
12.
"Bisakah kau menyuapiku sekarang, aku lapar." keluh Manendra sambil menatapku dengan mata memelas.
Kuhela nafasku pelan, lalu bangkit berdiri menuju ke arahnya. Karena bingung mau duduk dimana aku menyeret sebuah kursi di dekat sofa dan membawanya dekat pada Manendra. Aku duduk dan menyodorkan sesuap nasi uduk padanya. Dengan lauk ayam, aku cukup kesusahan untuk memisahkan daging dan tulang dengan sendok jadi mungkin nanti saja.
Dia melahap dengan rakus suapan yang kusodorkan. Matanya masih terpaku pada layar komputer yang isinya hanya angka dan grafik. Aku tidak tahu apa arti angka dan grafik itu, karena jujur aku benci ekonomi. Atau hal semacam itu, yang melibatkan neraca perdagangan dan perhitungan laba rugi. Walaupun aku tidak masuk sekolah dasar dan langsung loncat ke sekolah menengah pertama, aku tahu hitung menghitung. Mereka kadang mengasyikkan, dan kadang juga memuakkan. Apalagi jika menghitung sesuatu yang tidak nyata, seperti angka dalam kertas misal, atau laporan keuangan.
"Suapi aku, Elaksi." kata Manendra dingin.
Kukerjapkan mataku lalu tersadar dan merutuk dalam hati, aku terlalu terpaku melihat layar komputer.
"Bisakah kau menaruh ayam juga dalam suapannya, aku tidak ingin hanya makan nasi." protesnya terdengar lucu di telingaku. Malah seperti gerutuan anak kecil yang mana tidak dibelikan mainan yang dia inginkan.
"Baik."
Aku hendak berdiri, bermaksud mengambil garpu yang masih ada dalam paper bag, tapi tangan Manendra mencegahku.
"Kau tak perlu menggunakan garpu dan sendok, Ela. Akan merepotkan, gunakan tanganmu."
Aku terkejut, dia mau makan dari tanganku?
"Anda mau saya suapi dengan tangan saya?" tanyaku kaget.
Dia tersenyum,
"Tentu, Elaksi. Kenapa tidak? Aku sudah terlalu lapar untuk menunggumu menggunakan garpu dan sendok."
Jauh di dalam hatiku, aku merasa semuanya terasa janggal di sini. Pertama dia memintaku menyuapinya, kedua, dia memintaku menyuapinya menggunakan tangan telanjang. Dan dia tidak masalah dengan itu, tapi aku yang merasa itu masalah.
"Ayo, Ela."
"Saya akan mencuci tangan saya terlebih dahulu."
"Oh baiklah, kamar mandinya ada di sebelah sana." ucapnya sambil menunjuk sebuah pintu dekat lemari penuh piala entah apa.
Kuletakkan kotak makan yang isinya masih utuh itu ke meja kerja Manendra, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Saat aku masuk, aku langsung mencuci tanganku di wastafel. Dan tak lupa melihat pantulan bayanganku di kaca kecil yang tersedia. Situasi ini membuatku merasa tidak betah. Aku ingin pulang, makan ramen dengan segelas limun di kamarku sendiri. Menonton anime Another yang sudah kutonton puluhan kali dan merasa aman di sana. Berada di dekat Manendra membuatku merasa bahwa dia bukanlah dia.
Aku menggumam 'semua bakal baik' pelan dan berbalik keluar dari kamar mandi. Aku kembali duduk di kursi dekat Manendra kemudian mulai menyiapkan suapan untuknya dengan tanganku. Kusodorkan suapan itu ke mulut Manendra, dan dia menoleh, tersenyum sebentar lalu melahap tanganku. Benar-benar melahap kelima jariku ke mulutnya, dia membiarkan mulutnya di sana beberapa saat dan menariknya keluar bersama makanan yang ada di tanganku. Sekejap aku merasa jijik karena kelima jariku basah karena liurnya, tapi anehnya dia terlihat santai dan senang. Senyuman di bibirnya juga tidak pernah luntur sedari tadi.
Begitu seterusnya sampai suapan terakhir, bahkan saat suapan terakhir, dia mengulum jari jemariku satu persatu hingga aku menariknya paksa keluar dari mulutnya. Dan langsung berdiri dan menuju kamar mandi lagi. Aku mencuci tanganku dengan sabun, lalu bergidik saat terbayang bagaimana cara Manendra makan dari tanganku. Dia seolah sengaja mengulum lama kelima jariku di mulutnya.
