Hiraeth

Hiraeth
19



19.


Aku menyesal kenapa tidak meminjam sebuah motor pada Bono tadi. Harusnya aku meminjam motor saja, lalu pergi dengan naik motor. Bukannya berjalan sambil menahan sakit di telapak kaki karena luka yang terdapat di sana. Rasanya juga percuma, aku berjalan kembali ke apartemen Hideo. Tapi aku benar-benar akan menyesal jika tidak ke sana.


Beberapa mobil dengan huruf plat bervariasi melewatiku kencang. Seenak hati mereka menyalip aku yang ada di trotoar, sendirian, lapar dan penuh derita. Ah sial, kalau tahu akan begini akhirnya, aku lebih baik tidak menerima tawaran Niel untuk kerja di MN', atau aku harusnya menyalahkan diriku sendiri karena menyetujui tawaran Manendra untuk kerja di rumahnya. Sialan.


Sebuah ide tiba-tiba muncul di benakku. Mataku berbinar senang dan pikiranku tertuju pada kakiku yang terluka. Cih, buat apa aku terus berjalan jika banyak taksi dua pukuh empat jam dan ojek di jalanan malam. Aku berhenti di tengah jalan, lalu menengok ke kanan dan kemudian ke kiri. Menanti sebuah taksi yang bisa mengantarku ke apartemen Hideo. Tapi tunggu, itu sama saja sia-sia. Manendra bisa melacakku lewat sebuah taksi. Niel juga begitu, melacak taksi untuk menemukan seseorang yang pernah naik ke dalamnya. Dan aku tidak mau ditemukan oleh psychopath gila itu. Dengan erangan keras aku kembali berjalan, memutuskan untuk berjalan walaupun sampai pagi nanti sekalipun.


Dan mungkin sudah lama aku berjalan atau mungkin sangat lama karena aku terlalu mengahayatinya, aku sampai di gedung apartemen Hideo. Kupandang lantai dua apartemen itu dengan perasaan tak menentu. Keringat tiba-tiba merembes di ketiakku. Jari-jariku rasanya basah, aku merasa tidak siap.


Dengan memberanikah diri dan menyemangati dalam hati bahwa semua ini adalah takdir, aku menuju bagian belakang gedung. Mencari trafo listrik yang biasanya terdapat di tempat parkir bawah tanah atau basement. Dan setelah turun ke basement dan memastikan tidak ada orang, aku langsung menuju trafo listrik, menurunkan tombol on menjadi off dan segera berlari menuju tangga. Aku tidak mau dicurigai sebagai pembunuh Hideo, jadi aku melakukan hal itu.


Dan karena aku terlalu bodoh untuk bisa meretas CCTV maka kumatikan saja listriknya.


Aku sampai di lantai dua dengan nafas ngos-ngosan, penghuni apartemen mungkin tidak terlalu menyadari listrik yang padam karena mereka pasti sudah terlelap. Dengan segera aku merobek rok dress rumahan yang kupakai, membuat sobekan kain berbentuk kotak lalu aku membuka pintu apartemen Hideo dengan beralaskan sobekan kain itu. Sudah kubilang aku tidak mau dicurigai sebagai pembunuh temanku sendiri, dan jelas aku tidak mau meninggalkan bukti apapun bahkan hanya untuk setitik sidik jari. Walaupun di kamar Hideo banyak terdapat sidik jariku, aku yakin polisi tidak akan memeriksa sidik jari sampai ke kamar ketika tempat kejadian berada di ruang tengah.


Gelap menyambutku bersamaan dengan aroma anyir yang amis dan memualkan. Aku meraba lemari kecil dekat ruang tamu dengan sobekan kain membalut tanganku. Saat aku merasakan itu sebuah lampu emergency, aku mengambilnya, menekan tombol on dan membuat penglihatanku menjadi lebih baik. Kakiku melangkah ke depan menuju ruang tengah. Dan bau anyir makin menusuk.


Lututku tiba-tiba goyah, dan rasanya aku mau bersimpuh dan menyerah saja. Tapi percayalah, menyerah adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Jadi aku tetap melangkah sampai sebuah sosok di lantai dengan genangan darah di sekitarnya terlihat. Kupalingkan wajahku ke arah lain, berusaha menegarkan hati dan merapal bahwa ini semua takdir. Tapi sebagian hatiku menyangkal juga, jika bukan karena aku yang meminta bantuannya. Dia tidak akan seperti ini, dia pasti masih hidup, menjalani kehidupannya yang seperti biasa.


