Hiraeth

Hiraeth
10



10.


Jam lima tiga puluh adalah rekor bangun paling awal bagiku. Jelas karena sudah kubilang aku ini terlalu malas bangun. Merasa bangun siang atau pagi sama saja, sama-sama membosankan karena aku bekerja di malam hari. Tapi mungkin kali ini alam bawah sadarku siaga dengan keadaan bahwa aku harus menyiapkan sarapan untuk si pemilik rumah, jadi aku bangun dengan sendirinya. Bangun tidur aku langsung mandi, sama seperti lagu anak-anak 'bangun tidur kuterus mandi'. Tanpa mengaca dan merenung, aku mandi dengan air hangat dari shower. Setelah itu aku berpakaian, turun ke bawah menuju dapur dan membuat sarapan untuk Manendra.


Aku membuat nasi goreng bumbu bali dan kopi pahit. Walaupun aku lebih suka memegang revolver ketimbang wajan, tapi memasak cukup mengasikan juga. Apalagi jika aku tidak perlu membeli bahan masakannya, hanya tinggal memakai.


Aku meletakan sepiring nasi goreng dan secangkir kopi di meja. Menunggu Manendra turun dan memakan sarapannya sebelum berangkat bekerja. Dan tidak sampai lima menit, tubuh tinggi tegap Manendra turun dari lantai dua dan menuju dapur dengan dandanan khas para eksekutif muda. Kemeja, vest, jas, celana bahan dan sepatu kulit yang harganya mungkin bisa untuk membeli dua buah revolver tanpa menghutang.


"Selamat pagi, Tuan." sapaku seramah mungkin.


Itu atas inisiatifku sendiri, sebagai asisten rumah tangga yang baik dan berkepribadian baik pula (Kurasa). Aku harus menyapa Manendra dengan ramah agar dia senang. Itu terbukti dengan dia yang tersenyum lebar dan menyapaku balik dengan mata berbinar-binar.


"Pagi, Elaksi. Sarapan apa hari ini?" tanyanya antusias.


Aku tersenyum kecil lalu mempersilahkan dia duduk di kursi makan paling ujung. Yah, namanya juga orang kaya. Punya meja makan dengan dua belas kursi padahal dia hanya tinggal sendiri.


"Nasi goreng bumbu bali dan secangkir kopi. Apa anda menyukainya?"


Dia tersenyum lebih lebar menatap makanan yang aku hidangkan. Laku dengan cepat dia menoleh ke arahku, sedikit mendongak karena aku berdiri dan dia duduk.


"Aku suka ini, ayo makan."


Dia mengajakku sarapan bersamanya?


"Apa?" tanyaku bingung.


Dia terkekeh pelan lalu menarik tanganku agar aku duduk di kursi makan sebelahnya.


"Ayo makan, sarapan bersamaku." ajaknya dengan gestur agar aku makan sepiring bersamanya.


"Tidak usah, Tuan. Saya akan sarapan nanti, bukankah anda harus bekerja?"


Jelas aku menolak, bukankah aku asisten rumah tangga di sini. Makan sepiring dengan dia itu tidak mungkin. Aku juga tidak mau, itu terasa aneh bagiku.


"Makan bersamaku, Elaksi."


Sekarang senyuman lebar di wajahnya berganti dengan wajah datar yang mengancam. Nada suaranya juga berubah jadi lebih dalam dan dingin. Dahiku mengernyit memandang wajah raut wajahmu yang berubah secepat kilat.


"Tapi__"


"Makan bersamaku!"


Aku terlonjak kaget, hampir berdiri saat mendengar dia membentak ke arahku dengan keras. Matanya yang melotot melembut kembali lalu menyodorkan sepiring nasi goreng buatanku ke arahku.


Ada dengannya?


"Baiklah." ucapku mengalah.


Aku menyendok sesuap nasi goreng kemudian memasukkannya ke dalam mulutku. Di sudut mataku bisa kulihat, Manendra tersenyum lebar. Dan matanya berbinar melihat aku makan. Kudorong piring berisi nasi goreng yang masih banyak itu ke depan Manendra.


"Saya sudah memakannya, anda bisa sarapan. Saya akan ambilkan sendok baru untuk anda." kataku dengan masih memegang sendok.


Aku tidak harus makan semuanya bersama dia bukan, cukup satu suap sebagai simbolis aku makan bersamanya.


"Tidak usah." tolaknya.


"Anda mau makan dengan tangan?" tanyaku ragu.


Dia menolak aku yang mau mengambilkan sendok baru untuknya, apa dia mau makan dengan tangan?


"Tidak, bukan. Kemarikan sendokmu." ucap Manendra dengan mengisyaratkan agar aku membawa sendok di tanganku padanya.


