
18.
Kutatap punggung Elaksi yang menghilang di balik pintu kamarku. Aku menatap pintu hitam itu lama kemudian menghela nafas panjang.
Elaksi Gayatri Hemaprhaba atau Bloody El. Aku bertemu dengannya tidak sengaja beberapa tahun lalu, dan kami kemudian berteman. Bisa dibilang berteman baik dibandingkan dengan pembunuh-pembunuh lainnya dalam dunia bawah. Sikapnya yang acuh dan kadamg sarkas membuatku menyukainya, dengan konteks pertemanan tentunya.
Bahkan mungkin dia satu-satunya teman yang kupunya selain Kurx. Walaupun aku bekerja secara berkelompok dengan lima orang lainnya, aku tidak pernah merasa dekat dengan siapapun.
Mungkin karena aku dan Elaksi punya banyak kesamaan, terutama soal selera makanan, musik dan banyak hal.
Mendengar ceritanya tadi, aku yakin tidak akan mudah lolos dari situasi ini. Sebagai seorang laki-laki yang tahu perasaan laki-laki lainnya, atau bahasa lainnya itu peka. Aku jelas tahu bahwa Manendra sudah benar-benar terobsesi dengan Elaksi, dan sebegitu terobsesi hingga mungkin melakukan hal yang diluar nalar. Aku juga tidak percaya kalau Elaksi akan dihadapkan dengan permasalahan seperti ini.
Aku menghirup nafas dalam, lalu duduk di sofa dengan memandang televisi kayar datar yang mati. Kuraih remot televisi yang ada di meja depanku, jari telunjukku memencet tombol power hingga televisi itu menyala. Tayangannya sudah berganti dari berita Bambang Antereja ke gosip artis dalam negeri. Aku mendengkus, lalu mengganti channelnya, aku tidak punya waktu untuk mengurusi artis atau siapapun itu. Mereka terlalu sibuk bergosip hingga lupa ada banyak pihak yang dirugikan. Bukannya sok suci, tapi seumur hidupku aku belum pernah bergosip. Menurutku bergosip bahkan lebih buruk dari membunuh, apalagi jika gosip itu belum tentu benar.
Ah sudahlah. Lebih baik menonton serial kartun network, dan makan berondong jagung.
Aku beringsut bangkit dan berjalan menuju dapur, mengambil sekotak biang berondong jagung yang kubeli di supermarket dan mengambil wajan anti lengket di buffet dapur. Tidak lupa dengan penutup wajan yang terbuat dari kaca. Kuletakkan wajan anti lengket di atas kompor dan kunyalakan kompor itu dengan api sedang. Ayo memasak berondong jagung instan bersama Hideo.
Pertama masukkan mentega, jika ingin rasa asin, kau bisa tambahkan lebih banyak mentega. Dan aku suka asin, jadi kumasukan hampir lima sendok mentega dalam wajan anti lengket. Kedua, buka kotak berondong jagung instan, pastikan tanggal kadaluarsanya. Ketiga, masukan biang berondong jagung ke wajan dan tutup dengan tutup wajan. Tunggu sampai mereka semua meletup jadi berondong jagung dan voila! Kau bisa menikmatinya sambil menonton serial kartun.
Kutuang berondong jagung itu ke mangkuk dan kumatikan kompornya. Aku mengambil sekaleng bir dari lemari pendingin dan pergi ke ruang tamu yang merangkap jadi ruang televisi juga.
Menonton serial kartun dengan sekaleng bir dan berondong jagung adalah yang terbaik. Kulirik jam dinding yang sengaja kupasang di dekat televisi. Jam berbentuk robot gundam itu menunjukkan jam enam sore. Ah, ternyata sudah sore. Aku pikir ini masih siang.
Aku menonton serial kartun itu hingga mangkuk berisi berondong jagungku habis dan birku habis juga. Dan saat aku hendak bangkit untuk mengambil sekaleng bir lagi, ketukan di pintu membuat aku teridam. Merasa aneh, bukankah ada bel. Kenapa harus mengetuk pintu?
Dengan sigap aku mengambil sebuah besi dengan ujung bengkok yang tadi pagi kugunakan untuk membuka lemari besi di kamarku. Kuacungkan benda itu sejajar mataku, lalu aku berjalan pelan menuju pintu.
