Hiraeth

Hiraeth
16



16.


"Siapa kau sebenarnya?" kataku geram pada Manendra yang menyeringai dan bersedekap.


Aku tetap mengacungkan revolverku padanya, bahkan merasa gatal ingin menarik pelatuknya dan membolongi dada Manendra segera.


"Aku? Aku Manendra Nawasena." jawabnya santai.


Dia malah terkekeh dan menatap humor ke arahku. Gigiku bergemeletuk, saling berbenturan demi menahan rasa amarah yang datang tanpa diundang. Dia tidak sebaik yang kupikir, dia tidak sepolos itu.


Ujung mataku melirik perempuan yang terisak hebat dengan tangan dan kaki terikat, bukan dengan tali, tapi dengan sebuah kawat berduri yang dililitkan di tangan dan kakinya. Membuat lelehan darah yang makin menggenang turun dari luka yang menganga.


"Kau menerobos tanpa ijinku, Elaksi."


Nada suaranya santai, tapi matanya menyorot tajam. Menghujam ke dala. manik mataku dalam.


"Aku tidak perduli, aku bahkan tidak menyesal. Foto-fotoku, terpajang di sini. Kau yang memajangnya?" tanyaku sama datarnya.


Pekerjaanku melatih diriku agar bersikap santai tapi waspada disaat yang bersamaan. Aku tidak merasa takut dengan Manendra, aku hanya butuh penjelasan terhadap ratusan fotoku yang diambil diam-diam itu.


"Ya. Aku yang memajangnya."


"Kenapa?"


Dia tersenyum lebar, sekarang pandangan matanya berubah jadi meremehkan. Dan aku tidak suka itu.


"Karena aku menyukaimu." jawabannya membuatku mual.


Dia menyukaiku? Kami bahkan belum genap sebulan saling bertemu dan berinteraksi, aku juga tidak melihat gelagatnya yang suka padaku. Atau memang aku yang tidak peka. Entahlah. Tapi kenapa dia harus memajang ratusan fotoku sementara aku berada selalu dalam jangkauannya.


"Kau menyukaiku? Yang benar saja." ejekku padanya.


Dia terlihat geram, tangannya mengepal dan urat-uratnya menonjol di lehernya. Dia menatapku dengan marah.


"Jangan meremehkan rasa cintaku!"


Aw, jika aku jadi perempuan pada umumnya dan dia jadi laki-laki pada umumnya juga, aku pasti akan memekik bahagia dengan ucapan Manendra yang satu itu. Tapi aku sama sekali tidak bahagia, malah merasa marah dan kesal.


Tadi dia mengatakan menyukaiku, sekarang dia mengatakan mencintaiku. Jadi yang benar yang mana?


Aku mendengkus keras.


"Aku cukup tersanjung kau mengatakan itu, tapi aku tidak menyukaimu. Kurasa aku akan keluar saja, masa bodo dengan obsesimu padaku. Aku bisa membolongi kepalamu kalau aku mau." kataku mencemooh.


Dia menggeram tak senang pada perkataanku. Dan kubalas dengan senyuman miring.


"Kau tidak akan keluar dari sini!!" seru Manendra keras.


Keningku berkerut lalu mendengkus sekali lagi. Dia benar-benar terobsesi denganku rupanya. Sejak kapan? Pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku. Jika kami mengenal sejak lama, itu mungkin bisa kumaklumi karena pesona Elaksi Gayatri Hemaprhaba memang tidak bisa dihindarkan. Tapi masalahnya kami belum genap sebulan mengenal. Itupun antara aku dengan Manendra jarang berinteraksi secara dekat melebihi interaksi antara pembantu dan majikan.


"Aku akan. Memangnya kau siapa?" remehku.


"Kau milikku!!" kata Manendra keras.


Nada suara dan tatapannya seolah mengatakan bahwa aku benar-benar miliknya dan tidak bisa diganggu gugat walau aku menolak sekalipun.


"Kalau begitu aku akan menembakmu." ucapku datar.