Karena bingung aku menuruti perintahnya, dan mataku melotot saat Manendra memasukan ujung sendok bekas aku makan itu ke mulutnya. Padahal dia belum menyendok nasi goreng dari piring. Dia mengulum sendok itu dengan mata terpejam dan bibir tersungging senyuman lebar yang cukup menyeramkan dimataku.


Tanpa mau menunggunya membuka mata, aku langsung bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju kamarku. Kenapa dengan Manendra Nawasena?


Kututup pintu kamarku keras hingga bunyi berdebam terdengar, aku langsung mengambil ponselku di nakas dan mulai menyalakan data seluler. Ah sial aku lupa, kubanting ponselku ke ranjang hingga membal. Aku ingin menghubungi Niel, tapi dia masih berada di camp hacker tahunan.


Aku merinding dengan sikap aneh Manendra tadi, sangat creepy dan menjijikkan di saat bersamaan. Bagaimana bisa dia menjilati sendok bekasku dengan ekspresi begitu menikmati. Di depanku pula! Apa maksudnya itu. Kupikir dia mengidap sesuatu, mungkin dia ada masalah dengan emosinya? Bipolar? Atau mungkin yang lain. Dia terlihat aneh, bahkan bagiku yang notabenenya adalah pembunuh bayaran. Dia terasa kurang waras. Aku terus memikirkan ada apa dengan Manendra Nawasena sebenarnya, padahal sebelumnya dia terlihat biasa saja. Dan sekarang dia terlihat aneh.


Tanpa terasa aku menghabiskan hampir dua jam hanya untuk merangkai berbagai macam pertanyaan di otakku. Karena perutku terasa lapar juga, aku memutuskan untuk turun ke bawah dengan mengantongi pisau lipatku. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, tapi saat aku turun, tidak ada satu orangpun di sana. Tanpa sadar aku mendesah lega, Manendra pasti sudah berangkat bekerja.


Aku menuju lemari pendingin, mengambil dua lembar roti tawar dan mengoleskan selai di atasnya. Karena terlalu lapar, aku makan sambil berdiri di depan lemari pendingin dan tersedak saat Herman memergokiku tengah makan. Dia datang dari arah belakang dengan membawa seikat mawar merah yang baunya harum. Kusaut air putih di pantry dan meneguknya rakus.


"Anda baru sarapan nona?" tanya Herman datar dengan tangan menangkup sebuket mawar segar.


"Ya." jawabku singkat diakhiri batuk dua kali. Masih belum beranjak dari tersedak yang menyakitkan di tenggorokanku.


"Ini sudah lewat jam sarapan nona."


"Aku melewatkan sarapanku." terangku padanya.


Herman mengangguk pelan, hendak berjalan menuju ruang tengah. Mungkin mengganti bunga-bunga di setiap meja di rumah ini.


"Tunggu." cegahku saat Herman akan melangkah pergi.


Dia berhenti dan berbalik menghadapku lagi, kali ini dengan alis yang naik seolah mengatakan 'Apa?' dengan alisnya itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" aku ragu-ragu.


"Ya?"


Melihat pandangan Herman yang lurus dan muka datar, aku jadi enggan bertanya. Tapi aku penasaran, dan mungkin dia bisa menjawab rasa penasaranku itu.


"Apa Tuan Nawasena mengidap suatu penyakit?" tanyaku lirih.


Bukannya kaget aku menanyakan itu, dia malah berkedip sekali dan menjawab,


"Tidak." secara singkat.


Aku mengernyit, benarkah?


"Setahu saya Tuan Nawasena tidak pernah sakit, nona. Saya permisi." lanjut Herman kemudian berjalan meninggalkanku sendiri di dapur dengan kepala penuh kecurigaan.


Menghabiskan dua lembar roti tawar diolesi selai dan dua gelas air putih, aku merasa kenyang. Tapi aku bingung harus melakukan apa, pekerjaanku hanya memasak, sedangkan sepertinya Manendra tidak pulang siang ini. Jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan mengitari rumah ini sendiri. Ya memangnya dengan siapa? Aku jelas tidak melihat orang lain selain aku di dapur, si pelayan Lena tidak ada dan Herman menghilang entah kemana. Jadi aku tidak bisa meminta siapapun untuk menjadi tour guideku.


Pertama, aku menuju halaman belakang. Dimana ternyata ada banyak kamar yang merupakan kamar asisten rumah tangga di rumah ini. Juga dapur kedua dan sebuah kolam renang besar yang menggoda untuk dimasuki. Entah sudah berapa keanehan dalam dua puluh empat jam aku di sini, dan kali ini bertambah dengan kenyataan bahwa ada banyak kamar asisten rumah tangga. Kenapa aku tidak menempati salah satunya dan malah ditempatkan di lantai dua yang berdekatan dengan kamar pemilik rumah. Dan jika semua kamar ini terisi penuh, kenapa aku hanya melihat Lena dan Herman saja selama di sini. Dimana pelayan yang lain?