Kuhirup udara rakus yang membuat dadaku sesak, lalu wajahku berpaling ke jasad Hideo di lantai. Aku mendekatkan lampu emergency itu ke jasadnya, lalu terkesiap saat aku bahkan tidak bisa mengenali wajah manis Hideo. Sedikit terisak aku berjongkok di samping jasad Hideo. Aku tidak bisa melihat lesung pipinya lagi, atau melihatnya menggunakan kacamata dan tidak bisa mengobrol lagi.


Luka besar menganga di dada kirinya membuat aku menekan rasa sesak di dadaku. Luka itu besar hingga aku bisa memasukan kedua kepalan tanganku ke dalamnya. Merasa cukup dan mungkin waktuku sudah habis, aku berdiri. Mengambil taplak meja ruang tengah dan menutupkannya pada jasad Hideo. Setelah itu aku pergi ke kamar Hideo, mengambil sepotong kaus, celana dan beberapa uang yang Hideo simpan di laci nakas kamarnya. Aku keluar dari kamar, lalu berhenti di dekat jasad Hideo lagi.


"Maafkan aku, Hide. Maafkan aku." lirihku.


Listrik apartemen itu menyala tepat ketika aku keluar dari tangga darurat dan berlari keluar. Mungkin satpam atau petugas apartemen menyalakan kembali trafo listriknya. Tanpa berusaha menoleh ke belakang aku terus berlari, melalui gang-gang kecil hingga tiba di sebuah tempat pengisian bahan bakar. Aku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di POM bensin, mengganti dressku yang sobek dengan kaus dan celana milik Hideo. Dan setelah menggantinya, aku langsung membuang dress pemberian Manendra itu ke tong sampah.


Dan aku berlari lagi. Tak peduli seberapa lelahnya aku, seberapa lapar dan seberapa sakit luka di telapak kakiku. Aku harus tetap berlari, menjauh dari Manendra Nawasena.


∆∆∆


"Apa salahku padanya, Herman?" tanyaku pada Herman yang menunduk dalam, tak berani menatapku walau hanya sekejap.


"Anda tidak bersalah, Tuan. Anda melakukan hal yang benar." jawabannya tetap tak membuatku puas.


Jika aku melakukan hal yang benar, kenapa Elaksi pergi. Kenapa dia mengelak bahwa dia hanya milikku?


Tuhan pasti tengah mempermainkanku dengan memberiku tantangan, apa aku bisa membawa jodohku kembali atau tidak. Bukan begitu? Ah aku bahkan sudah berani mengatakan bahwa dia jodohku.


"Apa kau sudah membawa apa yang kuminta, Herman?"


"Sudah, Tuan."


Herman membungkuk dan mengambil sebuah kotak di lantai. Di berjalan mendekat ke arahku dan menyerahkan kotak itu padaku. Dengan senyuman lebar aku menerima kotak itu, perasaan berbunga-bunga langsung menyeruak.


Kubuka kotak itu cepat dan mengerang bahagia saat wangi Elaksi menguar dari sana. Aku mengangkat salah satu baju Elaksi yang kudapat dari apartemennya, lalu memeluknya erat dan mengerang panjang. Wanginya senikmat pemiliknya.


"Kau tahu, Herman? Aku sangat merindukan Elaksi." ucapku sambil meresapi harum Elaksi di baju itu.


Membayangkan bahwa dialah yang aku peluk sekarang ini. Akan sangat menakjubkan jika dia dalam pelukanku, dalam kuasaku.


"Saya tahu, Tuan."


"Jika kau tahu, cepat cari Elaksi!! Jangan sampai dia lolos dari kota ini!! Dan jangan lupakan, siapkan upacara pernikahanku dengannya. Saat dia kembali nanti, kita akan langsung menikah." ucapku diiringi kekehan keras.


Herman mengangguk patuh dengan muka pucat pasi, dia langsung mengacir pergi dan meninggalkanku dengan baju-baju milik Elaksi.


Aku akan menikah dengan Elaksi, milikku. Dan kita akan menikah, dan hidup bahagia, hingga aku bosan.


∆∆∆


Uang lima ratus ribu yang kudapat dari laci nakas Hideo kubelanjakan sarapan pagi di sebuah warteg murah meriah. Pagi datang secepat biasanya, walaupun aku belum tidur sama sekali. Dengan terus menyusuri trotoar seperti tunawisma, aku tetap berjalan di tengah pagi ramai nan ruwet. Pikiranku terus mengelana. Ponselku kubuang bersama dress rumahan yang kupakai, aku hanya membawa uang sisa membeli makan yang tinggal empat ratus delapan puluh ribu dan dua buah revolver penuh peluru serta dua box peluru sebagai amunisi.


