
15.
Seorang novelis pernah berkata, kita mau memilih yang mana? Hidup yang benar-benar keren? Atau hidup yang seolah-olah keren agar bisa dipamerkan pada orang lain?
Bagiku, aku tidak menganggap pekerjaan yang kuambil sejak umur lima belas ini keren. Tapi mungkin bagi orang awam ini keren. Walaupun ini terlihat seperti mata-mata dalam film action, aku kadang berpikir pekerjaan apa yang cocok untukku selain menjadi pembunuh bayaran.
Pernah sekali waktu, aku mencari pekerjaan. Jenis pekerjaan yang akan membuatku sibuk dan tidak kembali pada pekerjaan pembunuh bayaran. Dan aku menemukannya, menjadi pelayan restoran cepat saji yang shift kerjanya bahkan sampai jam dua belas malam. Tapi anehnya aku sama sekali tidak menikmatinya. Menjadi pembunuh bayaran lebih terasa menyenangkan bagiku, untuk saat ini kurasa. Jadi sejak itu, aku memang ditakdirkan untuk menjadi keren lewat kerja pembunuh bayaran.
Aku bisa berkelahi, menembak, melempar pisau, memanah dan melakukan hal lainnya seperti dalam film action.
Menjadi pembunuh bayaran juga banyak resiko, dan aku tahu betul bagaimana rasanya memiliki banyak musuh. Diburu banyak orang dan di musuhi. Tapi aku juga tahu bahwa setiap pekerjaan mengandung resiko sendiri-sendiri. Dan saat aku memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran, aku siap akan segalanya. Bahkan kemungkinan terbunuh di tengah pekerjaan.
"Sarapan apa hari ini, Elaksi?"
Aku menoleh ke arah Manendra yang berdiri di depan pantry dengan pakaian rapih.
"Saya membuat pancake." jawabku.
Dia mengangguk pelan, merasa tidak masalah jika sarapan pagi ini adalah pancake. Sementara keningku berkerut dalam, pikiranku berusaha konsentrasi pada adonan pancake dalam wajan anti lengket di depanku. Manendra hari ini terlihat senang, berbeda dengan kemarin. Kemarin dia terlihat sangat badmood, dan sekarang dia tersenyum lebar.
Kuangkat pancake yang sudah matang ke piring. Lalu tanganku mematikan kompor listrik dan mulai menaburi pancake dengan gula halus. Aku tidak bisa terus-terusan menyajikan pancake dengan madu, jadi kusajikan saja dengan gula halus dan potongan buah berry.
"Sarapan anda, Tuan." ucapku sambil meletakkan piring berisi pancake gula halus itu ke hadapan Manendra.
Dia tersenyum senang, lalu memakan sarapan paginya dengan hikmat.
"Terimakasih atas sarapannya, Elaksi."
Aku tersenyum dan mengangguk. Aura Manendra cerah sekali pagi ini. Mengagumkan.
"Pasangkan aku dasi." perintah Manendra.
Dia berdiri dan mendekat ke arahku dengan membawa dasinya yang belum terpasang. Aku jadi pemasang dasinya mulai sekarang, walaupun aku sangat bisa memasang dasi, tapi jarak saat aku memasang benda itu ke leher Manendra membuat bulu kudukku meremang seketika.
Dengan senyuman kaku aku memasang dasi ke leher Manendra cepat.
"Terimakasih, Elaksi." ucapnya mengatakan terimakasih lagi.
"Sama-sama, Tuan."
"Oh, hari ini seseorang akan mengantar paket berisi buku. Aku ingin kau menata buku-buku itu di rak ruang kerjaku. Kau bisa menaruhnya di rak manapun yang kosong."
"Baik, Tuan."
Sebagai asisten rumah tangga yang baik, aku meng'iya'kan perkataan Manendra. Lagipula hanya masalah kecil, aku bisa melakukannya. Daripada hanya duduj termenung sambil meratapi dosa di kamar, lebih baik aku melakukan sesuatu.
∆∆∆
Televisi di ruang tengah yang mewah ini menyala, menayangkan acara gosip tentang para artis yang tiada habisnya. Aku bersyukur ketika aku menekan tombol power di remot televisi, aku tidak langsung disuguhi berita tentang Bambang Antareja. Setidaknya berita itu sudah muali agak mereda, lebih baik daripada beberapa hari yang lalu. Walaupun aku masih menemukan beberapa stasiun televisi yang membahas berita itu, tapi ya terserah mereka. Toh polisi tidak tahu aku dimana.
Jam menunjukkan pukul satu siang, tapi paket yang dikatakan Manendra belum juga datang. Jadi aku menonton televisi di ruang tengah sembari menunggu paket buku-buku itu sampai.