Tanganku memegang erat revolver yang kupegang, mataku fokus pada dada kiri Manendra yang terbalut jas hitam. Hendak kutembak, raut wajah Manendra malah terlihat menjengkelkan. Dia tersenyum lebar dan malah membuatku semakin ingin membolongi tubuhnya.


Kutekan pelatuk pada Glock-17 ku hingga bunyi 'dor' keras menggema di ruangan kecil ini. Isak tangis perempuan yang berada di dalam lemari semakin kencang dan aku menatap sinis pada Manendra yang mengerang dan memegangi dada kirinya.


Dia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur tembok. Mukanya terlihat kesakitan, tapi erangan itu berubah menjadi kekehan dan kekehan itu berubah jadi gelak tawa membahana yang membuat aku melotot tak percaya saat dia kembali berdiri tegak tanpa luka sedikitpun.


Bagaimana bisa? Tanganku mengeluarkan wadah peluru dari dalam revolver, lalu mataku membelalak saat melihat isinya kosong. Bukankah aku masih punya enam peluru?


"Terkejut, Elaksi? Aku sudah mengosongkan isi revolver milikmu." ucap Manendra disertai gelak tawa yang belum berhenti.


Aku berdecih, dia tahu aku membawa revolver ke rumah ini. Apa dia juga tahu kalau aku pembunuh bayaran? Ah sialan! Aku jadi banyak bertanya sedari tadi.


"Kau keparat!" serapahku padanya.


Manendra terlihat berhenti dari tawanya, tapi aku masih bisa melihat sisa tawa di wajahnya.


"Benarkah? Kau tahu kenapa aku mencintaimu Elaksi?" tanyanya padaku.


Jawabanku hanyalah dengkusan keras disertai putaran bola mata. Sementara tanganku meremas revolver tanpa peluru yang kupegang. Dia benar-benar ***!


"Karena kita sama, kita sama Ela. Kita sama!" pekik Manendra bahagia.


Dia mengatakan 'kita sama' tiga kali yang bahkan aku tidak tahu apa persamaan antara aku dengan dirinya. Jelas, aku tidak mau disamakan dengan **** penuh obsesi seperti dia.


"Kau pembunuh! Aku juga!" pekiknya lagi.


Mataku menyorot tajam, dia tahu aku pembunuh bayaran. Yah, ya sudahlah. Aku jadi tidak perlu menjelaskan lagi masalah profesiku padanya. Aku malas.


"Kau pikir aku peduli?" tanyaku sengak.


Raut wajah Manendra mendatar. Dia menatapku lekat dan intens. Seolah apa yang aku katakan benar-benar membuatnya tidak nyaman. Tapi masa bodo, aku benar-benar harus segera keluar dari sini. Melihat perangai aslinya dan bagaimana sikapnya menghadapaiku, aku jadi tahu bahwa dia memiliki sebuah jiwa gelap dalam dirinya. Samgat gelap sehingga dia jadi mirip voldemort. Ah voldemort lagi, Manendra memang sama dengan penyihir jelek berhidung pesek itu. Sama-sama membuatku muak.


"Kau milikku!!!" teriaknya lagi. Kali ini keras hingga dia melangkah mendekatiku.


Aku masih diam dan saat jaraknya sudah satu meter denganku, aku langsung menendang ke arahnya. Dia menghindar, tahu aku akan menendangnya. Tapi tidak hanya sampai di situ, aku mengayunkan kepalan tangan kananku ke arah wajahnya. Dia mengelak lagi, dan saat dia mengelak ke arah kanan. Tangan kiriku bertindak. Revolver yang kupegang di tangan kiri kuayunkan kuat ke arah hidung Manendra. Dan aku mengenainya dengan tepat. Hidung adalah salah satu bagian sensitif di wajah, dan saat itu terluka karena terhantam sesuatu, itu akan terasa menyakitkan. Dan menguntungkan buatku.


Dia terhuyung ke belakang sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Dan kesempatan ini membuka jalanku untuk lari dan keluar dari rumah ini.


