
Aku berjalan di antara tumpukan sampah kaleng berbau yang sangat jorok, berusaha tidak menyentuh satupun kaleng sampah itu karena baunya pasti akan menular. Sekumpulan lalat terbang mengitariku dengan bunyi khas yang membuatku dongkol. Tanganku mengibas beberapa lalat itu hingga mengacir pergi, lalu melanjutkan langkah demi mencapai tempat yang sebenarnya tidak ingin kutuju setelah pekerjaan yang melelahkan.
Sampai saat ini aku terheran saat Daniel membangun markasnya di tempat pembuangan sampah, bukannya di tempat lain yang lebih elit. Sebuah rumah bata bertumpuk berdiri kokoh di antara kerumunan lalat saling berkejaran. Aku melangkahi sebuah pagar kawat berduri yang karatan. Dan berdiri tegak di depan pintu besi yang Daniel buat dari potongan-potongan seng yang tak terpakai. Aku mengetuk pintu dengan kode ketukan yang menjadi kesepakatan, menanti Daniel membukakan pintu untukku.
Tak lama wajah khas putih, mata sipit dan hidung kurang mancung itu terlihat di ambang pintu dengan kerutan di dahi. Dia tak berkata apapun, tapi langsung masuk kembali. Tangannya memberi isyarat agar aku mengikutinya.
Markas Daniel masih sama baunya, sama berantakan dan sama jeleknya. Aku bahkan tak tahan dengan seonggok kaus kaki yang baunya seperti muntahan troll. Kakiku beberapa kali menyandung kaleng-kaleng bekas minuman atau bungkus mie instan yang selalu jadi favorit Daniel saat begadang di depan komputer hanya untuk menerima klien.
"Sudah selesai dengan buruanmu?" tanya Daniel seraya duduk di kursi kebesarannya yang berada di depan sebuah komputer yang menyala.
Markas ini memang hanya sepetak bangunan 6×8 tanpa kamar mandi dan dapur. Jadi kalau mau ke kamar mandi ya pergi ke semak-semak sampah di depan lalu buang kotoranmu.
Aku duduk di sofa reot penuh sampah di dekatnya, menahan rasa jijik yang melanda saat tikus dan kecoa lewat di depanku tanpa tahu malu.
"Sudah. Aku mau pulang, mandi dan tidur, tapi kau mengacaukan segalanya." gerutuku padanya.
Ekspresi muka Daniel itu hanya datar jadi dia hanya menaikkan alisnya tinggi dan membalikkan kursinya yang dapat berputar ke arah komputer. Jarinya yang panjang dan lentik mengetikan serangkaian kata di komputer penuh kode. Aku terdiam sambil mengamati punggung Daniel yang berbalut kaus hitam dengan corak garis garis abstrak.
"Ada klien. Ini kesempatan bagus." ucapnya.
Keningku berkerut, tidak biasanya dia menerima dua klien sekaligus dalam sehari. Apa mungkin ini klien penting?
"Siapa?"
Daniel berbalik ke arahku, kedua tangannya bersandar di kursi.
"Kau tahu Bambang Antareja?"
"Dia Menteri Keuangan. Siapa yang tidak tahu dia, Neil." jawabku sambil terkekeh.
Semua orang di Indonesia raya ini pasti tahu menteri keuangan penuh kontoversial itu.
"Kau harus membunuhnya?"
"A-apa??"
Aku melongo, menatap Daniel seperti dia baru saja mengatakan dia punya pacar. Yang benar saja! Aku membunuh menteri?
"Apa aku kurang jelas?" tanya Daniel dengan muka datar.
"Bukan begitu. Kenapa aku harus membunuhnya? Itu mustahil!" seruku.
Dalam keanggotaan organisasi gelap bernama Bloody Killer yang beranggotakan aku dan Daniel, aku berperan sebagai pengeksekusi dan Daniel sebagai managerku atau mungkin seperti pengatur jadwalku dengan Klien. Dia seperti moderator antara aku dan klien. Dengan begitu aku tidak perlu menunjukkan wajah asliku pada orang lain.
