Hiraeth

Hiraeth
6



6.


Jam lima lebih dua puluh lima sore, aku sudah siap dengan topeng silikon di wajahku, mini dress super ketat dengan rok mengembang dan heels yang panjangnya hampir 7 centi. Aku menyelipkan senapan dan sarung tanganku di paha. Dan jika kalian tanya dimana revolverku atau pisauku untuk membunuh? aku tidak perlu memakai itu, aku akan memakai yang lain saja.


Bayangan perempuan dengan wajah yang bukan aku dan dandanannya yang jalang membuat dahiku mengernyit. Ide menggunakan masker silikon di wajahku adalah untuk menghindari pemindaian wajah oleh polisi untuk menemukan pelaku.


"Siap?"


Aku berjengit saat Daniel tiba-tiba masuk ke kamarku dengan santainya, dia tengah memegang sekaleng kopi cincau yang pasti dia dapat dari lemari pendinginku.


"Ya, bagaimana denganmu?" tanyaku balik.


Dia mengendik, meneguk kopi cincau kalengannya dengan tegukan besar. Lalu tatapannya beralih kembali padaku.


"Aku lebih dari siap. Let's started."


Aku dan Niel keluar dari kamarku, dia menuju ruang tamu dimana laptop milikku sudah dibajak menjadi laptop yang akan menghack kamera cctv MN's karaoke. Aku mengambil jaket dan masker yang Niel kenakan saat dia datang kemari, memastikan bahwa semuanya terpasang sempurna aku menuju keluar apartemen. Samar aku mendengar Daniel mengatakan 'good luck'. Dan aku memang butuh keberuntungan, di setiap kerjaku.


Saat tiba di loby, aku di sambut langit sore kemerahan yang sebentar lagi berubah jadi hitam. Aku langsung menuju ke jalan depan, menyetop taksi dan mengatakan tujuanku pada si supir. Dengan tak sabaran aku mengetuk-ngetuk kaca jendela taksi dengan mata jelalatan memandang jalanan.


Jalanan cukup macet hingga aku tiba di MN's sekitar jam enam lebih, aku harus menahan diriku agar tidak mengerang saat kemacetan mengular di jalanan.


Loby MN's terlihat ramai seperti biasa saat taksi berhenti di pelatarannya, aku juga melihat beberapa pegawai MN's yang lalu lalang dengan membawa nampan penuh minuman. Aku langsung melepas masker dan jaketku, meninggalkannya tetap di taksi dan mengulurkan dua lembar uang seratus ribuan pada supir seraya mengatakan terimakasih lalu melangkah turun. Kuhela nafasku pelan, lalu berdoa dalam hati agar kerjaku kali ini membawa dosa kecil, bukannya besar. Yah, setidaknya aku berkompensasi dengan Tuhan.


Kakiku yang terbalut heels 7 centi itu melangkah di paving block menuju loby. Saat tiba di pintu masuk, pandanganku mengedar memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, kemudian aku kembali melangkah. Menuju lorong dimana aku bisa menemukan ruang VVIP tempat dimana Bambang Antareja berada.


Dengan langkah pasti aku menuju ruangan VVIP itu, menekan handle pintunya dan masuk. Ruangan karaoke ini lenih besar dari yang lain, juga terdapat beberapa sofa luas dan interior yang mirip hotel berbintang. Belum ada siapapun di sini.


Aku duduk di sofa dengan sikap anggun, mataku menilik jam dinding yang di pasang di atas layar televisi. Jam enam lebih dan kemungkinan aku harus menunggu sekitar setengah jam. Maka selama setengah jam itu aku hanya duduk dan melihat ke sekeliling, apa aku bisa mencari celah kabur yang lebih aman daripada pintu. Tapu tidak ada, kamar mandinya pun tertutup. Jadi jalan satu satunya adalah pintu. Aku mengeluarkan sarung tangan tipis warna kulit yang kuselipkan di paha, memakainya dan mulai mengatur mimik.


Suara handle pintu dibuka membuatku tegang seketika, lalu tubuhku melemas lagi dan kupasang senyum paling manis yang bisa kubuat. Tapi dengan silikon di wajahku, aku tidak tahu seperti apa bentuk senyumku saat ini. Apa menyeramkan atau mungkin sangat menyeramkan.


Pintu terbuka dengan lebar, Bambang Antareja berdiri di ambang pintu dengan dahi berkerut memandangku.


"Siapa kau?" tanyanya bingung.


Aku tersenyum dan mengedip seduktif padanya seraya menjawab,


"Aku temanmu malam ini, sayang."


Desahan di akhir kalimatku membuat Bambang Antareja tersenyum senang, berbalik denganku yang ingin gumoh karena peran yang kuambil sangatlah jalang.