Karena pintu apartemenku tidak memiliki peephole aku langsung menekan handle pintu dan membukanya sedikit. Tapi saat aku baru membuka pintunya sedikit, aku langsung terhuyung ke belakang dan mundur beberapa langkah karena tiba-tiba pintu terdorong dan terbuka. Menampakan wajah yang menjadi mimpi buruk Elaksi. Mungkin, atau tidak. Aku tidak tahu apakah Elaksi mimpi buruk soal Manendra atau tidak.
"Dimana dia?" ucapnya terdengar seperti bisikan yang mengancam. Nada suaranya rendah dan membuatku tersenyum meremehkan.
Kupandang Manendra Nawasena dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu mendengkus keras. Benar-benar tidak bisa dipercaya jika dia mengidap penyakit OCD atau semacamnya.
"Siapa?" jawabku malah ikut bertanya.
Dia menggeram tak suka dan masuk ke dalam dengan mendorongku ke belakang. Giliran aku menggeram tak suka dan menatap tajam ke arahnya. Dia benar-benar kurang ajar.
"Dimana Elaksi?"
"Elaksi? Siapa Elaksi?"
Merasa dipermainkan, gigi Manendra bergemeletuk, menahan amarah karena diriku. Tanpa butuh waktu lama untuknya menerjang ke arahku hingga aku menghindar dan terjungkal karena aku terhalang sofa. Dia meninju pipi kananku hingga aku mengerang dan meludah ke arahannya. Merasa tidak terima aku gantian meninjunya, agak meleset dan mengenai telinganya. Aku malah bersyukur akan hal itu.
Aku berguling ke kanan, bangkit dan mengambil sebuah was bunga dan menghantamkannya ke punggung Manendra. Bukannya kesakitan, dia malah menggeram dan meraih kerah leherku. Dan langsung saja aku menendang lututnya hingga dia melepas cengkramannya di leherku. Kami lalu saling menerjang, adu jotos dan saling menyumpahi satu sama lain.
Sampai saat aku jatuh ke lantai dan mengerang karena dia menonjok perutku keras. Dia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, lebih dibanding aku. Dan tenggorokanku tercekat saat rasa sakit, perih dan mengganjal mampir di ruas leherku. Tak butuh waktu lama untuk pandanganku mengabur, dan aku menoleh ke arah kamar. Di sela-sela pintu, aku melihat Elaksi mengintip dan menatapku cemas.
"Go." lirihku.
Dia terdiam dan terus melihatku, hingga aku merasakan sakit yang teramat sangat saat Manendra mencabut paksa pisau di leherku. Dan dia menancapkannya keras di mata kiriku, lalu gelap. Ini terlalu sakit.
∆∆∆
Aku merasa kesal setengah mati dengan Manendra Nawasena. Dia benar-benar membuatku terus berlari di malam-malam begini agar bisa kabur darinya. Aku juga tidak bisa mengambil revolver dan uangku di apartemen, atau sekedar istirahat sejenak. Benar-benar ****.
Lariku memelan saat kurasakan kakiku mati rasa dan hidungku sudah tidak kuat algi menanggung beban bernafas. Di jalan raya aku duduk menggelosor di tanah, tidak perduli tatapan beberapa orang yang lewat. Seolah tatapan mereka mengatakan 'cantik tapi gila' dengan jelas di mata mereka. Gaun rumahan yang kupakai sudah berbau keringat, telapak kakiku juga berdarah dan perih. Yah, salahku juga asal lari tidak memakai alas kaki.
"Sendirian aja neng?"
Aku langsung menoleh ke kanan dimana sumber suara itu berasal. Pria berbadan kekar dengan tato di lengannya menyeringai ke arahku dengan tatapan tak senonoh. Di belakangnya, dua pria cungkring ikut menatapku dengan tatapan yang sama. Apa mereka buta? Jelas-jelas aku sendiri, kenapa mereka tidak menanyakan pertanyaan yang lebih bermutu, seperti 'udah makan neng?' atau 'beliin minum, mau neng?'.
Preman dan segala nafsu tengik mereka, walaupun tidak semua preman begitu, tapi tiga preman di hadapanku ini termasuk golongan tengik dengan kelakuan bejat dan amoral. Kurasa sih.
Aku tidak membalas pertanyaan si kekar bertato, panggil saja Karto. Aku bangkit berdiri dan berjalan tertatih-tatih menuju ke arah barat, aku harus tiba di rumah Bono secepatnya.
