
7.
Mataku terpaku pada layar televisi yang menyala di jam tujuh tiga puluh, aku tersenyum kecil saat semua channel nya menayangkan berita yang sama. Kematian tragis si menteri keuangan. Beberapa dari media juga melebih-lebihkan tentang pembunuhan yang sadis itu. Padahal aku hanya memakai pulpen yang tidak seberapa besar, kurasa itu tidak terlalu sadis ketimbang aku membunuh korban korbanku yang lain. Aku menekan tombol remot dan menemukan berita yang sama, karena muak aku menekan tombol off dan meraih ponsel yang tergeletak di sampingku.
Dari semalam aku memang sengaja mematikan ponsel, untuk jaga jaga saja. Detik kedua setelah ponselku resmi menyala, dering nada panggilan masuk terdengar keras. Aku mengernyit dan memandang id caller Pion terpampang di sana. Dengan malas aku menekan accept dan menempelkan benda itu ke telinga kananku.
"Ya, hallo."
"Apa kau sudah melihat berita pagi ini, Ela?" tanya Pion tergesa seperti baru saja lari maraton satu kilometer tanpa henti.
"Berita? Berita apa?" tanyaku dengan nada bingung yang dibuat-buat. Aku pembohong ulung.
"Kau harus datang ke MN's sekarang." perintahnya dari seberang sana.
"Sekarang? Bukankah jam kerja masih lama?"
"Datang saja, kau akan mengerti nanti."
Lalu bunyi tut sekali terdengar, Pion mematikan sambungan teleponnya. Aku mendengkus, lalu beranjak dari sofa menuju kamar. Mandi, dan pergi MN's.
∆∆∆
Setibanya aku di sana, aku bahkan tidak bisa melihat loby MN's karena ramainya orang yang rata-rata membawa kamera dan alat rekam. Wartawan, aku benci mereka. Sangat menggangu. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, lalu berdecak saat seseorang menyenggol bahuku tanpa sengaja. Dengan langkah pelan aku menyibak kerumunan itu menuju pintu samping MN's yang tak jauh dari loby. Dan saat aku berhasil tiba di sana, rasanya paru-paru ku terbakar karena rasa pengap dan sesak. Kuatur nafasku yang memburu agar normal kembali, aku menegok ke arah Emi dan temannya ah aku lupa siapa namanya, tengah berdiri gugup di depan loker. Juga beberapa pegawai yang berdiri tak teratur di ruang istirahat ini.
"Kenapa di sini ramai sekali?" tanyaku pada mereka.
Emi dan temannya itu langsung menoleh ke arahku, dan melotot bersamaan hingga aku mundur selangkah merasa aneh dengan mereka.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi?" tanya Emi seolah sangat frustasi aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku tahu cuma aku pura-pura tidak tahu.
"Tidak. Memang ada apa?" kataku dengan endikan bahu.
Sebelum Emi menjawab pertanyaanku, pintu yang menghubungkan antara loker samping dan koridor menuju ruang depan terbuka. Manendra Nawasena berdiri di sana dengan penampilan yang awut-awutan seperti habis ikut tawuran bersama anak SD.
"Semua pegawai ikut saya."
Ucapan mengintimidasi itu sontak membuat semua karyawan berdiri tegak dan mengikuti si pemilik karaoke itu menuju ke sebuah ruangan yang aku tahu sebagai ruangannya. Dia duduk di sofa mahal dengan tangan memijat pelipisnya keras, dan aku juga bisa melihat dua orang laki-laki berseragam polisi duduk tak jauh dari Manendra, dan seorang laki-laki tampan yang pakaian mirip gelandangan.
Total sepuluh karyawan masuk ke dalam ruangan owner itu, berdiri berbaris dengan gugup dan keringat menetes deras. Kecuali aku, tapi aku ikut menunduk dan tak berani menatap mata siapapun.
"Jadi, kalian di sini akan melalui tahap interogasi. Kalian harus memberikan kesaksian kalian terhadap kasus ini." si laki-laki berseragam polisi dengan brewok berkata tegas seolah dia masih dalam lingkungan militer. Dagunya yang terangkat tinggi membuatku harus menahan putaran bola mataku.
"Satu persatu, bagaimana kalau dimulai dari Elaksi Gayatri? Yang lain bisa menunggu di luar."
Oke aku yang pertama. Semua pegawai kecuali aku keluar dari ruangan, menyisakan aku, Manendra, si laki-laki gelandang, dan dua polisi. Aku menunduk dan memilin jari-jariku.
"Anda bisa duduk di sana, nona." kata si polisi brewok menunjuk kursi yang berada di depannya.
