Hiraeth

Hiraeth
17



17.


Mataku menatap kosong ke sudut ruang tamu apartemen Hideo. Tanganku memegang sekaleng soda yang dia beri padaku. Otakku membeku, berusaha berpikir tapi tidak bisa. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri.


Manendra Nawasena, Direktur PT. Antareksa. Tiga puluhan, dan yang paling penting, dia gila.


Sepanjang karirku yang mulus sebagai pembunuh bayaran, berhadapan dengan darah, luka dan mayat adalah hal biasa. Musuh, kelicikan, strategi merupakan makanan sehari-hari bagiku. Hidup di 'kegelapan' membuatku terbiasa dengan itu semua. Tapi aku tidak pernah menyangka akan bertemu seseorang yang lebih gelap dari diriku sendiri.


Hideo duduk di sampingku dengan tenang, matanya menatap televisi yang menyala. Menampilkan berita Bambang Antareja yang membosankan bagiku. Bahkan persoalan Bambang Antereja belum ditutup kasusnya, sekarang aku kembali terbebani dengan kehadiran Manendra.


"Apa kau tidak mau menceritakannya padaku?" ucap Hideo di tengah keheningan antara aku dengannya.


Aku tahu sedari tadi dia menungguku menceritakan semuanya. Tapi otakku sibuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menceritakan ini padanya.


"Ini sedikit panjang, aku tidak tahu harus mulai dari mana." lirihku.


Kuhela nafasku keras, lalu meneguk soda di tanganku hingga tandas. Tenggorokanku kering hingga rasanya sakit.


"Aku pendengar yang baik, Ela."


Kulirik Hideo yang sudah mematikan televisi dan mendekat ke arahku. Dia menaikkan semua kakinya ke sofa, lalu matanya menatap manik mataku.


"Ini dimulai ketika aku sudah menyelesaikan kerjaku untuk membunuh Bambang Antareja."


Hening sejenak, aku menghirup nafas dalam. Dan Hideo menatapku, seolah tatapannya mengatakan 'lanjutkan'.


"Kau pasti tahu aku membunuh Bambang Antereja di sebuah tempat karaoke bernama MN's karaoke. Pemiliknya bernama Manendra Nawasena, yang kebetulan Direktur PT. Antareksa. Karena aku baru bekerja dua hari, dan Manendra merasa tidak enak, mungkin. Dia menawariku bekerja di rumahnya."


Dan mengalirlah ceritaku, mulai dari aku yang setuju bekerja di rumahnya. Aku yang ditempatkan di sebuah kamar mewah di lantai dua rumah Nawasena, taman mawar merah kehitaman, ruang kerja yang dingin, pekerjaanku memasak, pekerjaan memasang dasi Manendra hingga kejadian tadi siang.


Dia mendengarkan dengan seksama, beberapa kali berdehem dan mengernyitkan dahi. Tapi aku tidak melihat tanda-tanda dia merasa terganggu. Hideo terlalu sempurna dalam menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Dia terobsesi denganmu? Itu sebabnya kau menanyakan soal OCD dan obsesi padaku?" tanya Hideo.


Aku mengangguk, memang benar. Perasaan aneh yang bercokol di hatiku belum sepenuhnya terjawab, aku merasa dengan fakta yang terungkap malah membuatku penasaran terhadap Manendra. Dia terlihat cerah di luar tapi gelap di dalam, dia bagai siang dan malam yang dibungkus menjadi satu. Paket sempurna untuk dilenyapkan.


"Dia juga yang mengirim paket itu padaku?" tanyanya lagi.


"Kemungkinan iya, sejauh yang kutahu, aku hanya memberitahu Manendra aku akan bertemu teman. Dan dia pasti mengikutiku, dia tahu aku seorang pembunuh." ucapku terdengar frustasi.


"Kau takut dengannya, Elaksi?" remeh Hideo.


Aku langsung mendongak menatap raut wajah Hideo yang berubah menyebalkan. Lalu aku berdecih, merasa diremehkan.


"Tidak. Aku bahkan bisa membunuhnya jika aku mau. Tapi sesuatu membuatku ragu, Hide. Dia begitu gelap."


Anggaplah itu semacam insting pembunuh bayaran profesional. Dengan jam terbang hampir sepuluh tahun lebih, aku bisa menebak aura seorang pembunuh dengan tepat. Mana aura amatir dan mana aura gelap milik pembunuh profesional. Dan Manendra memiliki aura yang begitu gelap, seperti yang pernah kukatakan bahwa dia mirip voldemort.


