
14.
Bumi berputar begitu cepat, atau malah matahari yang muncul begitu cepat. Aku tidak tahu karena aku bukan ahli astronomi.
Sarapan pagi ini, roti panggang dengan selai kacang. Tidak ada yang istimewa di sarapan kali ini sebab aku hanya memanggang roti di alat pemanggang dan mengolesinya dengan selai. Dan selesai. Manendra sendiri yang menginginkan sarapan simple ala luar negeri itu. Padahal menurutku, sebagai salah satu warga negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memakan nasi, aku tidak akan bisa sarapan hanya dengan roti. Bisa sih, hanya saja aku masih lapar kadang.
Tapi Manendra itu jenis laki-laki kaya raya yang selera makannya lumayan. Jadi terserah dia, aku juga tidak terlalu peduli dengan itu.
Dia memakan roti yang kusiapkan untuknya dengan diam. Aneh, dia tidak mengatakan apapun semenjak turun dari kamarnya. Dia tidak menyapaku, atau berbicara sepatah katapun denganku. Padahal dia biasanya akan menyapaku, mengatakan selamat pagi atau lainnya. Bukan. Bukannya aku ingin diucapkan selamat pagi olehnya, hanya saja itu terasa aneh. Mata Manendra juga sedari tadi menyorot tajam dan tangannya terlihat tegang. Dia seperti sedang menahan sesuatu.
"Pasangkan aku dasi." ucap Manendra datar padaku.
Kulirik piringnya yang masih menyisakan selembar roti panggang. Dia tidak menghabiskan sarapannya.
Dia menyodorkan sebuah dasi bermotif garis melintang padaku, dan dengan pasrah aku menerima dasi itu. Mendekat ke arah Manendra dan mulai menaikkan kerah kemejanya yang kali ini berwarna hitam. Feromon yang menguar, menggoda imanku yang setipis F4. Aku menahan nafasku, aroma Manendra terlalu memabukan bagi perempuan lajang kurang kasih sayang sepertiku.
"Selesai." kataku merapihkan sedikit dasinya yang agak menceng. Lalu melangkah mundur.
Aku mendongak memalingkan pandanganku dari dasi Manendra ke arah wajahnya. Dia menatapku tajam tanpa berkedip. Tatapan matanya seolah menelisik jauh dan membuat gelenyar aneh dalam diriku. Bukan gelenyar seperti itu, ini jenis gelenyar yang membuat bulu kudukku berdiri bersamaan.
Manendra memutuskan kontak mata kami lebih dulu, dia mengambil tas kerjanya yang tergeletak di meja makan. Lalu berlalu tanpa mengatakan apapun. Aku terdiam, menatap punggung lebarnya yang menjauh.
∆∆∆
From : Hideo
Benarkah? Aku sangat ingin menonton itu, mungkin kita bisa nonton berdua?
Sudut bibirku berkedut kecil saat melihat balasan pesan dari Hideo. Bosan hanya duduk di taman belakang tanpa melakukan apapun, aku memutuskan untuk mengirim pesan pada Hideo. Hitung-hitung mengecek apa benar itu nomornya atau bukan. Masalahnya Hideo pernah memberiku sebuah nomor yang katanya miliknya tapi ternyata itu milik seorang ** dari sebuah club di Taiwan. Dari situlah aku merasa perlu memastikan apa itu benar nomornya atau bukan. Untungnya kali ini benar.
Bahasan awal kami di pesan adalah tentang cuaca hari ini yang cocok untuk pergi ke pantai. Tidak panas dan juga tidak mendung. Lalu kami merembet ke masalah film yang tayang di bioskop mulai minggu lalu. Dan aku tentu ingat bahwa seleraku dan selera Hideo soal film sama. Kami pecinta action sejati.
To : Hideo
Yah, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Aku sibuk.
Balasku dengan emot tertawa di akhir kalimat. Sebuah film action dari rumah produksi terkenal mulai tayang dari kemarin, aku tahu dari sebuah situs beranda resmi si rumah produksi. Tapi aku tidak bisa ijin pergi lagi hari ini setelah kemarin aku ijin. Dan aku terlanjur meng'iya'kan tawaran Herman agar aku membantunya memindahkan buku-buku lama Manendra ke gudang.
Tak sampai lima menit balasan dari Hideo membuat aku tersenyum. Dia membalas dengan emot icon sedih dan mengatakan bahwa apa alasannya aku menolak ajakan darinya. Saat aku hendak membalas pesan Hide, sebuah ketukan keras di pintu kamarku menginterupsi kegiatanku di papan keyboard ponsel.
Aku bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu kamar dan membukanya lebar. Herman berdiri dengan setelan jasnya yang selalu sama setiap harinya. Aku curiga dia tidak pernah mengganti setelan bajunya itu. Karena setiap aku melihatnya, dia selalu memakai kemeja putih dan jas hitam serta celana bahan berwarna hitam dan jangan lupakan sepatu fantofel mengkilap. Dia seperti pegawai kantoran daripadanya seorang pelayan di sebuah rumah orang kaya.
