Hiraeth

Hiraeth
20



20.


Teh hangat dan sepiring biscuit jahe dihidangkan oleh Mama Bima di depanku. Dia tersenyum ramah, sedangkan Bima sendiri tengah berganti baju di kamarnya. Mengganti seragam sekolahnya menjdi baju rumahan. Merasa cukup haus padahal tadi baru makan es krim, aku langsung meraih cangkir berisi teh di depanku dan meneguknya dengan perasaan menyesal. Ini panas!


"Terimakasih telah mengantarkan Bima pulang. Aku tidak tahu kalau hari ini dia pulang lebih awal." ucap Mama Bima berterimakasih.


Aku tersenyum kecil dan meletakkan kembali cangkir teh ke tatakannya.


"Sama-sama." jawabku singkat. Yah, aku mau merespon apa lagi memang.


"Ayo diminum tehnya, roti keringnya juga, aku yang membuatnya sendiri."


Merasa dipersilahkan aku tersenyum tak enak hati tapi tanganku tetap mengambil roti kering aroma jahe itu dan melahapnya rakus. Aku berani bertaruh, ini roti jahe terenak yang pernah kumakan! Ah aku mau makan semuanya.


"Ini enak." pujiku di tengah kunyahan memakan roti kering.


"Terimakasih, aku senang kau menyukainya."


Aku melihat Bima di tangga, berusaha turun dengan cepat dan berlari ke arah Mamanya. Dia menggelayut di lengan sang Mama dengan manja.


"Mama, apa makan siang hari ini?" tanya Bima antusias.


Aku agak terkejut, tersedak sedikit dan langsung meminum teh yang dibuatkan untukku. Bagaimana bisa bocah itu berkata apa menu makan siang di jam sembilan pagi?


"Bima mau makan apa?" tanya sang Mama sabar, dia tersenyum lembut ke arah Bima.


"Bima mau ayam goreng ma!" seru Bima semangat.


Oh pantas pipinya terlihat menggembung, dia bocah yang doyan makan rupanya.


"Elaksi makan di sini ya ma!" seru Bima lagi, dia memandangku dengan pandangan memohon.


Aku terdiam, lalu meringis. Makan siang? Di sini? Aku sih mau saja, asal gratis. Tapi aku tidak yakin apa aku masih punya waktu untuk bersantai sementara mungkin Manendra sudah bergerak mengejarku.


"Tentu. Maukah kau makan siang di sini, Ela? Anggap ucapan terimakasih." ujar Mama Bima sambil menoleh ke arahku.


Aku tersenyum, merasa tak enak hati menolak, maka aku menjawab,


"Tentu."


Ah semoga Manendra belum terlalu jauh mencariku.


Siang beranjak dengan cepat, aku mencoba tenang di tengah hawa panas yang mendera padahal air conditioner di ruangan ini cukup dingin, ah salahkan aku yang terus memakai jaketku.


Mama Bima tengah menyiapkan makan siang, aku sebenarnya ingin membantunya. Tapi dia bilang aku tamu dan tidak sepatutnya aku membantunya. Jadi aku berakhir duduk di ruang tamu dengan Bima yang tengah menonton serial kartun di ponsel milik Mamanya.


"Elaksi, bukankah dia keren!" seru Bima tiba-tiba membuat aku menoleh ke arahnya cepat dan memandang layar ponsel yang Bima sodorkan padaku.


Kartun asal malaysia tentang agen rahasia bernama Ali, aku pernah menonton itu di televisi. Aku akui, aku suka kartun yang satu itu.


"Ya, dia keren." kataku berusaha membuatnya senang.


Dia tersenyum girang dan kembali menonton kartun itu hikmat. Aku cuma bisa diam sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Melihat-lihat ruang tamu rumah ini yang terlihat simple dan elegan.


Deru mesin mobil di depan sana membuat Bima langsung terlonjak bangkit dan berlari ke arah teras. Dia berseru 'papa', keras-keras. Oh Papa Bima pulang di jam makan siang? Aku jadi tidak enak jika harus menumpang makan siang di sini.


Suara bariton di depan membuatku menaikkan sudut bibirku, Papa Bima menyeru semangat pada Bima. Aku yakin dia orang yang baik.


"Papa hari ini aku pulang lebih awal." kata Bima yang bisa kudengar dari ruang tamu walaupun mereka ada di teras.


"Benarkah?" sahut suara bariton Papa Bima.


