
Sehun sudah berdiri menghadap pada seorang pendeta. Di belakangnya, deretan bangku di dalam gereja itu tampak kosong dan hanya terisi oleh beberapa orang saja. Kemudian bangku yang terletak pada deretan paling depan, diisi oleh Kristal dan Yeri yang duduk bersebelahan dalam balutan dress sederhana mereka.
Alunan musik khas pernikahan mengalun dengan lembut. Irene mengapit lengan Kai, berjalan dengan memakai gaun pernikahan yang indah serta satu tangannya membawa sebuket bunga mawar berwarna putih.
Kristal, Yeri beserta para tamu undangan yang disewa oleh Sehun berdiri untuk menyambut kedatangan mempelai wanita. Mereka semua bahkan menatap Irene dengan pandangan mata bahagia.
Kai dan Irene lantas berhenti tepat di depan Sehun, dimana lelaki itu melempar senyuman tipis dan menyambut satu tangan Irene dengan sikap yang begitu hangat. Keduanya kini berbalik untuk menghadap pada seorang pendeta tua yang juga tersenyum menyaksikan kedua calon mempelai yang tampak serasi menurut penilaiannya.
"Keluarga dan sahabat terkasih yang telah berkumpul di dalam tempat yang indah ini, apakah anda dengan tulus bersedia menyr calon mempelai wanita kepada pria ini dalam sebuah kunci pernikahan?"
"Ya," jawab Kai tegas. Kemudian Kai melangkah mundur dan duduk bergabung bersama yang lain.
"Oh Sehun, bersediakah kau dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh kerabat semua, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, untuk mencintai dan menghargai wanita yang kini berdiri disisimu? Apakah kau berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia selama-lamanya hingga akhir hidupmu?"
"Ya, aku bersedia."
Sang pendeta pun menanyakan hal yang sama kepada Irene hingga gadis itu menjawab hal yang serupa.
Keduanya kemudian saling menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis.
Cincin itu berbentuk lingkaran sempurna yang berarti tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Sehingga sampai masa tua, hingga kematian tiba dan sampai selamanya, keduanya harus mempertahankan janji suci yang tidak dapat diganggu gugat ini.
Sehun dan Irene kini saling berhadapan dan saling menatap dalam diam. Dan seperti kebanyakan pasangan yang menikah lainnya, lelaki diijinkan untuk mencium mempelai wanita. Jadi secara otomatis, Sehun pun memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Irene dan itu membuat Irene langsung membelakan kedua matanya. Belum cukup sampai disitu saja, Sehun justru mengecupnya sekali lagi dan bahkan sampai pada tahap lidahnya dengan lancang menyusup kemudian mempermainkan lidah Irene. Ciumannya menuntut, penuh nafsu, hingga Irene tidak bisa berbuat banyak selain membalasnya dengan rasa terpaksa.
Dalam hati Irene sebenarnya mengutuk, lalu secara perlahan-lahan ia pun mendorong tubuh Sehun agar menjauh dan segera melepaskan tautan bibirnya.
Sehun berhenti mencium sambil menahan dirinya untuk tidak tertawa begitu melihat wajah Irene sudah memerah dengan mata sedikit melotot marah.
Ia hanya menjulurkan lidahnya seolah mengatakan "santai saja Ren, ini bukan ciuman pertama kita, kan?"
Para tamu undangan yang jumlahnya tidak lebih dari selusin itu bertepuk tangan menyaksikan keduanya kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepat bersamaan dengan itu, Irene lalu melempar sebuket bunga yang sejak tadi berada dalam genggaman tangannya. Dan kebetulan bunga itu didapatkan oleh Kristal secara tidak sengaja.
"Ya ampun...tapi aku belum ingin menikah, bagaimana ini?"
*
Sehun membawa Irene ke apartemennya malam ini setelah mereka berpesta di sebuah restoran masih dengan mengenakan pakaian pengantin. Sehun merasa sedikit mabuk karena terlalu banyak meminum wine. Sesekali ia cegukan dan bahkan sampai ketiga kalinya ia salah memencet sederet kode masuk apartemennya sendiri.
Begitu pintu berhasil terbuka, Sehun segera melepas jasnya karena merasa gerah. Ia pun melempar pakaian itu kesembarang arah. Sesaat sebelum ia melangkah menuju ruang tengah, Sehun menoleh dan mendapati Irene masih berdiri dengan wajah khawatir di depan pintu.