Dia berjalan dengan tubuh tambunnya ke arahku, aku bahkan meringis ngeri kalau-kalau dia malah menggelinding bukannya berjalan. Bambang Antareja menutup pintu dan menguncinya hingga bunyi 'klik' dua kali terdengar. Dengan seringaian cabul dia duduk di sampingku, mendempel dengan amat dekat dan tangan gemuknya itu mendarat di pahaku yang terpampang jelas. Aku sebenarnya ingin mematahkan tangannya itu, atau lebih baik mencolok matanya yang memandang dadaku sambil mulutnya berliur. Ewh.


"Siapa namamu, manis." kata Bambang Antereja dengan mencolek daguku sensual.


Aku mundur dan tersenyum malu-malu, lebih tepatnya pura-pura tersenyum malu-malu.


"Tidak perlu nama untuk bersenang-senang, bukan begitu sayang?" tanyaku balik menggodanya.


Dia tersenyum makin lebar dan dengan kurang ajarnya tangan tambun itu mengelus pahaku maju mundur.


"Kau mau memainkan satu lagu untukku sayang?"


Bambang Antareja malah ikut memanggilku sayang, aku tersenyum tipis. Dan mengangguk pelan, dalam hati aiu menggerutu keras-keras. Bagaimana bisa seseorang seperti dia menjadi menteri dalam sebuah pemerintahan. Apa orang-orang yang memilihnya rabun dan buta? Jelas-jelas watak seseorang sepertinya hanya berputar pada kesenangan duniawi tanpa henti, bahkan dia pasti tidak perduli jika nantinya dia juga yang akan berlaku curang untuk memenuhi kehidupannya yang penuh kesenangan itu.


Pemerintahan adalah tonggak sebuah negara, jika orang-orang dalam pemerintahan adalah orang-orang seperti Bambang Anterja, maka hancur sudah negara ini. Tidak butuh waktu lama untuk masalah datang bersamaan dengan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan. Bukannya sok peduli dan sok tahu masalah itu, tapi aku sudah muak ikut campur dalam eksekusi setiap pejabat kotor dan para penjahat politik.


Aku meraih remot televisi dan menyalakannya, memilih tombol menu karaoke dan mencari lagu dalam kolom pencarian musik. Aku memilih lagu Darkside dari Alan Walker, merasa masa bodo dengan Bambang jika dia terbiasa karaoke dengan lagu campursari atau dangdut.


Darkside adalah salah satu dari sekian lagu yang sangat mewakili diriku. Aku memulai lagu itu dengan penuh emosi, lalu saat mulai masuk pada pre chorus aku melambat. Meresapi setiap kata yang keluar dari panel televisi, mengabaikan elusan di pahaku yang makin merambat naik.


Fall in to the darkside


Jatuh ke sisi gelap


We don’t need the light


Kami tak membutuhkan cahaya


Aku memang sudah jatuh ke sisi gelap diriku sejak kecil, bahkan dengan keadaan seperti ini aku tak pernah memikirkan untuk keluar dari tembok dosa yang makin mengokoh.


We’ll live on the darkside


Kami akan tinggal di sisi gelap


I see it


Let’s feel it


Ayo kita rasakan


Kami, para pendosa ulung akan selalu pada jalan yang sama. Mencari cari jati diri tanpa tahu itu akan menjerumuskan kami makin dalam pada jurang neraka, aku berada di sisi gelap. Tapi aku memang melihat bagaimana orang lain hidup damai dengan keluarga bahagia, aku merasakan emosi yang rasanya terbuang percuma.


Saat tangan Bambang Antereja berada di perutku, aku langsung merogoh senapanku di paha dengan tangan kiriku yang bebas. Aku langsung memeluk Bambang Antareja, dan masih dengan menyelesaikan nyanyianku, kutembakan senapan berisi ludiomil dan serlof ke lehernya.


Dia menjerit keras dan mendorongku agar menjauh tepat saat aku menyelesaikan laguku. Matanya membelalak memandangku dengan ngeri, kusunggingkan senyum miring dan kembali mengantongi senapanku. Aku hanya perlu menunggu obatnya bereaksi.


"Jadi Bambang Antereja, bagaimana? Apa sakit?" tanyaku dengan nada meremehkan.


Dia seperti terserang penyakit sesak nafas, tangannya memegangi dadanya dan mukanya merengut bagai kismis. Ck, tidak mungkin juga aku kelebihan mencampur obat, tapi masa bodolah.


"K-kau!" seru Bambang tapi dengan nada seperti orang bengek penyakitan.


Aku jongkok di depannya, lalu menatap matanya yang sayu karena obatnya mulai bereaksi.


"Langsung saja pada intinya, apa kau membunuh Ni Putu Anggraini, Pak Bambang yang terhormat?" tanyaku dengan mencengkeram dagunya yang berlemak.


Dia berkedip-kedip, kemudian membelalak dan menggeleng keras.