"Saya rasa saya harus pulang, Tuan." pamitku saat baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku mengangkut kotak makan ke dalam paper bag tanpa merapihkannya. Masa bodo, yang terpenting adalah keluar dari sini sebelum aku menembak kepala Manendra karena rasa takut yang tiba-tiba datang.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Elaksi. Makan siang yang nikmat, sangat nikmat." ucapnya dengan seringaian yang lebar.
Aku mengangguk lalu keluar dari tempat itu. Dadaku berdebar, dahiku berkeringat dan aku merasa bingung.
∆∆∆
Kutatap tangan kananku, lalu mengernyit. Aku masih bisa merasakan *** bibir Manendra di jari-jariku. Rasanya menjijikkan.
Aku sudah berada di kamarku dengan sebelumnya mencuci tanganku lagi untuk yang kedua kali di kamar mandi. Lalu duduk di ranjang dengan ponsel yang baterainya masih banyak. Aku tidak tahu harus apa dengan benda elektronik sejuta umat itu. Tidak memiliki teman selain Niel membuatku kadang berpikir aku sangat menyedihkan, dan seperti saat ini. Aku tidak punya teman untuk saling kabar satu sama lain. Atau keluarga.
Tiba-tiba sebuah pemikiran terbesit di pikiranku. Dengan cepat aku meng'klik' mesin pencarian di internet dan mulai mengetik nama Manendra Nawasena di kolom pencarian. Tak sampai sepersekian detik, muncul sederet artikel tentangnya mulai dari gaya hidup sampai fashion. Oh aku tidak tahu dia seterkenal itu.
Manendra Nawasena berumur 32, ada yang mengatakan tiga dua, ada yang mengatakan 34 dan banyak pendapat lainnya. Dia kelahiran London, tanggal 4 Juni dengan tahun yang masih dipertanyakan. Ibunya bernama Prim Rose (Yang mengingatkanku pada Hunger Games) asli London, dan ayahnya Dewa Brata Nawasena asli jawa. Dia memiliki dua kakak, satu perempuan dan satu laki-laki. Keduanya sudah menikah. Si sulung bernama Lorand Nawasena yang menikah dengan perempuan asal Jepang dan tinggal di Amerika. Oke ada detailnya juga tentang Lorand memiliki seorang putri. Kemudian di tengah, Alzana Nawasena. Menikah dengan laki-laki berkebangsaan Italia dan menetap di Itali, mereka dikaruniai dua anak laki-laki.
Di sini juga dijelaskan bahwa orangtua Manendra menetap di sebuah desa kecil di Inggris. Ingin menghabiskan masa tua berdua bersama. Sweet sekali mereka. Dan tidak ada yang tahu dimana lokasi pasti tempat tinggal Prim Rose dan Dewa Brata Nawasena di Inggris. Beberapa berkomentar mungkin karena mereka tidak ingin di ganggu privasinya. Dan yang lain mengatakan bahwa mereka berdua sangat manis. Yeah, aku setuju.
Saat aku hendak men'scroll' berita itu makin ke bawah, sebuah email masuk melalui web Bloody Killer menuju emailku.
From : starkillfuckyou@ymail.com
Subjek : Got you!
Hai rival, aku baru saja kembali ke Indonesia beberapa hari lalu ketika berita kematian Menteri Bambang Antereja merebak. Tebak? Aku tahu siapa yang membunuhnya! Jelas aku tahu karena kau payah menyembunyikan bokongmu yang seksi di kamera cctv. Temui aku besok di tempat biasa, baby. Aku bawa oleh-oleh dari tugasku di China.
With ****,
Starkill.
Lalu sejumlah emot ikon lawas berbentuk cium seperti :*, ini. Aku mendesis tak suka saat email itu berasal dari Star Kill.
Nama aslinya Hideo Yamato, laki-laki kelahiran Jepang tapi berkewarganegaraan Indonesia sejak enam tahun lalu. Mesum, dan sangat menjengkelkan. Aku bertemu Hideo pada saat misiku di Jombang, Jawa Timur. Saat itu aku di suruh membunuh salah satu ketua gengster atau bahasa tanah airnya ketua preman. Dan di sanalah aku bertemu Hideo yang kebetulan berada dalam satu hotel yang sama denganku. Aku memang sering mendengar berita tentang dia kala itu tapi baru bertemu. Dan mungkin karena profesi kami yang sama, yaitu sama-sama pembunuh bayaran, kami cepat akrab. Tapi kami tidak pernah menganggap satu sama lain teman. Melainkan rival, aneh memang.