Rasa bingung melandaku, kemana aku harus pergi di tengah bayang-bayang Manendra Nawasena? Aku bahkan belum menikmati gajiku sehabis membunuh Bambang Antereja, ah sial. Dompetku ada di rumah Manendra, dan di dalam dompet ada sebuah kartu debit yang isinya bahkan bisa untuk membeli sebuah pulau pribadi, hasil kerjaku bertahun-tahun. Sialan sekali.


Yah, setidaknya aku merasakan bagaimana susahnya jadi tunawisma yang luntang-lantung. Kuhela nafasku pelan, lalu berjalan malas dengan menendang kerikil-kerikil kecil di trotoar. Hingga seorang bocah berseragam sekolah dasar dengan tas gendong kecil menabrakku dan terjatuh di jalan beton ini. Dia mendongak ke arahku, lalu menangis keras hingga aku mengerjap dan panik seketika. Bukankah aku yang ditabraknya? Kenapa malah dia yang menangis. Aku langsung berjongkok dan membelai rambutnya sambil mengatakan,


"Berhenti menangis." secara kaku.


Tidak pernah berhubungan dengan anak kecil membuatku bingung menghadapinya, dia terlihat makin keras menangis dan membuatku kelabakan.


"Hei sudah jangan menangis." ucapku mencoba membuatnya tenang.


Bocah itu tidak mau berhenti menangis bahkan sampai mengundang perhatian beberapa orang yang lewat. Ingin sebenarnya aku mengatakan 'apa lihat-lihat, kucolok juga matamu!' tapi rasanya tidak mungkin juga.


"Berhentilah menangis, akan kubelikan sebuah es krim kalau kau berhenti menangis." kataku kemudian. Dan ternyata es krim selalu ampuh jadi iming-iming anak-anak, sama seperti di televisi.


Dia berhenti menangis dan menatapku dengan mata berbinar, ingusnya yang meleber dari hidungnya membuat aku mengernyit dan tersenyum kaku.


"Benarkah? Tante mau membelikannya?" tanyanya antusias.


Hell, tadi menangis dan sekarang malah bahagia ketika mendengar mau dibelikan es krim. Dasar bocah, kucolok juga dia.


Eh, apa barusan dia bilang? Tante? Double hell, dia mengataiku tante sama seperti Sobri tengik itu?


Dia mengangguk semangat dan bangkit berdiri. Dia bahkan menggandeng tanganku dan tersenyum cerah seolah kejadian menangis tadi bukanlah apa-apa.


"Ayo, Elaksi. Kita makan es krim, aku tahu dimana tempat yang enak untuk makan es krim." ucapnya semangat.


Dan tak butuh waktu lama untuknya menarikku pergi menuju sebuah kedai es krim yang tak jauh dari tempat tadi. Herannya, kedai ini buka di pagi hari. Sangat tidak layak di contoh, bagaimana bisa mereka buka di pagi hari sementara pagi bukanlah waktu yang tepat untuk makan es krim. Ah ya, bodohnya aku menawarkan es krim.


"Mbak, aku mau yang coklat." seru si bocah pada seorang pelayan di balik meja berisi puluhan es krim aneka rasa.


"Oke, dek. Ibunya mau rasa apa?"


Heck! Apa tampangku sudah mirip ibu-ibu hingga pernah dikatakan sebagai istri oleh tukang pengantar paket dan dikatai ibu oleh tukang es krim.


"Aku greentea saja." ucapku lelah. Tidak ada guna mengelak, seperti yang pernah kukatakan.


Lima menit kemudian si penjual es krim menyodorkan pesanan kami berdua, dan aku cukup tercengang saat harus membayar lima puluh ribu rupiah hanya untuk dua buah es krim dengan cone. **** off. Di tengah krisis uang seperti ini aku harus kehilangan lima puluh ribu secara cuma-cuma.


Aku menghela nafas pelan dan ikut duduk di depan kedai es krim itu. Si bocah duduk di sampingku dengan hikmat memakan es krim coklatnya. Dia terlihat belepotan saat memakan makanan dingin itu.


Jika tebakanku benar, dia pasti sudah sekolah dasar. Tapi seharusnya dia ada di sekolah, bukannya menabrakku dan memerasku untuk mentraktir es krim.


"Siapa namamu?" tanyaku terlanjur penasaran.


Bocah itu menoleh, mendongak ke arahku dan tersenyum sambil mengatakan,


"Galaksi Bima Sakti." dengan mulut penuh es krim.