"Bukan, bukan aku. Tidak." serunya patah-patah.


Aku mendesis kesal lalu menampar pelan pipinya hingga membal.


"Kau tidak mau mengakuinya? Baiklah, nantikan saja hukumanmu di neraka."


Aku mengambil pulpen di saku kemeja besarnya, lalu membuka tutupnya dan mulai menyeringai. Bambang Antereja menampakkan wajah takut dan gemetar sambil berkata 'bukan aku' lirih. Tanpa lama aku menancapkan pulpen runcing itu ke nadi di lehernya, membuat darah memancar keluar dan menetes membasahi lehernya. Dia terbelalak dan memegangi pulpen yang sengaja kutancapkan dalam-dalam.


"Bagaimana rasanya? Kau suka? Tapi aku harus pergi, selamat tinggal."


Setelah mengatakan itu aku langsung meraih kunci ruang karaoke itu di sakunya, membuka pintu dengan santai dan keluar dari sana. Kututup pintu itu rapat kemudian berjalan menuju pintu belakang, kulirik cctv yang kuyakin sudah di hack oleh Daniel. Sambil bersenandung, aku melepas sarung tangan dan membuangnya di semak-semak taman belakang tempat karaoke. Berjalan seratus meter ke jalan, kemudian menyetop sebuah taksi.


"Kemana neng?" tanya si sopir.


"Toko baju dekat pasar pak." jawabku tersenyum.


"Siap."


Taksi mulai berjalan meninggalkan kompleks karaoke, dan dalam perjalanan aku menatap tanganku sendiri. Kemudian tersenyum miris, pekerjaanku hina sekali.


∆∆∆


Aku diantarkan sampai dengan ruko toko pakaian yang berjaja tanpa cctv, aku langsung masuk. Membeli baju dan celana serta jaket dengan uang tunai yang kubawa. Aku juga langsung memakainya dan menyetop taksi menuju apartemen.


Jaket yang kubeli memang sengaja sama dengan jaket yang kutinggalkan di taksi saat berangkat ke MN's karaoke tadi. Daniel juga sengaja membawa jaket yang desainnya pasaran, agar aku mudah mencari jaket yang sama di toko. Semuanya bakal jadi mudah sekarang, aku langsung pergi setelah membayar. Menuju halte bis yang jaraknya lumayan dekat dan naik bis ke apartemenku.


Sampai di apartemen, aku langsung menuju lantai atas. Masuk ke dalam tempat tinggalku sejak lama itu dengan perasaan penat. Saat aku masuk, Daniel masih duduk di sofa panjang ruang tamu dengan laptop milikku. Dan matanya yang terang karena terpantul cahaya laptop tidak berkedip sama sekali.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Niel seperti seorang ayah yang menanyakan anaknya apa dia sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya atau belum.


Aku menggumam, menuju kamar dan mengganti bajuku. Setelah itu aku keluar lagi menuju dapur, mengambil camilan dan air jus dari lemari pendingin kemudian baru ikut duduk di samping Niel yang masih dalam posisi yang sama.


"Apa itu akan jadi berita besar?" ucapku dengan mulut di penuhi chips yang baru saja kumakan.


"Ya. Kematian menteri kontoversial seperti Bambang Antareja akan jadi perbincangan publik mulai dari... sekarang." ucap Daniel dibarengi dengan tayangan cctv MN's yang dia hack tengah menayangkan seorang pelayan tengah membuka pintu ruangan VVIP itu, dan dia terlonjak kaget saat menemukan Bambang Antareja yang sudah mati.


"Aku bahkan berani bertaruh beritanya akan jadi headline dimana-mana." ucapku penuh kebanggaan.


Tidak ada yang lebih membanggakan ketimbang memiliki sebuah prestasi seperti ini.


"Ya. Aku akan mulai membuat beritaku sendiri." kata Niel datar.


Aku sontak tertawa keras, menahan rasa geli di perutku yang tiba-tiba timbul. Dia selalu begitu. Menjadi partnerku dalam hal blocking dan keamanan membuatnya juga harus pintar-pintar mengalihkan perhatian publik. Seperti membuat berita bohong agar masyarakat percaya bahwa Bambang Antareja dibunuh karena salah satu jalangnya dendam dengan dia.


"Good luck dengan beritamu, kau harus keluar, aku mau istirahat." usirku jelas padanya.


Niel mematikan laptopku, mengambil jaket yang kubeli dari toko dan memakainya.


"Kau masih punya tanggung jawab, Ela." ucap Niel sambil mengancingkan jaketnya.


"Aku tahu, aku bukan pekerja amatiran. Jangan khawatir." balasku sengak.


Dia malah memutar bola matanya malas, kemudian tanpa basa-basi atau salam dia keluar apartemenku dengan memakai masker yang entah darimana dia dapatkan.