa lampu lalulintas. Dan saat di lampu lalulintas keempat kami berhenti karena lagi-lagi merah, aku menghela nafas pelan dan membuang pandanganku keluar. Lalu mataku menangkap sosok familiar yang membuatku menahan nafas. Dan saat sosok itu berbalik, aku mendesah keras, merasa lega jika itu bukan dia.


Kukira dia itu mantan kakakku. Aku hanya was-was saja, siapa tahu itu betul dia. Maka aku punya alasan menyombongkan diri karena naik mobil Rolls Royce mewah seperti ini.


Sebagai anak terakhir dari dua bersaudara, aku menjadi anak terlantar seumur hidupku. Dibuang, dihina, dicaci maki, disiksa fisik dan batin. Alasannya sepele, karena aku membunuh si induk. Ibuku sendiri. Hah, aku bahkan belum berumur sejam saat ibuku meninggal. Mana tahu aku jadi pembunuh saat itu. Dan lucunya ayah, maksudku mantan ayah dan mantan kakakku menyalahkan aku atas kematian ibuku. Mereka memang menampungku selama sepuluh tahun di rumah mereka, tanpa pendidikan, tanpa kasih sayang dan juga disertai siksaan fisik dan batin. Lalu aku muak, jadi aku kabur dan bertemu Daniel, si jenius anak tukang sampah.


Sudahlah, masa lalu bukan hal besar bagiku. Mereka sudah berlalu, hanya ada aku sekarang.


Mobil ini berhenti di sebuah gedung tinggi lima lantai dengan plang PT. Antareksa besar di depan gedung.


"Anda bisa turun, nona. Saya akan menunggu di tempat parkir. Perhatikan langkah anda saat turun." kata Richard.


Kuangkat alisku tinggi menatap si supir, dia gentle sekali. Aku turun dari mobil tanpa melupakan paper bagku, dan menyesal turun agak jauh dari gedung karena panasnya luar biasa. Kukibaskan tanganku ke arah wajahku, dan berjalan pelan menuju gedung tinggi itu. Suasana ramai dan riuh langsung menyambutku di dalam, beberapa orang lalu lalang mulai keluar dari kubikel masing-masing untuk istirahat. Ini jam-jam karyawan istirahat, jadi mereka tentunya ingin mencari makan siang.


PT. Antereksa adalah salah satu dari sekian banyak perseroan yang bergerak di bidang pertambangan. Sebenarnya kantor ini adalah penggerak laporan dan lain sebagainya sedangkan pabrik dan tempat pertambangan ada di daerah Borneo dan Papua. Perseroan ini berpusat pada batu bara, nikel dan perak. Dan di daulat sebagai perseroan terbesar ke tujuh satu Indonesia. Setidaknya itu yang kudapat dari internet.


Aku menuju meja resepsionis, lalu menengok apakah ada orang atau tidak. Dan ternyata ada, seorang perempuan dengan baju formal dan dandanan natural.


"Permisi." ucapku pelan.


Si resepsionis mendongak lalu berdiri, dia tersenyum ke arahku.


"Saya harus mengantar makan siang untuk Pak Manendra Nawasena." ucapku seraya mengangkat paper bag yang kubawa.


"Pak Direktur?" tanyanya memastikan.


"Ya." jawabku, Manendra memang direktur kan. Hanya kebetulan saja dia mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pemilik karaoke.


Si resepsionis mengambil sebuah telepon dan aku melirik saat dia memencet tiga digit nomor yang terdiri atas 403. Aku masih ingat itu, setiap kantor memiliki kode tertentu di setiap lantai. Biasanya tergantung jabatan dalam kantor tersebut. Digit pertama adalah jumlah lantai, digit kedua dan ketiga adalah seri jabatan. Karena di sini Manendra memiliki jabatan Direktur yang mana memiliki jabatan tinggi maka dia memakai kode 03. Tapi setiap kantor juga berbeda juga, aku hanya menebak.


"Anda bisa langsung menuju lantai empat, nona."


Aku mengerjap tersadar dari lamunanku masalah tiga digit angka itu. Mataku memandang si resepsionis yang tersenyum ramah. Apa dia bilang? Aku haru menuju lantai empat?


"Baik, terimakasih."


Dia tersenyum lagi, jadi mau tak mau aku balas tersenyum lalu berjalan menjauhi meja resepsionis.


Lift di lantai dasar ini ada tiga, dua lift pegawai dan sebuah lift eksekutif atau lift khusus untuk para petinggi perusahaan. Sebenarnya aku mau naik lift eksekutif saja, tapi tidak jadi. Dan alhasil aku naik di lift karyawan biasa dengan berjubel dengan yang lain.