Aku langsung duduk di sana dengan hati-hati, tapi dengan pandangan yang masih menunduk.
"Jadi, kau Elaksi?"
Oh sudah mulai ya.
"Benar, saya Elaksi." jawabku singkat. Aku menatap mata si polisi lekat tanpa mau berpaling. Lalu menunduk lagi, kali ini memandang meja yang menjadi pemisah antara aku dengan si polisi.
"Kau tahu apa yang tengah terjadi?"
Aku menggeleng, lalu mulai bercerita
"Saya tidak tahu, saya di telfon teman untuk kemari segera. Katanya ada sesuatu yang terjadi. Jadi saya segera ke sini, dan jujur saya bingung kenapa saya di interogasi." ucapku tanpa jeda dan gugup sama sekali.
Si polisi menatapku lekat, kemudian mulai menulis sesuatu di buku kecilnya.
"Menteri keuangan, Bambang Antereja di bunuh kemarin malam."
Aku melotot dan terkaget, pura-pura. Lalu berkata, "Bagaimana bisa?"
"Saya tengah menyelidikinya, nona. Maka dari itu saya harus mendengarkan penjelasan anda. Dimana anda saat pembunuhan itu terjadi?"
Polisi ber name tag, Tyo K itu bersedekap dan menatapku dengan mata memicing.
"Kemarin saya ijin karena merasa tidak enak badan, jadi saya tidak berada di MN's kemarin."
"Anda sakit? Sakit apa?"
Aku heran kenapa polisi bisa jadi sangat menyebalkan jika seperti ini, dia sudah mirip dengan wartawan banyak tanya ketimbang polisi.
"Saya merasa pusing pagi kemarin, jadi saya menelfon teman saya dan mengatakan bahwa saya ijin."
"Anda tidak ke dokter?"
"Tidak. Saya tidak terlalu suka pergi ke dokter, sepupu saya yang merawat saya kemarin."
"Dari seseorang, saya mendengar bahwa anda pernah bertanya-tanya tentang Bambang Antereja." kata si polisi dengan tatapan sama tajamnya dengan awal pertanyaan dimulai.
Pion, aku mendengkus dalam hati. Dia pasti sudah di interogasi dan mengatakan hal itu pada polisi.
"Itu karena saya pernah beberapa kali melihat Pak Bambang ada di ruang karaoke, saya penasaran dengan gosip yang berhembus di masyarakat tentang dia. Jadi saya menanyakan itu." jawabku tanpa cela sedikitpun.
Tiga orang lainnya yang menonton acara interogasi ini cuma terdiam sambil mengamatiku.
"Kau cuma pegawai freelance?"
see, dia cocok jadi wartawan.
"Benar."
"Kenapa memilih menjadi pegawai freelance?"
"Sebenarnya saya kurang suka bekerja di sini, itu karena karaoke indentik dengan pemandu lagu. Tapi saya butuh uang segera untuk membayar tunggakan apartemen peninggalan kakak saya. Jadi dari situlah saya memilih menjadi pegawai dua mingguan di sini." jelasku mengarang tentang apartemen peninggalan kakakku.
Padahal aku tidak punya kakak sama sekali, keluarga pun tidak ada. Tapi aku jaga-jaga jika polisi mencurigai apatemenku yang cukup mahal itu, jadi kukatakan saja itu peninggalan kakak imajinasiku.
"Baiklah, nona. Anda boleh keluar."
Aku tersenyum kecil kemudian berdiri dari duduk. Dan tepat saat aku berbalik, aku tak sengaja melihat Manendra Nawasena yang tengah memandangku lekat dan dingin. Hampir menakutkan. Tapi kuabaikan dia dan keluar dari sana dengan berjalan santai.
Dan sepuluh menit aku berkeliling, aku menemukan dia tengah duduk di dapur sendirian dengan segelas air putih dengan es batu. Tatapan matanya lurus dan kosong memandang lantai ubin putih.
"Pion." panggilku.
Dia terlonjak dan sontak menatapku, seolah tersadar dia tersenyum dan memintaku untuk bergabung bersamanya duduk di sana. Aku menyeret sebuah kursi plastik dan menaruhnya di dekat Pion dengan perlahan, aku duduk di sana dengan tatapan tertuju pada bartender MN's yang sepertinya tengah syok.
"Kau sudah di interogasi?" tanya Pion membuka suaranya.
"Sudah. Jadi apa benar menteri itu di bunuh?" tanyaku dengan nada penasaran.
"Benar, dia ditemukan tewas dengan pulpen menancap di nadi lehernya."
