
3.
Seperti yang sudah di rencanakan, aku didaftarkan sebagai pelayan di MN's karaoke. Kukira MN's karaoke ini hanya sebuah karaoke seperti pada umumnya, tapi saat aku masuk, aku malah dikejutkan dengan meja-meja judi dan sebuah bar penuh alkohol. Dan sebagai pelayan junior yang polos (pura-pura), aku dari tadi mengantarkan berbagai macam pesanan pelanggan. Sedangkan si senior-senior hanya duduk dan menyeduh tequila mereka. Songong, kubolongi juga kepala mereka. Cih.
Segelas margarita dan es limun kubawa dengan sebuah nampan kayu mengkilat berpelitur. Kakiku berjalan pelan menuju meja pesanan, sedangkan pandanganku mengedar. Mencari sosok Bambang Antareja yang tubuhnya sudah seperti gajah. Tambun dan berlemak. Aku heran kenapa si model Ni Putu itu mau saja jadi selingkuhan menteri jelek macam Bambang. Ya, mungkin uangnya. Kadang uang memang bisa membutakan segalanya, termasuk akal sehat dan harga diri seseorang.
Aku tersenyum sopan pada dua muda mudi yang kutaksir umurnya dua puluhan duduk di sofa tempat karaoke sembilan. Sebenarnya aku cukup kaget saat masuk dan menemukan mereka tengah berangkulan dan bahkan dengan jarak muka yang dekat.
"Silahkan." ucapku sebagai pelayan yang baik.
Mereka tersenyum, kemudian kembali pada layar panel karaoke yang menampilkan lagu melayu yang mendayu. Aku keluar dengan tergesa, menutup pintu karaoke sembilan dengan kencang. Di jalan aku berpapasan dengan beberapa pemandu lagu yang pakaiannya sudah mirip dengan populasi badak di Indonesia, minim. Ditambah dandanan super glowing dan wah di muka mereka. Bisa kutebak, para pemandu lagu itu butuh sekiranya sehari hanya untuk memoles muka.
Kakiku berjalan cepat, lalu berhenti mendadak di sebuah ruangan VVIP yang terdapat jendela kecil, kebetulan gordennya tidak ditutup jadi aku bisa melihat Bambang Antareja di dalam sana dengan beberapa perempuan pemandu lagu yang menggelayuti lengannya. Kulirik berapa nomor ruangannya. Enam.
Bambang Antareja adalah pejabat, dan biasanya pejabat banyak uang tidak akan memesan tempat sembarangan. Dia pasti selalu memesan tempat yang sama, seperti langganan. Jadi dia pasti selalu datang ke ruang VVIP enam itu.
Merasa sudah cukup aku berjalan kembali, menuju bar dimana puluhan minuman lainnya menunggu diantarkan. Sialan, kenapa Daniel tidak bilang bahwa bekerja sebagai pelayan akan semelelahkan ini.
"Antarkan ini ke ruang karaoke tiga." ucap Pion si bartender MN's karaoke yang katanya sudah bekerja tiga tahun di sini.
"Bisakah aku beristirahat sebentar, aku bahkan belum duduk dari dua jam yang lalu." gerutuku kesal padanya.
Aku menghempaskan diri di kursi yang berada di dekat lemari alkohol. Menghela nafas keras sambil memegangi nampan.
"Baiklah. Ema akan menggantikanmu." ucap Pion.
Ema yang merupakan salah satu pelayan senior di sini mendelik ke arah Pion. Dia yang tengah leha-leha di dekatku langsung menggeram bagai macan, merasa tidak terima jika dia di suruh.
"Dia kan junior, harusnya dia dong." seru Ema sambil menunjuk mukaku.
"Dia lelah, Em. Kau juga tidak melakukan apapun dari tadi." bela Pion.
Aku bersyukur ada yang mau membelaku sebelum aku mengambil garpu dan mencolok mata Ema yang dandanannya melebihi pemandu lagu.