Dia memiliki nama keren Star kill, namanya itu cukup terkenal seantero perkumpulan pembunuhan bayaran nusantara. Itu karena dia memiliki ciri khas tersendiri dalam membunuh, dia biasanya menggunakan suriken atau pisau dalam membunuh. Yah walaupun lebih sering menggunakan suriken.
Terakhir aku tahu kabar darinya itu enam bulan yang lalu, saat dia mengirim pesan singkat kalau dia akan pergi ke China untuk mengemban pekerjaan yang cukup berat. Itulah bedanya aku dengan Hideo. Jika dia sudah go internasional dan terkenal di berbagai macam negara, aku memilih tetap tinggal di zona nyamanku tanpa mau melangkah lebih jauh. Toh di Indonesia pun banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Aku dan Hideo jarang saling mengabari, itu karena dia sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk dengan urusanku. Maka aku cukup terkejut juga saat email itu berasal darinya.
Email darinya tidak kubalas sama sekali, tapi mungkin aku akan menemuinya besok. Daripada aku mati kebosanan di rumah mewah serba ada ini, lebih baik aku keluar mencari udara segar walau hanya bertemu Star kill.
Aku kembali menuju halaman mesin pencarian di internet, menggulir halaman berita makin ke bawah lalu mengerutka dahi saat sebuah artikel bertanggal lima tahun lalu menjadi pusat perhatianku. Kutekan artikel itu dengan penasaran memuncak, lalu mulai tak sabar dengan sinyal yang tiba-tiba jelek. Dan saat halaman berita muncul aku langsung membaca judulnya dalam hati keras-keras.
Begitu judulnya. Aku yakin itu berita asli karena berasal dari web berita terpercaya. Aku mulai membaca berita itu, paragraf pertama pun sudah menjelaskan banyak hal. Tentang Maria Ajeng yang merupakan model kelahiran Jogja yang bertunangan dengan Manendra Nawasena. Paragraf kedua berisi tentang kabar putusnya pertunangan mereka. Dan paragraf ketiga beriai spekulasi tentang orang ketiga dalam hubungan tersebut.
Aku terdiam saat selesai kubaca habis artikel itu. Merasa tidak percaya Manendra sudah pernah mau menikah. Tapi gagal dengan alasan tidak jelas. Aku hanya berpikir, dimana aku saat berita ini mencuat ke publik? Oh pasti aku sibuk membunuh ke sana kemari tanpa mau tahu berita apapun.
Kukeluarkan artikel itu ke beranda lalu mulai menggulir lagi, kali ini aku menemukan berita lebih mencengangkan. Judulnya sangat membuatku terheran, bahkan tidak hanya satu judul saja. Banyak judul dengan topik yang sama. Topik tentang menghilangnya Maria Ajeng sebulan setelah putusnya pertunangannya dengan Manendra.
Mataku menangkap beberapa kata kunci seperti 'hilang', 'tidak ditemukan', 'diduga kabur', dan lain sebagainya. Yang lebih mengarahkan pembaca untuk berpikir bahwa Maria Ajeng frustasi karena dia diputuskan oleh Manendra kemudian dia kabur dari rumah. Aku bahkan menemukan berita satu tahun yang lalu bahwa Maria Ajeng tidak pernah ditemukan sampai sekarang.
Ketukan pelan di pintu kamarku membuat aku terlonjak, lalu menoleh ke arah pintu dengan cepat. Aku meraba jantungku yang terasa menggedor dari rongganya. Lalu aku bangkit dan meletakkan ponselku ke nakas.
Aku berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit, mengintip siapa pelaku yang mengganggu.
"Selamat malam, Nona." sapa Herman di depan pintu.
Terlalu asik mencari informasi tentang Manendra membuatku lupa waktu dan baru sadar bahwa ini sudah malam. Aku bahkan belum mandi sama sekali, ah sial.
"Malam. Ada apa?" tanyaku dengan membuka pintu agar lebih lebar.
"Tuan Nawasena baru saja pulang dari kantor, dia ingin anda membuatkan kopi untuknya." katanya sedatar jalan aspal.
"Oh begitukah? Baiklah."
Aku keluar kamar dan menutup pintunya erat, mengikuti Herman yang telah lebih dulu melangkah menuju tangga.
Saat tiba di dapur sekaligus ruang makan itu, aku sudah menemukan Manendra duduk di kursi makan paling ujung dengan laptop yang menyala di depannya. Dia sudah terlihat segar dengan kaus abu-abu polos dan celana pendek. Kuakui dia terlihat tampan menggunakan setelan apapun di tubuhnya. Dia sudah di rumah dan membersihkan diri, berarti pulang sejak lama. Tapi aku tak mendengar suara apapun saat dia pulang. Ah ya, memang kalau pulang harus berteriak 'aku pulang' seperti dalam kebiasaan orang Jepang.