Suara ketukan sepatu dengan sol keras yang menghantam lantai keramik terdengar mendekat. Pintu yang jaraknya hanya beberapa langkah dariku terbuka, Bima muncul dengan menggandeng seorang pria. Lalu aku mematung.


Dan pria itu memicing memandangku.


"Dia Elaksi, dia mengantarkan aku pulang karena Mama belum menjemputku, Papa." celotehan Bima tidak membuat pria itu memalingkan mukanya menghadapku.


Aku tersenyum miring, lalu menyapa Papa Bima dengan suara ramah,


"Halo, saya Elaksi."


Walaupun di dalam sana, aku merasa marah dan ingin segera pergi dari sini, tapi aku aku mencoba tenang. Berusaha keras agar tidak menerjangnya dan berkelahi dengannya sesegera mungkin.


Tuhan seakan baru saja memberiku sebuah takdir yang buruk.


Suara imajiner dalam diriku seolah berseru keras 'Poor you!!'


"Lingga? Kau sudah pulang?"


Mama Bima datang dari arah ruang tengah, menyambut suaminya yang masih intens menatapku. Sadar diacuhkan, Mama Bima menatapku dan suaminya heran.


"Apa yang kau lakukan di sini." ucap Lingga datar dan dalam. Aku berdehem kemudian menyunggingkan senyuman manis padanya.


Aku tetap terdiam, tidak berminat menjawab pertanyaan darinya.


"Hai saya Elaksi, saya mengantarkan Bima pulang tadi, karena__"


Lingga langsung menerjang ke arahku, meraih kerah kausku hingga aku berjinjit. Memotong perkataanku, dia menatap tajam ke manik mataku dan menggeram keras. Bisa kulihat Mama Bima dan Bima terlihat terkejut dengan apa yang Lingga lakukan.


"Apa yang kau lakukan di sini! Kau!"


Cengkramannya di leherku mengencang, aku sampai harus menahan nafas dan tersenyum miring.


"Lama tidak bertemu ya, Brother." lirihku di telinga kanannya.


Dia menghempaskan aku ke sofa keras, dan matanya melotot ke arahku.


∆∆∆


Aku, Lingga, dan Mama Bima yang kutahu namanya Theresa duduk di sofa ruang tamu dengan keadaan tegang. Bima sudah pergi bermain ke rumah tetangga, terpaksa diusir secara halus karena ada urusan dewasa di sini.


Theresa yang terkejut luar biasa saat mendengar aku berbisik pada Lingga hanya mampu terdiam di sebelah suaminya. Tangannya menggenggam tangan Lingga, seolah menenangkan secara batin akan konflik yang muncul tiba-tiba.


"Aku cukup terkejut kau adalah Papa Bima. Tapi kadang takdir memang begitu lucu, bukan begitu, Lingga?" ucapku membuka suara dalam keheningan ini.


Lingga menatapku sengit dan menggeram tak senang. Sebagai balasannya, aku tersenyum miring. Aku bukan lagi Elaksi kecil yang dulu, aku ini pembunuh bayaran. Heol!


"Kupikir kau sudah mati." kata Lingga tajam.


Aku berdecih pelan, dia tetap bersikap begitu. Berkata kasar dan menyakitkan.


Kendati kami kakak adik, dan jarak umur kami tidak terlalu jauh yaitu empat tahun, aku tidak pernah akur dengannya. Lebih tepatnya, dia tidak pernah menganggapku adik.


Bukankah aku sudah menceritakan keluarga kacauku? Ya seperti itulah.


"Sayang sekali, aku masih hidup." ejekku kentara.


"Kau terlihat lebih buruk dari terakhir kali kita bertemu." remehnya.


"Itu belasan tahun yang lalu, Lingga. Sudah sangat lama. Sungguh tidak dipercaya aku bertemu denganmu sekarang."


Dia memandangku tajam, seolah mau memakanku hingga puing-puing terkecil hingga habis. Theresa hanya terdiam sambil mengamati interaksi aneh antara aku dengan Lingga.


"Apa maumu?" tanya Lingga seperti aku sedang menodongnya.


"Aku tidak mau apapun, Lingga. Ini murni kebetulan kita bertemu." kataku santai.


"Lalu, kenapa kau tidak pergi dari sini?"


Alisku terangkat tinggi dan menatapnya sama tajam. Dia benar-benar niat menyingkirkan aku dari hadapannya, dia tidak sudi aku berada di rumahnya.


"Aku akan pergi, segera. Setelah makan siang, aku terlanjur menyetujui ajakan istrimu makan siang di sini."


