Hiraeth

Hiraeth
2.



Mie goreng plus lima cabai dengan segelas air putih menjadi menu pilihanku untuk makan siang di cuaca yang panas ini. Bahkan saking panasnya aku bisa merasakan keringat menetes dari sela-sela leherku dan mengalir masuk ke kaus pendek yang kupakai. Udara berpolusi juga menambah buruk cuaca siang ini, dan jangan lupakan macet yang mengular. Aku duduk di kursi panjang sebuah warung pinggir jalan dengan segelas air putih gratis dan mangkuk kosong bekas mie goreng yang kumakan tadi. Itu bayar, tenang saja.


Aku mengamati beberapa pejalan kaki yang lewat, beberapa anak sekolah dan beberapa anak alay, sisanya pedagang asongan. Merasa bosan karena sudah sejam di sini, aku berdiri lalu berjalan menuju si penjual mie yang tengah membuatkan pesanan pelanggan lain.


"Bu, ini uangnya." ucapku sembari menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan.


Si ibu-ibu penjual mie mendongak ke arahku, lalu menerima uang yang kusodorkan.


"Makasih neng."


Aku mengangguk, berjalan ke trotoar depan dan masuk ke dalam sebuah angkutan umum yang akan membawaku ke suatu tempat.


Setengah jam lamanya dengan penuh penderitaan karena penumpang di sampingku ribet dengan barang bawaannya, aku sampai di tempat yang kutuju. Sebuah daerah di belakang pasar rakyat yang selalu jadi tempat para preman berkumpul.


Jalanan ramai saat aku menyebrang melalui zebra cross dan tiba di sebuah gang penuh grafiti yang tulisannya tak senonoh. Beberapa anak yang memegang es teh di tangannya lewat di gang, salah satunya hampir menyerudukku jadi aku menyingkir. Berjalan di pinggir dengan santai. Gang itu bercabang di depan, aku berbelok ke kanan, berjalan santai melewati sekumpulan bapak-bapak bertato yang tengah main gaplek.


Dan setelah lima menit berjalan, aku tiba di sebuah rumah bobrok yang tercoret-coret berbagai grafiti. Termasuk salah satunya adalah coretanku juga.


Aku mengetuk pintu kayu yang rapuh itu. Tapi tak ada jawaban, aku mengetuknya sekali lagi. Lalu mendengkus saat tahu mungkin si pemilik rumah tengah tidur bersama mimpinya yang tak jauh dari Miyabi dan Mia Khalifa.


"Bono! Woy bukain pintu!" seruku kesal juga karena dia tak kunjung membukakan pintu untukku.


"Iya! Brisik!" saut suara serak dari dalam.


Suara gerendel yang dibuka terdengar, dan sepersekian detik berikutnya muka Bono yang kucel terlihat.


"Ngapain lo ke sini?" tanyanya Bono dengan menguap.


"Mau ambil amunisi. Awas gue mau masuk, bau iler ewh." ucapku dengan nada mengejek.


Bono Nandar Mutaqin adalah preman yang merangkap menjadi pengepul senjata ilegal, aku mendapat semua senjataku darinya. Termasuk beberapa racun dari suju asmat dan suku dayak yang mematikan.


Aku langsung menuju ruang tengah, membongkar lemari kayu milik Bono yang berisi ratusan pisau dan puluhan revolver penuh peluru. Kuambil dua revolver SIGP250 dan sebuah pisau lipat kecil.


"Mau kerja?" tanya Bono yang sekarang tengah tiduran di lantai ruang tengah.


Dia yang orang betawi asli memang, dan dia selalu berbicara dengan bahasa lo-gue, jadi mau tak mau aku harus mengimbanginya. Berbeda dengan Daniel yang selalu menggunakan aku-kamu walaupun dia orang Toraja.


"Iya."


Aku melihat beberapa celurit yang ujungnya berkilau, sebenarnya aku tertarik. Tapi membunuh menggunakan celurit itu tidak elit menurutku.


"Ada ngga sesuatu yang bikin lo ngakuin semuanya di bawah alam sadar? Macam hipnotis mungkin?" tanyaku dengan tangan mengubek-ubek tumpukan peluru dengan bubuk mesiu yang berbau aneh.


"Tinggal lo bungkus aja romi rafael ke selongsong peluru, tembakin ke target. Ntar terhipnotis deh."


Aku berbalik ke arahnya cepat, memberikan satu pukulan keras di bahunya hingga dia mengaduh.


"Yang bener!" tukasku kesal.