Tapi saat tiba di lantai empat, lift yang berjubel tadi sudah lengang. Hanya menyisakan aku dan dua orang perempuan dengan pakaian formal. Sedangkan yang lainnya sudah turun di lantai masing-masing. Aku langsung turun dari benda bergerak itu, menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menepuk dahiku pelan. Aku tidak akan menemukan Manendra di sini.


Karena jabatan Manendra adalah seorang Direktur, dia pasti memiliki asisten pribadi atau sekertaris. Dan biasanya si asisten ini memiliki meja di depan ruangan si Direktur. Dan benar saja ketika aku berjalan ke depan, melewati sebuah ruang meeting dan ruang tunggu, aku menemukan meja si sekertaris.


"Permisi." ucapku pada laki-laki dua puluh tahunan yang duduk di balik meja.


Dia mendongak lalu tersenyum kecil sambil mengatakan,


"Ya. Ada yang bisa kubantu?"


"Saya ingin mengantarkan makan siang untuk Tuan Nawasena." jelasku sambil menunjukkan paper bag yang kubawa.


"Oh Nona Elaksi?" tanyanya seolah memastikan.


"Ya, benar." jawabku.


"Anda bisa langsung masuk, nona." ucapnya dengan menunjuk sebuah pintu yang tak jauh dari tempatku berdiri.


Pintu dengan tulisan 'Ruang Direktur' itu berwarna hitam dengan handle perak nan berkilauan. Aku menghela nafas lalu mengucapkan terimakasih pada si sekertaris Manendra itu. Aku menuju pintu dengan dada berdebar kencang, bukan karena aku jatuh cinta atau apa. Hanya saja aku merasa gelisah dengan seseorang yang menanti di balik pintu itu.


Kuketuk pintu itu dua kali. Lalu menata nafasku agar lebih baik, dan tak ada jawaban.


"Masuk saja nona." seru si sekertaris dari arah sampingku. Dia menenteng sebundel berkas dengan erat di tangannya.


"Apa boleh?"


"Tentu, kau sudah di tunggu."


Si sekertaris pergi dengan bundelan berkasnya, aku menekan handle pintu dan mendorongnya pelan. Saat terbuka aku, bau musk dan mint langsung menyerbu indra penciumanku. Dan Manendra Nawasena tengah duduk di kursi kerjanya dengan kacamata bertengger di hidungnya yang mancung. Sedangkan matanya terfokus pada layar komputer yang menyala.


Dia mendongak saat aku membuka pintu lebih lebar dan tersenyum dengan antusias seolah aku adalah orang yang paling dinantikannya untuk datang.


"Elaksi, aku menunggumu daritadi." kata Manendra seraya mencopot kacamata yang dia pakai.


"Saya mengantar makan siang anda, Tuan."


"Masuklah."


Manendra berdiri dari duduknya, kemudian menggiringku masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya rapat. Aku duduk di sofa dengan mata mengedar, mengagumi secara tidak langsung bahwa selera Manendra soal desain interior sangat tinggi. Aku suka ruang kerja dengan dominan warna hitam dan emas ini, terlihat elegan dan sangat misterius.


"Kau membawa makan siang untukku?" tanya Manendra senang.


Aku mengangguk dan menyodorkan paper bag yang kubawa padanya. Dan dengan semangat dia menyaut paper bag itu dan membuka isinya. Dia terlihat senang dengan menu makan siang kali ini. Itu dapat dilihat dari binar matanya yang tak dapat dia sembunyikan.


"Mau makan siang bersamaku, Elaksi?"


Manendra menyodorkan sebuah sendok padaku. Dan aku terdiam, makan bersamanya?


"Tidak usah, Tuan. Terimakasih atas tawarannya."


"Jangan menolak, Ela. Kau harus makan bersamaku." dia menyodorkan sendok itu dengan paksa, dan aku menerima sendok yang dia ulurkan dengan terpaksa.


Dia tersenyum tipis tapi beranjak bangkit dari sofa dan berjalan menuju kursi kerjanya. Bukankah dia mau makan siang? Kenapa malah bekerja lagi?


"Suapi aku, Elaksi. Aku harus mengirim laporan pertanggungjawaban ini sebelum jam makan siang berakhir."


"Apa?"


"Apa aku kurang jelas mengatakannya? Suapi. Aku." eja Manendra pada kata 'suapi aku'.


Mataku mengedip sekali sambil menatapnya dengan tatapan 'Apa kau benar-benar ingin aku melakukannya?'