Kakiku berlari secepat yang kubisa, mendorong pintu depan rumah ini keras dan mendorong gerbang dengan amarah menggelak. Manendra dan obsesi gilanya! Aku bahkan tidak menyangka akan seperti ini jadinya.


Sambil berlari ke arah jalan besar di ujung sana, aku merogoh saku dress rumahanku. Lalu menekan tombol call pada sederet nomor Hideo, saat panggilan itu diangkat aku langsung berseru,


"Jemput aku! Cepat! Aku akan kirim lokasinya!" dengan nafas memburu dan kaki terus berlari.


Kulihat kesekeliling, memastikan keadaan di sekitarku ramai. Aku duduk di halte bus yang agak lumayan jauh dari rumah Manendra. Dengan segera aku mengirim lokasiku pada Hideo, dan tak sabar menunggu dia menjemputku.


Nafasku masih tak beraturan, mataku jelalatan menatap ke sekeliling, memastikan tidak ada bahaya yang mengintai. Lalu aku mengumpat saat aku melempar Glock-17 milikku di pelataran rumah Manendra. Persetan, aku masih punya banyak revolver di apartemen.


Lima menit penuh kewaspadaan, mobil SUV milik Hideo berhenti tepat di depan halte. Dan langsung saja aku masuk ke dalam dengan penampilan berantakan.


"Ayo cepat jalan." perintahku padanya.


Hideo menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, aku mendesis pelan. Pikiranku masih melayang pada kejadian beberapa menit lalu. Sungguh tidak bisa dipercaya.


"Apa kau baik-baik saja, Ela? Kau terlihat berantakan." ucap Hideo diantara deru suara mesin mobil yang halus.


"Diam!" seruku.


Aku tidak ingin diganggu untuk saat ini. Aku butuh berpikir jernih, aku butuh sesuatu untuk menyegarkan otakku.


Mobil SUV Hideo melaju di jalan padat ibukota, aku terdiam sambil menandang jalanan ramai. Tapi pikiranku sibuk melanglang buana entah kemana. Untungnya aku membawa ponselku tadi, jika tidak sudah dipastikan aku akan terus berlari sampai ke rumah Hideo.


"Apa kau percaya OCD, Hideo?" celetukku di tengah keheningan.


Aku sudah lumayan baikkan sekarang.


Dia hanya diam, meliriku sebentar kemudian memandang ke arah jalan lagi. Aku mendesis, dia tidak menjawab pertanyaanku.


"Jawab Hide!" desisku padanya kesal.


"Kau menyuruhku diam, Elaksi." ucap nya tanpa dosa.


Sialan. Dia benar-benar menyebalkan.


"Jawab saja!"


Hideo berdehem kemudian memandangku, lalu pandangannya beralih lagi pada jalan.


"OCD? Aku percaya, kau lupa dengan Trinyty?"


Aku berdecak, lebih pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa melupakan makhluk yang satu itu. Dia sepertinya hampir mirip dengan Manendra, tapi versi lebih parahnya. Aku langsung menduga Manendra mengidap OCD atau Obsessive Compulsive Disorder. Tindak tanduknya yang membuat pemikiran itu langsung tertambat di otakku.


Kita mulai dari Trinyty lebih dulu. Trinyty adalah salah satu pembunuh bayaran dari sebuah clan mafia Rusia. Dia orang Jepang yang hobinya mengurutkan pisau dari yang terkecil sampai ke terbesar. Setiap hari dia melakukannya, dari dia lah aku mengenal istilah OCD. Trinyty selalu membunuh seseorang dengan rapih, tapi sadis. Rapih karena tidak terdeteksi, sadis karena dia akan selalu memotong leher korbannya lebih dulu. Atau mutilasi. Kami rekan seprofesi, tapi tidak dekat. Dia terlalu mengerikan buatku, dia itu psychopath gila.