Aku butuh itu untuk kutembakan pada Bambang Antareja, mungkin dengan itu aku bisa membuatnya buka mulut tentang pembunuhan Ni Putu Anggraini. Kubalikkan lagi badanku menghadap ke arah puluhan jenis revolver, aku mengambil Glock-17 dan HS2000, mengangkutnya bersama SIGP250 dua buah yang kuambil tadi.


"Ngga ada, kalo bikin mabok ada kalo bikin terhipnotis ngga ada."


Lalu sebuah ide mampir di benakku secepat kilat. Benar juga! Aku bisa gunakan bahan yang mudah didapat dan murah saja. Mungkin campuran ludiomil dan serlof bisa membuat Bambang mengatakan kebenaran. Ya kan dia baru di duga membunuh Ni Putu Anggraini, bisa saja bukan dia pelakunya.


"Gue bawa empat nih, bayarnya besok sekaligus."


Kuanggkut keempat revolver berbagai macam jenis itu dengan kantung kresek yang ada di lemari. Menentengnya seperti menenteng sayur dan berdiri.


"Yoi, sana pergi. Gue mau tidur sebelum malak."


Aku mendengkus lalu keluar dari rumah Bono sebelum dia melemparku dengan sandal.


∆∆∆


Apartemenku yang nyaman aku kembali.


Aku menaruh kantung kresek berisi empat revolver ke sofa bulat di ruang tv yang merangkap jadi ruang tamu. Melepas sepatuku dengan sandal rumahan berbentuk iron man yang kubeli di pasar. Aku duduk di sofa, membuka bungkusan kresek dan mengeluarkan isinya. Tanganku menimbang Glock-17 yang kukeluarkan lebih dulu. Glock-17 adalah salah satu revolver andalanku dalam bekerja, mungkin karena aku terbiasa memakai ini. Kuletakkan revolver berwarna hitam itu ke meja. Lalu mengambil HS2000 yang tampilan luarnya dilapisi polimer, HS2000 adalah revolver semi otomatis, sama seperti Glock-17. Hanya saja yang lebih terkenal di kalangan penegak hukum ya si HS2000.


Kuletakkan HS2000 di sebelah Glock-17 di meja, lalu tanganku merogoh dua revolver sekaligus. Jenis SIGP250, aku lumayan suka jenis ini. Alasannya simple, karena revolver jenis ini menampung 17 peluru, dan aku tak perlu susah payah mengganti pelurunya tiap waktu. SIGP250 kusejajarkan bersama yang lain di meja, mengamati bagaimana empat benda itu begitu menarik di mataku.


Well, aku punya sebulan untuk membersihkan Bambang Antareja. Aku bangkit berdiri, pergi menuju kamar untuk mengambil alien ware yang kubeli dari seorang teman. Membuka laptop gaming itu dan membuka email yang terdaftar dengan nama bloodyElaksi@gmail.com.


Ada beberapa email dari teman, dan sebuah email dari Daniel. Langsung saja kubuka email dari Daniel, membaca beberapa lembar file dalam bentuk pdf itu.


Sebagai menteri keuangan yang penuh sensasi, Bambang Antareja suka menjelajahi tempat-tempat daun muda seperti club dan karaoke. Tapi yang menjadi langganannya adalah sebuah karaoke bernama MN's karaoke. Sebuah tempat karaoke yang cabangnya menjamur dimana-mana. Dan seperti karaoke kebanyakan, ada banyak pemandu lagu di sana. Dan Ni Putu pernah diindikasikan sebagai salah satu pemandu lagu di tempat karaoke itu. Aku mendengkus, pantas saja. Si model yang mungkin sepi job dan menteri gila perempuan yang banyak harta. Tidak mengherankan.


Aku meraih ponselku yang berada di saku celana, menekan fast dial untuk nomor Daniel. Disambungan ketiga, Niel menyapa 'ya' dengan nada sedatar papan triplek.


"Aku baru saja membaca berkas yang kau kirimkan, dan kurasa aku menemukan peluang. Bagaimana kalau aku menyusup di MN's karaoke?"


"Itu bagus, aku akan mendaftarkanmu sebagai pelayan di sana." jawab Niel.


"Mungkin akan sedikit sulit karena dia seorang menteri, aku berniat membuatnya buka mulut dulu masalah Ni Putu dan membunuhnya."


"Ya, kau juga tidak bisa langsung membunuhnya. Jelas itu sulit, pikirkan rencananya matang-matang, Ela. Mungkin kau bisa berperan jadi wanita simpanannya." saran Niel malah membuatku mengernyit jijik dan bergidik ngeri.


Aku? Jadi wanita simpanan si tua dengan perut buncit itu? Oh tidak. Walaupun itu akan jauh lebih mudah tapi aku tidak mau. Jelas tidak mau.