"Sedang apa kau disitu? Apa kau ingin ada orang yang menatapmu aneh dengan gaun seribet itu, masuklah!"
Masih debgan perasaan takut dan canggung, Irene memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam. Matanya yang indah menelusuri tiap sudut ruangan dengan mulut berdecak kagum. Apartemen Sehun sangatlah mewah. Dindingnya bercat putih, lantas barang barang yang ada di sana bernuansa hitam putih, begitupun dengan lantainya yang bercorak senada.
Gafis itu lalu menghempaskan dirinya untuk duduk di sofa dan menyalakan AC karena saat ini dirinya merasa sangat gerah dengan baju pengantin yang berumbai-rumbai dan membatasinya untuk dapat bergerak bebas. Irene juga melepas penjepit rambut yang membuat kepalanya sakit sejak tadi pagi.
Sehun keluar dari dalam kamar hanya dengan memakai kaos putih dan celana panjang berwarna abu abu. Seluruh pakaian pernikahannya ia lemparkan ke dalam mesin cuci. Be erapa saat setelah mesin itu berbunyi, Sehun kemudian mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya.
"Kalau kau ingin makan sesuatu atau merasa haus, ambilah di dalam kulkas dan buatlah minuman sendiri," perintah Sehun datar. Kedua mata lelaki itu sudah memerah dan ia kembali masuk ke kamar dengan berjalan sedikit sempoyongan.
Irine hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas tanpa menanggapi. Segera ia mengikuti langkah Sehun masuk ke dalam kamar dimana sekarang ini lelaki itu sudah merebahkan diri sambil memijiti keningnya merasa pusing.
"Sehun, bisakah malam ini kau antar aku kembali ke tempat kost ku?" Irene berdiri di depan pintu dengan melipat kedua lengannya di dada. Lagipula, tidak mungkin dia dan Sehun akan tidur dalam satu ranjang berdua, menggelikan.
"Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa, tidurlah di sini. Bagaimana kalau anak-anak penghuni kost curiga dengan pakaianmu itu? Lalu apa yang akan kau katakan pada meraka?"
Irene mengerucutkan bibirnya dengan sebal.
"Kau menyuruhku untuk tidur semalaman dengan pakaian seperti ini?" satu yangan Irene terangkat dan mengibas-kibaskannya di depan wajah karena kepanasan.
"Pergilah mandi dan berganti baju."
"Kau ini memang wanita yang ribet ya," Sehun beranjak dari tidurnya, ia menarik Irene masuk ke dalam kamar lantas membalikan tubuh gadis itu untuk membelakanginya.
"Hey, a-apa yang kau lakukan?"
Sehun tidak menjawab. Dengan gerakan kasar ia membuka resleting belakang baju Irene kemudian menurunkan baju itu hingga sebatas pinggang. Membuat punggung Irene terekspos bebas lalu menjerit karena setengah badannya kini hanya tertutup oleh bra berendanya saja. Irene secepat kilat menutupi bagian bra-nya dengan tangan yang menyilang dan berjongkok.
"Kau mau mandi atau tidak?" Sehun mendengus sambil memutar bola matanya dengan bosan. " Hey, kita bahkan sudah menjadi sepasang suami istri, apalagi yang harus kau tutup tutupi dariku?"
"Berbalik dan jangan melihatku!" perintah Irene dengan nada yang galak.
Alih-alih berbalik, Sehun justru menempatkan dirinya berdiri tepat di depan Irene. Lelaki itu lalu mengangkat tubuh Irene, membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan meletakan gadis itu di dalam bath up. Sehun lantas memutar air shower hingga dengan sukses air itu mengguyur seluruh tubuh Irene dengan gemericik air yang hangat.
"Bersihkan dirimu dari hal-hal kotor yang bersarang di otakmu!"
Sehun berlalu dan menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.
"Kyaaaaa!!!" Irene menendang-nendang kakinya ke dinding bath up dengan sangat kesal.
Sekitar lima belas menit kemudian, hanya dengan mengenakan balutan handuk tebal, Irene membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Kepalanya adalah bagian tubuhnya yang pertama kali keluar dari celah pintu. Irene menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa Sehun tidak ada di dalam kamarnya. Setelah yakin bahwa Sehun memang tidak ada, Irene baru memberanikan diri untuk keluar.