Sedangkan Manendra, dia memiliki kebiasaan yang sama dengan Trinyty. Jika Trinyty selalu mengurutkan pisau-pisau miliknya. Maka Manendra selalu menata rapih buku-buku, di rak ruang kerja. Sekarang aku tahu kenapa dia selaku menata buku-bukunya dalam warna yang sama. Juga dia yang menanam bunga mawar dalam gradasi warna secara rapih. Manendra juga terlihat selalu mengelap tangannya tiap waktu dengan sapu tangan dalam jasnya. Dan seseorang dalam lemari itu, aku yakin Manendra yang mengurungnya disana. Dia tidak jauh berbeda dengan Trinyty.


"Jika seseorang menempelkan ratusan foto idolanya di dinding, apa itu termasuk obsesi?" tanyaku.


"Ya, kau tahu kenapa? Seseorang itu menempel ratusan foto, jelas dia sudah terobsesi." jelas Hideo.


Manendra terobsesi denganku yang baru bertemu. Dia gila!


"Aku baru menerima paket pagi ini. Kau mau membukanya?" tawar Hideo dengan jarinya menunjuk ke sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita berwarna merah di jok belakang.


Aku langsung meraih kotak itu tanpa ragu, laku mengamati setiap detail kotak tanpa terlewatkan.


"Kau tahu siapa pengirimnya?"


"Tidak." jawab Hideo dengan gelengan.


Kulepas pita merah yang membelit kotak itu, lalu perlahan membuka tutupnya.


Selama dua puluh tujuh tahun aku hidup di dunia, dan sepuluh tahun lebih menjadi pembunuh bayaran, aku tidak kaget saat melihat seseorang mati, atau saat mayat berada dimana-mana. Tapi melihat potongan lidah berada di sebuah kotak hitam aku mual juga.


"Apa isinya?"


"Lidah." jawabku singkat.


Dia tergelak, lalu membelokan mobil ke kanan dan mengatakan,


"Lidah siapa itu?"


"Aku tidak tahu."


Tanganku mengambil sebuah kertas kecil yang terselip di pinggir kotak, aku harus mengambilnya perlahan agar tidak menyenggol lidah lunak entah milik siapa itu. Bentuknya yang panjang dan ujungnya yang masih meneteskan darah membuatku jijik.


Kututup lagi kotak itu saat kertasnya sudah terambil, aku meletakkan kotak berisi lidah itu ke dashboard dan tanganku mulai membuka kertas kecil yang kuambil.


'Jauhi Elaksi atau lidahmu akan berakhir seperti ini.'


Begitu bunyinya. Aku sekarang tahu siapa pengirimnya setelah kejadian tadi. Manendra. Aku butuh revolver.


∆∆∆


"Kau lihat Bella, dia lari gara-gara kau! Lidahmu sudah kupotong, apa mau kepalamu juga?" kataku sinis pada Bella.


Dia mantan teman kencanku, perempuan yang kudapat dari judiku di MN's. Dia terlalu menjengkelkan dan berisik, jadi kupotong saja lidahnya hingga dia tidak bisa bicara. Aku juga sudah mencabut semua giginya. Tapi aku hanya mengirim lidah Bella pada Hideo, si **** yang berani-beraninya mendekati milikku.


Bella terisak, dia benar-benar membuat amarahku naik. Aku menyeretnya keluar dari lemari, lalu memaksanya berjalan dan keluar dari ruang kerjaku. Kupikir dengan mengurungnya di lemari itu, akan membuatnya diam. Tapi malah sebaliknya, lebih baik aku lenyapkan saja sekalian.


Kuseret keras tangannya yang kuikat dengan kawat berduri, dengan cepat aku membawanya ke gudang dekat taman belakang. Tempat dimana aku menyimpan segalanya.


Tanganku meraih sebuah pisau lipat yang kuambil dari Elaksi. Dia benar-benar manis, membawa pisau lipat kemana-mana. Jadi aku ingin memiliki pisau lipat itu juga.


"Kau berisik!" seruku seraya menghujam leher Bella dengan sekali tikaman.


Aku mendengkus saat dia meregang nyawa. Kucabut pisau lipat itu dan menjilati darah yang menempel di sana hingga bersih.


"Kau mengotori pisau milik perempuanku, enyah kau." kataku datar.


Elaksi, tunggu aku sayang. Aku datang sebentar lagi.