"Tidak. Kurasa aku akan memikirkan cara lain. Sampai jumpa, Niel."


Kumatikan sambungan telefon itu dan mengerang. Pandanganku tertuju pada berkas yang dikirim Niel, lalu terdiam saat membaca paragraf kedua di halaman ke empat.


Bambang Antareja sudah tidak tinggal bersama istrinya sejak enam bulan lalu, kedua anaknya juga ikut bersama ibunya. Yah, siapa juga yang mau tinggal dengan Bambang Antareja yang suka main perempuan. Dikatakan juga bahwa Bambang pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga pada istrinya, ow bukan hanya istri tapi kedua anaknya. Hebat sekali. Jadi? Apa rencananya?


Belum sempat aku berpikir, sebuah email datang dari Daniel lagi. Isinya tentang aku bisa mulai bekerja besok di MN's karaoke karena dia sudah mendaftarkanku secara ilegal. Kuhela nafasku kasar, tanganku mengacak rambutku yang sebahu. Membuat beberapa helainya tambah berantakan. Apa rencananya?


∆∆∆


Malam ini jadi malam yang sempurna untukku. Dengan duduk di meja judi dengan dua perempuan seksi yang salah satunya adalah sekertaris Pak Cokro. Tangan lentiknya bahkan berani membelai dadaku yang terbalut kemeja putih dan vest. Aku tersenyum saat lawan mainku mulai menunjukkan tanda-tanda menyerah.


Taruhan seratus juta kali ini semakin menarik dengan seorang perempuan muda yang juga ikut menjadi taruhan. Aku sendiri tidak mengincar uangnya. Sudah pasti si perempuan muda itu. Ah akan sangat luar biasa jika aku menghabiskan malam panas dengannya. Menghabiskan setiap malam di MN's karaoke menjadi rutinitasku setiap harinya. Karena aku butuh lebih sekedar dari hiburan. Dan di sinilah aku, di tempat karaoke milikku sendiri yang merangkap sebagai tempat kasino mewah. Sudah sejak lima tahun lalu aku membangun bisnis karaoke yang sekarang sudah menjamur dimana-mana. Sebenarnya lebih ke hobiku yang suka berkumpul dengan perempuan-perempuan cantik, lalu membangun karaoke dan menjadi sebesar ini.


MN's karaoke sendiri diambil dari inisial namaku, Manendra Nawasena. Aku cukup puas dengan sini semua.


Aku tergelak senang saat lawanku yang kali ini merupakan seorang pejabat daerah kalah diakhir. Kartuku selalu baik, dan itu bagus. Kukedipkan mataku pada si perempuan taruhan hingga dia tersipu, lalu menyeringai saat tahu dia jenis perempuan yang mudah di goda.


"Anda hebat, Pak Nendra." puji lawan mainku dalam judi kali ini.


Aku hanya tersenyum pada pujian yang mengandung seribu arti itu, kadang apa yang dikatakan tidak sesuai dengan hati.


"Terimakasih, Pak Angga. Ini bukan hal besar." ucapku sembari menyombongkan diri.


Dia tersenyum kaku lalu berdiri.


"Saya permisi dulu." pamit Angga Raharja padaku.


Tanpa lama-lama aku memberi isyarat pada perempuan yang dijadikan taruhan agar mendekat padaku. Aku menepuk-nepuk pahaku, memberi perintah agar dia duduk di sana. Si perempuan seksi itu malu-malu berjalan menuju ke arahku. Dan dengan canggung duduk di pahaku. Aku mengelus paha mulusnya pelan lalu tersenyum menggoda ke arahnya.


Mukanya bersemu merah dan wajahnya malu-malu.


"Siapa namamu manis?" tanyaku dengan tangan mengelus pahanya maju mundur.


"Sa-saya Bella." jawab perempuan taruhan bernama Bella itu dengan gugup.


Aku tersenyum kecil, tapi pandanganku tiba-tiba beralih pada seseorang di ujung ruang kasino. Seumur hidupku aku belum pernah bertemu dengan bidadari semacam itu, cantik dan menggoda. Perempuan dengan kemeja putih dan rok span hitam berjalan anggun dengan rambut dicepol asal serta tangannya memegang nampan berisi minuman. Tunggu, dia pelayan? Seringai muncul di sudut bibirku, aku mau dia.


Pada dasarnya sikap manusia adalah serakah, jika kau menemukan sesuatu yang bagus di antara tumpukan barang bekas pasti kau akan mencari yang lain, yang mungkin lebih bagus dari yang sebelumnya. Dan aku mau dia, lupakan perempuan taruhan.


I want her!