"Bukankah anda ingin membantu memindahkan buku lama Tuan Nawasena?" ucapnya langsung.
"Ya." jawabku tak tahu harus merespon apa. Memang benar juga aku ingin membantunya.
"Bisakah anda melakukannya sendiri? Saya harus pergi berbelanja, menggantikan Lena yang sedang cuti."
Aku? Merapihkan buku-buku lama Manendra sendiri? Tidak masalah buatku.
"Tentu."
"Buku-buku lama Tuan Nawasena biasanya dipisah di rak paling ujung, rak yang pendek. Anda harus mengeluarkan semua buku itu dan membawanya ke gudang. Tuan ingin mengisinya dengan buku-buku baru."
Aku menyimak penjelasan Herman dengan diam, lalu mengangguk paham. Hanya memindahkan buku? Gampang. Bahkan menghancurkan kepala seseorang oun aku bisa. Masa membenahi buku tidak bisa.
"Kalau begitu saya permisi."
Herman menunduk sejenak padaku lalu berjalan menjauh menuju tangga, dia pelayan yang benar-benar datar dan tidak banyak omong. Kuhela nafasku pelan, lalu menutup pintu kamarku dan berjalan menuju ruang kerja Manendra yang berada di samping kamarku.
Hawa dingin langsung menyerbuku dilangkah pertama aku masuk ke ruangan itu. Lalu mendengkus saat menyadari bahwa Manendra pasti lupa mengecilkan volume air conditioner di ruang kerjanya sebelum berangkat.
Aku meraih remot AC di meja kerja Manendra, mengecilkan tiga air conditioner di ruangan ini. Kuletakkan kembali remot itu ke meja saat hawa dingin berkurang. Aku berjalan menuju ujung ruangan, bagian gelap di ujung ruangan yang sukses membuatku ingin melihat ada apa di sana.
Kakiku rasanya berat dan enggan bergerak mendekat ke sana. Tapi otakku terus meneriakkan bahwa aku harus tahu apa yang ada di sana. Aku melangkah berat menuju keremangan. Deru nafasku memburu semakin aku melangkah. Entah kenapa udara di sekitarku memberat. Langkahku berhenti di depan rak yang tingginya lebih pendek dari semua rak yang ada. Isinya lumayan banyak, beberapa buku novel dan sisanya buku tentang ekonomi yang tahun cetaknya sepukuh tahun yang lalu.
Oke, aku hanya akan memindahkan ini ke gudang yang berada dekat taman belakang lalu kembali tidur dan berchatting dengan Hideo.
Aku mulai menata buku-buku itu, menumpuknya hingga delapan tumpukan yang tidak terlalu tinggi dan mendengkus. Delapan tumpukan, jika aku memindah ini ke gudang, aku butuh delapan kali bolak balik. Ah sial.
Kuangkat tumpukan pertama, membawanya keluar dari ruangan itu dan menumpuknya bersama buku-buku lain di gudang. Kupikir Manendra adalah kutu buku sejati, lihatlah bagaimana buku-buku itu membeludak di gudang dan di ruangan kerjanya. Aku kembali ke atas dan mengeluh betapa ini akan membutuhkan waktu yang lama.
Tumpukan kedua rata-rata berisi novel berbagai genre. Dan aku mengangkat tumpukan kedua dengan semangat. Saat aku berbalik dan hendak melangkah, sudut mataku menangkap sesuatu yang menarik perhatianku. Apa itu?
Aku berjalan pelan menuju sudut ruangan lalu mengerjap. Pintu? Ada ruangan lain di dalam ruang kerja Manendra?
Aku sontak menoleh dan terdiam. Pelayan dan tuan rumah sama-sama hobi membuatku jantungan. Herman dengan muka datarnya menatapku.
"Aku baru memindahkan satu tumpukan, apa kau sudah selesai berbelanja?" tanyaku padanya.
Perasaan baru tadi dia berkata akan berbelanja, dan sekarang dia sudah kembali.
"Sudah. Saya tidak membeli bahan makanan terlalu banyak jadi saya cepat menyelesaikannya." ungkap Herman.
Aku mengangguk, jarak antara rumah ini dan sebuah supermarket di jalan besar sana memang dibilang sebentar. Hanya butuh lima menit lebih sedikit untuk sampai di sana dan membeli semua keperluan.
"Perlu bantuan, Nona?"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." tolakku.
Aku cukup tahu diri memerintah pria paruh baya seperti Herman. Jadi dengan sok kuat aku membawa semua tumpukan buku itu ke gudang. Tapi aku menyomot salah satu novel dengan judul Last Four Things karya Paul Hofeman. Sebenarnya aku sudah pernah membaca versi terjemahannya, dan agak kecewa karena sepertinya si penerjemah agak kurang bagus dalam menerjemahkan novel sci-fi yang satu ini. Dan yang dimiliki Manendra ini versi asli dengan bahasa Inggris yang aku ingin baca sejak dulu. Sayang jika harus didiamkan di gudang dan tidak terawat.