"Tidak ada yang mustahil, Ela. Hanya bunuh dia dan selesai." lagi-lagi dia mengucapkannya dengan nada datar.
"Kenapa dia harus di bunuh?" tanyaku.
Bloody Killer bekerja atas dasar bukti yang nampak, seperti jika aku harus membunuh seseorang maka aku harus punya alasan kuat membunuh orang itu. Mungkin karena orang itu koruptor yang merangkap mafia atau **** perdangan manusia. Maka di sini aku heran, Bambang Antareja memang sering tersandung kasus perselingkuhan. Tapi itu jelas bukan alasan yang kuat untuk aku membunuhnya.
"Bambang Antareja, empat puluh lima tahun, seorang menteri keuangan dan juga seorang ayah. Berita sensasional tentang perselingkuhannya dengan model asal Bali mulai meredup akhir-akhir ini, itu karena semua orang mengira si model Ni Putu Anggraini pulang ke kampung halamannya. Tapi nyatanya? Dia mati, Ela."
Aku terkejut mendengar berita itu, hell. Baru kemarin aku menonton televisi dan melihat berita menteri itu dan si model yang mulai mereda. Dan sekarang Daniel malah bilang bahwa Anggraini mati?
"Mati? Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku dengan nada menuduh.
"Ayah Ni Putu Anggraini mengirim email ke blog pribadi Bloody Killer, seperti yang menjadi peraturan dia menceritakan kenapa kita harus membunuh seseorang. Dia mengatakan bahwa Ni Putu Anggraini mati dua hari yang lalu, terbunuh. Dan dugaannya si menteri itulah yang membunuh model cantik itu." jelas Daniel.
Di era serba mata dibalas mata dan colok di balas colok ini, aku masih mengira bahwa menteri dan anggota pemerintah lainnya adalah panutan rakyat. Aku sendiri sering mendapat kerja untuk memberantas para kaki tangan koruptor, membunuh mereka tanpa terkecuali dan menghilang. Tapi aku masih ingin menghirup udara bebas.
"Jika si model mati, kenapa beritanya belum ada?"
Daniel menghela nafasnya lelah, lalu mengusap keras rambutnya yang di potong model spike dengan gliter abu-abu seperti boyband korea.
Aku termenung sambil bersedekap, memandang lantai yang berisi plastik sampah dan bau busuk yang menguar. Jika aku mengambil pekerjaan yang satu ini tentu akan membahayakan diriku juga. Bisa-bisa aku di penjara atau di hukum mati.
"Apa bayarannya?" tanyaku menanyakan bayarannya dulu.
"Seberapapun yang kau mau, dia sanggup. Juga dengan bonus kau dapat keluar masuk Voge Club tanpa bayar."
What the heck!
Voge Club tanpa bayar?? Oh sial, ini benar-benar surga. Kalian tahu bahwa Voge Club adalah sebuah pub elite yang tersebar di seluruh Indonesia. Jangkauan luas, alkohol dan pria seksi. Aku bahkan hanya pernah sekali ke Voge Club, itupun karena di gratiskan teman. Aku terlalu sayang uang demi masuk ke sana.
"Oke, bagaimana dengan resikonya? Jika aku tertangkap, apa ayah si model ini akan menanggungku?"
Bekerja tanpa jaminan itu burum bagiku, maka aku harus selalu menanyakan apakah klien sanggup memberikan kesaksian jika aku tertangkap atau tidak.
"Ya." jawab Daniel singkat.
"Deal, kirim datanya lewat email. Katakan pada klien kita ini untuk menunggu maksimal sebulan. Aku butuh waktu untuk mengatur strategi."
Daniel mengangguk, lalu kembali pada komputernya. Aku berdiri dari sofa jelek itu, menepuk-nepuk celan kain berwarna hitam yang kupakai agar menghilangkan bau busuk yang menempel tapi sia-sia.
"Aku pulang, Niel. Jangan terima klien dalam sebulan ini." kataku memeringatinya, ya hitung-hitung sebagai liburan. Aku jarang mengambil cuti dalam pekerjaanku, jadi mungkin aku bisa beristirahat sejenak.
"Jika ada apa-apa hubungi aku."
