Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 2.



Memakai celemek berwarna biru muda, Irene mulai mengambil sapu dan membersihkan lantai tempatnya bekerja dengan rajin. Tidak lupa ia juga mengelap semua permukaan meja sampai mengkilap dan bersih.


Cafe Orion baru saja dibuka. Merupakan salah satu cafe yang ramai dikunjungi oleh para muda-mudi yang ingin berkencan atau sekedar nongkrong dan menghabiskan sisa malam untuk menikmati alunan musik dari sebuah band lokal yang kerap manggung disana.


Selesai membersihkan semuanya, Irene kembali ke arah meja kasir dan mengantungkan sapunya di balik pintu dapur. Ia bersama beberapa karyawan yang lain lalu melakukan briefing dan berakhir dengan saling menyemangati untuk memulai pekerjaan masing-masing dengan baik.


Senja mulai tiba. Satu-persatu pengunjung pun mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka memesan minuman panas karena musim dingin mulai tiba. Angin di luar memang berhembus sangat kencang, namun cuaca itu tidaklah menghalangi para pengunjung untuk tetap datang dan duduk santai sekedar untuk menghilangkan penat.


Irene dipanggil oleh pemilik cafe untuk segera datang ke meja depan karena ada dua pengunjung yang baru saja datang.


Gadis itu itu mengambil notes dan pena lalu segera berjalan melintasi ruangan dan berakhir dengan dua pengunjung tersebut yang..oh ayolah, Irene sangat benci melihat wajah laki-laki itu sekarang.


Oh Sehun bersama bersama Yura tengah duduk santai sambil membolak-balik daftar menu yang ada di atas meja.


" Dua bubble tea dan pasta," kata Sehun sambil mendongak dan terkejut mengetahui pelayan cafe itu adalah tetangga kamar kostnya. " Kau bekerja disini juga rupanya."


"Begitulah...," jawab Irene dengan malas selesai ia mencatat pesanan Sehun. Ia baru akan berbalik dan hendak melangkah masuk ke dalam ketika Sehun tiba-tiba mencegahnya.


"Satu pasta tidak pedas sama sekali."


"Baiklah saya mengerti," bola mata Irene berputar bosan, ia sedikit membungkuk sopan lalu kembali masuk ke dalam dapur.


Apa dunia ini selebar daun kelor? Kenapa dimana ia berada, Sehun juga ada disana? Apa wanita cantik itu juga yang kemarin malam ada di dalam kamarnya? Aish...Irene lagi-lagi menggelengkan kepala berusaha fokus dengan pekerjaannya ketimbang harus pusing memikirkan Oh Sehun, si laki-laki super arogan itu.


Sepuluh menit kemudian pesanan Sehun sudah siap. Sang koki menaruhnya di atas nampan dan Irene berjalan dengan langkah hati-hati mengantarkannya sampai ke tujuan


Ia meletakan dua piring pasta dan dua bubble tea ke atas meja dengan pandangan risih. Pasalnya Oh Sehun dan Yura sedang saling berbicara mesra, bahkan tangan Oh Sehun tidak beranjak turun dari wajah Yura saat Irene mengatakan 'selamat menikmati' sembari berlalu.


" Ya ampun...apa tidak ada tempat lain yang lebih cocok untuk bermesraan?" Irene bergumam tidak jelas pada dirinya sendiri. Beruntung menit-menit berikutnya gadis itu sudah disibukan dengan pesanan dari pengunjung lain.


*


Sehun berhenti makan dan menyeruput bubble teanya dengan perlahan. Matanya tidak lepas memandangi wajah Yura hingga dering ponsel miliknya membuyarkan aktifitas itu.


"Hey, Oh Sehun, kau bilang malam ini akan mengajakku berkencan, kau dimana?"


Sehun terperanjat mendengar suara Seohyun dari seberang sana. Laki-laki itu secepat kilat berdiri dan berjalan menjauh dari meja agar Yura tidak sampai mendengar obrolannya.


"Maaf Seohyun, bagaimana kalau tengah malam nanti kujemput kau dan kita habiskan malam ini di kamar kostku? Aku sedang ada urusan sebentar dengan temanku."


"Tengah malam? Ah baiklah aku akan tetap menunggumu. Ok."


"Baguslah."


Sehun memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan duduk di sebelah Yura. Dia terus saja memandangi gadis itu yang masih sibuk mengunyah makanan. Ekspresinya terlihat biasa saja, selalu santai namun menggoda.