"Neng, jual mahal amat."
Si cungkring sudah berjalan menjejeriku dan hendak mencolek lengan kananku. Dengan kasar kutepis tangannya dan melotot ke arahnya.
"Galak uy." seru si Karto yang berjalan mendahuluiku, dia bersiul menggoda membuat dua teman yang lain terbahak.
Tanpa memperdulikan mereka aku terus berjalan menuju arah pasar, tapi mungkin masih jauh. Dan mereka bertiga terus menggodaku, bahkan mencoba menyentuh lengan atau wajahku. Karena kesal dan otakku rasanya terbakar dan butuh pelampiasan, maka aku menepis tangan si cungkring dan memelintirnya hingga bunyi 'krek' terdengar. Si cungkring mengerang kesakitan, dan si Karto membelalak menatapku dan si cungkring lainnya yang mengenaka tindik di hidung menatapku berang.
Perkelahian tidak bisa dielak, Karto menyerangku dengan kekuatan penuh, si cungkring tindikan menyerangku juga. Agak kewalahan sebenarnya, apalagi tenagaku yang habis hanya untuk berlari dan terus berlari. Saat Karto dengan kurang ajarnya mendaratkan tangan di pahaku, aku langsung menendang mukanya dengan kakiku.
"Weh! Ngapain berantem!" seru sebuah suara yang mendekat.
Karto dan cungkring tindikan langsung berhenti mengeroyokku, sedangkan si cungkring hanya mengerang di tanah sambil memegangi lengannya yang kupatahkan. Mataku menyipit saat seseorang mendekat diantara keremangan lampu jalan yang watt nya sudah redup.
"Pergi lo semua!" seru suara itu lagi.
Tiga preman itu langsung pergi kocar-kacir dan meninggalkanku bersama seorang laki-laki dengan kaus dan celan pendek murahan. Cih, dia selalu berpakaian seperti itu dimanapun.
"Lo kenapa ngga pergi?" tanyanya.
Aku mendengkus, menepuk-nepuk seluruh dress rumahan yang terkena debu jalanan.
"Tante! Pergi sono, malem-malem masih kelayapan." ucapnya lagi. Dia benar-benar cerewet.
Mataku melotot menatapnya dan segera aku berjalan cepat menuju dia, kupiting lehernya keras hingga dia mengaduh.
"Aduh, tante sakit. Maaf, beneran deh. Ngga lagi, becanda Tante. Jangan bunuh gue." rengeknya penuh tipu muslihat.
"Jangan panggil gue Tante, dasar curut!" seruku kesal.
"Iya, adaw maaf Tan- eh maksud gue Elaksi. Lepasin, gue ngga mau mati sekarang."
Kulepaskan pitinganku di lehernya dan kupandang wajahnya dengan alis terangkat tinggi.
"Ngapain lo di sini, Bri?" tanyaku heran.
Pasalnya, aku memang jarang melihatnya keluyuran malam-malam sendiri. Biasanya dia baru akan pergi malam ketika bersama tiga kawannya.
"Abis main, Mbak Elaksi mau kemana?"
Aku tersenyum sumir, barusan dia memanggilku Tante, dan sekarang Mbak. Walaupun aku lebih tua darinya, tapi aku anti dipanggil Mbak apalagi jika dipanggil olehnya.
"Mau ke rumah lo." jawabku jujur.
Dia terlihat terkejut. Lalu pandangannya turun ke kakiku, dan naik lagi ke mukaku.
"Ada lah. Yok, tapi gendong gue ya, capek abis berantem." kataku lelah.
Dia berdecak, tapi tak ayal berjongkok dan mengendongku di punggungnya. Ah rasanya kakiku bisa istirahat sekarang.
Aku menyunggingkan senyum, lalu kepalaku menyandar di bahu kanannya. Dia Sobri Jamal Mutaqin, adik Bono Nandar Mutaqin si preman pasar itu. Karena Bono adalah penyedia amunisi senjataku, secara tidak langsung aku jadi sering berkunjung ke rumahnya. Dan dari situlah aku mengenal Sobri. Anak kelas sebelas yang hobinya main game dengan tiga temannya. Galih, Dekan dan Bulan. Bahkan aku tahu teman-teman Sobri yang kadang berkunjung ke rumah Bono saat aku tengah mengambil amunisi.