Apa? Siapa namanya? Galaksi Bima Sakti? Aku menahan tawaku susah payah, mencoba agar gelakan tawaku tidak pecah karena itu bisa saja menyinggung perasaannya. Oh orang tua mana yang tega menamai bocah ini dengan nama Galaksi Bima Sakti. Mungkinkah orang tua anak ini penggila astronomi?


"Oke, jadi kau Bima, kenapa tidak sekolah?" tanyaku dengan terkekeh kecil, akibat dari tidak bisa tertawa keras aku jadi terkekeh.


"Hari ini sekolah dipulangkan lebih awal, guru rapat. Dan mama tidak menjemputku, jadi aku berniat pulang sendiri." jelasnya polos.


Aku memandang wajahnya yang terlihat lebih berisi di bagian pipi. Sudut bibirku naik dan tersenyum kecil, dia mandiri. Walaupun usianya masih muda, pikirannya dewasa dan dia berbicara seperti orang dewasa.


"Dimana rumahmu?" tanyaku.


Tenang. Aku tidak berniat menculik anak kecil, aku hanya akan mengembalikan dia ke habitat aslinya.


"Lumayan dekat." jawabnya acuh seraya mengigiti cone es krim miliknya.


"Akan kuantar kau pulang setelah es krimmu habis, oke?"


Dia mengangguk dan terfokus pada es krimnya yang tinggal sedikit. Aku sendiri memakan es krim greentea milikku dengan lahap, ah es krim di pagi hari tidak terlalu buruk juga.


Setelah kami menghabiskan es krim kami masing-masing, aku mengantarnya pulang dengan agak sedikit heran. Bocah seumuran Bima biasanya akan takut bicara dengan orang asing karena biasanya orang tua mereka selalu mengajarkan agar tidak berbicara dengan orang asing, tapi dia malah santai dan memintaku membelikannya es krim.


Kami masuk ke kompleks perumahan elit dengan rata-rata rumah dua lantai. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kedai es krim tadi, hanya butuh sepuluh menit jalan kaki.


"Yang mana rumahmu?" tanyaku karena kami sudah melewati banyak rumah dan belum ada tanda-tanda di akan berhenti.


"Di depan, sebentar lagi sampai." ucapnya santai.


Bima berhenti di sebuah rumah dua lantai dengan cat berwarna putih tulang, pelataran penuh bunga dan suasana yang hangat membuatku yakin Bima adalah anak penuh kasih sayang. Bahkan hanya melihat rumahnya saja aku tahu, beda dengan rumah Manendra yang terlihat sama seperti pemiliknya, menyeramkan.


"Ini rumahmu?"


"Iya, ayo masuk, Elaksi." ajaknya sambil menarik tanganku agar ikut masuk ke dalam.


"Tidak usah, Bima. Aku akan pulang saja."


"Kau mau pulang?" tanyanya dengan nada lesu.


Aku mengangguk. Tapi sebuah suara terdengar dari arah teras rumah.


"Bima, kok udah pulang."


"Iya, Ma." sahut Bima dengan senyuman dan langsung menyongsong ibunya. Kuyakin itu ibunya.


Perempuan cantik berambut pendek dengan wajah sumringah menatap putranya cemas, lalu dia memandangku. Seolah mengerti di pandang begitu au langsung berkata,


"Halo, saya Elaksi. Saya bertemu Bima di jalan dan dia terjatuh karena menabrak saya, jadi saya mengantarnya pulang." menjelaskan.


Aku sengaja menghilangkan bagian mentraktir makan es krim Bima. Biarkan saja lah, anggap saja angin lalu.


Mama Bima menatap putranya meminta penjelasan. Dan Bima menunduk lucu dengan muka meminta maaf.


"Elaksi mengantarku pulang dan mentraktirku makan es krim, Ma. Dia baik." lirihnya.


"Terimakasih karena sudah mengantarkan Bima pulang, dan maafkan juga karena dua tidak sopan dengan hanya memanggil namamu. Bagaimana kalau masuk dan minum teh?" tawarannya membuatku tergiur. Aku butuh istirahat setelah semalaman berjalan.


"Sebenarnya aku yang meminta Bima untuk memanggil namaku saja, dan sepertinya aku juga butuh kamar mandi." ucapku sambil meringis.


Mama Bima tersenyum, dan kami masuk ke dalam rumah hangat itu ditemani celotehan Bima tentang rasa es krim coklat yang tadi dia makan. Aku tersenyum kecil, ah sejenak aku melupakan masalahku.