Rumah ini sepi, Herman dan Lena entah pergi kemana. Dari pagi tadi, aku belum melihat batang hidung kedua pelayan paruh baya itu. Mungkin mereka sibuk entah dimana. Saat tanganku meraih remot dan hendak menekan tombol untuk mengganti channel, suara bel rumah dibunyikan menggema di seluruh penjuru ruangan. Memantul dari tembok satu ke tembok yang lain. Aku bangkit berdiri, melangkah menuju pintu depan dan membukanya.
"Selamat siang, saya dari jasa pengiriman paket. Apa benar ini rumah Bapak Manendra Nawasena?"
Aku langsung diberondong oleh si petugas paket yang mengenakan seragam oranye khas tukang antar paket.
"Ya benar ini rumah Bapak Manendra." sahutku.
"Ini paket untuk suaminya ya bu, tolong tanda tangan di sini."
Hah? Apa dia sedang melawak? Kok aku tidak ingin tertawa ya. Dia mengatakan aku istri Manendra begitu? Yah walau aku mengatakan aku asisten rumah tangga di sini, si pengantar paket juga tidak akan percaya. Itu karena aku memakai dress polos berwarna navy yang harganya mahal. Mana ada pembantu memakai pakaian seperti ini, ya cuma aku. Jadi aku cuma menerima resi paket yang dia sodorkan, menandatanganinya dan mengatakan terimakasih tanpa menjelaskan. Aku terlalu malas.
Paket itu lumayan besar. Sebuah kotak yang membuat aku sedikit kesulitan membawanya masuk dan naik ke lantai atas. Buku-buku di dalamnya membuat kotak itu jadi berat dan membuat tanganku kebas.
Setelah sampai di lantai dua, masuk ke ruang kerja Manendra, aku meletakkan kotak itu di dekat salah satu rak buku tinggi dekat meja kerja. Lalu pandanganku mengedar, mencari rak mana yang kosong dan bisa kuisi dengan buku-buku ini. Tap sebelum itu, aku harus membuka dulu kotak yang di lilit lakban itu. Ah sial.
Aku mendekat ke arah meja kerja Manendra, berharap bisa menemukan sebuah cutter atau sejenisnya. Tapi aku tidak menemukan benda tajam apapun, jadi aku mengambil pena yang ujungnya runcing, menusukkannya ke lakban yang membelit di sepanjang kotak.
Ah aku ingat, aku kan punya pisau lipat. Dengan kecepatan kilat aku berlari ke kamarku di sebelah, mencari pisau lipatku yang lupa kutaruh dimana.
"Ah sial." umpatku pelan saat aku tak menemukan benda tajam itu di nakas, ranjang, bawah bantal atau kamar mandi.
Otakku mencoba berpikir, dimana terakhir kali aku meletakkan pisau lipat milikku. Tapi aku sama sekali tidak ingat, aku mendesah kasar, mengacak rambutku yang sudah tak karuan.
Dering tanda sebuah pesan masuk ke ponselku terdengar, aku melirik ponselku yang tergeletak di nakas. Layar nya menyala, menampilkan sebuah pesan yang tidak terbaca seluruhnya dari Hideo. Ah dari semalam dia terus mengirimku pesan, tapi aku tidak membalas pesannya.
Maka atas dasar kasihan aku meraih ponselku, membuka kolom chatting dengan Hideo dan membalas pesan singkatnya yang menanyakan apa aku sudah bangun apa belum. Cih, dia tahu benar aku tidak akan bangun sebelum jam dua belas siang. Tapi itu dulu, sebelum aku menjadi asisten rumah tangga di sini.
To : Hideo
Aku sudah bangun bodoh!
Kutekan tombol send dengan keras dan mengantongi ponselku ke saku dress yang kupakai. Ah aku suka dress rumahan dengan kantung.
Aku tidak menemukan pisau lipatku dimanapun, jadi aku hanya terdiam dan kesal karena harus turun ke dapur untuk mengambil pisau. Padahal aku terlalu malas untuk turun ke dapur. Kakiku melangkah pelan, hendak keluar dari kamar. Tapi mataku tiba-tiba tertuju pada revolver ku yang berada di ranjang. Kupandangi benda hitam dengan isi peluru itu. Entah kenapa sebuah dorongan membuatku ingin membawa benda itu.
Karena aku cukup mempercayai instingku, maka kuraih revolver milikku itu. Mengikatnya di paha dengan ikat khusus yang kubawa, lalu turun ke dapur untuk mengambil pisau. Aku memilih pisau dengan ujung runcing yang selalu kugunakan untuk memotong bahan masakan, membawanya naik ke menuju ruang kerja Manendra dan membuka paket menyebalkan itu.
Dan kurasa cukup mudah membuka paket dengan pisau, hanya butuh lima menit sebab aku merobek kotaknya tanpa mau susah payah menjaga agar kotak pembungkusnya tetap utuh.
Dering dan getaran di saku dressku membuat aku merogoh ponselku di kantong. Lalu membuka balasan dari Hideo.