Aku mengangguk, berjalan keluar dari markas sampah itu dan pergi.
∆∆∆
Suasana ibukota yang tak jauh dari macet, sampah dan bising membuat aku harus menahan rasa kesalku yang terjebak di kemacetan siang hari padahal ada meeting penting pagi ini. Padahal niatnya aku hanya mau membeli makan siang di tempat biasanya dan makan di kantor karena waktuku yang mepet. Tapi mavet ini benar-benar tidak tahu waktu.
Kupencet klakson di roda kemudi kencang, menimbulkan bunyi 'tinn' keras terdengar. Dan anehnya disauti oleh pengemudi lainnya yang tak kalah kesal.
Aku menghela nafas keras, lalu melirik bungkusan kresek berisi nasi padang favoritku yang sepertinya sudah mendingin. Dengan jengkel aku meraih bungkusan itu, membukanya dengan tergesa dan makan di tengah kemacetan. Perutku sudah lapar dan aku tidak punya banyak waktu setelah tiba di kantor nanti. Sialan.
Setibanya aku di kantor, aku masih punya waktu beberapa menit untuk presentasi dan juga merapihkan dandananku. Sebagai direktur sebuah perusahaan besar seperti PT. Antareksa, aku harus selalu rapih dan terlihat segar. Apalagi jika nanti ada sekertaris-sekertaris seksi yang ikut dalam meeting. Aku perlu dandanan ekstra.
"Meetingnya sebentar lagi, Pak."
Gandi yang berada di ambang pintu ruanganku berkata sopan, aku mengangguk pelan. Menata beberapa berkas dan berjalan menuju ruang meeting yang tak jauh dari kantorku.
Sebagai perusahaan pertambangan, PT.Antareksa harus memiliki banyak partner bisnis demi tercapainya semua misi. Seperti dalam meeting kali ini bersama sebuah perusahaan alat berat. PT. Antareksa butuh banyak alat berat, mulai dari alat untuk mengeruk, mengayak, memilih dan lain sebagainya. Dan itu jelas butuh partner kerja yang sesuai, maka dari itu tugasku sebagai Direktur adalah mengawasi semuanya berjalan lancar dan ikut mengompori para perusahaan agar tertarik menjadi partner bisnis kami.
Aku mengedipkan sebelah mataku pada perempuan seksi yang berdiri di samping si partner baru kami. Dia sekertaris si CEO, aku cukup tergoda dengan belahan dadanya dan rok pendeknya yang memamerkan paha mulusnya. Hey, sebagai kaum adam yang normal dan masih sehat aku jelas tergoda.
Kami semua bersalaman setelah meeting berakhir, menandakan bahwa kesepakatan telah dibuat setelah adu debat tadi. Dan saat aku bersalaman dengan si seksi aku mengelus tangannya dengan seduktif lalu mengedip sekali lagi.
Dia nampak tersipu dan memandangku malu-malu. Ha, kena kau. Sebagai Direktur muda, berbakat, tampan dan penuh pesona, tidak ada yang bisa melewatkan Manendra Nawasena sedikitpun.
"Senang berbisnis dengan anda Pak Nendra."
Aku kembali ke dunia nyata dengan melepaskan tanganku pada si seksi, lalu beralih pada Pak Cokro yang menjadi partner baru kami. Aku mengalaminya dengan senyuman lebar.
"Ya, saya harap kita akan menjadi partner yang baik." ucapku sama formalnya.
Dia tersenyum, melepaskan tangannya. Lalu berbasa-basi sejenak kemudian pergi. Untungnya sebelum pergi aku menyelipkan kartu namaku di tangan si sekertaris seksi itu dan memberikannya kode agar menelfonku. Dia tersipu lagi dan mengikuti Pak Cokro masuk ke dalam lift.
"Hari yang menyenangkan ya Gan?" tanyaku pada Gandi yang sibuk membereskan alat presentasi meeting.
Dia mengangguk dan kembali pada kegiatannya. Aku hanya tidak sadar bahwa beberapa jam lalu aku merasa kesal dengan jalanan macet, ya begitulah aku. Hanya butuh perempuan cantik dan seksi maka semua akan baik-baik saja.