Kuraih ponselku yang tergeletak di ranjang. Layarnya menyala menandakan sebuah notif masuk ke ponselku. Saat aku membuka isi pesan dari Hideo itu keningku langsung berkerut.
From : Hideo
Kenapa?
Kenapa?
Dia mengirim dua kali kata 'kenapa' yang disertai tanda tanya. Dia seperti ingin tahu kenapa aku menolak ajakannya untuk nonton film. Tapi itu buka yang membuatku terdiam aneh, tapi pesan du bawahnya.
From : Hideo
Aku menerima sebuah surat kaleng dari penggemar, dia menyukaimu kurasa.
Pesan itu dikirim sepuluh menit lalu dengan emot icon tertawa yang lumayan banyak. Hideo juga mengirimkan sebuah gambar kertas hitam berisi surat pendek yang bunyinya.
'Jauhi Elaksi. She's mine!'
Tulisan dalam kertas hitam berukuran 7×5 cm itu ditulis dengan marker berwarna putih. Hide juga mengirimkan foto sebuah pisau berlumuran darah dengan capt,
'dia memberiku sebuah pisau, aku terharu karena dia tahu pisauku hilang saat kerjaku di China'
Tak lupa dengan emot icon tertawa yang banyak di akhir kalimatnya. Aku cuma mendengkus, bisa-bisanya sebegitu tenang dikirim benda seperti itu. Kalau aku jadi dia, sudah jelas aku akan memburu si pengirim dan membunuhnya tanpa pikir panjang.
Kertas hitam itu malah menjadi atensiku sepenuhnya. Si pengirim tahu aku, tahu aku dekat dengan Hide. Siapa? Otakku rasanya melebar memikirkan itu, sepanjang yang kutahu aku tidak pernah memberitahu siapapun tentang aku yang berteman dengan Hideo. Alasannya jelas karena privasi, di dunia bawah, para pembunuh bayaran dilarang saling berteman. Dan aku bukan penganut peraturan dunia bawah. Aku bebas.
Surat dan pisau itu kemungkinan diterima Hideo pagi atau barusan. Sedangkan Hide sendiri tinggal di sebuah apartemen elit dekat sebuah pusat perbelanjaan. Si pengirim tahu alamat Hideo yang baru pindah, kenapa dia mengirim sekarang? Jawabnya karena aku dan Hideo baru bertemu kemarin. Si pengirim yang mengaku bahwa aku adalah miliknya tahu bahwa kemarin aku bertemu Hideo. Dari situlah si pengirim tahu Hide cukup dekat denganku.
Aku menekan tombol call pada nomor Hideo. Dan di nada sambung kelima, suara lembut Hideo menyambutku.
"Olo, Ella."
"Kapan kau menerima itu?" tanyaku to the point.
"Baru saja. Hebat bukan?"
Aku mendengkus keras. Bisa-bisanya dia berkata begitu. Yah walaupun aku kadang juga begitu saat menerima surat ancaman atau hadiah dari seorang musuh, aku cukup senang juga. Bagi kami pembunuh bayaran, memiliki banyak musuh dimana-mana adalah sebuah prestasi tersendiri. Sama seperti atlet yang mengkoleksi piala atau piagam kemenangan, aku juga mengoleksi musuh sebagai tanda bahwa aku sudah sejauh itu melangkah.
"Cari pengirimnya." perintahku.
Dia terkekeh di seberang sana, lalu berkata,
"Kau pikir aku Kurx? Aku tidak bisa menghack kamera cctv. Aku tidak bisa membobol sistem keamanan yang lain, Elaksi." ucapnya santai.
Lalu aku tersadar, lalu membenarkan dalam hati juga. Kami tanpa partner hacker kami tidak akan bisa melacak seseorang. Yah, aku juga ada minusnya juga. Aku tidak tertarik dengan coding, komputer dan sejenisnya. Aku lebih suka membeli revolver ketimbang komponen komputer atau lebih memilih membawa pisau daripada laptop.
"Kita lihat apa yang akan dia kirim lagi." kata Hideo seolah itu bukan masalah besar.
Langsung kumatikan sambungan telepon itu. Hideo jelas menikmati kiriman ancaman dengan namaku itu. Tapi aku sendiri malah merasa tegang dan was was.
∆∆∆
"Saya sudah mengirimkannya, Tuan."
Aku tersenyum kecil menatap Lena yang menunduk padaku. Aku tahu dia selalu bisa diandalkan. Sebagai mantan agen kepolisian, dia masih cukup gesit di umurnya yang tidak lagi muda. Tapi aku mempercayainya, dia sudah bersumpah akan selalu berada di pihakku, walaupun salah sekalipun.
Paket itu akan jadi peringatan bagi Hideo. Seorang pembunuh bayaran huh? Kita lihat seberapa hebat dia.