Taman belakang rumah ini luar biasa besr dan indah, dengan gazebo dan taman bunga mawar yang mekar. Taman bunga yang lebih luas dari taman bunga di depan. Aku bahkan menahan agar tanganku tidak mencabut satu bunga dan membawanya ke kamar. Atau memotret diriku sendiri di antara kerumunan bunga itu.


"Kau mau? Kau bisa mengambilnya." seru seseorang dari arah belakangku.


Sontak aku berbalik dan terdiam saat seseorang itu adalah Manendra. Dia ada di sini? Bukankah dia seharusnya ada di kantor? Bekerja?


"Saya rasa tidak perlu, Tuan. Terimakasih." ucapku menolak.


"Ya kalau kau mau, ambil saja. Aku yang menanam semua ini, dan kau boleh mengambilnya." jelasnya membuat aku makin terdiam.


Manendra menanam semua ini? Sendiri? Tidak bisa dipercaya. Aku yakin dia tidak bisa mencangkul tanah atau bahkan menanam bibit bunga.


"Terimakasih. Saya rasa tidak."


Dia menatap tajam ke arahku, lalu mengendik.


"Ayo, masakan makan siang untukku, Elaksi. Aku lapar." kata Manendra dengan berjalan menuju ke arah rumah.


Aku terdiam sebentar, lalu menghela nafas perlahan. Ternyata liburan kali ini tidak semenyenangkan yang kukira, malah terasa janggal makin lama.


Kakiku melangkah mengikuti Manendra menuju dapur, saat tiba di dapur aku mengeluarkan beberapa sayuran, ikan dan bumbu memasak dari lemari pendingin. Menahan decakan saat Manendra duduk di kursi dekat pantry sambil mengamatiku. Terlebih tatapan tajamnya yang disertai senyuman miring yang terlihat sangat tidak senonoh, seolah dia memikirkan hal yang tidak-tidak dengan aku.


"Anda ingin makan siang apa, Tuan?" tawarku padanya, mungkin dia mau request sesuatu untuk makan siang kali ini.


Dia mengerjap lalu memandangku dengan senyuman lebar.


"Apapun yang kau masak, Ela. Aku akan memakannya. Semuanya."


Aku tersenyum kecil lalu mulai mengupas bawang merah dan bwang putih, bermaksud memasak tumis ikan salmon dan sayur untuk makan siang.


Selama aku memasak, pandangan Manendra terus tertuju padaku. Bahkan ketika aku melirik ke arahnya, dia masih menatapku lekat. Dan aku cuma bisa memasak dengan canggung.


Lima belas menit kemudian, sepiring tumis ikan salmon dan sayur yang kutumis dengan kecap asin siap meluncur ke lambung seseorang. Aku menyajikan itu di meja makan, lalu mempersilahkan Manendra memakan makan siangnya.


"Silahkan, Tuan."


Dia bangkit dari duduknya di kursi dekat pantry, lalu berjalan dan duduk di kursi makan dengan anggun.


"Terimakasih atas makan siangnya, Ela." ucapnya padaku.


Aku balas tersenyum dan undur diri. Untungnya dia tidak keberatan saat aku undur diri. Tapi saat aku hendak naik ke lantai atas menggunakan tangga, aku melihat Manendra tidak menggunakan sendok yang kusediakan. Tapi dia mengambil sebuah sendok yang dia kantongi dalam saku jas. Dia memiliki sendok sendiri? Tanpa mau tahu aku langsung naik menuju kamarku.


∆∆∆


Aku menyeringai lebar menatap masakan Elaksi yang menggoda, membuat liurku menetes karena baunya pun sudah membuat perutku makin keroncongan. Tanpa di tunda aku mengeluarkan sebuah sendok yang kubungkus dalam sebuah saputangan dari saku jasku. Kuacungkan sendok itu setinggi mataku, lalu tersenyum lebih lebar. Ini sendok tadi pagi, sendok bekasnya.


Oh aku bahkan masih bisa merasakan liurnya yang menggoda dalam mulutku. Sangat lengket dan manis. Aku menyukai itu. Dan mulai saat ini, aku akan makan dengan sendok ini. Sendok bekasnya. Atau mungkin aku akan mencari sendok-sendok lain bekas dia makan. Akan sangat menyenangkan bisa berbagi ludah.


Kusendok tumis salmon sayur itu dengan sendok milikku, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Mataku terpejam, rasanya luar biasa enak. Apalagi dengan sendok ini. Ah luar biasa.