Irene kemudian merasa bingung dengan baju apa yang harus ia pakai sekarang. Haruskah ia memakai salah satu baju milik Sehun yang di dalam lemarinya? Berkali-kali Irene menghempas nafas berat, sayangnya dia tidak memiliki pilihan lain. Jadi Irene segera melangkah menuju ke arah lemari pakaian milik Sehun. Lemari itu berukuran sangat besar dengan ukiran kayu yang etnik berwarna hitam kecoklatan. Dan baru saja Irene membukanya, mulutnya langsung menganga. Ia pikir pakaian yang di dalam lemari itu adalah pakaian milik Sehun, tapi yang sekarang ia lihat adalah sederet pakaian wanita yang menggantung dalam setiap hunger yang tertata sangat rapi.
Apakah semua pakaian ini adalah pakaian milik para gadis yang pernah Sehun bawa ke dalam apartemennya? Kalau memang pakaiannya sebanyak ini, berapa jumlah keseluruhan gadis yang sudah ia kencani dan tiduri? Irene mulai menghitung, menebak-nebak sendiri dalam hati.
"Pakailah yang mana saja yang kau inginkan."
Suara Sehun mengejutkan Irene. Ketika gadis itu berbalik, wajahnya membentur keras dada bidang lelaki itu yang ternyata sudah berdiri di belakangnya sejak beberapa detik yang lalu. .
"A-aku tak mau memakainya," kata Irene sambil kembali menutupi bagian dadanya dengan kedua telapak tangan.
"Kalau begitu, kau tidurlah dengan bertelanjang saja, kurasa itu jauh lebih baik."
"Sialan!"
"Kenapa? Bahkan semua baju yang ada disitu adalah baju dengan merk- merk terkenal dan mahal. Lalu alasan apa yang membuatmu tidak mau memakainya? Kau sengaja mau memamerkan bentuk tubuhmu yang sangat standar ini padaku semalaman?"
"Baju-baju itu baju bekas pacar-pacarmu yang pernah kau tiduri disini kan? Tidak sudi!"
Sehun mengerutkan keningnya." Maksudmu, aku menyimpan baju bekas pacar-pacarku di lemariku, begitu? Aish...apa sih yang ada di dalam otakmu ini?" dengan ujung jarinya, Sehun mendorong kepala Irene ke belakang, membodohinya. " Tidak pernah ada wanita yang kubawa ke tempat ini selain kau, mengerti?"
"Lalu baju-baju itu?"
"Kau mau pakai atau tidak, terserah. Itu semua baju-baju kakakku yang dia tinggalkan disini," Sehun berbalik lalu dengan acih menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Irene menggaruk-garuk belakang kepalanya yablng tidak gatal karena merasa malu dengan tuduhannya yang tidak berdasar. Ia pun kembali berbalik dan memilih kira-kira baju mana yang sekiranya pas untuk ia kenakan menjelang tidur. Irene lantas menjatuhkan pilihannya pada salah satu dress santai berwarna merah marun sebelum menutup pintu lemarinya kembali. Ia hanya terdiam cukup lama menatap Sehun yang sedang berkutat dengan ponselnya.
"Apa kau akan tetap disitu selagi aku berganti baju?Keluarlah sebentar."
Lagi lagi Sehun memutar bola matanya bosan lalu tangannya menunjuk ke arah pintu kamar mandi.
"Tolong jangan mengganggu waktu istirahatku."
Tidak berapa lama, Irene muncul dari dalam kamar mandi. Dress merah itu rupanya sangat pas dengan ukuran tubuhnya yang mungil. Hanya saja karena terbuat dari kain yang lumaya tipis, Irene jadi merasa agak risih. Apalagi sekarang gadis itu sama sekali tidak memakai pakaian dalam apapun. Tidak mungkin juga kan dia memakai celana dalam Sehun. Membayangkan bentuk dan ukurannya saja, Irene sudah merinding gila.
"Aku tidur di sofa saja, selamat malam," gumam Irene sambil melangkah cepat keluar dari kamar Sehun. Jujir saja, ia tidak ingin Sehun melihatnya memakai baju yang menerawang seperti itu.
Sehun yang diam-diam sempat melirik saat Irene berlalu, rupanya bisa melihat dengan jelas dua ** payudara milik gadis itu yang mencuat di balik dress tipisnya.
"Sexy."