Dengan kaki menghentak, Ema berdiri dan menyaut nampan di atas meja bertender. Lalu mengungsikan dua buah minuman yang di pesan ke atasnya. Aku bisa melihat punggungnya yang memakai kemeja putih transparan berbelok ke arah koridor kedua dengan gerutuan yang jelas.
"Kamu istirahat aja, Ela."
Aku langsung menghadap ke arah Pion, lalu mengangguk. Tapi tatapan mataku tertuju pada jari-jari nya yang cekatan menuang alkohol dari botol ke gelas dan mencampurnya dengan alkohol yang lain. Membuat rasa baru yang kurasa akan menyegarkan.
"Pi, aku baru saja lewat koridor VVIP." celetukku tiba-tiba, berusaha memancing agar dia berbicara.
"Kenapa memang?" tanyanya dengan perhatian masih tertuju pada gelas dan alkohol.
"Aku melihat menteri keuangan, aku yakin itu dia. Kenapa dia bisa ada di sana?"
Nada penasaran dan polos kugabungkan menjadi satu, membuat Pion menoleh ke arahku dengan kening berkerut.
"Kau melihatnya?"
Aku mengangguk, dan dia mendesah keras. Meletakkan botol-botol alkoholnya di meja.
"Anggap saja kau tak pernah melihatnya oke?"
Kini keningku yang berkerut. Pura-pura sih, aku tahu sebenarnya kenapa aku harus melakukannya. Jelas menjaga privasi si menteri. Sebagai seseorang yang kaya raya, dia pasti sudah memberikan sejumlah uang yang tak sedikit demi membungkam semua pelayan di sini dan juga si pemilik karaoke agar tidak menyebarkan berita tentang dirinya smyang selalu menyambangi tempat karaoke ditemani sekumpulan pemandu lagu plus plus.
"Kenapa?" tanyaku sudah seperti junior polos banyak tanya.
Pion menghela nafasnya pelan, lalu berdekap dan menumpukan tubuhnya ke meja.
"Kau akan mendapatkan masalah jika sampai berita ini tersebar, kita semua juga. Jadi sebisa mungkin jangan berurusan dengan para pejabat yang datang ke sini." jelas Pion padaku.
Dari penjelasannya, pasti tidak hanya Bambang Antareja yang datang ke sini tiap malamnya. Pasti ada pejabat yang lain, ck. Sungguh aib di negara penuh netizen nyinyir seperti saat ini, kuyakin mereka (para pejabat yang kemari) pasti belum pernah mengalami bullyan netizen maha benar, tapi prioritas ku sekarang bukan netizen. Aku hanya perlu membunuh Bambang dan kudapatkan bayaran yang setimpal, pergi ke luar negeri sebelum penjara menarikku masuk.
Sebenarnya kodrat perempuan memang tukang gosip, jadi aku tidak perlu kesusahan melakukan peran yang satu ini.
"Ya, dia memang sudah beristri. Tapi orang kaya memang tidak pernah puas akan segalanya, termasuk soal perempuan."
Pion kembali pada pekerjaannya dalam meramu alkohol, sedangkan aku cuma terduduk sambil mengatur nafas agar lebih baik jika di bawa berjalan.
Tak lama Ema kembali dengan nampan yang kosong dan muka tertekuk, aku yakin dia mengalami semacam kelainan emosional dan kelainan bernama gila posisi. Dia melotot ke arahku sambil menggeram, tangannya yang dipoles kutek berwarna merah mencolok membanting nampan kayu ke meja bar hingga berbunyi 'buk' kencang.
"Aku sudah mengantarkannya. Sekarang kau." ucap Ema dengan mata masih melotot.
Aku merengut, lalu menghela nafas. Demi pekerjaan apa sih yang tidak? Walaupun aku harus membunuh ratusan orang dan menjadi seorang pelayan akan kulakukan demi bayaran menggiurkan. Bukannya gila uang atau gila harta, aku hanya ingin hidup lebih baik.
"Itu tidak adil, Ema. Kau baru mengantarkannya sekali, sedangkan Ela dua jam tanpa henti." bela Pion lagi.
