
8.
Aku di antar kembali ke MN's untuk mengambil motor, kemudian barulah aku pulang dengan motorku sendiri. Sebenarnya bisa saja aku menumpang Manendra pulang, tapi aku benar-benar butuh Daniel sekarang atau kepalaku akan meledak karena bingung dan kesal di saat bersamaan.
Sepuluh menit berkendara dengan kecepatan tak lazim di jalan raya yang ramai, aku tiba di markas sampah Niel yang masih sama busuknya. Dan saat aku tiba di depan pintu, aku mengetuk pintu dengan irama yang menjadi kode kamu berdua. Tidak sampai lima detik bagi pintu itu terbuka lebar dan Niel terlihat di baliknya. Aku langsung masuk tanpa basa-basi, duduk di sofa panjang sebelah komputer dan mulai menatap langit-langit markas yang isinya hanya sarang laba-laba dan tawon.
"Ada apa kemari? Bukankah bayarannya sudah sampai ke rekeningmu?"
Ya, bayaran dari membunuh menteri itu memang sudah di kirim ke rekeningku. Saat notif dari bank mampir ke ke ponselku siang tadi aku bahkan hampir terlonjak saat nominal uangnya yang bisa membuatku keliling dunia dengan fasilitas mewah. Hanya saja, aku masih bingung dengan masalah yang berbuntut panjang ini.
"Sudah, hanya sepertinya buntutnya masih panjang."
"Kenapa?" tanya Niel sesantai biasanya. Dia menyenderkan punggungnya di senderan kursi kerjanya dan menatapku dengan alis terangkat tinggi.
"Manendra Nawasena menawariku bekerja di rumahnya sebagai ganti karena aku hanya bekerja dua hari di MN's, kau tahu bahwa karaoke itu ditutup sampai sebulan ke depan."
"Tolak saja."
"Masalahnya aku berkata bahwa aku sedang butuh uang segera pada polisi saat di interogasi tadi." tuturku kesal padanya yang masih saja santai di saat seperti ini.
"Kalau begitu terima."
Wtf! Maunya apa hah! Tadi dia berkata aiu haru nenolak dan sekarang dia bilang terima? Mungkin hidupnya memang semonoton itu hanya berkisar pada ya atau tidak. Aku ingin melemparinya batu bata agar otaknya bergeser ke arah yang benar.
"Tapi dia bisa curiga denganku!" seruku makin kesal.
"Kau punya libur sebulan, Ela. Gunakan saja itu untuk bekerja di rumah Manendra agar dia percaya. Lagipula itu sama saja menghindari kejaran polisi tentang pembunuhan Bambang Antereja."
Dia ada benarnya juga, dengan berada di dekat Manendra aku tidak mungkin dicurigai sebagai tersangka pembunuhan. Tapi bagaimana dengan impian pergi berlibur di luar negeri? Ah sial. Aku harus mengorbankan yang ini.
"Baiklah. Terimakasih sarannya."
"Oh ya, Ela. Aku akan berada di negara kain dua bulan ke depan, menghadiri camp hacker tahunan."
"Mulai kapan?" tanyaku.
Camp hacker adalah kegiatan tahunan bagi Niel untuk pergi ke belahan bumi lain demi berkumpul dengan sesama hacker ilegal. Tahun lalu di Rusia dan Daniel berada dua bulan di sana, alhasil aku libu dua bulan dan berlibur ke Bali untuk mengisi waktu liburku.
"Besok." jawabnya singkat.
"Jadi mulai besok aku sudah tidak bisa menghubungimu lagi?"
Salah satu peraturan camp hacker adalah dilarang berkomunikasi dengan orang lain di luar camp selama kegiatan itu berlangsung. Dan sepanjang yang kutahu camp itu berisi pelatihan bagaimana kau menjadi hacker profesional yang selalu kabur dari kejaran hukum.
"Begitulah."
"Bagaimana jika aku membutuhkanmu, sewaktu-waktu?"
"Aku percaya kau bisa menyelesaikan itu sendiri, Ela."
"Oke baiklah, selamat bersenang-senang, Niel. Aku pulang." pamitku padanya.
