
5.
Glock-17 adalah salah satu revolver semi otomatis yang menjadi favoritku dalam menembak, entah menembak kepala orang, dada orang lain atau membolongi mata seseorang. Jadi alasan itulah yang membuatku membawanya kemanapun, dengan menyelipkannya di paha dan mengikatnya di sana. Seperti hari sebelumnya, aku pulang malam hari tapi tidak langsung menuju apartemen. Aku mampir ke markas Daniel untuk berdiskusi dengannya tentang Bambang Antareja.
Dan sekitar jam satu kurang aku sudah parkir di depan tempat pembuangan sampah dengan hidung mengerut karena bau busuk yang menguar. Kakiku yang mengenakan heels lima centi melangkah terjingkat-jingkat di antara tumpukan sampah yang baunya menjijikkan. Kuketuk keras pintu markas Daniel saat aku sudah sampai di bangunan bekas pengolahan sampah itu, tak lama Daniel membukakan pintu dengan wajah mengantuk dan kantung mata yang menggelayut.
"Masuk." kata Daniel singkat.
Aku langsung masuk dan mengikutinya, sedikit terkejut saat tahu markas ini sudah lebih layak dari yang sebelumnya. Sampah makanan sudah di bersihkan, dan sofa bobrok yang ada di sebelah komputer juga lumayan rapih dengan dilapisi kain berbau pengharum pakaian. Jika di luar bau sampah, maka di dalam sini lebih mirip bau jeruk yang menggoda.
Sebagai teman sehidup semati Daniel, aku jelas tahu tentang dirinya yang malas dan mengurus tempat tinggal. Ya mau bagaimana lagi, mengurus dirinya sendiri saja malas apalagi mengurus tempat tinggal. Bahkan kurasa, dia baru akan membersihkan markasnya ini setahun sekali. Padahal hampir tiap minggu aku menyuruhnya agar membersihkan tempat ini agar lebih layak. Dan aku cukup terkejut dia membersihkannya.
"Kau membersihkan semuanya?" tanyaku lebih dengan nada tak percaya.
"Ya. Kurasa aku sudah sekian lama semenjak aku membersihkan markas." jawab Niel malas di kursi kerjanya.
Aku duduk di sofa dengan tenang tanpa takut kecoa atau tikus melintas lagi, dan kusenderkan punggungku ke senderan sofa bobrok dan mengaduh saat senderannya ternyata sekeras batu. Sialan.
"Kenapa kau kesini?"
"Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk membunuh Bambang Antareja?" tanyaku sama to the point nya dengan dia.
Daniel termenung sejenak, mungkin ikut memikirkan masalah waktu yang tepat eksekusi Bambang Antareja.
"Besok."
"Bukankah itu akan sulit? Jika aku membunuhnya besok, masih ada sisa sepukuh hari lagi kontrakku sebagai pelayan di MN's. Mereka bisa mencurigaiku." jelasku padanya.
Dia terdiam lagi, kali ini dengan kening yang berkerut semakin dalam.
"Kupikir besok adalah waktu yang cukup tepat, kita tidak perlu menundanya terlalu lama, Ela."
"Tapi bagaimana dengan resiko aku yang ketahuan?" itu memang pertanyaan tapi aku mengatakannya sambil berteriak kecil.
"Kau cukup menghabiskan waktu dua minggu itu, dan jika kau lolos tanpa dicurigai, itu menjadi bonus tersendiri." kata Niel tenang.
Kemungkinan dicurigai jelas besar, dan peluang lolosnya sedikit. Aku tidak mau mengambil resiko menjadi tahanan negara yang hanya makan nasi dan tempe di sela-sela hukuman jeruji. Tapi ini sulit, terutama karena aku akan menghabisi Bambang Antareja di tempat umum.
"Apa rencanamu, Ela?" tanya Niel.
Aku yang semula menunduk langsung mendongak ke arahnya.
"Aku akan membuatnya mengakui kejahatannya dulu, kemudian baru membunuhnya. Sebenarnya aku ingin menggunakan alibi sempurna, aku akan ijin sehari dengan alasan sakit kemudian aku akan ke tempat karaoke dengan menyamar sebagai salah satu pemandu lagu, masuk ke ruangannya kemudian membunuhnya. Aku butuh bantuanmu untuk menghilangkan bukti di cctv." ungkapku padanya.
Bisa kulihat sudut bibir Daniel terangkat, seolah tertarik dengan rencanaku kali ini.
"Besok, Ela. Kita bergerak cepat."
Final. Besok adalah haru ekseskusi.
∆∆∆
Aku pulang dengan keadaan letih, dan kepala penuh berisi banyak hal. Termasuk penanggungan dosa yang semakin menggunung setiap harinya. Dengan lemas aku menekan dan mendorong pintu apartemenku, dan langsung menuju dapur. Jika kebanyakan orang yang memiliki senjata tajam akan menyimpannya di kamar mereka, maka beda denganku yang selalu menyimpannya di bufet dapur. Kenapa? Karena jika ada penggeledahan dalam rumah, maka ruangan pertama yang di geledah adalah kamar, itu karena kamar adalah ruangan private dimana seseorang selalu menyimpan barang berharga mereka di sana. Dan dapur pasti akan dilewatkan karena pemikiran orang selalu mengatakan bahwa dapur hanya berisi makanan dan perabotan.