Aku pura-pura terkaget dan bergidik. Menata ekspresiku agar senatural mungkin.
"Itu mengerikan!" seruku.
Pion tidak menanggapinya, dia malah meminum air putih dengan es miliknya dan mulai merenung kembali.
Sampai jam lima sore, aku masih berada di dapur dengan Pion tanpa adanya pembicaraan sama sekali. Dia mungkin terlihat syok atau bagaimana aku tidak tahu menahu. Dan beberapa kali ada pegawai yang datang ke dapur untuk mengambil minum, mereka menceritakan bahwa interogasi sudah selesai. Dan jenazah si menteri sudah di bawa ke rumah sakit untuk di visum. Jadi semua orang boleh pulang untuk menunggu informasi selanjutnya, sementara MN's akan ditutup sementara sampai kasusnya selesai.
"Kau dipanggil owner." kata salah satu pegawai yang aku tidak tahu namanya.
"Dimana dia?" tanyaku balik, aku tidak mau repot-repot mencari si owner jadi kutanyakan saja padanya.
"Dia bilang kau harus menemuinya di rooftop."
Aku berterima kasih padanya, lalu keluar dari dapur tanpa menoleh pada Pion, menuju rooftop MN's yang katanya merupakan tempat bagi para pegawai mencari angin sore.
Tangga di lantai dua membawaku naik ke lantai paling atas gedung, dan saat aku membuka pintu rooftop untuk yang pertama kalinya, angin langsung menyerbuku dari segala arah hingga rambutku berterbangan walaupun sudah diikat. Mataku memejam, menahan beberapa butir pasir yang terbang terbawa angin dan ingin masuk ke mataku tanpa ijin.
"Kau sudah datang, Ela."
Aku menoleh ke arah sumber suara, menemukan Manendra Nawasena dengan kemeja putih dan celana hitam mengkilapnya tengah berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Dia menatapku lekat dan tersenyum. Mau tak mau aku menyunggingkan senyum juga demi formalitas, lalu berjalan pelan ke arahnya.
"Ada apa bapak memanggil saya."
"Bisa temani aku sebentar, Ela."
Menemaninya? Kenapa harus aku? Kenapa bukan lainnya yang merupakan pegawai tetap di sini.
"Ini menyangkut masalah kerjamu, Ela. Ayo."
Manendra berjalan melewatiku, membari isyarat bahwa aku harus mengikutinya tanpa bantahan sama sekali. Dan aku hanya memutar bola mata menatap punggung lebar berbau musk dan rempah itu. Kami turun dari rooftop menuju basement. Aku tidak tahu mau di bawa kemana tapi Manendra membawaku naik mobil pajeronya yang luar biasa mewah.
Bukannya sombong, aku pun bisa membeli mobil seperti miliknya bahkan mungkin tiga atau dua sekaligus. Tapi untuk saat ini, kurasa motor matic butut saja cukup daripada mengundang pertanyaan darimana aku mendapatkan uang untuk membeli mobil mewah.
"Kita mau kemana, Pak?" tanyaku diantara suara dengungan mesin mobil yang menderu halus tanpa erangan berlebihan. Aku suka mobil ini.
"Ke suatu tempat." jawabnya singkat dengan pandangan masih tertuju ke jalanan.
Jujur, aku merasa sedikit waspada terhadap owner MN's ini. Entah kenapa aura yang dibawanya membingungkan, kadang dia memiliki aura ramah dan tenang tapi sekarang aku melihat aura yang berbeda, seperti melihat voldemort dan joker dalam satu tubuh. Kurang lebih auranya seperti itu, dingin, kelam dan mengintimidasi. Tapi sudah kubilang aku bukan orang yang mudah terintimidasi, jadi seberap besar di berusaha membuatku takut, itu tidak akan pernah terjadi.
Mobil pajero dengan plat b besar itu berhenti di sebuah cafe sepi yang menguarkan aroma kopi yang membumbung tinggi di udara bahkan ketika aku masih di parkiran mobil. Tapi anehnya, tidak ada satupun kendaraan di sana kecuali mobil yang kutumpangi yang dalam hal ini adalah mobil Manendra. Untuk ukuran kedai kopi di jam sore begini, bisa dipastikan akan banyak orang berkunjung. Tapi mungkin karena tempatnya yang agak lumayan jauh dari jalan besar, tempat ini sepi pengunjung.
Aku mengikuti Manendra turun dari mobil, dan setia mengintili nya masuk ke dalam cafe yang ternyata sangat bagus jika sudah masuk ke dalam. Desainnya yang bergaya American street membuat aku ingin berswafoto dan memajangnya di media sosial, tapi sayangnya aku tidak punya media sosial.