Dan makan siang terjadi dengan canggung dan dihiasi celotehan Bima yang polos. Dia sudah kembali dari rumah tetangga untuk makan siang. Sedangkan Lingga terus-menerus mengamati gerak-gerikku lamat-lamat.


"Elaksi membelikan aku es krim coklat, Pa. Bukankah dia baik?" kata Bima di tengah makan siangnya dengam ayam goreng.


Lingga tidak menjawab pertanyaan anaknya, dia cuma diam dan mengamatiku. Dan entah perasaanku saja atau tidak, sekelebat aku menangkap sebuah pancaran sedih darinya.


"Aku sudah selesai, terimakasih atas makan siangnya." kataku seraya bangkit berdiri dan membungkuk ke arah tuan rumah (Theresa).


"Kau mau pulang, Elaksi?" tanya Bima tanpa bisa menyembunyikan kekecewaannya.


"Iya, Bima. Mungkin kita akan bertemu lain kali, Bima." kataku berusaha menghiburnya.


"Baiklah." Bima tak semangat mengatakannya.


"Aku pulang dulu, Theresa. Terimakasih atas makan siangnya." pamitku pada Theresa.


Lalu aku melangkah menjauh, menuju pintu depan dan mencoba menekan rasa mengganjal di dadaku. Anehnya, bertemu dengan saudara kandung, aku tidak merasa suka atau tidak suka. Aku malah bingung.


"Aku tidak mengharap dirimu datang kemari lagi."


Aku langsung berbalik dan menatap Lingga yang berdiri di belakangku. Dia menyusulku sampai teras rumahnya.


"Ya, aku juga."


Hening. Lingga menghirup nafas dalam.


"Bagaimana kabarmu, Elaksi?" pertanyaannya membuatku terkejut dan mendongak menatap wajahnya.


Barusan dia menyebut namaku? Oh luar biasa! Tidak bisa dipercaya.


"Baik. Sejauh ini baik." jawabku singkat.


Lalu tiba-tiba dengan lancang aku bertanya,


"Bagaimana kabar ayah?"


Yang mana membuat dia sedikit terlonjak dan menatapku datar.


"Ayah? Dia baik."


"Yah, kalian berdua selalu baik." gumamku.


"Dia baik, berada dibawah tanah, terkubur dengan penyesalan luar biasa tentang anak perempuannya."


Giliran aku yang terlonjak dan mencoba mencerna perkataannya. Maksud dari kata di bawah tanah dan terkubur itu apa?


"Dia mati?"


Aku tidak mau susah payah mengatakan kata sopan berupa 'meninggal'.


"Sudah dua tahun. Dia menyesal terhadap apa yang dia lakukan di masa lalu, dan dia berpesan agar aku dapat menyampaikan ini langsung padamu."


Senyuman miring tercetak jelas di mulutku, Lingga benar-benar tenang dan santai saat mengatakan semua itu.


"Wah, tidak bisa dipercaya ya. Lupakan saja, aku tidak akan mengungkit yang telah lalu. Sekarang, hidupmu adalah milikmu dan hidupku adalah milikku. Anggap saja kita tidak saling kenal jika kita bertemu suatu hari nanti. Kita sudah memilih jalan masing-masing, Lingga. Selamat tinggal."


Aku berjalan pelan ke arah gerbang, bermaksud segera pergi dari pelataran rumah ini atau aku akan mengamuk pada diriku sendiri. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, Lingga mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti berjalan.


"Maaf."


Satu kata itu, dan aku mendengkus lalu menjawab,


"Terlambat." seraya berjalan pergi.


Di sepanjang perjalanan, aku menunduk memandangi trotoar dan udara jalanan yang makin panas. Bising di sekitarku malah berbanding terbalik pada keadaanku sekarang.


Hiraeth. Aku merasakannya sekarang. Seperti yang pernah kubaca dalam sebuah buku, Hiraeth adalah sebuah keadaan dimana kita merasa rindu terhadap rumah yang tidak bisa kita kunjungi. Ya mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki rumah untuk kukunjungi. Atau aku tidak pernah merasa ada seseorang yang bisa menjadi 'rumah'ku.


Bertemu Lingga membuatku tahu, bahwa jauh di sana. Aku merasakan sebuah harapan bahwa aku ingin memulai hidupku yang baru. Tanpa Lingga, tanpa ayahku yang terus membayangi. Tanpa perasaan berat setelah mendengar kematian ayah tadi. Kumohon seseorang, bisakah aku memiliki rindu untuk rumahku sendiri?