Kubuka bufet dapur di bawah kompor, tanganku menyingkirkan beberapa bahan makanan seperti beras dan mie instan, kupindahkan semua itu keluar dan membuat bufetnya kosong. Setelah kosong aku menggeser lantai bufet yang terbuat dari kayu, lalu terpampang sekumpulan senjata koleksiku yang rata-rata adalah senjata ilegal. Yah, mau bagaimana lagi. Aku pembunuh bayaran, memiliki senjata secara legal sangatlah tidak mungkin.
Aku mengambil sebuah senapan bius dan sebuah sarung tangan dari sana. Dengan segera kututup kembali pintu geser itu, mengembalikan beras dan mie instan ke dalam dan menutup bufet dengan rapi.
Senapan bius itu kuletakkan di pantry, lalu kubuka isi pelurunya. Sisa enam, dan isinya klorofoam. Kukeluarkan semua peluru yang tersisa, dan membuangnya ke tempat sampah.
"Halo." sapa Pion di ujung sana.
"Halo Pion, ini aku Elaksi." ucapku dengan nada lirih.
"Ya, Ela. Kenapa?"
"Sebenarnya aku sudah tidak enak badan sejak tadi, dan sekarang aku benar-benar sakit. Bisakah besok aku ijin bekerja, Pion?"
Nada suaraku terdengar seperti serak dan memelas, aku berharap Pion benar-benar yakin bahwa aku sakit.
"Kau sakit? Kenapa tidak bilang, aku akan memberitahu manager besok, istirahat lah. Kau bisa bekerja saat sudah sembuh."
"Terimakasih, Pion."
"Sama-sama, Ela. Kau harus istirahat. Kututup telfonnya ya."
Lalu tanpa lama panggilan itu hanya berbunyi tut sekali tanda panggilan diputus. Aku tersenyum kecil, lalu menaruh ponselku di sebelah senapan bius. Aku berbalik membuka lemari pendingin dimana telah kusimpan cairan ludiomil dan serlof dengan dosis tinggi, cairan itu kuinjeksikan dalam peluru bius yang bentuknya seperti peluru bius hewan.
Aku mengeluarkan enam peluru dan aku memang hanya membuat enam, kupasang dalam senapan bius yang mirip dengan model Glock-17 itu. Oke, aku hanya butuh senapan ini, bukan untuk membunuh tapi hanya untuk membuat Bambang Antareja mengakui kejahatannya.
∆∆∆
Aku bangun pukul sebelas pagi, sarapan dengan mie instan dan segelas kopi instan pula. Dengan ditemani sebuah berita tentang perampokan, aku memakan sarapanku dengan hikmat. Menekan segala perasaan bersalah yang semakin melanda jika aku sudah dekat dengan waktu kerjaku. Kuhela nafasku keras, lalu meletakkan sarapanku yang belum selesai ke meja. Tatapanku beralih pada ponselku yang baterainya tinggal setengah. Kutuliskan pesan pada Niel, mengingatkan dirinya bahwa hari ini adalah hari eksekusi.
To : Daniel
Hari ini jam tujuh aku akan berkerja
Kukirimkan pesan itu pada Niel, dan tak lama pesan balasan datang.
From : Daniel
Aku akan mengawal mu, sudah kusediakan rencana pengawalan
Aku cuma membaca pesan balasan dari Niel tanpa mau membalasnya, tanganku meraih sarapanku yang tertunda. Aku butuh banyak sarapan untuk nanti malam.
Dan selama siang itu, aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk sambil minum kopi atau menonton tayangan kartun yang humornya receh sekali. Jam empat sore tepat, bel apartemenku berbunyi. Aku yang tengah menyeruput kopiku yang mendingin merasa was-was dengan siapa yang datang.
Dengan banyak pertanyaan di benakku aku menuju pintu apartemen, membukanya sedikit dan mengernyit saat seorang perempuan dengan masker berdiri di depan pintu apartemenku.
"Ya, cari siapa?" tanyaku di sela celah pintu yang belum kubuka sepenuhnya.
Karena perempuan itu menunduk aku jadi tidak bisa melihat wajahnya. Dan saat mendongak, aku terkejut dan langsung menariknya masuk.
"Apa yang kau lakukan dengan baju dan wig itu, Niel?" tanyaku terheran.
Niel membuka maskernya, lalu melepas jaket dan wig yang dia kenakan.
"Sudah kubilang aku akan menjagamu." katanya datar.
"Aku tidak paham apa maksudmu." jujurku padanya. Kadang Niel memang tidak pernah terduga.
"Setelah kau membunuh Bambang Antareja nanti, pasti seluruh karyawan akan diinterogasi oleh pihak kepolisian. Dan kau ijin hari ini, itu bisa membuat curiga polisi. Jadi aku ke sini, menyamar sebagai perempuan yang menjemputmu karena kau sakit, dan nanti kau akan mengenakan jaket yang tadi kukenakan dan masker. Itu seperti memperkuat bahwa kau sakit dan tidak keluar dari sini."
"Jadi kau berpura-pura jadi aku?" tanyaku mulai paham dengan rencananya.
Dia mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu. Daniel ada benarnya juga, polisi memang kadang bisa sedetail itu. Dan sebagai pembunuh bayaran berpartner dengan pengalaman yang tidak bisa diragukan, ini rencana sempurna.