From : Hideo
Ah kukira kau akan jadi beruang yang hibernasi saat libur kerja, bagaimana kalau kita makan siang bersama?
Kuputar bola mataku malas, dia mengajakku keluar sejak kemarin. Tapi aku tidak bisa, aku merasa tidak enak dengan pergi keluar tanpa ijin dari Manendra. Dia tuan rumahnya, dan aku tidak bisa pergi dan masuk sesuka hati tanpa ijin. Kumasukan kembali ponselku ke dalam kantong, membiarkan pesan Hideo tanpa jawaban.
Perhatianku kini tertuju pada buku-buku yang judulnya memuakkan bagiku. Rata-rata tentang ekonomi, beberapa majalah dan beberapa lainnya bacaan tentang perkembangan bursa saham di Asia atau tentang perkembangan terkini tentang pasar ekonomi. Direktur memang butuh itu semua, tapi tidak denganku.
Selesai membuka paket, aku bangkit berdiri dari jongkok. Lalu berjalan melintas ke semua rak yang ada di ruangan ini, mencari mana rak yang muat untuk menampung tujuh belas buku ekonomi dan bisnis itu.
Aku menemukannya, rak tinggi yang isinya tidak terlalu banyak. Langsung saja aku mengusung tujuh belas buku itu ke rak yang aku temukan.
Desau udara dingin dari conditioner membuatku sedikit menggigil, Manendra menyetel ruangan ini terlalu dingin lagi. Tapi tidak sedingin kemarin.
'Dug'
Aku menoleh seketika ke arah sumber suara. Lalu terdiam saat bunyi keras itu kembali terdengar sekali. Bunyi itu berasal dari sana, ujung gelap itu. Apa Herman berada di sana?
Penasaran mendorongku melangkah maju, meninggalkan dua buku tersisa yang belum kutata ke rak. Aku melangkah menuju ke arah pintu yang pernah kulihat waktu itu. Pendengaranku menangkap sumber suara berasal dari balik pintu ini. Suaranya seperti saat kau menendang sebuah pintu kayu.
Dengan was-was aku menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu ke belakang. Memastikan tidak ada yang melihat aku masuk ke ruangan yang belum pernah kutahu itu. Kutekan handle pintunya, kudorong pelan hingga terbuka. Dan suara itu muncul lagi, kali ini agak lemah. Pandanganku mengitar ke keremangan ruangan ini.
Bau amis dan harum mawar bercampur jadi satu di udara. Membuat hidungku gatal dan mulutku ingin memuntahkan sarapan pagiku hari ini. Aku meraba dinding, mencari saklar lampu atau apapun yang bisa menerangi ruangan ini. Dan saat tanganku meraba sesuatu yang kuyakini adalah saklar, segera kutekan saklar itu dan mematung saat lampu yang menyala ternyata berwarna oranye redup. Sama sekali tidak membantuku dalam melihat, tapi lebih baik dari yang tadi.
Mataku tertuju pada dinding lebar di depanku, pikiranku terhenti. Otakku menggelinding entah kemana, aku tidak berkedip sedetikpun. Menatap ratusan foto diriku di dinding yang dihiasi dengan bunga-bunga dan tulisan cinta berbagai macam. Apa ini? Lelucon?
Suara 'dug' keras membuatku menoleh, tapi tidak bisa mengalihkan betapa penasarannya aku pada ratusan fotoku yang terpajang di dinding ruangan aneh ini. Hampir semua dindingnya berisi fotoku, aku bahkan merasakan bulu kudukku berdiri dan tidak mau turun.
Ruangan ini tidak terlalu besar, dengan meja dan sebuah kursi. Juga lemari besar yang membuat bunyi 'dug'. Cemas tiba-tiba melandaku, aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Pemilik rumah ini, dia gila.
Benar-benar gila!
Siapa sebenarnya dia?
Oh sial, otakku mulai merangkai opini tentang Manendra Nawasena. Aku tidak kenal dia, sebelum aku masuk sebagai pelayan dua hari di MN's, aku tidak kenal dia. Dia juga bukan musuh lamaku. Suara 'dug' itu membuatku langsung mengeluarkan revolver yang kuikat di paha.
Kuacungkan revolver itu ke depan, dan berjalan pelan menuju lemari yang bergoyang itu. Aku membuka gerendel lemari itu dan langsung sigap mengacungkan revolver saat kubuka pintunya cepat. Mataku melotot saat menemukan seorang perempuan di dalam lemari dalam keadaan terikat dan bersimbah darah.
"Masuk secara ilegal, Elaksi?"
Aku langsung berbalik seketika, mengacungkan Glock-17 ku menuju sosok yang kenapa berada di sini padahal ini belum jam pulang kerja.
Mataku memicing dengki pada Manendra yang tersenyum lebar. Dia gila!