Manendra duduk di kursi yang menghadap ke jendela tembus pandang, dan sebagai anak buah aku hanya ikut duduk tanpa banyak bicara di depannya. Dia terlihat kaku dan dingin, membuat aku ingin mencelupkannya ke dalam larutan kopi agar membuatnya jadi lebih baik.
"Ingin memesan sesuatu, Ela?" tanya Manendra padaku seraya menyodorkan sebuah buku menu yang isinya hanya kopi dan kopi.
Dahiku mengernyit, aku bukan tipe orang yang harus selalu minum kopi setiap harinya. Aku hanya minum kopi jika diperlukan untuk begadang atau saat melakukan kerja di malam hari, tapi demi kesopanan aku memesan segelas capuccino latte. Sedangkan Manendra memesan segelas kopi toraja tanpa gula pada pelayan.
"Apa anda mau membicarakannya sekarang? Saya harus segera pulang." ucapku penuh permohonan padanya.
"Bagaimana kalau menunggu kopinya terlebih dahulu, Ela. Apa seseorang menunggumu di rumah?"
Aku tidak tahu apa maksudnya saat dia mengatakan kalimat terakhir dengan nada menuduh tidak suka dan matanya makin menajam.
"Tidak, hanya saja saya hanya ingin pulang setelah semuanya." jawabku tenang.
Dia tersenyum kecil dan menatapku lembut, seolah dia memenangkankanku bahwa semuanya baik-baik saja. Aku bahkan makin bingung sekarang dengan ekspresi dan nada suara Manendra. Aku memang bukan seorang psikolog yang bisa membaca isi pikiran seseorang dari hanya memandang raut muka atau gesture seseorang. Tapi Manendra benar-benar aneh bagiku saat ini, aku merasa was-was dengannya.
Tak lama seorang pelayan berwajah datar bagai papan kayu meletakkan pesanan kami masing-masing. Aku bahkan tidak tertarik untuk minum cappuccino latte di udara panas begini.
"Kau baru bekerja beberapa hari di MN's bukan?" tanya Manendra tiba-tiba.
Aku yang belum menyentuh kopiku mendongak ke arahnya, lalu mengangguk sambil mengatakan
"Benar, Pak."
"Tapi setelah peristiwa ini, MN's akan di tutup sementara mungkin sampai bulan depan. Sedangkan kontrakmu hanya dua minggu. Jelas aku tidak bisa memberikan gaji dua harimu, Ela." jelasnya santai dengan meminum kopinya tanpa masalah dengan suhunya yang masih panas.
Aku juga tidak menginginkan gaji dua hari itu, tapi aku sudah terlanjur mengatakan bahwa aku butuh uang untuk membayar sewa apartemen. Jadi mau tak mau aku harus mengatakan bahwa aku merasa tidak terima.
"Kenapa begitu, Pak? Dua hari saya bekerja, walaupun dua hari tapi saya bekerja dengan sungguh-sungguh." protesku.
"Aku tahu, jadi sebagai gantinya. Kau akan bekerja di rumahku. Kau bilang butuh uang secepatnya bukan?"
Apa? Bekerja dengannya? Yang benar saja, aku ini pembunuh bayaran. Bukan pembantu rumah tangga atau sejenisnya. Tapi aku butuh alasan kuat untuk menolak tawarannya itu, atau bisa-bisa dia curiga denganku.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi itu tidak perlu, Pak. Saya akan mencari pekerjaan lain saja." tolakku padanya.
Dia merubah raut mukanya cepat dari ramah menjadi merengut dan berbahaya. Matanya yang tajam memandangku lekat di manik mata.
"Aku memaksa, Elaksi. Anggap sebagai permintaan maaf. Tapi kau harus bekerja sebulan penuh denganku."
Aku terdiam, hendak menolak lagi tapi rasanya percuma saat mmtahu dia begitu kekeuh ingin membawaku bekerja di rumahnya.
"Saya akan membicarakan ini dengan sepupu saya dulu, Pak." ucapku final.
Membicarakan ini dengan Daniel adalah keputusan terbaik, aku kadang tidak bisa memutuskan jalan mana yang benar jika tengah dalam situasi terpojok. Jadi mungkin Niel bisa memberiku pertimbangan.
"Baiklah, hubungi aku segera. Kuharap kau bisa menerimanya, Ela."
Dia mengatakan 'kuharap' dengan jelas, tapi di telingaku kata 'hubungi aku segera' malah terdengar seperti perintah yang tidak boleh dibantah.