∆∆∆
Jam dinding di apartemenku menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh empat menit saat aku sampai di sana setelah mampir membeli makan malam. Aku sengaja mampir karena perutku sudah tidak bisa diajak berkompromi setelah siang tadi tidak makan sama sekali, jadi aku mampir membeli ayam bakar dengan sambal terasi dan nasi hangat yang membuat liurku menetes.
Aku langsung duduk di sofa tanpa berganti baju, membuka bungkusan nasi ayamku dan memakannya tanpa cuci tangan. Aku meraih remote televisi dan menyalakan benda kotak pemberi informasi itu, tapi semua channel nya masih menayangkan pembunuhan menteri keuangan di tempat karaoke. Jadi kupindah channelnya ke cartoon network dengan Ben Ten tengah menyerang musuh bebuyutannya Hex si penyihir. Aku suka film ini, jadi aku makan sambil menonton kartun tanpa peduli bau badanku yang mirip markas Daniel.
Tepat saat Ben Ten selesai dan berganti dengan Adventure time, aku selesai makan dan membuang bungkus makan malamku ke tong sampah yang ada di sebelah televisi. Lalu beranjak bangkit mencuci tanganku ke dapur dan berjalan ke kamar untuk mengganti baju.
Dan saat aku hendak melepaskan bra ku, dering ponsel dari tasku membuat gerakanku terhenti. Aku maraih ponsel dalam tasku, dan menyipit saat nomor tak dikenal menelfonku. Kutekan tombol accept dan meloudspeaker panggilan itu sembari melucuti pakaianku.
"Halo." sapaku pada seseorang di seberang sana.
Mungkin musuh, atau teman lama.
"Halo, Ela?"
Aku berhenti sejenak, lalu melempar rok spanku ke keranjang cucian. Lalu duduk ke ranjang sembari menebak siapa pemilik suara berat seksi dan menggoda itu tanpa peduli aku hanya memakai bra dan celana dalam.
"Siapa ini?" tanyaku cepat dan dingin.
"Manendra."
Oh dia. Kenapa dia menelfonku, bukankah tadi sore kita baru saja bicara.
"Ada apa, Pak." jawabku tiba-tiba jadi sopan dan formal.
"Bagaimana soal tawaranku, Ela. Apa kau setuju?"
Dahiku mengerut, kami baru saja membicarakan itu tadi sore dan seharusnya dia memberiku kesempatan berpikir minimal sampai besok tapi dia seperti begitu terburu-buru.
"Bisa anda berikan waktu sampai besok, Pak?"
"Apa kau belum membicarakan hal itu dengan sepupumu?" Dia malah balik bertanya.
Aku jadi agak jengkel dengannya, sikapnya tersebut membuat aku agak risih dan ingin jauh-jauh dari Manendra.
"Saya sudah membicarakannya."
"Apa dia setuju?" tanyanya lagi, kali ini nadanya antusias dengan keingintahuan terselip di dalamnya.
"Ya, dia setuju. Tapi__"
"Kalau begitu, kau juga setuju bukan?" potong Manendra saat aku baru saja ingin mengatakan bahwa aku mau memikirkannya matang-matang.
"Mmm.. begitulah." jawabku kurang yakin.
Menjadi pembantu di rumah orang lain adalah profesi paling melenceng dari pembunuh bayaran. Bah, hitung-hitung mencari pengalaman.
"Bagus, aku akan mengirim alamat rumahku dan besok jam delapan kau harus sudah di sini. Mengerti?"
"Baik. Tapi__"
Sebelum aku berbicara lebih sambungan telfon itu terputus terlebih dahulu, aku melongo. Rasa kesalku sudah dipuncak hingga aku membanting ponselku ke ranjang, berani beraninya dia memoting pembicaraanku dua kali.
Sepersekian detik setelahnya, sebuah pesan dari nomor yang sama yang tadi menelponku masuk ke kotak pesan yang isinya sebuah alamat rumah yang kuyakini alamt rumah Manendra. Kuhiraukan pesan itu dan masuk ke kamar mandi untuk berendam menikmati hasil setelah bekerja, ah aku mau beli bajyak senjata nanti. Aku rasa uangku sudah cukup banyak untuk membeli selusin pisau baru. Atau satu tong peluru.
∆∆∆
Deringan alarm yang kusetel jam enam pagi sukses membuat aku menggeliat jengkel dan menutup wajahku dengan selimut. Oh maafkan aku perempuan malas yang hanya biasa bangun jam sembilan atau jam sebelas siang. Aku hanya terbiasa melakukan segalanya di malam hari dan menghabiskan pagi serta siang hari untuk tidur. Semacam kelelawar tapi versi lebih malasnya haha.