Herman berjalan lurus menuju ruang belakang, sedangkan aku berbelok menuju pantry. Sepertinya Manendra terlalu terfokus pada pekerjaannya sehingga tidak melihat aku dan Herman datang.
Aku membuat secangkir kopi pahit kesukaan Manendra dengan sepiring biscuit yang kudapat dari lemari pendingin. Cangkir berisi kopi mengepul dan biscuit kubawa dalam nampan dan membawanya pelan menuju meja makan.
"Tuan Nawasena, ini kopi anda."
Kupikir aku sudah mengatakan itu dengan pelan dan dengan nada yang ramah. Tapi dia terkaget dan hendak meraih leherku, jadi aku menahan tangannya erat dan melotot memandang tangannya. Dia mau mencekikku?
"Oh Elaksi, maafkan aku. Aku terkejut, kukira kau orang lain." ucapnya minta maaf.
Aku melepaskan peganganku pada lengannya lalu tersenyum dan mengatakan,
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya yang salah karena telah mengagetkan anda." kataku berperan sebagai asisten yang teladan.
"Ah ya, letakkan kopinya di meja, Ela."
Aku baru sadar bahwa aku membawanya dengan satu tangan, yaitu tangan kiriku. Itu karena tadi aku menghentikan Manendra dengan tangan kananku. Tanpa banyak basa-basi aku meletakkan nampan itu ke meja. Tapi saat aku hendak melangkah pergi, sebuah tangan menahanku.
"Temani aku, Ela. Sebentar saja." pinta Manendra.
Kuhela nafasku pelan. Dia benar-benar banyak permintaan, mulai dari aku yang harus makan bersamanya, menyuapinya, dan sekarang menemaninya minum kopi.
"Baik, Tuan." jawabku malas mendebat.
Dia tersenyum senang saat aku duduk di kursi makan yang paling jaraknya dua kursi darinya. Dia meraih cangkir yang kuletakkan dekat dengan jangkauannya lalu menyeruput kopinya pelan. Dia meletakkan kembali cangkir ke nampan, lalu kembali terfokus pada layar laptop yang menyala.
"Kau punya refleks yang bagus, Elaksi." ucapnya di tengah ketikan jarinya pada keyboard laptop.
Aku mendongak menatapnya, mengalihkan pandanganku dari meja berpelitur ke arah mukanya yang bersinar diterpa cahaya laptop yang terlalu terang. Dia tidak memakai kacamatanya, mungkin itu sebabnya dia menyalakan laptop dengan kecerahan tinggi.
Oh apa tadi, aku punya refleks yang bagus?
"Maksudnya?" tanyaku masih bingung.
Dia menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu menoleh ke arahku.
"Kau menghentikan aku yang hendak mencekik lehermu. Refleksmu bagus sekali." jelasnya.
Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. Sebagai pembunuh bayaran, gerakan gesit dan lincah sangat dibutuhkan. Jadi itu merupakan hal dasar, tapi saat ditanya dalam situasi seperti ini, aku harus menjawab apa?
"Saya hanya refleks, Tuan."
Dia mengangkat alisnya sebelah, menatap mataku dalam lalu kembali pada pekerjaannya. Aku mendesah pelan, lalu merebahkan tanganku di meja makan yang luas. Dan tanpa kusadari aku meletakkan kepalaku ke meja, dan tak lama aku mulai terlelap.
∆∆∆
Oh lihatlah caranya tidur, sangat menggemaskan. Aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.
Aku langsung mematikan laptopku, mengabaikan pekerjaan yang seharusnya rampung esok hari. Sekarang yang lebih penting adalah dia. Aku bangkit berdiri dan berjalan mendekati Elaksi. Aku membungkuk mensejajarkan wajahku agar sejajar dengan wajahnya. Dia mendengkur kecil, oh sangat manis.
Dengan sigap aku membopongnya, membawa dia naik ke lantai atas menuju kamarnya. Saat tiba di kamar yang spesial kusiapkan untuknya itu, aku langsung meletakkan dia hati-hati ke ranjang. Aku menyelimutinya, kemudian kukecup dahinya pelan. Kupandangi wajahnya yang elok itu, lalu aku mendekatkan mulutku ke telinganya dan berbisik,
"Milikku."
Mine.
Sejak aku melihatnya pertama kali, dia milikku.