"Selesai makan, kau mau kita kemana?" tanya Yura yang kini bergelayut manja di bahu Sehun.


"Kurasa malam ini aku tidak bisa bersamamu, Ibu baru saja meneleponku dan menyuruhku untuk pulang menemaninya pergi ke suatu tempat, kau tidak apa-apa?"


Yuri tampak kecewa tapi toh akhirnya dia mengangguk mengiyakan. Memangnya kalau dia merajuk, Oh Sehun akan peduli?


"Lain kali kita akan bersenang-senang lagi, sayang...Cepat habiskan makan malammu. Kusuapi ya?"


*


Irene menguap berkali-kali sambil berjalan sendiri dengan lesu menuju ke rumah kostnya. Ia membawa atasan baju Sehun yang tadi sempat ia ambil di laundry karena hari ini dia tidak sempat untuk mencucinya sendiri.


Berjalan dalam diam membuat pikirannya melayang jauh. Kehidupan seperti apa yang akan dia jalani di tahun tahun mendatang setelah ia lulus kuliah nanti? Apakah ia bisa menjadi seorang designer sukses atau hanya menjadi seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan? Atau menjadi ibu rumah tangga dengan pakaian lusuh seadaanya yang kerepotan merawat anak-anaknya kelak. Bayangan akan dirinya di masa depan sepintas selalu muncul di dalam benak Irene. Tidak peduli akan menjadi apa nantinya, Irene berharap suatu saat ia bisa bertemu dengan tambatan hatinya yang dengan tulus bisa mencintai dirinya dan menikahinya.


Nyaris sepanjang hidupnya Irene tidak pernah sekalipun memiliki seorang kekasih. Ia memang pernah ditaksir kakak kelasnya saat masih duduk di bangku sekolah menengah, tapi sayangnya Irene menolak karena ia memang tidak menyukai laki-laki itu. Irene juga sama sekali tidakk pernah memikirkan soal pacaran dan tak ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Dia hanya disibukan dengan kegiatan belajar, belajar dan belajar.


Hingga pada akhirnya benih-benih cinta itu muncul ketika ia bermain ke rumah Yeri dan melihat kehadiran Chanyeol disana. Kakak Yeri itulah yang membuat hati Irene berbunga-bunga walau hanya dengan memandangnya saja. Tapi Irene mana berani mengungkapkan isi hatinya kepada Chanyeol ataupun sekedar bercerita kepada Yeri. Ia sadar diri bahwa ia hanya gadis dari kota kecil yang sangat biasa tanpa pernah bisa bermake up dan bergaya keren seperti kebanyakan mahasiswa di Seoul. Ia pun hanya bisa memendam rasa itu sendiri selama hampir dua tahun belakangan ini.


Tidak terasa Irene sudah sampai di halaman depan tempat kostnya. Ia melangkah dengan hati-hati menaiki tangga. Kemudian sebelum masuk ke dalam kamar, gafis itu berhenti sesaat. Kembali matanya melihat sepasang high heels hitam polos yang tergeletak di depan kamar Sehun. Masa bodoh dengan siapa pemilik high heels itu, Irene lantas masuk ke dalam kamarnya dan mandi untuk menghilangkan segala penat yang melandanya seharian ini.


Jam menunjukan pukul sebelas malam dan Irene masih berkutat dengan baju yang belum selesai ia jahit di kampus tadi pagi.


"Ach sayang..," Seohyun menggeliat geli saat bibir Sehun berkali-kali mengecup tengkuk lehernya.


"Berapa nilai yang kau berikan untuk ciumanku?" tanya Sehun dengan nada manja.


" Sembilan...tidak, tidak, sepuluh kurasa," Seohyun tersenyum tipis sebelum akhirnya ia membalas ciuman bibir Sehun.


Aktifitas panas diantara keduanya berjalan dengan mulus. Sehun dengan gerakan sangat hati-hati mulai berusaha membuka kancing blus yang Seolhyun kenakan. Merasa tidak mendapat penolakan, tangan laki-laki itu semakin masuk ke dalam baju, mengelus setiap inci tubuh Seohyun dengan deru nafas yang menggebu.


Tok Tok Tok!


Irene yang tidak tahu apa yang tengah berlangsung di dalam sana terus saja mengetuk kamar Sehun dengan keras sambil menenteng atasan baju Sehun di tangan kirinya. Ia berniat mengembalikannya malam ini karena kemungkinan besok dan hari-hari selanjutnya dia berharap tidak akan lagi membuat masalah dengan pria menyebalkan itu.