Aku mengerang panjang, membuka mataku yang terasa berat dan malas untuk terbuka. Dengan usaha keras, akhirnya aku bisa membuka mataku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih tulang. Kurubah posisi tidurku jadi miring, menghadap nakas yang di atasnya terdapat jam beker yang terus berdering tanpa mau berhenti. Dengan cepat kuraih jam beker itu, mematikan alarmnya dan beringsut duduk. Aku mengerjap, mengumpulkan nyawaku yang msih tercecer di alam mimpi bersama Sean O'Pry dan Lucky Blue Smith.
Merasa nyawaku sudah terkumpul, aku bangkit berdiri dari ranjang dengan sempoyongan. Lalu beranjak menuju kamar mandi dan mulai menatap diriku di pantulan cermin besar yang kupasang di atas wastafel. Jika perempuan lain masuk ke kamar mandi berlama-lama hanya untuk mandi dan membersihkan diri, maka aku hanya akan menghabiskan waktu untuk memandangi diri di cermin. Lalu menatap bayanganku dan berkata, seberapa besar dosaku? apa aku sudah hidup dengan baik? atau pertanyaan lain yang sejujurnya malah membuat hidupku tambah menyedihkan setiap harinya.
Kuhela nafasku pelan, lalu mengangkat kedua tanganku agar sejajar dengan mataku. Kedua tangan inilah yang biasa membuat nyawa orang lain melayang, yang biasa membuat orang lain menderita, yang biasa melakukan hal keji demi segepok uang. Kadang aku berusaha acuh, tapi rasa bersalah itu semakin menekanku hingga mengkerut seperti kismis. Dan mungkin saat aku mati nanti, aku tidak akan di kubur, mugkin hanya dibuang bersama dosaku yang segunung. Aku menghela nafas lagi, lalu beranjak dari cermin menuju shower untuk mandi bebek di pagi hari.
Sepuluh menit kemudian aku sudah memakai celana kulot panjang dan sebuah kemeja hitam. Mungkin dandananku aneh sekali, tapi aku malas memakai dress oagi ini. Lebih baik memakai celana walaupun kulot. Aku keluar dari kamar dengan mengucir rambutku yang berantakan menuju dapur untuk membuat sarapan. Langkahku berhenti tiba-tiba lalu tersenyum saat ini semua terasa aneh, aku seperti hidup layaknya orang biasa. Bangun tidur, mandi dan melamar pekerjaan. Menemui Manendra dan akan bekerja di rumahnya itu termasuk melamar pekerjaan kan? Itu berbeda dengan hari-hari yang biasa kujalani. Bangun siang, kemudian makan, tidur lagi, dan malamnya bekerja dengan membunuh banyak pecundang.
Di pantry aku memasak telur mata sapi dan memanggang roti di alat pemanggang. Tanpa butuh waktu lama agar aku duduk di meja makan dengan sarapan pagiku. Dan segelas air putih, sebenarnya aku ingin minum susu tapi di lemari pendingin, aku hanya bisa menemukan susu basi yang kadaluarsanya mungkin sudah seminggu yang lalu. Aku terlalu malas hanya untuk berbelanja dan mengisi lemari pendinginku. Sarapanku ludes dalam lima menit, dan aku langsung berangkat dengan menggunakan motor maticku. Urusan cuci piring itu lain kali saja, aku malas melakukannya. Dan aku juga tidak kupa membawa Glock-17 ku dan sebuah pisau lipat di balik celana kulotku.
Di jalan, aku baru sadar bahwa pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk sekedar joging pagi di taman atau menyapa sesama di pinggir jalan, aku juga baru tahu pagi bisa semenyenangkan ini, semenyegarkan ini dan semenakjubkan ini. Rasanya aku kembaoi pada masa semuanya bakal baik-baik saja walaupun aku adalah pembunuh bayaran. Seumur hidupku, yang kutahu aku sudah tumbuh dengan jiwa pembunuh dalam nadiku. Bahkan mantan ayahku bilang aku lahir dengan membunuh seseorang, ibuku sendiri. Dan seperti yang dia kira, aku jadi pembunuh betulan.