"Kalau begitu, kita bunuh bersama. Itu hal kecil, Ela." ucap Hideo santai.


Dia bangkit dari duduknya dan mengatakan,


"Tidurlah, kita butuh energi untuk membunuh Manendra. Kau bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di sofa saja."


Aku bangkit dari dudukku, lalu berjalan menuju pintu hitam yang merupakan kamar Hideo. Dengan sengaja aku tidak menutup rapat pintu kamar itu, lalu langsung merebahkan diri di ranjang berbau Hideo. Aku mendesah panjang, Hideo benar. Butuh banyak tenaga untuk membunuh Manendra.


Pandanganku mengedar ke sekeliling, lalu berdecak saat mengetahui bahwa selera Hideo soal desain kamar tidak berubah. Sangat dia sekali, dengan dinding berwarna biru langit, dan perabotan yang terbuat dari kayu. Desain indutrial dalam kamar Hideo terasa kental sekali, dia memang suka dengan nuansa seperti ini.


Apartemen milik Hideo jaraknya lumayan jauh dari rumah Manendra. Jadi aku agak sedikit lega.


Merasa sumpek dan butuh udara segar untuk menjernihkan otakku, aku bangkit dari rebahan. Melangkah menuju balkon kamar yang terdapat sebuah mini sofa berbentuk bola. Aku duduk di sana, meresapi semilir angin sore yang membelai wajahku. Walaupun sore, udara panas masih terasa. Langit pun masih berwarna biru, bukannya kemerahan. Kendaraan di bawah sana saling bersahutan menekan klakson masing-masing. Aku beringsut berdiri dan memandang pemandangan di bawah sana dengan menumpukan tangan di pagar balkon.


Udara panas membelai wajahku, membuat aku mendesis dan merengut tak senang. Dengan tak rela aku kembali masuk ke dalam, lalu merebah lagi di ranjang. Mataku menatap langit-langit kamar dan kemudian terpejam.


Entah berapa lama aku terlelap, tapi aku langsung bangun dan terjaga saat sebuah suara terdengar di luar sana. Jantungku langsung berdegup kencang dan memandang ke luar jendela balkon, sudah malam. Suara ribut di luar membuatku menoleh ke arah pintu dan berdiri. Kakiku melangkah pelan menuju pintu. Karena aku tidak menutup rapat pintunya, aku bisa melihat lewat sela-sela yang terbuka keadaan di luar sana.


Suara benda pecah dan bergemerincing di lantai membuat konsentrasiku terpecah, mataku melihat melalui sela-sela. Hideo, tengah terlibat baku hantam dengan seseorang berkemeja hitam. Aku meneguk ludah kasar saat melihat tampang Hideo yang tidak karuan. Babak belur di sana-sini dan pipinya tergores hingga mengeluarkan darah. Dia meninju lawannya hingga terjungkal.


Si lawan yang membelakangiku bangkit dengan erangan berat, dia terlihat mengepalkan tinjunya erat. Bisa kulihat nafas keduanya memburu. Lawan Hideo menerjangnya, dan mataku membelalak saat di tangan laki-laki yang menjadi lawan Hideo itu terdapat sebuah benda berkilau yang membuatku mematung.


Erangan kencang tertahan di tenggorokan Hideo, dia roboh dengan leher tertancap sebuah pisau kecil yang familiar dimataku. Mata Hideo yang menangkap aku mengintip di sela-sela pintu, dia mengucapkan sebuah kata lewat mulutnya yang berbisik.


'Go.' mulut Hideo mengatakan itu tanpa suara.


Aku hampir memekik saat si laki-laki berkemeja hita menarik paksa pisau dalam leher Hideo, dan tak hanya disitu. Dia menancapkan pisau itu ke mata kiri Hideo kencang, menghujamnya tiga kali keras-keras. Dia juga mengerang puas, seolah menusuk mata Hideo hingga hancur adalah kesenangan luar biasa.


Laki-laki itu berhenti, lalu mengamati apakah Hideo sudah tidak bernyawa lagi. Dengan keji dia meraih sebuah besi yang entah dia dapat dari mana, dan menancapkannya ke dada kiri Hideo. Berulang kali hingga aku sendiri bisa melihat gumpalan daging yang ikut tertarik karena ujung besinya bengkok sedikit.