Sudah berkali-kali i$Irenw mengetuk pintu, namun ia tidak kunjung mendapat sahutan. Sekali lagi Irene mengetuk pintunya dengan lebih keras. Masih sunyi, tidak ada suara apapun.


Irene berpikir sesaat, lalu dengan berani tangannya memegang knop pintu kamar Sehun dan setelah memantapkan hatinya, gadis itu memutar knopnya lalu membuka pintu itu perlahan.


Mata Irene seperti ingin melompat dari kelopaknya saat dirinya secara langsung melihat dengan jelas Oh Sehun sedang berada di atas ranjang dengan seorang gadis. Tubuh laki-laki itu berada di atas, menindih gadis yang saat ini sedang mendesah menikmati aktifitas berciuman mereka.


Irene segera berbalik dan meremas bungkus plastik berisi baju atasan Sehun dengan tangan bergetar hebat. Suara gemerisik plastik pembungkus itu justru malah membuat Sehun terkesiap. Ia menghentikan aksinya, menoleh dan segera turun dari ranjang.


"Siapa?"


Kaki Irene seolah membeku, ia masih berdiri mematung ketika Sehun datang mendekat dan menarik belakang kerah bajunya dengan kasar.


"Kau lagi????Apa yang kau lakukan disini? Lancang sekali kau membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu."


Irene tidak tahu harus berbuat apa melihat Sehun bertelanjang dada dengan rambut uang sepenuhnya berantakan. Ia kini seperti seekor tikus yang masuk ke dalam perangkap. Gemetar dan ketakutan.


" A-aku, ah I-ini bajumu," dengan cepat Irene menyerahkan bungkusan baju milik Sehun." A-aku tidak melihat apapun, sungguh. Maaf, terima kasih, selamat malam. A-ku pergi."


Irene berbalik, tapi Sehun langsung menahannya, memegang erat pergelangan tangannya hingga Irene merasa kesakitan.


"Sayang...siapa dia?" Seohyun turun dari tempat tidur dan segera merapikan kembali baju dan rambutnya yang berantakan. Ia mendekati Sehun sambil memberi tatapan remeh ke arah Irene.


" Kau pulanglah saja dulu, aku ada sedikit keperluan dengan gadis ini," kata Sehun yang matanya kini masih tidak terlepas menatap Irene dengan sorot yang tajam.


Tanpa banyak membantah, Seohyun pun mengambil tasnya dan keluar dengan sengaja menabrak sisi bahu Irene saat melewatinya.


Irene masih ketakutan menghadapi Sehun yang sepertinya benar-benar marah padanya. Ditambah dengan laki-laki itu yang menarik tubuh Irene masuk ke dalam kamarnya kemudian membanting pintunya dengan keras.


" A-apa sebaiknya kita bicara di luar saja?" Irene mundur dengan ketakutan sementara Sehun terus melangkah maju mendekatinya.


"Aku tidak akan mengatakan pada siapapun tentang kajadian tadi, aku janji," kini tubuh Irene sudah menempel sempurna pada permukaan dinding.


"Apa kau yakin ucapanmu barusan bisa kau tepati?" kini jarak Irene dan Sehun hanya beberapa centi saja, dan Irene mengernyitkan wajahnya sesaat setelah mencium aroma alkohol dari hembusan nafas laki-laki itu.


Sehun kini menempelkan keningnya di kening Irene. "Kau gadis culun yang lancang, harus kuapakan kau agar jera dan tidak lagi menggangguku,eoh?" Lalu dengan gerakan cepat Sehun melepas kacamata Irene dan melemparnya ke lantai hingga lensanya pecah.


Oh sempura, mata Irene yang minus 4 mulai tidak bisa melihat dengan baik. Bahkan wajah Sehun yang sangat dekat saja terlihat buram. Kedua tangan Irene hanya dapat meraba-raba pada permukaan dinding, mencoba untuk menghidar dari orang yang ada di hadapannya.


"Bi-barkan aku kembali ke kamarku," pinta Irene yang jujur saja merasa sangat tidak nyaman ketika baru pertama kali ini dirinya diperlakukan sedekat itu oleh lawan jenis.


"Melepasmu? Kau pikir aku orang yang akan berbaik hati mau melepasmu begitu saja?" tangan Sehun terangkat satu dan mencengkeram rahang wajah mungil Irene. "Kau sudah merusak suasana hatiku malam ini Bae Irene, bagaimana kalau kau saja yang menggantikan posisi Seohyun, hmm?"


* Hey, Playboy*


*


*


*


*


*