Kuberhentikan motorku di lampu lalulintas yang menyala merah, lalu melihat ke segerombolan anak sekolahan yang saling meledek satu sama lain. Aku pernah merasakannya, bangun pagi hanya untuk bersekolah, pulang sore, mengerjakan pekerjaan rumah dan main bersama teman sebayaku. Tapi masa itu sudah lewat sejak lama, lama sekali. Bahkan aku tidak ingat lengkapnya. Atau aku memang tidak mau mengingatnya.
Aku membelokan stang motor ke kanan dimana perumahan orang elit berada dengan segedong rumah mereka yang luasnya ratusan hektar. Perumahan orang kaya tajir melintir yang tinggal mengacungkan jari jika ingin sesuatu. Aku lumayan terheran juga Manendra tinggal di sini, tapi tidak juga sih. Dia Direktur PT. Antereksa, pemilik MN's karaoke di seluruh Indonesia. Jadi mungkin membeli sebuah kecamatan pun dia mampu. Dikatakan daam keterangan alamat yang Manendra kirim bahwa rumahnya berada di ujung jalan, bercat putih dan bergaya vintage. Tapi aku tidak menebak rumahnya sangatlah luas dengan sebuah gazebo mahal di depan rumah dan taman penuh mawar merah yang merekah. Oh sial, ini lebih mirip mansion daripada rumah.
Motorku berhenti di depan gerbang utaman yang tertutup, dan seorang laki-laki berbadan besar, berkacamata hitam dan mengenakan suit berjalan ke arahku dari pos jaga.
"Anda mencari siapa nona?"
Aku berani bersumpah bahwa suaranya mirip Dwayne Johnson, bahkan postur tubuhnya mirip. Dia cocok sekali jadi pemeran pengganti dari pemain film Rampagne itu.
"Saya mencari Pak Manendra Nawasena. Apa benar ini rumahnya?" tanyaku memastikan.
Alis si Dwayne kawe itu terangkat tinggi, kemudian dia mengambil sebuah walkie talkie di saku kanan jasnya. Menekan gelombang kesekian hingga bunyi kresek-kresek terdengar.
"Ada seseorang mencari bapak." kata si Dwayne kawe ke arah walkie talkie. Dan tak lama balasan terdengar, tapi karena jarakku dengan walkie talkie jauh jadi aku hanya menangkap sekilas jawaban seseorang di ujung sana yang mungkin adalah Manendra.
"Elaksi, Elaksi Gayatri."
Si kawe menyebut namaku pada walkie talkie dan setelahnya dia mematikan alat komunikasi itu.
"Silahkan nona, masuk ke dalam. Anda bisa langsung menemui Tuan Nawasena." kata si Dwayne dengan memencet sebuah tombol di samping pagar utama dan secara otomatis pagar itu terbuka.
"Baik. Terimakasih." ucapku padanya.
Aku membawa motor maticku ikut ke dalam, tapi karena bingung mau parkis dimana, jadi kuparkirkan motorku agak dekat dengan teras mansion yang besarnya hampir seperti kamarku. Aku langsung berjalan menuju pintu besar bercat putih dan mulai mengatur nafas. Anggap saja ini liburan, anggap saja ini upaya menghindari polisi yang masih menangani kasus menteri itu. Kuhela nafasku pelan lalu dengan cepat kupencet bel rumah yang bunyinya agak menyeramkan menurutku.
Tak lama pintu besar itu terbuka, tapi bukannya menemukan Manendra aku malah menemukan laki-laki paruh baya yang ceking dengan suit yang kedodoran di badannya.
"Selamat pagi, nona Elaksi. Saya, Herman. Saya akan mengantarkan anda pada Tuan Nawasena."
Aku cuma tersenyum kecil, jenis senyuman canggung dan mengikuti Herman masuk ke mansion. Sebenarnya aku ingin melongo saat pertama masuk ke dalam tapi aku tidak mau dikatai norak. Jadi aku diam saja sembari menahan tanganiu agar tidak membawa satu dari selian banyak pajangan yang menarik di mataku. Sungguh, aku sudah pergi ke banyak tempat untuk melakukan pekerjaan kotor. Dari mulai rumah pedagang buah kaya raya, pejabat pengkorupsi, dan miliyader migas yang curang dan banyak lagi tapi tidak pernah menemukan yang sebagus dan seluar biasa ini. Aku tidak tahu Manendra Nawasena sekaya ini. Luar biasa.