"Mbak Ela kok berat ya." ucapnya meledekku.
Kuketuk kepalanya pelan hingga dia berucap 'aw' dan dia mendengkus.
"Gue ngga berat, cuma agak berat."
Sobri menggeleng dan mengatakan,
"Terserah Mbak Elaksi aja lah."
Lalu hening. Sepanjang perjalanan menyusuri trotoar yang sepi kami hanya terdiam. Aku tidak tahu ini jam berapa, tapi kuyakin ini sudah hampir tengah malam.
Ruko-ruko di pinggir jalan tutup berjejer, menyisakan lampu lima watt di depannya. Para pedagang malam, seperti angkringan, warung kopi berjaja di pinggir jalan dengan tenda dan gerobak. Beberapa kendaraan lewat, tapi tak ramai.
Pasar tradisional terlihat di depan sana, aku menghela nafas lega. Aku berhasil sampai di sini. Sobri berbelok menuju gang sempit di samping pasar. Lampu pijar berwarna putih jadi satu-satunya penerangan di jalan sempit tak lebih dari dua meter itu.
Sobri menurunkanku di depan rumahnya yang minimalis, dia merogoh kantung celana pendeknya dan mengeluarkan sebuah kunci dari sana.
"Ayo masuk Mbak."
Aku mengikutinya masuk dan langsung duduk di ruang tamu dengan menghela nafas panjang. Beruntung sekali aku bertemu Sobri tadi, kalau tidak, sudah dipastikan aku akan mengesot sampai sini.
"Bono mana?" tanyaku pada Sobri saat dia kebali dari dalam dengan membawa sebotol air mineral yang kuyakin isinya cuma air rebusan biasa.
"Bang Bono tidur."
"Bangunin, bilang ada gue. Cepetan, urgent nih." kataku dengan menyaut botol mineral yang Sobri bawa, membuka tutupnya dan meneguk isinya banyak-banyak untuk menghilangkan haus.
Benar dugaanku, rasa airnya agak pahit dan baunya seperti bau kayu bakar.
"Bentar."
Sobri masuk lagi ke dalam, memanggilkan Bono untukku. Tak lama terdengar teriakan dari dalam yang menggelegar di malam-malam begini. Jam dinding di atas figura foto Bono dan Sobri menunjukkan pukul sebelas lebih enam menit.
"Siapa hah! Ganggu gue aja! Tidur lo kalong! Kelayapan mulu dasar Sobri! Tidur sono! Besok sekolah!" seru sebuah suara yang aku sangat yakin itu suara Bono.
Dia terlihat terganggu ketika dibangunkan Sobri mungkin. Dan marah-marah seta mengomel pada adik satu-satunya itu.
"Siapa sih hah, ganggu gue tidur juga!"
Bono dengan sarung dan muka kucel serta rambut berantakan muncul dari arah ruang tengah. Dia menatapku dengan mata setengah terbuka dan saat tahu itu aku, dia langsung melotot dan berjalan ke arahku cepat.
"Ela? Ngapain lo ke sini?" tanyanya lebih ke kaget dan heran.
"Gue butuh 'barang', No. Darurat."
"Lah bukannya belum lama lo ngambil dari gue ya?"
"Iya, cuma ini darurat, No. Gue butuh banget." ucapku seperti frustasi.
Bono mengangguk, kemudian memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Seperti yang menjadi tempat penyimpanan senjata baginya, dia menggiringku ke lemari buffet di ruang tengah. Dia membuka pintu buffet paling bawah dan mempersilahkan aku untuk memilih senjata yang aku inginkan.
"Yang kemaren aja ngutang, trus? Ini gimana? Ngutang lagi?" tanya Bono kesal.
Aku berbalik ke arahnya, memandnag manik matanya lurus.
"Hideo mati, No. Gue dikejar sana psycho sialan, dan gue ngga bisa pulang ke apartemen." jelasku memohon pengertian padanya.
Yah, karena aku terlalu hemat dan malas mengeluarkan uang. Jadilah menghutang setiap aku mengambil 'barang' dari Bono.
"Mati? Dibunuh?" tanya Bono terkejut.