Aku menyunggingkan senyum kecil, merasa senang dibela dan menjadi seseorang yang lemah.
"Aku seniornya, aku harus mengajar bagaimana bekerja di sini!" ngotot si Ema.
"Tidak apa, biar aku yang mengantar." selaku diantara ketegangan mereka berdua.
"Tapi El__"
"Tak apa, Pion. Mana yang harus kuantarkan?" Aku menginterupsi perkataan Pion. Lalu berdiri dengan nampan yang masih di tangan.
"Ini. Cola dingin, antarkan pada pemilik MN's."
"Tunggu! Biar aku saja!" seru Ema tiba-tiba.
Aku berbalik ke arahnya, lalu mengerjap saat dia tiba-tiba semangat dan tersenyum lebar saat mendengar pesanan yang satu ini. Kenapa dengan si pemilik? Oke, aku tahu siapa pemiliknya. Manendra Nawasena namanya, pemilik karaoke MN's dan juga merangkap sebagai direktur di PT. Antareksa. Masih muda, good looking, digilai banyak perempuan dan yang paling penting adalah playboy. Sering gonta-ganti perempuan, itu berarti dia sudah mencemari lingkungan dengan terlalu sering memakai **. Bagaimana aku tahu itu semua? Tentu saja dari Daniel, aku butuh banyak informasi untuk membekali diriku di sini.
"Bukankah kau menyuruh Ela tadi?" tanya Pion bingung.
Ema menyengir canggung, dengan gesture malu-malu dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Biar aku saja, dia kan lelah. Bukan begitu junior Ela?"
Disuguhi senyuman manis dari Ema yang mirip nenek sihir itu, aku bergidik. Lalu mengangguk pelan, merasa bodo amat dengan apa yang dia mau lakukan.
"Ema! Kau dipanggil manager." seru seseorang dari arah kananku.
Aku langsung menoleh, Sekar dengan rok spannya yang kelewat pendek berlari kecil kesusahan. Dia tiba di depan Ema dengan nafas memburu dan keringat sebesar biji kacang turun melewati dahinya padahal ruangan ini ber AC.
"Aku? Kenapa?" tanya Ema heran.
Mungkin dia sudah menduga bahwa dirinya adalah karyawan teladan penuh prestasi sehingga tidak perlu dipanggil ke ruangan manager, tapi mungkin dia lebih terlihat seperti senior memuakkan yang penuh gaya selangit.
"Entahlah, ayo cepat ke sana."
Sekar menarik tangan Ema kencang, dan dalam beberapa detik keduanya menghilang di koridor menuju lantai dua dimana para staf berada.
"Ela, sebaiknya kau antarkan saja cola nya pada Pak Nendra. Dia tidak suka menunggu lama." kata Pion membuyarkan lamunanku masalah Ema dan Sekar yang jika berjejer sudah mirip pemandu lagu yang menor.
"Aku?" tanyaku masih linglung.
Pion mengangguk, dan mau tak mau aku mengangkut cola itu ke nampan. Kemudian berjalan menuju ruangan judi yang jaraknya lumayan dekat dengan bar.
Ketukan heels lima centiku menggema di lantai marmer putih yang memantulkan cahaya lampu, suara lagu berbagai genre sayup-sayup terdengar dari setiap ruangan karaoke yang kulewati.
Aku hanya perlu melewati satu koridor ruang karaoke untuk sampai di ruang judi yang luas dan bising. Kuedarkan pandanganku lalu menemukan Manendra Nawasena yang wajahnya pernah kulihat dalam berkas kiriman Daniel, dia tampan tapi sikap playernya itu membuat aku prihatin. Dan entah hanya perasaanku atau bukan, bahwa Manendra terus menatapku semenjak aku berdiri di pintu ruang judi. Matanya yang tajam mengawasiku dan terlihat lapar. Mungkin menjadikannya sebagai dendeng bisa membuatnya mengalihkan pandangan amoralnya itu padaku.