Aku dibawa naik menuju lantai dua, dan di lantai dua aku juga kembali terpesona dengan dinding yang dipasangi berbagai macam lukisan aneka aliran. Mulai dari surealis hingga romantisme. Herman berbelok ke kanan dan aku mengikutinya, dan dia berhenti di sebuah pintu besar berwarna hitam dengan handle berwarna emas. Dia membuka pintu besar itu dan mendorongnya kuat, aku hampir memekik jika Herman tidak akan kuat mendorong pintu besar itu. Tapi nyatanya dia bisa.
"Silahkan masuk, nona. Tuan Nawasena sudah menunggu di dalam."
Herman mempersilahkan aku masuk, tapi dia tetap berdiri di ambang pintu. Sepertinya dia tidak mau mengantarku sampai pada Manendra.
"Baiklah."
Aku melangkah masuk, melihat kesekeliling ruangan kerja. Kuyakin ini ruangan kerja dengan buku-buku di rak dan bau apak di udara. Atau mungkin ini perpustakaan karena bukunya banyak sekali. Aku terlonjak kaget saat suara pintu di belakangku tertutup keras. Kuhela nafasku pelan, hampir saja aku akan merogoh revolver milikku.
Ruangan ini besar, kelewat besar hingga aku harus berpikir dimana Manendra berada. Jadi aku cuma berjalan lurus dan menemukan sebuah sofa melingkar dan sebuah meja kerja lengkap dengan kursi malas serta komputer. Dan jangan lupakan seseorang yang duduk di kursi malas dengan memegang map coklat.
Manendra langsung mendongak ke arahku ketika aku berjarak tujuh meter darinya, dia membenarkan kacamata bacanya yang melorot kemudian tersenyum senang.
"Selamat pagi, Elaksi." sapanya ceria.
"Pagi."
"Silahkan duduk, apa kau sudah sarapan?"
Aku duduk di sofa melingkar itu dan menata sikapku, dia ikut bergabung duduk di sofa seberang dan melepas kacamata bacanya. Padahal kurasa dia lebih cocok dan tampan dengan kacamatanya itu.
"Saya sudah sarapan." jawabku dengan formal.
Dia menurunkan kedua sudut bibirnya ke bawah. Seolah kecewa dengan fakta aku sudah sarapan.
"Sayang sekali, padahal aku kira kau bisa sarapan di sini."
"Saya sudah sarapan, Pak. Terimakasih atas tawarannya."
Ya, itu semacam tawaran terselubung bukan, jadi aku harus bersikap seperti itu.
"Ya sudahlah. Tapi kuharap kau tidak menolak teh madu setelah sarapan."
Dan entah darimana datangnya, Herman datang dari arah belakangku dengan membawa nampan berisi dua cangkir yang mengepul dan sepiring biscuit berbau jahe. Pelayan itu meletakkan semuanya di meja, dan berbalik pergi setelah menunduk sebentar pada sang tuan, Manendra.
"Minum, Ela."
Aku mengambil cangkir bagianku dan Manendra mengambil cangkir bagiannya. Aroma teh dan madu menguar dari vangkir itu, membuat ototku tiba-tiba melemas dan relaks. Oh sudah sangat lama semenjak aku minum ini. Kuminum teh hangat itu dengan pelan, lalu meletakkan kembali ke meja dengan suara seminim mungkin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Manendra.
"Ini enak, terimakasih." jawabku sambil tersenyum kecil.
Manendra malah tersenyum lebar dan menyeruput tehnya dengan anggun. Dia meletakkan cangkirnya ke meja setelah minum, kemudian bersedekap dan memandangku lekat.
"Mulai hari ini kau bekerja di rumah ini, Ela."
"Hari ini? Apa anda sungguh-sungguh dengan itu?" tanyaku kaget.
Aku mulai kerja hari ini? Heck! Aku bahkan belum membaca 'Bagaimana menjadi pembantu yang baik' di toko buku. Atau minimal mencari tata cara menjadi pembantu yang baik di internet.
"Ya. Dan aku punya kontrak perjanjian selama kau bekerja di sini."