Suara besi yang dijatuhkan ke lantai keramik pertanda bahwa si laki-laki itu telah berhenti dari mencabik-cabik tubuh temanku satu-satunya. Dia berdiri dari atas tubuh Hideo yang malang, dan dia berbalik. Aku langsung melotot, Manendra. Aku mengepalkan tanganku erat, bagaimana bisa aku lupa dengan punggung lebar dan tegap itu. Bagaimana bisa aku melupakan erangan berat milik Manendra.


Mata Manendra berkeliling ke seluruh penjuru apartemen.


"Elaksi sayang, aku datang." ucapnya penuh antusiasme.


Aku langsung berdiri, berjalan menuju balkon dan meraih sebuah jaket milik Hideo yang tergantung di sandaran kursi kamar. Tidak ada waktu lagi, aku turun melompat dari balkon lantai dua. Dan sebelum kakiku patah menghantam tanah di bawah sana, aku meraih sebuah pipa air conditioner yang tertempel di tembok. Aku merayap turun dan segera berlari, menjauh. Ini gila!


Kakiku berlari menembus trotoar jalanan yang mulai sepi. Aku tidak tahu pukul berapa ini, dan aku tidak perduli. Temanku, Hideo. Dia mati! Di depan mataku! Dibunuh oleh psychopath gila yang terobsesi denganku.


Aku tidak tahu kenapa Hideo bisa kalah dari Manendra, padahal Hideo adalah salah satu dari sekian banyak pembunuh bayaran yang sangat terampil dan tidak diragukan lagi kemampuannya. Tapi dia kalah, dia mati. Sesak tiba-tiba datang, aku mencoba mengatur nafasku. Tapi sesak itu makin terasa, kebas di kakiku juga memburuk. Kemana aku? Kemana? Mau kemana?


Apartemen, oke. Apartemenku, mengambil uang dan semua revolver milikku. Kemudian setelah itu, aku akan pergi. Kemanapun yang penting jauh dari makhluk gila bernama Manendra Nawasena.


Jarak antara apartemen Hideo dan apartemenku cukup jauh, mungkin sekitar satu jam perjalanan dengan motor. Dan selama itulah aku berlari dan mengumpat sepanjang jalan. Walaupun kadang berjalan cepat kemudian berlari lagi, aku tetap berlari. Kakiku mati rasa, rasa hausku menyerang, dan mataku mulai mengabur di keremangan.


Gerbang besar apartemenku terlihat di depan sana. Aku menyunggingkan senyum kecil, dan berbelok ke pelataran apartemenku yang rasanya sudah sangat lama tidak kudatangi. Aku langsung berlari kecil menuju tangga, naik ke lantai dimana tempat tinggalku berada. Naik lift akan menyulitkanku, jadi lebih baik menggunakan tangga. Tapi saat aku berada di ujung tangga lantai dua, aku berhenti seketika. Mataku menangkap seseorang yang berdiri di depan pintu apartemenku.


Herman, dia berdiri di depan pintu apartemenku dengan telinga tersumbat earphone wireless. Sialan, bagaimana bisa dia disini. Pelayan dan majikan sama-sama membuatku pusing. Manendra pasti memerintahkan Herman untuk menjaga apartemenku, dia tahu kalau aku akan kembali ke sini untuk mengambil sesuatu. Ah sial!


Kubalikkan tubuhku, dan turun tangga. Apartemenku sudah tidak aman lagi, aku harus ke suatu tempat.


∆∆∆


"Elaksi?"


Aku membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu, lalu kekosongan menyambutku. Tidak ada Elaksi di sini.


"Jangan sembunyi sayang." ucapku dengan nada ceria.


Ah moodku baikkan dengan membunuh Hideo si pengganggu itu. Dia ternyata lebih lemah dibanding yang kukira. Aku cukup puas sudah membolongi matanya.


Jendela balkon yang terbuka dan angin masuk membuat gorden melambai-lambai. Aku melangkah mendekati balkon, dan tersenyum miring.


"Ah dia kabur lagi." gumamku.


Kita lihat sampai mana kau bisa berlari dariku, Elaksi.


Aku berbalik badan, keluar dari kamar ini dan menuju ruang dimana Hideo berbaring dengan wajah luar biasa. Maha karyaku, aku terkekeh sejenak.


Lalu berlalu. Jiwa gelapku selalu menang.