Dia jelas tahu Hideo, walaupun Bono bukan pembunuh bayaran seperti aku, tapi ranahnya masih dalam lingkup dunia bawah karena dia preman. Kami penghuni dunia bawah saling kenal satu sama lain.
Sedangkan dunia bawah sendiri adalah sebuah istilah untuk menamai wikayah kelompok besar para pecundang di ibukota. Aku menyebut mereka pecundang, karena ya, aku sendiri juga begitu. Dunia bawah dibagi menjadi tiga bagian, Under zone, Middle zone, dan Upper zone. Under zone atau kasta terbawah terdiri atas preman, tukang palak, tukang jagal dalam sebuah rentenir, dan semacam itu. Middle zone atau kasta tengah terdiri dari para hacker dan orang-orang yang menyediakan jasa pembunuh bayaran. Aku termasuk dalam kasta tengah. Sedangkan Upper zone, kasta teratas. Terdiri dari para pemilik black market, mafia senjata, dan beberapa pengusaha perdagangan manusia.
Yah, semacam itulah. Dan yang tergabung dalam Dunia bawah pastilah mengenal satu sama lain.
"Iya. Gue ngga bisa jelasin sekarang, karena gue harus pergi. Mungkin lain kali, dan kalo besok berita kematian Hideo muncul di berita, lo harus bilang sama Bang Trena kalo Hideo mati karena tugas."
Bang Trena adalah ketua Dunia bawah sekarang. Ah akan kujelaskan lebih detail lain kali, aku harus segera pergi atau Manendra akan menyusulku kemari.
"Makasih, No. Gue pergi dulu, inget kata gue barusan." ucapku pada Bono dengan membawa dua buah Glock-17 dan dua box peluru.
Aku langsung keluar dari rumah Bono. Mengambil sandal jepit milik Sobri tanpa meminta ijin dan langsung berlari, menuju apartemen Hideo. Aku harus menemui Hideo untuk yang terakhir kali.
Di tengah jalan aku merapatkan jaketku, hawa dingin berhembus cepat.
Manendra tidak akan kembali ke apartemen Hideo, aku yakin itu. Karena sebagai sesama pembunuh, aku tahu jelas bahwa pelaku tidak akan kembali ke tempat kejadian untuk yang kedua kalinya.
Atau itu sama saja membuka kartu AS dalam ingatanmu, dan akan membuat rasa bersalah itu makin menebal setiap detiknya. Tapi aku agak tak yakin juga, dia psychopath yang mati hatinya. Aku tidak tau jalan pikirannya sama sekali.
∆∆∆
Kuputar rekaman CCTV itu berulang-ulang. Lalu decakan pelan muncul begitu saja dari mulutku. Dia benar-benar kembali ke apartemennya dan Herman tidak menyadari itu.
Elaksi pergi lagi, entah kemana. Dan itu membuat aku mengerang kesal dan membanting sebuah vas yang ada di dekat meja kerjaku. Vas berisi puluhan bunga mawar merah kehitaman yang Elaksi pasang untukku. Ah dia benar-benar perhatian.
Aku bangkit berdiri, berjalan cepat menuju ruangan itu. Kutatap ratusan foto Elaksi yang belum kucopot dari dinding dan mungkin tidak akan pernah kucopot. Malah akan bertambah, nanti ketika kami sudah bersama.
"Sayangku, jangan kabur begitu. Bukankah kita harus bersama, agar bahagia." lirihku sambil menatap foto-foto itu.
Pandanganku berpaling, pada seuah sendok yang kuletakkan di sebuah peti kaca yang tertutup rapat. Peti kaca itu berada di atas meja dan membuat aku tersenyum. Kulangkahkan kakiku menuju meja, tanganku membuka peti kaca dan meraih sendok alumunium itu.
Kujilat sendok itu penuh penghayatan, mencari rasa liur Elaksi yang masih tertempel. Dengan pelan aku mengulum sendok itu lama dan tidak rela saat aku mengembalikan itu ke peti kaca.
Tapi senyumku lebih lebar, aku merogoh kantung kemejaku. Mengeluarkan pisau lipat kecil yang berlumuran darah kering. Kuhirup aroma pisau itu dalam dengan senyuman yang terlalu lebar. Atau senyuman penuh kebahagiaan.
"Kau begitu harum." bisikku pada pisau lipat milik Elaksi itu.
Ah, aku sangat menginginkanmu sayang. Elaksiku.