Dia mengeluarkan selembar kertas dari bawah meja, sepertinya dia sudah menyiapkannya di sana. Dan dia menyodorkannya padaku. Kuterima selembar kertas itu dengan penasaran lalu mulai tertarik dengan judulnya yang diketik dengan hurup kapital, di bold dan di underline sekaligus.
KONTRAK KERJA.
Begitu judulnya.
"Kau bisa membacanya terlebih dahulu, Elaksi."
Aku menuruti perintahnya, membaca surat kontrak yang mengatakan dia adalah pihak pertama dan aku pihak kedua dimana pihak kedua akan bekerja sebagai asisten rumah tangga pihak pertama dengan peraturan bla bla bla. Dan tunggu! Apa ini? Tinggal di sini?
"Pak, apa maksudnya dari peraturan nomor enam? Saya harus tinggal di sini?"
Dia mengangkat alisnya tinggi sebelah, lalu mengangguk.
"Ya. Sebagai asisten rumah tangga, kau harus berada di sini setiap hari, Elaksi. Apa kau keberatan?" tanyanya.
"Saya cukup keberatan. Mungkin saya akan pulang ke rumah saja." ucapku menolak peraturan nomor enam itu.
"Coba baca peraturan terakhir, Ela. Kau akan mengerti."
Aku langsung menunduk memandang selembar surat perjanjian itu dan mencari peraturan terakhir. Apa ini? Dilarang membantah setiap ucapan pemilik rumah? Yang dalam artian aku harus menuruti segala kemauan Manendra?
"Tapi, Pak. Saya tidak bisa tinggal di sini mulai hari ini." bantahku.
Bisa saja aku menginap tapi tidak hari ini, aku tidak membawa baju-baju ku dan aku hanya membawa satu revolver dengan enam butir peluru dan sebuah pisau lipat. Oh aku tidak bisa hidup tanpa senjataku.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Manendra dingin.
"Saya tidak membawa pakaian saya." jawabku asal ceplos.
Manendra terkekeh kecil, lalu mengangkat satu kakinya ke kakinya yang lain. Aku suka caranya terkekeh, terdengar lembut dan menenangkan.
"Tenang saja, Elaksi. Aku sudah menyediakan itu, kau hanya perlu tinggal."
Apa? Dia sudah menyediakan bajuku begitu?
"Anda sudah menyediakan baju untuk saya?" tanyaku memastikan.
Dia mengangguk, menyaut kembali cangkir teh madunya dan meminumnya pelan.
"Benar, kau hanya perku tinggal mulai hari ini. Tanda tangan kontrak nya dan kau bisa mulai bekerja."
"Saya rasa itu tidak perlu, Pak. Saya akan pulang saja." tolakku lagi.
"Tidak. Kau akan tinggal di sini." nada Manendra berubah dalam dan mengancam.
Matanya juga nyalang menatapku, dia mencengkram cangkir di tangannya. Dan auranya, seperti yang pernah kubilang. Dia ber aura seperti voldemort dan joker saat ini.
"Baiklah." ucapku mengalah. Toh tidak ada salahnya tinggal di sini selama sebulan.
Menikmati tinggal di istana impian selama sebulan itu tidak terlalu buruk. Nikmati liburanku.
Aku kembali pada surat kontrak kerjaku lalu menemukan bahwa aku hanya akan memasak untuk tuan rumah yaitu Manendra. Oke, aku bisa memasak. Hidup sendiri membuat aku harus bisa memasak karena paksaan. Tapi akhir-akhir ini memang aku jarang memasak, karena aku malas mengisi lemari pendingin dengan bahan makanan.
"Apa tugas saya hanya memasak?"
Manendra yang tengah meletakkan cangkir ke meja mendongak kemudian mengangguk.
"Ya. Ada pelayan lain untuk membersihkan rumah, jadi tugasmu hanya memasak. Apa kau bisa?"
Ha! Jangan remehkan Elaksi Gayatri Hemaprhaba. Aku bisa melakukan segalanya. Bahkan menggaruk punggung gatal pun sendiri.
"Saya bisa."
"Baiklah. Kau bisa tanda tangani surat kontraknya, ini pulpennya." katanya dengan menyodorkan sebuah pulpen hitam dengan corak emas di ujungnya.
Aku menandatangani surat kerja itu lalu mendadak perasaanku tidak enak. Apa ada hantu di sini?